Sorry Om Moderator, 

Numpang posting tulisan dari milis lain - seputar pertanyaan saya
mengenai apakah
boleh tidaknya wartawan dan media 'netral' (baik media cetak,
elektronik termasuk
di dunia internet) berpihak kepada salah satu kelompok/parpol tertentu.

Karena kenyataannya, IMHO, aroma keberpihakan kadang begitu kentara bagi 
suatu media yang secara umum dilihat bukan sebagai milik/berafiliasi kepada 
kelompok/parpol tertentu. CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

-----------------
Dear Rekans,

Sebetulnya adakah aturan atau (mungkin sekedar) etika bagi
media massa cetak, elektronik (termasuk internet) yang secara
kasat mata bukan milik kelompok tertentu (parpol?), tetapi
pemberitaannya condong kepada pihak tertentu.
Ya, semacam kampanye sedari dini tanpa disadari kebanyakan publik.

Sebetulnya kalau media tesebut mendeklarasikan dukungannya
secara gamblang, barangkali tidak jadi masalah/persoalan.
Yang jadi masalah (IMHO) kalau ada media yang tidak mengaku
sebagai corong propaganda kelompok tertentu tapi
pemberitaannya berbeda dengan klaimnya itu.

Ada yang bisa bantu memberikan semacam pemetaan media
massa dan kelompok (pemihakan)-nya, barangkali.
Sehingga ada unsur fairness dan kejujuran dalam mengembangkan
opini publik. Ya, kalau mau sukses, dengan cara yang jujur gitu
lho.. bukan dengan segala cara, yang tidak etis.

Saya lihat di sini ada Bang Ade Armando dan para sesepuh jurnalis
lain (termasuk Bang Farid). Barangkali bisa yang bisa menjawab
pertanyaan ini dengan jelas dan kongkrit.
Semoga dimaklumi karena pertanyaan ini datang dari seseorang
yang bukan praktisi dalam dunia jurnalis. Terima kasih atas perhatiannya 
dan ditunggu jawabannya.

CMIIW.

Wassalam,

------------

Buat Irwan dan teman-teman lain,

Untuk menjawab apakah wartawan boleh berpihak pada partai tertentu dan
wartawan boleh berpihak pada sesuatu, saya ingin mengutip buku "The
Elements of Journalism" karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

Buku ini punya sub-judul yang harus kita cermati:

"What Newspeople Should Know and The Public Should Expect"

atau

"Apa yang harus diketahui wartawan dan apa yang bisa diharapkan oleh
publik (pembaca dan pemirsa)."

Artinya, buku ini layak dibaca pula oleh publik (pembaca dan pemirsa)
untuk membuat mereka lebih kritis dan punya harapan yang proporsional
terhadap profesi wartawan.

Dari semua elemen, tidak satupun menyebut kata "obyektifitas" dan
"netralitas".

Sembilan Elemen Jurnalisme:

1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari
kekuasaan
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan
menemukan kompromi
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Oke, sekarang kita ambil satu contoh kongkret dan kita uji berdasar
elemen-elemen tadi: editorial Media Indonesia dan opini saya soal
pengadilan kasus Walikota Depok.

INDEPENDENSI

Bagaimana dengan elemen ke-4 (Jurnalis harus menjaga independensi dari
obyek liputan/tulisannya)?

Sebagai wartawan kita harus sebisa mungkin bersikap independen, tanpa
takut dan tanpa tekanan, tanpa konflik kepentingan.

Namun, dalam banyak kasus, kita para wartawan tidak pernah bisa
independen se-independen-independennya. Kita bekerja untuk majikan
yang punya kekuasaan dan uang. Atau mungkin kita punya saudara yang
dekat kekuasaan. Bahkan jika kita bekerja di sebuah media yang
dibiayai oleh donor asing, bisakah kita mengklaim independen?

Kita mungkin nbisa independen terhadap partai politik tertentu, tapi
bisakah independen terhadap kepentingan bisnis tertentu; wartawan
Kompas terhadap Gramedia Group; wartawan Bisnis Indonesia terhadap
Sahid Group; wartawan Metro dan Media terhadap Surya Paloh Group, yang
tidak hanya bisnisman tapi juga tokoh Partai Golkar?

Buku Bill Kovach memberi jalan keluar untuk kemustahilan itu:
"Jika wartawan/media memiliki hubungan yang bisa dipersepsikan sebagai
konflik kepentingan, mereka berkewajiban melakukan full-disclosure
tentang hubungan itu."

Tujuannya adalah agar pembaca waspada dan menyadari bahwa
tulisan/liputan itu tidak independen-independen amat.

VERIFIKASI

Salah satu kata kunci dari semua elemen tadi adalah "disiplin
verifikasi" untuk mencapai kebenaran.

Opini saya sudah mengimplikasikan sebuah subyektifitas, namun dalam
pemaparannya saya bisa mengklaim saya lebih ketat dibanding Media
Indonesia dalam melakukan verifikasi dan penggalian fakta.

Saya menampilkan data, angka, kronologi, dan konteks. Berdasar fakta
itu saya berpihak. Tapi, klaim itu bisa diuji orang lain. Fakta-fakta
yang saya kemukakan bisa diuji publik, wartawan dan koran lain. Dan
jika ada seseorang yang bisa menemukan fakta lain melalui serangkaian
verifikasi, saya mungkin akan bisa berubah kesimpulan pula.

[Ngomong-ngomong soal fakta, saya membuat kecerobohan dalam tulisan
itu: Badrul Kamal bukan menantu Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan.
Badrul adalah BESAN sang gubernur].

Dengan cara itu pula--yakni mempersilakan orang membuat verifikasi
fakta--saya mencoba sebisa mungkin menarik jarak dari obyek tulisan.

Bandingkan dengan editorial Media Indonesia. Satu-satunya yang
diunggulkan di situ adalah "menerima keputusan pengadilan sebagai
final dan mengikat".

Media Indonesia menerima "hukum positif" tanpa mencoba melihat
bagaimana hukum itu diputuskan, seperti apa metodenya, dan sebagainya.

Diuji dari elemen ke-5, saya berani bersaing dengan Media Indonesia.
("Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari
kekuasaan"). Kekuasaan di sini termasuk kekuasaan kehakiman tentunya.

Dan dengan ini saya juga telah mengambil risiko untuk dituding
"contempt of court", dengan penjara sebagai ganjarannya.

KOMPREHENSIF DAN PROPORSIONAL

Elemen ini hanya bisa dipenuhi jika wartawan tidak hanya menerima
fakta yang terlalu mudah bisa diraih. "Wartawan harus menggali lebih
jauh fakta-fakta dan menyusunnya dalam sebuah konteks."

Dalam elemen ini saya juga berani bersaing dengan editorial Media
Indonesia itu. Apakah mereka cukup memberikan fakta dan konteks,
kecuali menerima keputusan itu sebagai "final dan mengikat"?

HATI NURANI WARTAWAN

Kebenaran kadang bersifat sangat elusif. Sangat sering kita wartawan
dihadapkan pada keputusan yang harus ditimbang hati nurani, melalui
dialog dalam diri kita.

Wartawan yang independen adalah yang bisa exercise hati nurani itu
tanpa tekanan dan tanpa iming-iming, termasuk tekanan atasan dan
tekanan kehilangan pekerjaan.

Jika seorang wartawan meyakini suatu kebenaran, tapi dia takut
mengungkapkannya karena takut dipecat, misalnya, dia tidak independen
(Dan kembali lagi ke elemen ke-4).

salam,
Farid Gaban


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h8a1pdp/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124389556/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke