sukidi ini intelektual muda muhamadiyah yang
menjanjikan.... pandangannya modern dan inklusif....
sekolahnya pun bukan sembarangan yaitu
di harvard.... sayang merokoknya terlalu banyak,
kalau di dekat dia siap-siap terkena polusi asap....

salam,



At 10:26 PM 8/18/05 +0000, you wrote:
>OPINI   Jum'at, 19 Agustus 2005
>
>Belajar Rukun dari Diana Eck
>Sukidi, mahasiswa Teologi Harvard University, Cambridge, Amerika
>
>THE Hartley Film Foundation baru saja merilis film terbaru. Pemirsa
>diajak untuk menikmati wajah baru Amerika, yang dari segi agama,
>hadir sebagai bangsa pluralis di dunia. Film yang memotret pluralisme
>agama di Amerika ini dituturkan profesor Diana L Eck.
>
>Profesor Eck memang sudah selayaknya terpilih sebagai penutur film,
>terutama lebih disebabkan karena, pertama, Eck punya reputasi
>istimewa sebagai akademisi di Universitas Harvard, dengan
>spesialisasi mata kuliah perbandingan agama dan studi India. Dan
>kedua, Eck sudah sejak lama memimpin 'Proyek Pluralisme' di Harvard.
>Pantaslah sekiranya Bill Clinton, Presiden Amerika saat itu, berdecak
>kagum melihat prestasinya dan menganugerahi Eck sebagai penerima The
>National Humanities Medal tahun 1998. Kita bersyukur, mulai 20
>Agustus ini, Eck memberikan kuliah umum dan diskusi di Indonesia
>selama seminggu.
>
>Dalam analisisnya, Profesor Eck selalu menjadikan perubahan kebijakan
>imigrasi Amerika tahun 1965 sebagai pintu masuk atas bangkitnya
>fenomena pluralisme agama di Amerika. Kebijakan imigrasi yang
>diperlonggar itu membuat para imigran baru, terutama dari Eropa,
>Amerika Latin, Timur Tengah, dan benua Asia, datang ke Amerika.
>Aspirasi ekonomi demi perbaikan hidup tentu saja mendasari migrasi
>mereka ke Amerika.
>
>Tapi, bersamaan dengan itu, mereka ternyata juga membawa dan
>menghadirkan simbol dan ekspresi keberagamaan baru: Alquran, Bhagavad
>Gita, simbol Krishna dan Budha. Protestan tidak lagi menjadi 'agama
>tunggal' Amerika. Yahudi, Islam, Hindu, dan Budha pun hadir
>berdampingan secara sejajar dengan Protestan. Di Los Angeles,
>misalnya, agama Budha begitu semarak dengan kuil model Asia, terutama
>model Kamboja, Korea, Jepang, dan Vietnam. Pusat meditasi pun berdiri
>di mana-mana, lebih-lebih di sekitar Los Angeles. Begitu pula
>kesemarakan agama Hindu beserta simbolnya mewarnai kota-kota
>Pittsburgh, Atlanta, Nashville, dan Houston.
>
>Lalu, Islam, di manakah? Selama ini, pikiran kita seperti sudah
>terkunci rapat bahwa yang disebut 'dunia Islam' hanya ada di seberang
>sana saja, dari Timur Tengah sampai Asia Tenggara, terutama Malaysia
>dan Indonesia. Padahal, demikian menurut Eck, kota-kota besar di
>Amerika, seperti Washington, Chicago, New York dan sebagainya adalah
>bagian yang tak terpisahkan dari 'dunia Islam' itu sendiri. Di
>Chicago saja, misalnya, ada sekitar 50 masjid dan setengah juta
>muslim hidup berdampingan dengan penganut agama-agama lain secara
>damai. Dan Amerika tercatat sebagai negara dengan tingkat
>perkembangan umat Islam yang paling cepat di dunia: sekitar 7-8 juta
>muslim hidup di Amerika.
>
>Di Amerika pula sejumlah akademisi dan pembaru muslim
>mendarmabaktikan pikiran keislamannya dan karier akademisnya: Leila
>Ahmed dan Ali Asani di Universitas Harvard; Khaled Abou El Fadl di
>Universitas California, Los Angeles; Omid Safi di Universitas
>Colgate, New York; Asma Barlas di Ithaca College, New York; Amina
>Wadud di Virginia Commenwealth University; dan Farid Esack di Xavier
>University, Ohio. Sadar akan pesatnya perkembangan Islam dan muslim
>di Amerika, Profesor Eck lantas menarik kesimpulan bahwa muslim
>Amerika jauh lebih besar jumlahnya ketimbang jemaah Gereja Episcopal,
>orang Yahudi atau Presbiterian.
>
>***
>
>Apa maknanya semua itu? Wajah Amerika telah berubah secara dramatis
>ke arah wajahnya yang pluralis dari segi agama. Karena itu,
>pertanyaan esensial yang diajukan Profesor Eck semakin penting
>didialogkan: bagaimana warga Amerika dengan segenap atribut iman dan
>agama yang beragam dapat melibatkan diri secara aktif dalam
>menumbuhkan pluralisme konstruktif?
>
>Profesor Eck dapat dihadirkan sebagai representasi yang baik.
>Keimanannya tak merasa terancam sedikit pun dengan adanya kesemarakan
>jalan-jalan spiritual menuju Tuhan. ''Demokrasi tak berfungsi secara
>baik,'' tegasnya, ''Jika Anda khawatir dengan tetangga-tetangga Anda.
>'' Trust menjadi salah satu komponen utama bekerjanya demokrasi di
>Amerika.
>
>Keragaman dan pluralisme agama justru terus dirayakan. Dalam hal ini,
>Profesor Eck memberikan kontribusi akademis yang tak ternilai
>harganya tentang pemaknaan kembali pluralisme dalam konteks
>perkembangan masyarakat Amerika yang serbaplural.
>
>Profesor Eck, pertama-tama, menggarisbawahi bahwa pluralisme bukanlah
>kosakata lain untuk keragaman atau perbedaan. Keragaman atau
>perbedaan itu sendiri bukanlah yang dimaksud dengan pluralisme.
>Pluralisme mensyaratkan keterlibatan aktif setiap warga (Amerika)
>terhadap fakta keragaman dan pluralitas itu sendiri. Keterlibatan
>aktif inilah yang menopang bekerjanya demokrasi di Amerika. Tanpa
>keterlibatan aktif yang menjadi spirit utama pluralisme, demokrasi
>tak dapat berfungsi secara baik.
>
>Kedua, pluralisme ditarik oleh Eck agar melampaui toleransi itu
>sendiri. Tentu saja, toleransi sangat penting untuk membebaskan
>setiap warga dari sikap tidak toleran. Tapi, toleransi saja tetaplah
>tidak cukup karena ia terlampau rentan dan mudah retak sebagai
>penopang demokrasi. Karena, demikian menurut Eck, toleransi tidaklah
>mengharuskan tetangga-tetangga baru untuk saling mengetahui satu sama
>lain tentang apa saja. Ini berbeda dengan pluralisme, yang memang
>mengharuskan setiap warga untuk saling mengetahui satu sama lain dan
>melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan bersama sebagai warga
>negara yang aktif dalam masyarakat plural seperti Amerika.
>
>Ketiga, pluralisme, dalam pendefinisian ulang Profesor Eck, bukanlah
>relativisme. Pluralisme tidaklah mengeliminasi atau membunuh kuatnya
>'komitmen' keagamaan atau komitmen sekuler di antara kita. Pluralisme
>justru merupakan 'perjumpaan komitmen-komitmen' antara satu warga dan
>warga yang lain. Karena itu, 'bahasa pluralisme', menurut Eck, adalah
>'bahasa dialog dan perjumpaan, saling memberi dan menerima, kritik
>dan kritik-diri.'
>
>Profesor Eck tampaknya sadar betul bahwa mendiskusikan pluralisme
>agama di Amerika tidaklah berarti Amerika serta-merta menyediakan
>jawaban yang tuntas atas semua masalah yang timbul; tetapi lebih
>karena Amerika, seperti halnya Indonesia, telah, sedang, dan terus
>berjuang terhadap isu-isu toleransi, pluralitas keagamaan, dan
>demokrasi. Namun, secara umum, kita tampaknya sepakat bahwa Amerika
>jauh lebih berhasil ketimbang Indonesia dalam mengelola pluralisme
>sebagai kekuatan penopang keadaban publik dan demokrasi. Di Amerika,
>pluralisme (agama) justru dirayakan.
>
>Di Indonesia justru sebaliknya: pluralisme (agama) justru diharamkan,
>setidaknya oleh fatwa MUI. Namun, hal-hal yang mendasari pengharaman
>MUI terhadap pluralisme itu sendiri, menurut Profesor Dawam Rahardjo,
>bukanlah disandarkan pada kesalahpahaman (yang karena itu nantinya
>bisa dikoreksi bersama), melainkan murni karena 'ketidakpahaman' akan
>arti pluralisme itu sendiri. Dan terbukti benar: tak satu pun tiga
>pendefinisian akademis tentang pluralisme yang disajikan Profesor Eck
>di Universitas Harvard senapas dengan definisi pluralisme yang
>diajukan MUI (Majelis Ulama Indonesia).
>
>Dengan segala kerendahan hati, kita dapat belajar dari Profesor Eck
>tentang pengalamannya memimpin 'proyek pluralisme' di Harvard, yang
>menggali dan mengembangkan segi-segi pluralisme, toleransi, kebebasan
>agama, dan ikatan keadaban di Amerika. Dalam banyak hal, Indonesia
>dapat dan harus mau belajar aspek-aspek positif Amerika, terutama
>kesuksesannya menciptakan keadaban publik, demokrasi, dan masyarakat
>dengan tingkat kepercayaan yang tinggi satu sama lain.***
>
>http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2005081823110730



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h703b6m/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124431694/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke