Catatan laluta:
Sehubungan dengan Notulensi Sarasehan Memperingati 60thn Kemerdekaan R.I. di
KBRI, Den Haag - Belanda, tgl. 6 agustus 2005 yl, a.l. tercantum pernyataan
Dubes M.Yusuf yang dianggap 'mencemééh' (artinya menghina) sbb: "Kemiskinan
karena sikap masyarakat sendiri yang tidak mau kaya, tidak mau ber-KB." Untuk
itu saya kirimkan satu karya Ekspresi puisi bung Djafar (Swedia) berjudul
'Kamilah Pencipta Tanah Air Indonesia', yang merespons pernyataan DUBES
tersebut. Juga saya lampirkan uraian ekspresi dan refleksi diri Bung Roeslan
(Jerman) berjudul 'Mengapa Terjadi Kemiskinan di Indonesia'.
La Luta Continua!
KAMILAH PENCIPTA TANAH AIR INDONESIA
-----------------------------------------------------------------------------
Gunung gunung yang penuh dengan kehijauan yang lebat
lembah lembah yang penuh dengan padi padi kuning mengurai
keindahan bagai ukiran dewa semesta
kamilah yang menciptanya
nenek moyang kami turun menurun
membungkuk menanami padi
dengan hidup yang tak memadai
kamilah yang menciptakan sejarah bumi Indonesia
klas pekerja indonesia
bukan raja raja atau antek antek imperialis dunia.
Kami , kami , rakyat pekerja Indonesia
yang kalian belenggu kaki dan tangan
yang kalian bungkam mulut kami untuk bersuara
kami, kamilah, yang menghidupi kalian turun menurun
begitu kurang ajar dan tak tahu diri, kalian bilang kemiskinan
karena kita punya kemalasan
kami kamilah yang menciptakan tanah air Indonesia
hingga terkenal dimana mana
Kami , kamilah yang memenuhi fabrik fabrik besar maha guna
menciptakan kekayaan untuk kalian
sedang hidup kami dihias dengan kemiskinan
kami, kamilah yang menciptakan gedung gedung menjulang
tempat kalian menikmati hasil hasil pemerasan
selagi kalian memperkosa kekayaan alam
menyulapnya menjadi gedung megah di washington, brussel, ammesterdam
dan kota kota metropolitan di Eropa
kami , kamilah , yang menghidupi kalian
sementara kalian maki kemiskinan karena kemalasan.
Kami , kami , rakyat pekerja Indonesia
yang berjuang dari sabang sampai merauke
dengan gagah berani mengusir para penjajah
dari bumi Indonesia
kami , kami yang berjuang untuk hidup
dari petak petak sawah diseluruh pegunungan Indonesia
hingga dibengkel bengkel sempit yang penuh dengan abu abu kotor
kamilah yang menghidupi kalian
benalu benalu anak bumi
antek antek kapitalis asing
kami akan rebut kembali
hak hak kami yang layak manusiawi.
Kami yang membanting tulang hidup dihias dengan kemiskinan
menciptakan beras dan sayur mayuran
kami kaum buruh yang menciptakan
mobil, kapal terbang dan macam macam kemoderenan alat alat perang
kamilah yang menghidupi kalian
selagi kalian bilang kemiskinan karena kemalasan
kami pasti rebut kembali
hak hak hidup kami yang layak manusiawi
kami akan terus berjuang
hingga patah belenggu penindasan
kami akan terus berjuang
demi pembebasan, demi pembebasan.
Fadjar
Norsborg , 20 Aug
2005
*
Date: Wed, 17 Aug 2005 22:12:07 +0200
To: [EMAIL PROTECTED]
From: Ki Segoro Alas <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: FW: Benarkah kemiskinan itu disebabkan oleh karena masyarakat malas
dan tidak mau KB
Mengapa terjadi kemiskinan di Indonesia ?
Dari sarasehan yang dilangsungkan di Belanda saya ikut merasakan adanya
hembusan angin yang kurang sedap didengar. Hembusan angin itu datang dari Dubes
kita yang di Belanda dalam menanggapi masalah adanya kemiskinan dalam
masyarakat Indonesia. Beliau mengatakan Kemiskinan adalah karena sikap
masyarakat sendiri yang tidak mau kerja,dan tidak mau KB.
Pendapat seperti ini kiranya perlu sekali untuk diluruskan !
Untuk mengungkap masalah ini kiranya kita harus melihatnya secara integral,
secara holaristis, artinya, melihat rangkaian pertumbuhan hubungan ekonomi di
Indonesia, atau melihat dialektikanya hubungan ekonomi di Indonesia.
Pertumhuhan hubungan ekonomi di Indonesia sejak dari zaman kolonial Belanda
sampai sekarang pada dasarnya tidak mengalami perubahan. Pertumbuhan ekonomi di
Indonesia selalu mengikuti system herargi kekuasaan atau herargi penindasan
termasuk dibidang ekonomi.
Adanya system herargi ekonomi yang berwatak penindasan ini dapat kita lihat
sebagai berikut.
Ekonomi Rakyat, dimana masa pribumi hidupnya selalu tetap berada dalam posisi
tertindas sebagai lapisan terbawah dalam konstelasi ekonomi Indonesia. Dalam
keadaan seperti ini, maka proses eksploitatif nampak semakin mencengkam, ini
ditimbulkan oleh adanya interaksi antara aktor-aktor ekonomi kuat dengan
aktor-aktor ekonomi lemah yang terdiri dari masa wong cilik (pibumi) yang
mencari nafkah sebagai buruh pabrik,buruh tani,petani gurem,nelayan, buruh
nelayan,pedagang kecil, pengrajin kecil dan aktor-aktor ekonomi sekala kecil
yang lainnya. Ini telah dibuktikan antara lain dalam bentuk menurunnya tingkat
upah buruh,pendapatan,menurunnya nilai tukar petani,semakin banyaknya petani
tak bertanah dan semakin tingginya tingkat penganngguran.
Hubungan sedemikian itu baik dari jaman kolonial Belanda sampai saat sekarang
ini pada dasarnya tidak berubah, yang berubah hanyalah warisan aktor ditingkat
atas sedangkan sifat interaksi tidak berubah. Mungkin inilah yang dikatakan
oleh sementara orang bahwa Rakyat tetap di jajah, yaitu dijajah oleh bangsanya
sendiri secara lebih kejam.
Kemiskinan itu antara lain terjadi oleh sebab, mereka yang miskin itu hanya
mendapatkan nilai tambah awal yang sangat kecil, karena mereka tidak dapat
ikut serta dalam jenjang-jenjang ekonomi yang selanjutnya, yang untuk
selanjutnya itu dilakuakan oleh orang-orang yang bermodal besar. Misalnya
petani kelapa tidak sanggup memproduksi kelapanya menjadi minyak dan dijual
secara besar-besaran.
Jadi proses kemiskinan berarti bukan saja dalam artian simiskin menjadi lebih
miskin secara absolut, tapi dalam artian melebarnya kesenyangan dan ketidak
adilan dalam pembagian nilai tambah (nilai lebih) secara menyolok. Rupanya hal
semacam ini menjadi berkelanjutan, karena system perekonomian yang kita tempuh
adalah system yang berdasarkan herargi kekuasaan yang bersifat penidasan atas
manusia oleh manusia. Hal semacam ini nampak dalam kenyataan; Misalnya dalam
hubungan ekonomi secara mekanisme pasar yang selalu menghasilkan akomulasinya
Renten Ekonomi (baca bunga uang modal yang ditanam)ditangan sekelompok
anggota masyarakat saja. Tentang renten ekonomi itu dapat ditunjukkan dalam
perhitungan sbb:
Renten ekonomi hakekatnya adalah profit dari industri, yang secara logika
matematik dapat diterangkan sbb:
Renten ekonomi dapat ditunjukan dalam fungsi produksi dalam sektor industri,
yang secara matematik dapat ditulis sbb : Q = F (B,K,N)........(I) . F (baca
fungsi)
Q = Faktor output agegrat; B = Faktor Buruh; K = Faktor Modal dan N = Input
agegrat. Dari sini dapat dilihat bahwa nilai output (baca Y) adalah sama dengan
B+K+N. Dengan demikian kelihatan bahwa faktor output (Y) itu dibagikan pada
faktor-faktor B,K,N jadi Y = B+K+N ......(II)
Di Indonesia terdapat suatu kebijakan yang memberikan perangsang fiskal dan
moneter yang diberikan pada faktor-faktor modal,hal ini menyebabkan terjadinya
distorsi dalam penetapan harga dari faktor-faktor produksi.Kebijakan ini
menyebabkan pembagian manfaat ekonomi tidak mencerminkan persamaan distribusi
seperti yang ditunjukkan dalam rumusan nomer (II) diatas. Oleh karena faktor
kaum buruh adalah merupakan faktor yang paling lemah didalam system produksi,
maka faktor buruh tidak mendapatkan pembayaran secara wajar (1-a), sedangkan
faktor modal dan faktor lain mendapat pembayaran diatas kewajaran (1+a),
sehingga dengan demikian,terjadilah :
Y = (1-a)B + (1+a)K +(1+a)N .........(III)
Dari persamaan ini dapat dilihat bahwa nilai output yang diterima oleh
pemilik-pemilik faktor modal (k) dan faktor produksi (N) akan bertambah besar,
hal ini disebabkan oleh karena kurangnya pembayaran pada faktor buruh (B).
