Kunjungi http://www.direktorihaji.com

Republika. Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji pasti ingin meraih
gelar haji mabrur. Sebab, seperti dijanjikan Rasulullah, ''Orang yang
mendapatkan haji mabrur, tiada balasan yang lebih baik baginya, kecuali
surga''. Tidak mudah untuk mencapai mabrur, yang merupakan puncak prestasi
ibadah haji seseorang. Namun, ada ikhtiar yang bisa dilakukan untuk
merengkuhnya.

Menurut Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia
(IPHI) Boyolali, Jawa Tengah, menunaikan ibadah haji perlu membawa bekal
''kurma'' (bahasa Jawa: dibaca ''kurmo''). Apa maksudnya? ''Kalau
mendapatkan kenikmatan kita harus selalu bersyukur, kalau menghadapi
kesulitan atau cobaan kita harus nrimo atau ikhlas. Dengan modal 'kurma'
itu, insya Allah kita akan mendapatkan gelar mabrur,'' katanya. Fahruri
menjelaskan, orang yang menunaikan ibadah haji itu adalah orang yang
dipanggil Allah atau tamu Allah. ''Sebagai tamu Allah, ia harus mempunyai
bekal yang disebut 'kurma', yakni syukur dan nrimo,'' kata Pimpinan
Kelompok Pengajian Bani Adam Boyolali.

Lebih jauh, Fahruri mengatakan, syukur dan nrimo itu merupakan modal hidup
yang utama. ''Kalau seorang jamaah haji selalu syukur dan nrimo selama
menunaikan ibadah haji di Tanah Suci maupun setelah berada kembali di
Tanah Air, insya Allah hidupnya akan selamat dan penuh berkah. Apa pun
yang terjadi, ia mampu menerimanya dengan ikhlas. Sebab ia yakin, semua
itu merupakan kehendak Allah SWT,'' tandasnya.

Meskipun demikian, Fahruri menegaskan, syariah harus tetap ditempuh dengan
sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan manajemen yang benar. ''Dari
segi jamaah haji maupun umrah, penting untuk selalu syukur dan nrimo.
Namun dari segi penyelenggara, pemerintah maupun travel haji/umrah dan
Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), harus melaksanakan segala
sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Hal yang perlu diingat, jamaah haji itu
merupakan tamu Allah. Karena itu harus diperlakukan dengan sebaik mungkin
sebagaimana layaknya tamu Allah,'' ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Drs H Ahmad Anas MAg, ketua Yayasan
Riyadhul Jannah, Semarang. Menurut Anas, selain mengetahui dan memahami
tentang tata cara dan makna ibadah haji, hendaknya calon jamaah haji
menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kesabaran sejak dini. Sebab, kata
dia, banyak peristiwa yang terjadi di Tanah Suci berada di luar jangkauan
akal manusia.''Jika kita ikhlas dalam melaksanakan ibadah, niscaya Allah
akan memberikan kemudahan bagi kita dalam menunaikan perintah-Nya,'' jelas
Pembimbing jamaah haji Travel Razek ini. Suami Hj Siti Alfiaturohmaniah
ini menambahkan, keikhlasan dan kesabaran menjadi kunci sukses untuk
menggapai predikat haji mabrur.

Mampu
H Ma'mun Efendi Nur, Lc, MA, PhD, staf pengajar IAIN Walisongo Semarang
mengatakan, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki seorang calon
jamaah haji untuk menunaikan ibadah haji adalah istitho'ah (mampu).
Artinya, seorang calon jamaah haji harus memiliki kemampuan, baik
kemampuan akan harta benda untuk menunaikan ibadah haji dan untuk keluarga
yang ditinggalkan, maupun kemampuan fisik (sehat jasmani dan rohani).

Di samping dua kemampuan di atas, kemampuan lainnya yang juga memiliki
peranan penting dalam melaksanakan ibadah haji adalah kesiapan ilmu
pengetahuan akan ibadah haji, misalnya makna dan spiritualitas haji, tata
cara (manasik) dan lainnya. Faktor kemampuan ilmu pengetahuan tentang
ibadah haji ini, sangat penting artinya untuk kesempurnaan ibadah haji
(sesuai syarat dan rukunnya) dalam menggapai haji mabrur. Tentu saja,
pengetahuan tersebut meliputi banyak hal, sejak proses pendaftaran,
pembayaran ONH, perlengkapan dokumen, pengetahuan sejarah haji, serta
proses perjalanan dan makna ritual yang terkandung dalam ibadah haji.
Proses pembimbingan dan pembinaan haji itulah yang disebut dengan
bimbingan manasik haji.

