bila menyebut diri Islam, dan sekaligus Indonesia, tetapi menafikan Proklamasi, Garuda-Pancasila, MerahPutih, NKRI, tanah air IbuPertiwi "Semua Bagi Semua", tidak mau sadar arti kemajemukan dan kerakyatan namun malah berebut nafsu kuasa picik tak peduli moral sosial mereka itulah sebenarnya sadar atau tak sadar mendiskreditkan keharuman Islam di Indonesia wassalam MERDEKA !
--- In [email protected], "Samsul Bachri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ----- Original Message ----- > From: "Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Tuesday, August 16, 2005 12:02 AM > Subject: Ant: [ppiindia] Pluralisme Keagamaan dan Sikap Humanis > > > "Dalam pandangan Islam, semua agama adalah satu (sama), karena kebenaran > adalah satu (sama). Ia adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi > terdahulu. Ia adalah kebenaran yang diajarkan oleh semua kitab suci yang > diwahyukan. Dalam esensinya, ia bertumpu pada kesadaran akan kehendak dan > rencana Tuhan serta sikap pasrah sukarela kepada rencana dan kehendak itu. > Jika ada seseorang yang menghendaki agama selain dari itu, ia tidak jujur > kepada naturenya sendiri, sebagaimana ia tidak jujur kepada kehendak dan > rencana Tuhan. Orang seperti itu tidak bisa diharap mendapat petunjuk, > karena ia telah dengan sengaja meninggalkan petunjuk itu. (A Yusuf Ali, The > Holy Qur'ân, Translation and Commentary [Jeddah: Dâr al-Qiblah, 1403 H], h. > 145, catatan 418)...." > > > > ***** kalimat yang layak dipahami dan dipelajari oleh kaum Non Muslim, bahwa > agama ini sebenarnya tak memusuhi Pluralisme. Mungkin hanya sekelumit > kelompok radikal yang ingin meng-kotak kotakkan masyarakat dan bangsa...yang > mendiskreditkan Islam > > DH > > > SB : Kira2 yang radikal dan mendiskreditkan Islam tu siapa yach? > > > > > > > > Ambon <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: > MEDIA INDONESIA > Senin, 15 Agustus 2005 > > > Pluralisme Keagamaan dan Sikap Humanis > Budhy Munawar-Rachman, Direktur 'Project on Pluralism, Center for > Spirituality and Leadership' (CSL) > > > PLURALISME adalah sebuah pemikiran. Dan seperti setiap pemikiran, pasti > selalu ada pro dan kontra, apalagi sebuah pemikiran filosofis, atau > teologis. Memberi tempat pada kebebasan berpikir adalah fondasi peradaban. > Karena itu, fatwa MUI mengharamkan sebuah pemikiran, ini suatu hal yang > aneh, dari kelaziman sebuah fatwa yang menyangkut sebuah masalah hukum > konkret. Mengharamkan sebuah pemikiran, yang pada dasarnya bersifat abstrak > dan argumentatif, adalah sebuah tindakan yang melanggar hak asasi manusia. > Apalagi mengharamkan pemikiran tentang pluralisme, yang merupakan fondasi > demokrasi dan terwujudnya civil society (masyarakat madani), jelas tidak > masuk akal, bahkan melanggar sunnatullah (hukum-hukum kehidupan sosial) yang > ditegaskan oleh Alquran. > > Pluralisme sebagai wacana etika politik modern, memang sesuatu yang baru, > dan merupakan kesadaran yang berkembang secara global baru pada abad ke-20 > lalu. Sebagai isu pemikiran keagamaan, pluralisme lebih baru lagi. Sebagai > contoh institusional dan global, baru sejak Konsili Vatikan II (1963-1965), > masalah pluralisme mendapat pengakuan dalam lingkungan Katolik di seluruh > dunia (selanjutnya juga di banyak denominasi Kristen-Protestan). > > Dalam Islam, wacana pluralisme juga sudah berkembang, sejalan dengan > pemikiran global pluralisme keagamaan dan demokrasi. Tokoh-tokoh kontemporer > seperti Mahmoud Ayoub, Seyyed Hossein Nasr, Abul Kalam Azad, Fazlur Rahman, > Mohammed Arkoun, M Talbi, termasuk generasi baru seperti Abdullahi Ahmed > An-Naim, Fatima Mernissi, Amina Wadud, Riffat Hassan, Farid Eshack, Khaled M > Abou el-Fadl, dan banyak lagi, sudah mengadvokasikan pentingnya pluralisme. > Di Indonesia tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, M > Syafii Maarif, Djohan Effendi, M Dawam Rahardjo, dan belakangan