OPINI Jum'at, 19 Agustus 2005 Bahasaku, Citraku
Toeti Adhitama, Ketua Dewan Redaksi Media Group ADA RUU bahasa. Setelah hampir delapan dasawarsa, ada pemikiran untuk 'menertibkan' bahasa? Menelusuri sejarah, tahun 1928 pemuda Indonesia melahirkan konsep amat penting bagi sejarah negeri ini, yakni konsep kesatuan - satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Nasionalisme dan idealisme terpancar di sana; ideologi melawan arus pada masa itu, ketika negeri ini masih dalam penjajahan Belanda. Sebagai kelanjutan, lahir Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Isinya: Pertama, kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, yaitu tanah air Indonesia. Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sejak itu terjadi realitas-realitas baru dalam sejarah kita. Ketika terjadi invasi Jepang pada tahun 1942, banyak di antara orang Indonesia yang mengartikannya sebagai pembebasan dari Belanda. Tetapi faktanya tidak demikian. Sekalipun Jepang berhasil menyingkirkan musuh-musuhnya, orang-orang Eropa, ke kamp-kamp konsentrasi, tetapi dia sendiri tidak membebaskan Indonesia melainkan mendudukinya. Rakyat Indonesia didorong bekerja sama dengan Jepang. Ini membuat keyakinan Indonesia pada diri sendiri semakin tumbuh. Nasionalisme makin kental, lebih-lebih ketika Jepang mulai menggodanya dengan ide kemerdekaan. Slogan-slogan nasionalis disemarakkan, lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, Merah Putih dikibarkan sejajar dengan bendera Matahari Terbit Jepang. Semua itu dilakukan Jepang karena posisinya yang makin melemah dalam PD II. Kemudian kekalahan Jepang oleh sekutu, antara lain akibat serangan bom atom terhadap Hiroshima 6 Agustus 1945, membawa kita pada proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, 17 Agustus 1945. Realitas-realitas baru terus bergulir dalam enam dasawarsa ini. Senin minggu ini, telah ditandatangani MoU kesepakatan damai dengan GAM, yang intinya memberikan kemandirian lebih besar kepada Aceh; sementara daerah-daerah lain lewat pilkada sedang sibuk memilih pemimpin-pemimpinnya. Namun dalam pidatonya sebelum HUT proklamasi, Presiden menyatakan, dia tidak akan membiarkan ada daerah yang melepaskan diri dari NKRI. Selain itu, dari konsep kesatuan yang muncul tahun 1928, kita bisa yakin, bahasa masih tetap menjadi alat pemersatu. Dari bahasa itu tersirat citra Indonesia. Apakah orang Indonesia memerhatikan bahasanya? Bagaimana kita mendidik anak-anak berbahasa? Pertanyaan-pertanyaan itu patut kita renungkan berkenaan dengan ulang tahun ke-60 kemerdekaan. Menurut hasil riset yang pernah diadakan, hanya sekitar 30% penduduk Indonesia berbahasa Indonesia. Selebihnya masih menggunakan bahasa ibu, bahasa yang kita gunakan secara naluriah karena kita lahir dan dibesarkan dalam lingkungan bahasa itu; apakah itu bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Batak, dan lain-lain. Bagaimana proses mengartikan atau memakai bahasa ibu sebagai alat komunikasi sejak lahir, sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar bagi para ahli bahasa. Tiap manusia, tanpa dipilih-pilih, dilengkapi dengan alat bahasa ini. Yang disepakati para ahli, bahasa ibu kita kuasai lewat penyerapan bahasa dengan segala nuansa artinya, bukan dengan cara pembelajaran bahasa yang prosesnya dirasakan lebih sulit; termasuk bahasa Indonesia, misalnya. Bahasa Indonesia yang bukan bahasa ibu kemudian dikenal anak-anak sebagai bahasa kedua. Wajar kalau terjadi kekakuan dalam penggunaan bahasa kedua. Tidak luwes karena alat bahasa yang bersangkutan sudah terbiasa dengan bahasa ibu. Saya rasa ini dirasakan oleh semua pemakai bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, sekalipun bahasa ini dipakai sebagai bahasa kesatuan dan persatuan. Dengar bagaimana angkatan-angkatan tua berbicara bahasa Indonesia. Ada yang dengan ucapan dan intonasi bahasa Belanda, ada yang diberati dialek Jawa, Padang, Betawi, Makassar dan sebagainya. Perhatikan bagaimana penduduk Jakarta memperlakukan bahasa persatuan ini. Perkembangannya menarik. Mereka dari kelas bawah berlogat Betawi, tetapi mereka dari kelas yang terdidik atau kelas atas sekarang mencampurkan pengaruh-pengaruh bahasa Inggris ke dalam bahasanya. Karena banyaknya media elektronik yang menampilkan dua kelompok itu ke seluruh negeri, dapat dibayangkan apa yang nantinya terjadi pada bahasa persatuan ini. Beberapa generasi lagi, mungkinkah bahasa gado- gado ini yang menjadi bahasa formal? Ditambah lagi luas wilayah kita dan banyaknya suku juga berpengaruh besar terhadap bahasa Indonesia, baik dalam hal aksen maupun pengucapannya. Menurut para pengamat bahasa, media massa pada waktu ini, khususnya yang elektronik, ceroboh dalam menampilkan orang-orang yang tidak berbahasa yang baik dan benar. Begitu pula kampus-kampus dianggap kurang membina. Anak-anak sekolah dasar dan menengah pun kurang mendapat pembelajaran bahasa secara intensif. Padahal lembaga-lembaga itu yang sebenarnya dapat dijadikan referensi oleh publik, selain, tentu, para pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakat yang banyak berbicara di depan publik. Tetapi, berbahasa yang baik dan benar itu yang bagaimana? Apakah yang ditetapkan oleh lembaga bahasa? Apakah sekadar intonasi atau lagu kalimatnya? Apakah kemurnian kata-kata yang digunakan? Atau apakah struktur bahasanya yang diperhatikan? Sayang, kebiasaan memberikan penghargaan pada tokoh-tokoh publik yang berbahasa baik dan benar sudah tidak ada lagi. Mungkin terlalu rumit, sebab, memang, bahasa tidak pernah berhenti tumbuh. Dia hasil kesepakatan yang bertubi-tubi antaranggota masyarakat. Sebagai misal, kosakata bahasa Inggris adalah hasil perpaduan bahasa asli dengan kosakata bahasa-bahasa lain. Untunglah bahasa-bahasa Eropa umumnya datang dari satu moyang. Berarti struktur bahasa mereka sama. Tidak saling merusak. Dalam hal bahasa Indonesia, strukturnya sama sekali lain dengan bahasa-bahasa asing dari Eropa. Pengaruh asing yang mengadakan kontak sosial dengan pemakai bahasa Indonesia bisa saja merusak struktur bahasa. Sedangkan pengaruhnya terhadap kosakata justru menguntungkan karena di masa depan, bahasa Indonesia akan lebih kaya konsep karena justru dari kata-kata asing itu. Sama halnya, ketika kita sudah lupa dari mana asalnya, kata-kata Belanda dan Arab yang masuk terbukti telah memperkaya bahasa kita. Yang mungkin perlu diwaspadai, dan mungkin diatur, jangan sampai strukturnya rusak karena bisa merusak sendi-sendi bahasa. Selebihnya terserah kepada kita, secara individu maupun sebagai masyarakat atau bangsa. Bahasa kita, citra kita. *** http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2005081823110629 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h9vaan6/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124411570/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project </a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