Sehingga dengan demikian meningkatlah profit (Rente) yang diterima oleh K dan
N.
System yang demikian itu kiranya tidak mempunyai hari depan yang baik ditinjau
dari upaya untuk memberantas kemiskinan. Atau system semacam itulah yang
menyebabkan terjadinya kemiskinan, jadi kemiskinan itu bukan disebabkan oleh
karena masyarakat malas dan tidak mau KB seperti yang dikemukakan oleh pak
Dubes di Belanda.
Yang kita bicarakan diatas baru mengenai keadaan intern dalam negeri saja dan
belum kita kaitkan dengan hubungan modal asing. Modal asing di Indonesia juga
akan mendapatkan bagian rente ekonomi yang sudah kita uraikan diatas, dengan
demikian keadaan Rakyat semakin tertindas. Karena pemilik modal besar adalah
modal asing, jadi nilai lebih mengalir keluar negeri. Arus masuk investasi
asing dalam rangka relokasi industri memanfaatkan buruh murah bangsa Indonesia,
sehingga dengan demikian telah membesarlah kekuasaan pihak asing dalam sektor
export Indonesia. Oleh karena itu adalah tidak janggal jika ada orang yang
mempertanyakan: Export kita itu sebetulnya exportnya siapa ? Karena yang
melakukan export banyak terdiri dari pihak asing yang melakukan aktivitas
produksi di Indonesia (Amerika,Jepang,Jerman dll).
Yah,demikianlah penanggapan saya dalam menerima dan mengamati soal kemiskinan
di negeri kita.
Roeslan.
[EMAIL PROTECTED] schrieb am 13.08.05 10:31:18:
Kiranya perlu juga disini ditambahkan sifat interaksi jaman kolonial Belanda
sampai saat sekarang ini pada dasarnya tidak berubah, yang berubah hanyalah
warisan aktor ditingkat atas sedangkan yang sekarang erat hubungannya dengan
modal asing.
Marilah Kita tinjau bersama-sama dan cermati komponen-komponen Ekonomi di
Indonesia sejak dari jamannya orde baru yang diwarisi dan diteruskan oleh
pemerintah jaman Reformasi seperti sekarang ini.
Yang saya maksud sebagai komponen-komponen ekonomi itu adalah :
1. Pemerintah
2. Pengusaha dan pemodal besar
3. Pihak-pihak perantara (kelompok exskutif orang-orang yang mendapat
berbagai macam subsidi, dan fasilitas pemerintah, baik secara terbuka maupun
secara terselubung. Kelompok ini adalah merupakan kelompok yang mengkhususkan
diri dalam mencari rente ekonomi.
4. Buruh,Tani,Ekonomi Rakyat dan Pengusaha kecil sektor informal.
Diluar itu masih ada peranan asing dalam bentuk : Utang luar negeri dan Modal
Asing. Selain dari pada itu masih ada juga lembaga-lembaga lain misalnya
Eksport dan Import dan lembga keuangan. Komponen-komponen inilah yang saya
maksud sebagai komponen yang tardapat dalam proses saling hubungan perekonomian
di Indonesia, atau secara singkat sebut saja dialektikanya ekonomi di
Indonesia. Dalam hal ini yang perlu kita perhatikan adalah adanya saling
hubungan secara herargi penindasan antara komponen yang satu dengan komponen
yang lainnya. Adanya hubungan itu dapat dilihat dalam proses sbb.
Dari komponen 1,2,3 dan 4 + modal asing + eksport seperti yang tercantum diatas
akan menghasilkan apa yang disebut : PRODUKSI BARANG DAN JASA.
Dari adanya hasil Produksi Barang dan Jasa itu, pemereintah akan mendapatkan
pemasukan keuangan yang berupa pajak, Dari hasil pajak itulah yang menjamin
kehidupan pemerintah (untuk membayar menteri-menterinya, birokrat birokratnya,
polisi, Militer, Departemen-departemen, Kedutaan diluarnegeri, bayar utang dan
cicilan utang luar negeri dll. lagi)
Dari hasil Produksi Barang dan jasa itu, para pemodal besar akan menerima
surplus ekonomi. Demikian juga pihak-pihak perantara dan Modal Asing tidak
ketinggalan mereka juga akan mendapatkan surplus ekonomi. (baca nilai lebih
menurut istilah marxis)
Lain halnya dengan Buruh, Tani, ekonomi rakyat yang lemah dan pengusaha kecil
sektor informal, mereka ini tidak mendapatkan surplus ekonomi, mereka hanya
menerima upah dan pendapatan saja. Jadi hidup mereka ini selalu tergantung
pada komponen 1, 2 dan 3 tersebut diatas, artinya mereka itu dicengkeram oleh
komponen-komponen 1,2 dan 3.
Sedangkan komponen 1,2 dan 3 dicengkeram oleh Utang Luar negeri dan modal
Asing. Dari sini kelihatan bahwa komponan yang ke 4 (Buruh,Tani dll) menerima
dua kali penindasan. Dia ditindas oleh komponan 1, 2 dan 3 dan juga ditidas
oleh modal asing yang menggunakan kesempatan adanya politik buruh murah
bangsa Indonesia sebagai kebijakan pemerintah Indonesia dalam rangka memancing
investor-investor asing.
Dari proses seperti yang ditunjukkan diatas yaitu dialektika ekonomi di
Indonesia, maka tidak akan mungkin dapat terjadinya keseimbangan dalam
masyarakat, yang terjadi adalah munculnya kelompok eklusif ekonomi besar yaitu
kongglomerat-kongglomerat, bahkan kongglomerat hitam (kelompok exskutif
orang-orang yang mendapat berbagai macam subsidi, dan fasilitas pemerintah,
baik secara terbuka maupun secara terselubung). Kelompok ini adalah merupakan
kelompok yang mengkhususkan diri dalam mencari rente ekonomi, seperti yang
sudah saya sebutkan diatas.
Proses inilah yang saya maksud herargi penindasan dibidang ekonomi. Disinilah
bentuk penindasan pemerintah terhadap rakyatnya. Dengan sendirinya system
herargi penindasan itu tidak sesuai dengan Ekonomi Pancasila (Demokrasi
Ekonomi) seperti yang dicantumkan dalam pasal 33 UUD 45, yang sudah menjadi
rujukan bersama dan juga menjadi kekuatan untuk mewujudkan rekonsiliasi
nasional dalam pembangunan ekonomi bagi kepentingan rakyat banyak. Untuk maksud
tersebut rasanya kita sudah didesak untuk merubah system herargi penindasan
menjadi herargi pertumbuhan atau holargi ekonomi di Indonesia. Holargi dalam
artian herargi pertumbuhan, seperti misalnya Atom dalam molekule, molekule
dalam zell, zell dalam organisme, organisme dalam ekosystem, ekosystem dalam
biosphere dan biosphere akhirnya bergabung dengan universum.
Jika ini dapat diwujutkan, maka ini berarti bahwa kita sudah siap menciptakan
keseimbangan dan rancangan perubahan untuk masa depan yang baik.
Seperti yang sudah saya kemukakan dalam tulisan yang terdahulu yaitu hubungan
ekonomi di Indonesia sejak jaman kolonial Belanda :
Pertumhuhan hubungan ekonomi di Indonesia sejak dari zaman kolonial Belanda
sampai sekarang pada dasarnya tidak mengalami perubahan. Pertumbuhan ekonomi di
Indonesia selalu mengikuti system herargi kekuasaan atau herargi penindasan
termasuk dibidang ekonomi.
Adanya system herargi ekonomi yang berwatak penindasan ini dapat kita lihat
sebagai berikut.
Ekonomi Rakyat, dimana masa pribumi hidupnya selalu tetap berada dalam posisi
tertindas sebagai lapisan terbawah dalam konstelasi ekonomi Indonesia. Dalam
keadaan seperti ini, maka proses eksploitatif nampak semakin mencengkam, ini
ditimbulkan oleh adanya interaksi antara aktor-aktor ekonomi kuat dengan
aktor-aktor ekonomi lemah yang terdiri dari masa wong cilik (pibumi) yang
mencari nafkah sebagai buruh pabrik, buruh tani, petani gurem, nelayan, buruh
nelayan, pedagang kecil, pengrajin kecil dan aktor-aktor ekonomi sekala kecil
yang lainnya. Ini telah dibuktikan antara lain dalam bentuk menurunnya tingkat
upah buruh, pendapatan, menurunnya nilai tukar petani, semakin banyaknya
petani tak bertanah dan semakin tingginya tingkat penganngguran.
Jadi yang berubah hanyalah warisan aktor ditingkat atas sedangkan sifat
interaksi tidak berubah. Ini berarti penguasa kolonial dan birokrat sekarang
seluruhnya pribumi. Penguasa feodal dan golongan aristokrat tidak lagi
memainkan peranan dalam berkolaborasi dengan modal asing. Tempat mereka
digantikan oleh pribumi yang dulunya hanya menempati posisi menengah sekarang
menjadi perantara (kaki tangan modal asing dan IMF).
Sampai di jaman reformasi sekarang ini, saya masih belum yakin bahwa strategi
ekonomi pemerintah yang bersandar pada pihak asing, yaitu modal asing ( baca
investor asing) dan utang luar negri(IMF) akan dapat membawa Indonesia kearah
perkembangan ekonomi yang adil untuk seluruh rakyat Indonesia. Pesimisme ini
didasarkan atas kenyataan bahwa hingga kini, Indonesia tidak melakukan
reformasi sosial yang mendasar, yang merupakan prasyarat mutlak bagi emansipasi
sosial yang massif.
Mengenai ketergantungan pada pihak asing.
Adapun ketergantungannya dengan pihak asing tercermin dalam bentuk pembayaran
pembangunan dimana modal asing dan utang luarnegeri sangat memainkan peranan.
Juga tercermin dalam bentuk import dan eksport. Industri-industri substitusi
(pengganti) import tidak bisa jalan tanpa dukungan kuat dari import. Karena
industri substitusi import itu memerlukan adanya barang-barang import. Misalnya
onderdil mobil, TV, komputer dan mesin-mesin yang lainnya, yang dimontase di
Indonesia selalu memerlukan onderdil-onderdil yang tidak semuanya dapat dibuat
di Indonesia. Inilah yang saya maksud dengan perlunya dukungan kuat dari import.
Politik perekonomian yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada
jamannya orde baru sampai saat ini pada prinsipnya adalah politik perekonomian
yang selalu menggantungkan diri pada utang luar negeri dan modal asing. Sampai
sekarang ini pemerintah Indonesia selalu mengharapkan agar supaya masuk
sebanyak-banyaknya investor asing. Untuk itu pemerintah tetap berpegang pada
kebijakannya yaitu buruh murah bangsa Indonesia bagi para investor asing.
Dengan demikian Indonesia telah menjadi negara pemasok surplus ekonomi yang
setia pada pihak asing.
Sehubungan dengan utang luar negeri indonesia telah terlibat dalam situasi
tambal sulam. Artinya semakin banyak cicilan dan utang luarnegeri yang dibayar,
maka semakin besar akumulasi utang luar negerinya. Karena cicilan plus bunga
utang luarnegeri lebih besar dari nilai utang baru.
Dalam keadaan yang demikian itu, maka penuturuan John Perkins yang ditulis oleh
Kwik Kian Gie yang mengatakan INDONESIA DIJERAT UTANG UNTUK DIJAJAH sepenuhnya
dapat diterima dan dibenarkan. Hal ini termanifestasikan dalam keadaan sbb. :
Indonesia yang merdeka sekarang ini pada hakekatnya telah beruah menjadi negara
yang selalu tergantung dari utang luarnegeri dan modal asing. Atau dengan kata
lain Indonesia yang Merdeka kini telah menjadi negara jajahan (jajahan IMF
menurut KKG) dan menjadi negara memasok surplus ekonomi yang setia pada pihak
asing.
Adanya penindasan pihak asing terhadap Indonesia nampak dalam kutipan sbb:
Kutipan dari tulisannya John Parkins (terjemahan KKG)
Halaman 15 akhir dilanjutkan dihalaman 16 : "...tujuan membangun proyek-proyek
tersebut yalah menciptakan laba sangat besar untuk para kontraktornya, dan
membuat bahagia sekelompok kecil elit dari bangsa penerima utang luar negeri,
sambil memastikan ketergantungan keuangan yang langgeng (long term), dan karena
itu menciptakan kesetiaan politik dari negara-negara target di dunia."(kutipan
selesai)
Tanggapan:
Bahwa hakekat utang luar negeri itu sebenarnya adalah alat penjajahan model
baru yang ternyata belum difahami oleh para elite bangsa Indonesia, karena
kebanyakan diantara mereka adalah ekonom-ekonom made in USA, yang menurut bung
Gardam adalah* ekonom-ekonom yang sudah kejangkitan >Konsum-Syndorm<.
Sesungguhnya >konsum-syndrome< dalam masalah ini adalah >segment
holargi-globalisasi-ekonomi< yang dampaknya tidak memilih-bulu, ibarat virus
yang menyerang semua lipid-membran didalam organisme! Jadi tidaklah
mengherankan mengapa tingkah laku pemimpin-pemimpin-reformasi-kita dan
ekonom-ekonom kita yang sekarang ini berkuasa karekternya NOL BESAR dipandang
dari sudut UUD 45 pasal 33.
Kutipan :
Di halaman 13: "Claudine mengatakan bahwa saya mempunyai dua tujuan penting.
Pertama, saya harus membenarkan (justify) kredit dari dunia internasional yang
sangat besar jumlahnya, yang akan disalurkan melalui MAIN dan
perusahaan-perusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel, Halliburton, Stone &
Webster) melalui proyek-proyek enjenering dan konstruksi raksasa. Kedua, saya
harus bekerja untuk membangkrutkan negara-negara yang menerima pinjaman raksasa
tersebut (tentunya setelah mereka membayar MAIN dan kontraktor Amerika
lainnya), sehingga mereka untuk selamanya akan dicengkeram (beholden) oleh para
kreditornya, dan dengan demikian negara-negara penerima utang itu akan menjadi
target yang mudah ketika kita memerlukan yang kita kehendaki (favors) seperti
pangakalan-pangkalan militer, suaranya di PBB, atau akses pada minyak dan
sumber daya alam lainnya)."(kutipan selesai)
Tanggapan:
Kelompok kecil elit dari bangsa penerima utang luarnegeri menurut pendapat saya
adalah yang termasuk dalam komponen 1,2 dan 3. Jadi mereka itu pada hakekatnya
adalah pembantu setia penjajah asing. Mereka ini sudah kejankitan dampak
>Konsum-Syndorm<,>segment holargi-globalisasi-ekonomi< yah beginilah jadinya
negara kita menjadi negara yang dedel duel dan ambrul adul.
Kutipan :
"Semakin besar jumlah utang luar negerinya semakin baik. Kenyataan bahwa beban
utang yang akan dikenakan pada negara-negara penerima utang akan menyengsarakan
(deprive) rakyatnya yang termiskin dalam bidang kesehatan, pendidik pelayanan
sosial lainnya untuk berpuluh-pulih tahun lamanya tidak perlu menjadi
pertimbangan."(kutipan selesai)
Tanggapan:
Kesengsaraan seperti yang diutarakan dalam kutipan diatas diwakili oleh
komponen ke 4 seperti yang sudah diutarakan dalam dialektika ekonomi di
Indonesia diatas.
Jika di Indonesia tidak diadakan reformasi sosial secara mendasar, maka tidak
akan mungkin dapat terjadi perubahan apapun meskipun setiap hari SBY
melontarkan teriakan histeri janji-janji perubahan. Tidak mungkin wong cilik
akan dapat menikmati kekayaan tanah airnya sendiri. Negara-negara kreditorlah
yang akan dapat menikmati kekayaan alam Indonesia.
Sejarah telah mengajarkan pada kita bahwa adanya reformasi sosial yang mendasar
telah menyebabkan adanya perkembangan ekonomi di negara-negara maju, seperti
misalnya Amerika utara dan Eropa barat sehingga dapat meraih posisinya seperti
sekarang ini.
Roeslan.
=================
From: "Roeslan" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: FW: Benarkah kemiskinan itu disebabkan oleh karena masyarakat
malas dan tidak mau KB ?
---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hk8nr7m/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124677447/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Take
a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/