KH Hasyim > Muzadi, sangat aktif bekerja mempromosikan pluralisme. Belum termasuk > generasi baru pemikir muslim Indonesia yang sekarang juga gigih > memperjuangkan pluralisme. Mereka tidak pernah mengharamkannya, justru > menekankan pandangan Islam yang penuh Rahmat Tuhan untuk semesta (rahmatan > lil `alamin), dengan menegaskan kearifan pluralisme. Dan mereka menyadari > sungguh-sungguh, agama Islam muncul sebagai agama > yang mengakui keberadaan agama lain. Dalam sebuah kutipan dalam entri Ahlul > Kitab Concise Encyclopedia of Islam, Cyril Glassé, mengemukakan "...the fact > that one Revelation should name others as authentic is an extraordinary > event in the history of religions" (Kenyataan bahwa sebuah wahyu [Islam] > menyebut wahyu-wahyu yang lain sebagai absah adalah kejadian luar biasa > dalam sejarah agama-agama). > > Jadi pengakuan adanya kebenaran, keselamatan, bahkan kesamaan agama-agama, > sudah dianut banyak kalangan Islam, jauh sebelum masalah pluralisme menjadi > wacana kontemporer. Dan yang menarik seorang ahli agama-agama, seperti Cyril > Glassé, yang bukan-muslim, mengakui hal tersebut secara terus terang. > Sekadar contoh beberapa tokoh nonmuslim lain, Bernard Lewis, Kenneth Cragg, > Marshall Hodgson, dan seorang teolog Jerman yang ahli Islam di Indonesia > Olaf Schumann juga menegaskan mengenai pluralisme sebagai kenyataan teologis > dan historis dalam Islam. > > Jadi pluralisme sebenarnya adalah bagian integral dari keagamaan Islam. > Bahkan dalam Alquran, ada ayat yang mirip, yaitu QS 2:62 dan QS 5:69 yang > menegaskan bahwa mereka yang beriman (kepada Alquran), orang Yahudi, > Nasrani, dan Sabiin, yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan > melakukan kebaikan, pahala mereka di sisi Allah, dan mereka tidak perlu > khawatir serta tidak perlu sedih. Muhammad Asad, penafsir Alquran yang > mendapatkan pengakuan internasional, dengan buku tafsirnya The Message of > the Qur'an (Gibraltar: Dar al-Andalus, 1980), menyebutkan, di antara semua > agama, Islamlah yang pertama (sudah sejak agama ini ada) menetapkan bahwa > keselamatan itu tergantung hanya pada tiga hal (saja), yaitu beriman kepada > Allah dan kepada hari kemudian serta berbuat baik. Pandangan Muhammad Asad > ini merupakan suatu nilai universal yang tidak terkungkung oleh > pengelompokan, atau pandangan sektarian, yang hanya menganggap bahwa agama > sendirilah yang paling benar, seperti tertera dalam > penjelasan fatwa MUI. > > Karena itu, penegasan fatwa MUI bahwa tidak semua agama itu sama, > bertentangan dengan Alquran yang menegaskan, seperti dijelaskan A Yusuf Ali, > dalam Tafsir Alquran-nya, ketika mengomentari makna al-islam. Posisi seorang > muslim sudah jelas. Ia tidak mengaku mempunyai agama yang khusus untuk > dirinya sendiri. Islam bukan sebuah sekte atau sebuah agama etnis. > > Dalam pandangan Islam, semua agama adalah satu (sama), karena kebenaran > adalah satu (sama). Ia adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi > terdahulu. Ia adalah kebenaran yang diajarkan oleh semua kitab suci yang > diwahyukan. Dalam esensinya, ia bertumpu pada kesadaran akan kehendak dan > rencana Tuhan serta sikap pasrah sukarela kepada rencana dan kehendak itu. > Jika ada seseorang yang menghendaki agama selain dari itu, ia tidak jujur > kepada naturenya sendiri, sebagaimana ia tidak jujur kepada kehendak dan > rencana Tuhan. Orang seperti itu tidak bisa diharap mendapat petunjuk, > karena ia telah dengan sengaja meninggalkan petunjuk itu. (A Yusuf Ali, The > Holy Qur'ân, Translation and Commentary [Jeddah: Dâr al-Qiblah, 1403 H], h. > 145, catatan 418). > > Perlunya sikap yang lebih terbuka dan humanis dari kejadian minggu ini > berkaitan dengan kasus Ahmadiyah dan fatwa MUI, kita belajar bahwa sikap > terbuka terhadap agama lain, masih merupakan agenda yang mendesak dalam > wacana keagamaan di Indonesia. Kita masih memerlukan latihan yang > terus-menerus, dalam hubungan antaragama, dalam mewujudkan prinsip > persaudaraan dan kemanusiaan yang benar (li ta`arafu, dalam istilah > Alquran,--supaya saling mengenal). > > Alquran menegaskan iman adalah fondasi pluralisme, jadi bukan hanya sekadar > pluralisme atas dasar kepentingan sosiologis, politis, untuk demokrasi dan > civil society, atau psikologis untuk mencegah fanatisme saja. Maka dua > prinsip yang berkaitan dengan pluralisme intra dan antarumat beragama, perlu > ditegaskan dalam kehidupan beragama. Pertama, di antara sesama umat Islam > perlulah sebuah prinsip yang agung (istilah Ibn Taymiyyah, ashl al- 'azhîm), > yang menegaskan prinsip kenisbian ke dalam (relativisme internal). Prinsip > inilah yang telah diteladankan oleh Nabi dan para sahabat. Umat Islam perlu > belajar lagi bersikap toleran terhadap muslim lain yang berbeda paham atau > mazhab. Kedua, di antara sesama umat manusia secara keseluruhan, paham > pluralisme itu ditegakkan berdasarkan prinsip bahwa masing-masing kelompok > manusia berhak untuk bereksistensi dan menempuh hidup sesuai dengan > keyakinannya. Larangan memaksakan agama, merupakan prinsip dasar yang > disebutkan dengan tegas dalam Alquran > (QS 2:256 dan QS 10:99). > > Hikmah dari adanya fatwa MUI yang kontraproduktif ini adalah perlunya kita > umat Islam memahami kembali ajaran Islam sebagai semangat kemanusiaan > (hablun min al-nâs) yang sangat tinggi, yang merupakan sisi kedua ajaran > Islam setelah semangat Ketuhanan (hablun min Allâh). Apalagi hal ini secara > luas telah diketahui kalangan muslim klasik, tapi hampir-hampir menjadi > pemikiran asing pada kebanyakan umat Islam dewasa ini, seperti nyata pada > Fatwa MUI mengenai pluralisme ini. > > Fatwa MUI seperti pepatah Inggris yang pernah dikutip Nurcholish Madjid, > telah--pulling the carpet under the table--menarik karpet di bawah meja > pluralisme yang telah dibangun susah payah oleh para pemikir Islam. MUI > seperti desakan para cendekiawan perlu mempertimbangkan lagi dampak sosial > dari fatwa yang intoleran ini. Kalau tidak, MUI akan ditinggalkan umatnya > sendiri, yang semakin sadar bahwa fatwa-fatwa para ulamanya (di MUI) tidak > memberikan kemaslahatan bersama dalam kehidupan sebagai warga negara di > Indonesia. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > ********************************************************************* ****** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi- india.org > ********************************************************************* ****** > _____________________________________________________________________ _____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > --------------------------------- > YAHOO! GROUPS LINKS > > > Visit your group "ppiindia" on the web. > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > --------------------------------- > > > > > ********************************************************************* ******* > ******* > > It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; > they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard > against > misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled. > > Sidharta Gautama > > > > > --------------------------------- > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > ********************************************************************* ****** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi- india.org > ********************************************************************* ****** > _____________________________________________________________________ _____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12htrep58/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124262635/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com ">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research Hospital</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