Untuk mempersiapkan itu semua, tidaklah cukup waktu satu hingga tiga bulan
sejak dari proses pendaftaran hingga pemberangkatan calon haji ke Tanah
Suci. Maka untuk mempersiapkan pengetahuan yang mendalam, setidaknya
seorang calon haji bisa mempersiapkan jauh sebelum dirinya berangkat
menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Ma'mun mengatakan, waktu manasik
yang diberikan selama tiga bulan itu terlalu singkat. ''Minimal seorang
calon haji harus mempersiapkan diri setahun sebelum ia berangkat ibadah
haji,'' kata alumnus Universitas Ummul Qura Madinah kepada Republika.

Ia menambahkan, pengetahuan dan pemahaman akan makna dan tata cara ibadah
haji sangat penting artinya bagi calon haji dalam menunaikan rukun Islam
yang kelima. Sebab, tanpa pengetahuan dan pemahaman tentang itu, maka
ibadah haji tersebut hanya menjadi ibadah rutinitas yang jauh dari
nilai-nilai kesempurnaan. ''Jangan sampai, ketika menjadi tamu, tidak
mengetahui apa yang akan disampaikan kepada tuan rumah,'' ujar Ma'mun
berfilsafat. Pria yang lama bermukim di Tanah Suci itu mengungkapkan,
jamaah haji dari Malaysia rata-rata mendapatkan pembekalan dan pengetahuan
ibadah haji, jauh hari sebelum melaksanakan ibadah haji. ''Ada yang
berguru khusus kepada para ustadz, ada pula yang mempelajari buku-buku
tentang haji. Jadi, mereka tidak mendadak mendapatkan pengetahuan tentang
tata cara beribadah haji tersebut,'' tutur Ma'mun.

Presiden Direktur PT Nur Rima Al-Waali, Hj Irmawati Asrul SE mengatakan,
kemampuan (istithoah) yang dimaksudkan oleh Alquran dalam ibadah haji
adalah kemampuan harta benda, ilmu pengetahuan, dan kemampuan fisik.
'"Dengan memiliki kemampuan seperti ini, Insya Allah ibadah haji akan
diterima Allah SWt,'' kata Hj Irma. Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan
Haji Indonesia (IPHI) itu menambahkan, selain kemampuan di atas, sebaiknya
seorang calon haji juga dibekali dengan niat yang tulus dan ikhlas dalam
menjalani segala sesuatu. Sebab, ungkapnya, perjalanan haji untuk
menggapai predikat haji mabrur, membutuhkan perjuangan yang maksimal.
''Apalagi, jalannya begitu terjal dan banyak godaan yang siap menghalangi
upaya kita untuk beribadah,'' jelasnya.

Ia menyebutkan, godaan dan halangan yang biasa dialami oleh jamaah haji
saat melaksanakan haji adalah berkata-kata yang kasar, ketus, suka iri
dengan urusan orang dan senang menggunjingkan orang lain. Padahal, kata
dia, Allah telah menegaskan, bahwa seorang jamaah haji dilarang
berkata-kata rafats (berkata jorok/porno), fusuq (fasik, berkata kasar),
dan jidaal (menggunjing) selama melaksanakan ibadah haji. ''Tanpa
keikhlasan dan kesabaran, niscaya kita akan sering terpeleset untuk
berbuat yang dilarang Allah,'' tegasnya.

Tips Haji Mabrur

Apa saja langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan oleh seorang calon
jamaah haji agar bisa meraih mabrur saat berhaji? Berikut ini tips yang
diberikan oleh Ustad Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji
Indonesia (IPHI), Boyolali, yang juga Pengasuh Kelompok Pengajian Bani
Adam, Boyolali, Jawa Tengah.
* Tobat kepada Allah sebelum pergi berhaji maupun selama menunaikan ibadah
haji.
* Gemar berinfak, dalam keadaaan lapang maupun sempit. Baik dengan tenaga,
ilmu maupun harta.
* Menahan marah
* Memaafkan kesalahan orang lain, sebelum orang tersebut memohon maaf
* Senang berbuat baik. Perbuatan kita tidak boleh merugikan orang lain.
Bahkan kalau bisa menguntungkan orang lain alias muhsin.

( sya/ika )





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hrdot6j/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124521431/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke