http://www.indomedia.com/bpost/082005/17/opini/opini1.htm
Mencari Musuh Bersama Kontemplasi 60 Tahun Indonesia Merdeka Oleh : M Alpian Nor Kontemplasi adalah renungan; perhatian penuh. Dalam konteks ini kita akan melebarkannya pada lingkup esensi historis. Renungan 60 tahun Indonesia Merdeka, yang ditandai dengan dibacakannya teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Jumat 17 Agustus 1945. Dari balita sampai manula, dari 'orang kecil' sampai 'orang besar' pasti mengetahuinya. Bagaimana tidak? Tiap tanggal dan bulan itu setiap tahun, kita yang menikmati manisnya kemerdekaan tidak pernah absen mengikuti seremonial. Kesibukannya tidak hanya pada tatanan elit bangsa ini, tetapi sampai pada grass root dengan berbagai hiruk pikuk kemeriahan pesta kemerdekaan. Upacara Detik-detik Proklamasi serentak dilaksanakan, di setiap instansi pemerintahan di seluruh pelosok negeri ini yang prosesnya sama seperti dilakukan tahun sebelumnya. Dengan sedikit 'bumbu' pembacaan Teks Proklamasi ditambah sedikit penyedap 'kata mutiara' dari pembina upacara tentang makna kemerdekaan. Dengan kepiawaian penyampaiannya, mampu membuat bulu kuduk berdiri. Tapi prosesi hanyalah prosesi, kita terjebak dalam rutinitas yang hanya seremonial. Setelah berbaris dan berpanas ria dengan sedikit pesangon wejangan, berakhirlah upacara itu. Terselip pertanyaan, apa selanjutnya yang kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini? Apakah cukup hanya dengan menghadiri upacara Detik-detik Proklamasi? Mengisinya dengan lomba karaoke antar-RT, panjat pinang, lari karung, makan krupuk, seperti biasa disaksikan di sekitar kita dengan difasilitasi karang taruna setempat. Kesadaran Sejarah Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah), merupakan ungkapan bijak dari sang proklamator kita, Bung Karno. 17 Agustus 1945, 60 tahun berlalu. Artinya, ini merupakan peristiwa yang sudah menjadi bagian lembaran sejarah bangsa ini. Sejarah adalah masa lalu. Lalu, apa pentingnya? Toh itu sudah berlalu, mengapa kita memikirkan yang sudah lewat.? Pertanyaan atau lebih tepatnya komentar apatis tersebut memang tidak dapat sepenuhnya dipersalahkan, tapi bisa sebagai shock therapy bagi kita, bahwa selama ini kita hanya memandang peristiwa sejarah dengan 'telanjang'. Realitas ini memang benar adanya. Tidak usah dulu kita berbicara sejarah bangsa ini secara makro, kita tengok barang sedikit sejauhmana pengetahuan sejarah lokal kita. Sedikit contoh kecil, ketika seorang guru bertanya kepada muridnya: "Anak-anak, apa yang kalian ketahui tentang 17 Mei?" Serta merta terdengar sehutan: "Lapangan sepakbola tempat Barito Putera menjamu lawannya di Divisi II tahun depan,". Kenyataan yang membuat kita miris mendengarnya. Belum lagi komentar singkat seorang siswa mengenai ALRI Div A Pertahanan Kalimantan: "Kenapa ya, Angkatan Laut kok berjuang di darat? Itulah sedikit dari realitas yang menyedihkan terhadap pengetahuan (belum pada tatanan pemahaman) tentang sejarah lokal kita. Ibnu Khaldun (1332-1406), melihat dua sisi sejarah yang perlu diperhatikan; sisi luar dan sisi dalam. Pada sisi luar, tidak lebih daripada perputaran kekuasaan yang silih berganti di masa lampau. Tetapi pada sisi dalam, sejarah adalah suatu penalaran kritis (nazar) dan kerja yang cermat untuk mencari kebenaran; suatu penjelasan yang cerdas tentang sebab dan asal usul segala sesuatu; sesuatu pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi. Hanya sejarah yang dapat mengajar man of action (manusia pelaku) tentang bagaimana orang lain bertindak dalam keadaan khusus, pilihan yang dibuatnya, tentang keberhasilan dan kegagalan mereka. Allan Nevins menyebutkan, sejarah merupakan jembatan penghubung masa silam dan masa kini, dan sebagai penunjuk arah ke masa depan. Nasionalisme! Kebangsaan! Sekarang, penjajah itu sudah pergi. Belanda yang konon 350 tahun menjajah Indonesia --Kerajaan Banjar dihapus pada 1860-- sudah lama angkat kaki dari Indonesia. Apalagi