Iya, sih.. Kadang-kadang ada saja manusia yang merasa lebih penting terlihat berjanggut dengan jidat kehitaman dan berteriak2 menghakimi orang lain daripada berbuat kebajikan. Lebih penting meneriakkan keyakinan agamanya daripada membantu orang lain yang membutuhkan. Lebih penting mendapat gelar soleh daripada mengedepankan kepentingan sesamanya manusia.
Salam, Uly --- Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > "...Jadi, buat yang giat beragama, daripada ribut > mikirin > dosa atau nggak, haram atau nggak, halal atau nggak, > mending banyak2 berbuat. Kalau kebanyakan mikir > agama > biasanya perbuatannya nol besar...." > > Ya begitulah mBak. Tapi diakui saleh oleh tetangga > dan teman teman, kan sedap,mbak? > > Salam > > Danardono > > > > > Free Thinker <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: > Banyak sih ukurannya, > Bebas korupsi, memiliki umat yang nggak pemarah > (nggak > suka ngobrak-ngabrik rumah ibadah orang lain, atau > teriak2 atas nama agama dengan penuh kemarahan), > menerima gay dan lesbian sebagai bagian dari ciptaan > Tuhan (bukannya memperlakukan mereka seperti > binatang > yang ga berharga), tahu caranya ngantre dengan > benar, > nggak buang sampah sembarangan, malu kalau bodoh, > menghargai keyakinan orang lain, ga merasa paling > benar sendiri. The list could go on and on deh... > > Gereja ditinggalkan? Nggak apa-apa deh, asal jangan > rumah ibadah penuh tapi korupsi dan kekerasan > merajalela kayak di Indonesia. Kaum beragama yang > munafik itu kegagalan agama yang paling dahsyat. > Soalnya orang-orang yang munafik yang giat beragama > itu biasanya paling gampang menularkan kebencian dan > menciptakan kekerasan. > > Nggak percaya? Udah kelewat banyak contohnya. Kaum > konservatif di AS, kaum pembela umat di Indonesia. > Sama dan sebangun. > > Jadi, buat yang giat beragama, daripada ribut > mikirin > dosa atau nggak, haram atau nggak, halal atau nggak, > mending banyak2 berbuat. Kalau kebanyakan mikir > agama > biasanya perbuatannya nol besar. > > > > > > --- Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Apa sih ukuran yang dipakai sehingga suatu negara > > bisa > > dikatakan "berhasil membangun masyarakat manusia > > secara rohani" ? > > Adanya free sex, adanya pernikahan antara > guy/lesbi, > > buanyaknya > > orang yang bunuh diri, banyaknya orang mencari > > keyakinan pada aliran- > > aliran baru semacam new age? Gereja ditinggalkan > > umat? > > > > Jadi, apa sih ukuran yang dipakai sehingga suatu > > negara bisa > > dikatakan "berhasil membangun masyarakat manusia"? > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], Danardono > HADINOTO > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > DH:Lha iya toh gak apa apa kan? Jepang juga > anggap > > Kitab > > > Tripitaka hanya akidah, Eropa juga, tapi > berhasil > > > membangunmasyarakat manusia yang manusiawi kan? > > > > > > LD: soal membangun masyarakat manusia yang > materi, > > gak bisa > > > dihuungkan dg akidah dong, mbah? > > > > > > DH: Disini menurut saya ada terdapat > kekeliruan > > konklusi. > > Mengapa? > > > > > > 1) Membangun masyarakat adalah karya besar yang > > mencakup semua > > aspek, tidak saja materie, namun juga rohani. > > Masyarakat yang > > tertata, adalah masyarakat yang mempunyai mental > > tertata: disiplin, > > patuh hukum, solidaritas sosial, kritis terhadap > > penguasa, dan > > banyak lagi lainnya. Ini adalah ciri ciri > masyarakat > > masyarakat yang > > sudah tertata. Ini semua adalah masalah mental, > > rohani, yang tak ada > > hubungannya dengan kekayaan materie. Warga Swiss > > yang patuh adalah > > dari yang milyarder sampai yang rakyat biasa. > > > > > > Tidak meludah dijalan, tak membuang sampah atau > > puntung rokok, > > disiplin dalam antrean bus, tram ataupun > > underground, bukanlah buah > > kekayaan. > > > > > > Semua yang keluar dari bathin kita, adalah sisi > > yang terpancari > > oleh akidah. > > > Tentu saja, tak semua peraturan agama di Barat, > > dilakukan dalam > > kehidupan se-hari hari dalam masyarakat madani > ini, > > karena mereka > > sudah mulai kritis, untuk melihat apa yang > > sebenarnya dibutuhkan > > dalam kehidupan se-hari hari, apalagi kalau warga > > berbagai budaya > > dan agama hidup bersama. > > > > > > 2) Akidah, seperti yang mBak Lina selalu > tegaskan, > > terutama adalah > > terdiri dari peraturan rinci, yang mengatur > > kehidupan se-hari hari. > > Kalau warga atau umat agama tertentu yang memiliki > > peraturan rinci > > secara baik dan ketat, maka tak mungkinlah timbul > > masyarakat yang > > carut marut, seperti Indonesia, ataupun banyak > lagi > > yang lain: > > Mesir, Tunisia, Marokko, Bangla Desh, Pakistan. > > > > Lina: > > Apa iya saya pernah mengatakan 'akidah terdiri > dari > > peraturan > > rinci?" tolong dijelakan dan > dipertanggungjawabken. > > > > > ----------------------- > > > Jadi, tak mungkin, tak mencari dampak kehidupan > > akidah dalam > > kehidupan se-hari hari. Kalau tak ada dampaknya > > samasekali, maka > > adalah yang something wrong disini. > > > > Lina: > > Kalo begini artinya impossible dong memisahkan > > akidah dalam negara > > (sekulariseme)?\ > > ----------------------- > > > > > > 3) Seperti kita ketahui bersama, setiap agama > > mempunyai dua > > aspekt: vertikal dan horizontal. Vertikal, yang > > mengatur hubungan > > makhluk dengan sang Khalik, ini memang sangat > > individual. masing > > masing mempunyai pengalaman spiritual sendiri. > > Horizontal, mengatur > > kehidupan mahkluk satu dan yang lain, dipancari > oleh > > norma norma > > yang ditetapkan dalam akidah. Jangan mencuri, dll. > > > > Lina: > > Betul kah agama Kristen mempunyai aspek > horizontal? > > apakah Kristen > > memiliki aspek mengatur wanita mana saja yang > tidak > > boleh dinikahi > > oleh seorang pria? agama Kristen bagaimana > > perceraian seharusnya > > diatur? Ini kan utk mengatur hub horizontal juga > ya? > > > > ----------------------------------> > > > Dari aspekt ini saja, sudah pantaslah, kita > > menyaksikan apa > > kiranya dampak suatu akidah bagi masyarakat yang > > mengamalkannya. > > > > > > Sebuah peringkat peraturan negara, misalnya, > > sebaik apapun, tak > > akan banyak manfaatnya bagi manusia selama, tak > ada > > aturan yang > > dipatuhi. Kita tak mungkin, disatu pihak, membuang > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h21ovkj/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124702261/A=2894350/R=0/SIG=10tj5mr8v/*http://www.globalgiving.com">Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