Jepang yang harus pulang dengan lunglai akibat Nagasaki dan Hiroshima diluluhlantakkan sekutu. Dua negara yang menjadi musuh besar nini datu kita, sudah lama pergi. Kita merdeka. Tidak ada lagi musuh yang harus diperangi. Benarkah demikian? Nasionalisme, patriotisme, semangat kebangsaan, yang dahulu menjadi spirit of fight pendahulu kita, apakah juga harus pergi? Semangat itu mampu menjadikan kita memiliki sence of belonging terhadap bangsa ini. Secara aklamasi, kita semua akan menyatakan, tidak! Semangat dan rasa itu harus tetap ada. Namun terkadang secara de facto kita berhadapan dengan realitas yang menyedihkan. Kita mengalami degradasi. Euforia kebebasan, kemerdekaan, membuat kita terlena dengan urusan masing-masing. Kepentingan individu, kelompok, pola hidup hedonisme, menjadi sindrom akut yang mampu menggerogoti semangat nasionalisme kita. Kita terlalu asyik dalam buaian matrialis yang membentuk kita menjadi makhluk bermental korup. Semua itu bertolak belakang dengan semangat nasionalisme. Ernest Renant (1882) menyatakan, bangsa adalah suatu nyawa, asas akal yang terjadi dari dua hal. Pertama, rakyat itu harus bersama-sama menjalani satu riwayat. Kedua, rakyat itu sekarang mempunyai kemauan dan keinginan hidup menjadi satu: bukannya jenis (ras); bahasa; agama; batas negeri yang menjadikan bangsa itu. Haruskah nasionalisme baru hadir ketika atlit kita berlaga di kancah olimpiade? Ataukah kita harus kembali ke masa lalu? Kita cari siapa yang pantas menjadi musuh bersama untuk kemudian kita lawan beramai-ramai hanya untuk memungut kembali puing nasionalisme yang sudah mulai lapuk. Bukankah ini pernah berlaku ketika 'kegusaran' Soekarno pada Malaysia yang mengingkari kesepakatan Mafilindo dengan membentuk federasi di bawah bantuan Inggris, sehingga dijawabnya dengan Operasi Dwikora. Apakah ini merupakan upaya Soekarno mengrekontruksi semangat nasionalisme yang saat itu mulai luntur, sebagai imbas dari euforia kemerdekaan. Masih segar dalam ingatan kita, ketika hampir saja 'Dwikora Part II' terjadi --meskipun beda konteks. Seluruh elemen bangsa ini begitu marah di saat Ambalat terusik. Di mana-mana terjadi demo 'Ganyang Malaysia', posko sukarelawan membuka kesempatan untuk berperang. Sungguh begitu dahsyat media mengeksposnya, sehingga penolakan penaikan harga BBM yang sedang hangat mampu dibuat menguap begitu saja. Pameo kembali terjadi, munculkan isu baru untuk menutupi isu lama (upaya pengalihan perhatian). Musuh kita bukan lagi berbentuk negara atau bahkan mungkin ideologi. Musuh kita sekarang adalah kemiskinan, pengangguran, kebodohan, ketamakan, kerakusan yang semuanya menjadikan siapa pun mengambil peran di dalamnya menjadi gelap mata. Haruskah terjadi lagi ketika Husin, seorang ayah yang dalam ketidakberdayaannya harus pulang dengan bayi prematur di gendongannya karena ditolak oleh enam rumah sakit di ibukota sana. Salah satunya adalah rumah sakit yang menjadi rujukan untuk keluarga miskin, dengan alasan tidak dapat memenuhi syarat administrasi (baca: uang). Masihkah ini terjadi pada bangsa yang katanya merdeka ini? Sekarang, di saat individualisme merajalela, mampukah kita menganggap semua itu sebagai musuh bersama yang harus diperangi, diberantas hingga tuntas dalam satu semangat bersama; semangat nasionalisme. Nasionalisme sebagai suatu itikad; suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu ada satu golongan, satu bangsa. Setiap zaman akan melahirkan masalah dan aktor tersendiri. Setiap zaman akan melahirkan semangatnya sendiri, dan akan melahirkan pahlawan tersendiri yakni mereka yang akan menjadi kekuatan pelopor dalam memecahkan masalah zamannya. Dirgahayu Indonesiaku! Mahasiswa FKIP Unlam tinggal di Banjarmasin e-mail: [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h7cf8q5/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124319258/A=2894350/R=0/SIG=10tj5mr8v/*http://www.globalgiving.com">Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

