(Tulisan berikut di bawah ini  juga disajikan dalam

website http://perso.club-internet.fr/kontak/ )







                TULISAN MENGHARUKAN ANAK NJOTO,

                            WAKIL KETUA CC PKI





Pengantar A. Umar Said :



Dalam rangka Peringatan 40 Tahun Peristiwa 65 sejumlah tulisan sudah
disajikan dalam website kita
http://perso.club-internet.fr/kontak tentang berbagai pengalaman yang
terjadi dalam tragedi besar  kemanusiaan yang  sudah dialami bangsa kita
itu.  Munculnya tulisan-tulisan yang mengangkat  - dengan berbagai cara  --
soal-soal yang berkaitan dengan pengalaman dalam peristiwa 65 adalah perlu
sekali  (!!!) untuk terus-menerus mengingatkan semua orang  bahwa halaman
hitam dalam sejarah bangsa itu sekali-kali tidak boleh terjadi lagi. Kapan
pun, bagaimana pun, dalam bentuk apa pun, dengan cara apa pun dan oleh siapa
pun!



Kali ini kita sajikan tulisan iramani. id, salah seorang putri dari 7 anak
Njoto, Wakil Ketua II CC PKI,  yang telah ditangkap dalam bulan-bulan
terakhir 1965 dan “dihabisi” begitu  saja (dan secara diam-diam) oleh unit
militer, tanpa pemeriksaan pengadilan.



iramani.id  adalah nama samaran yang dipakainya  untuk tulisan ini, dengan
meminjam nama samaran ayahnya (Njoto) yang sering menggunakan nama Iramani
untuk tulisan-tulisan sastranya. Untuk membedakannya dengan nama samaran
asli ayahnya, ia pakai huruf kecil.



Tulisan ini merupakan sepenggal ingatan masa kecilnya, ketika bersama ibunya
(istri Njoto) dan kakak-adiknya yang jumlahnya banyak  itu ditahan oleh
militer, antara lain di salah satu Kodim di Jakarta. Waktu itu ia masih
berusia 4 tahun, dan saat mereka ditangkap, ibunya sedang hamil  besar dan
melahirkan anak terkecilnya dalam masa tahanan.



Tulisannya yang bernada puitis ini cukup menggambarkan – dengan bagus sekali
dan juga mengharukan -- alam fikir kanak-kanak dalam menghadapi berbagai
persoalan waktu itu. Dari cara penulisannya, ia menunjukkan bakat menulis
dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan isi yang dalam. Mudah-mudahan di
kemudian hari kita bisa menikmati hasil karyanya yang lain. Tulisannya, yang
bisa menggambarkan kehidupan yang penuh penderitaan dari keluarga dan
anak-anak pimpinan CC PKI  karena perlakuan militeristik Suharto, merupakan
bukti yang lebih jelas lagi tentang ketidakmanusiawian yang telah banyak
sekali dilakukan rejim Orde Baru.



Tentang keluarga Njoto, berikut ini disajikan sebagian dari tulisan
Harsutedjo bertanggal 5 Agustus 2005, yang sudah disiarkan di berbagai
mailing-list. Tulisan yang berjudul “Nyoto, Menteri Negara, Wakil Ketua CC
PKI Dan Nasib Keluarganya” itu antara lain adalah sebagai berikut :



“Sejumlah anak masuk ke dalam penjara bertahun-tahun bersama ibu mereka yang
menjadi tapol karena tiada tempat lain untuk berlindung, ya berlindung ke
dalam penjara! Betapa absurdnya. Bahkan juga perempuan tapol yang sedang
hamil melahirkan di penjara. Seperti pernah kita dengar, Nyoto yang Menteri
Negara dan Wakil Ketua CC PKI sampai meninggalnya, istri dan 7 anaknya (yang
tertua 9 tahun, si bungsu yang lahir 1966 sedang menyusu) dijebloskan ke
dalam tahanan di Kodim Jl Setiabudi, Jakarta. Anak-anak ini pula selama
dalam tahanan bersama ibu mereka melihat dan mendengarkan jerit tangis
tahanan laki dan perempuan yang sedang disiksa! Dapat kita bayangkan dampak
psikologis macam apa yang mungkin mencengkeram seluruh jiwa raga mereka
untuk seumur hidupnya. Anak pertama Nyoto yang bernama indah Svetlana
Dayani, bertahun-tahun lamanya tidak berani menyandang nama depannya hanya
karena berbau Rusia.



Seperti kita ketahui isteri Nyoto, Sutarni, berasal dari keluarga ningrat
Mangkunegaran, Sala. Dia tidak memiliki kegiatan politik apa pun, sudah
terlalu sibuk dengan anak-anaknya sampai tragedi 1965 meletus. Beruntung
anak pertama mereka, Svetlana, baru berumur 9 tahun bersama ibunya di
tahanan. Saya ngeri membayangkan, andai saja dia sudah gadis remaja, entah
apa yang terjadi terhadap dirinya. Bukan rahasia lagi bahwa telah terjadi
pelecehan seksual dan perkosaan, sering beramai-ramai terhadap para
perempuan korban. Untuk membungkam saksi tak jarang kemudian mereka
dihabisi.



Bukti sejarah berdasarkan pengakuan si pelaku menunjukkan bahwa Nyoto yang
Menteri Negara dibunuh atas perintah Jenderal Sumitro sebagai pembantu
Jenderal Suharto dengan jabatan Aisten Operasi Menpangad pada 1965. Tipikal
jenderal Orba yang dengan bangga mengakui telah melakukan pembunuhan
terhadap lawan politiknya ketika kekuasaannya sedang berkibar.



“Nyoto, gembong PKI, pernah saya lihat sewaktu ia ikut dalam Sidang Kabinet
di Bogor. Dia kelihatan sangat sombong, kurang ajar terhadap Pak Hidayat,
hingga saya memberi tanda dengan sikut kepada Jenderal Moersjid dan berkata:
‘Sjid, ik krijg hem wel.’ (Aku akan dapatkan dia). Benar, saya sakit hati
melihatnya. Saya perintahkan khusus untuk mengejarnya supaya ia terpegang.
Selang beberapa waktu ia dikabarkan mati sudah”.[i][i]



Itulah yang diakui dengan bangga oleh Jenderal Sumitro. Kalau saja Pak
Jenderal ini masih hidup, ia dapat diseret ke depan pengadilan kriminal
karena memerintahkan pembunuhan seorang warga negara sekaligus seorang
menteri yang sedang menjabat.



Svetlana melukiskan ayahnya sebagai ayah yang baik kepada siapa saja, halus,
sopan, pandai. Sesibuk apa pun dia masih memberikan waktunya untuk keluarga.
Svetlana dan adiknya terkadang diajak ke kantor ayahnya di koran Harian
Rakjat, juga ketika menerima undangan sarapan ke Istana Negara bersama Bung
Karno, bahkan nonton pertandingan sepakbola. Selama hantaman badai, setelah
terpisah dari ibunya, dia dan adik-adiknya terpencar-pencar mengikuti sanak
keluarga yang berbeda-beda di Jawa dan Sumatra, sementara ibu mereka
mendekam sebagai tapol selama 11 tahun. Rumahnya di Kebayoran Baru telah
dijarah dan diobrak-abrik, buku-buku dan dokumen dibakar termasuk segala
macam dokumen keluarga dan foto-foto. Belakangan rumah itu ditinggali oleh
Jenderal Mattalata (ayah penyanyi Andie Meriem). Setelah mengalami segala
macam pahit getir bersama semua adik-adiknya, mereka cenderung bersikap
apatis terhadap politik karena trauma. Akhirnya Svetlana Dayani berseru,
“Hentikan diskriminasi kepada kami”. Demikian tulis Harsutedjo.





                                                 KODIM, 1966

                                                     Oleh : iramani id



Kompleks itu bernama Kodim.

Aku tak tahu, apakah memang begitu itu namanya. Tapi begitulah orang-orang
besar di sekitarku dulu menyebutnya. Aku tak tahu di mana letak persis
tempat itu. Tapi di dalamnya ada banyak ruang, dan, jika ingatanku tak salah
merekam, halamannya cukup luas untuk bermain dan berlari-larian.



Tempat itu bernama Kodim.

Meskipun kadang ragu, aku merasa pasti bahwa begitulah tempat itu disebut.
Ia tak cuma akrab di telingaku, tapi juga melekat rapat dalam ingatanku.
Setiap siang kami melompat kegirangan, bila ransum makan diantarkan. Tanpa
dikomando kami segera menggelosor ke lantai mengitari rantang berisi santap
siang dengan air liur tak tertahankan. Tangan-tangan kecil kami
tumpang-tindih berseliweran, menggapai rantang bersusun empat yang sudah
terburai-cerai berserakan di atas lantai. Rantang-rantang itu nampak pasrah
saja ketika manusia-manusia kecil di sekelilingnya berisik sahut-menyahut:
tertawa, merengek, kecewa, saling ledek, dan entah apa lagi. Aku tak ingat
siapa yang sering jadi juara dalam kompetisi seru itu, juga tak pernah ingat
apakah aku cukup banyak makan dan merasa puas setelah upacara rutin
perebutan dilakukan.



Kompleks itu bernama Kodim.

Malam hari kami berjejal di sebuah ruang, berceloteh bersama dan bernyanyi
riang. Jika kami lelah, Mama mendendangkan beberapa lagu atau mendongeng
beberapa cerita - yang itu-itu juga. Ia hafal banyak lagu, tapi seingatku
paling sering mendendang ninabobo. Entahlah, apakah aku pernah merasa bosan
mendengar dongengnya. Juga entah, pada lagu atau dongeng keberapa biasanya
aku terlelap di sampingnya.



Tempat itu bernama Kodim, dan ruang tempat kami berjejal itu seukuran kamar
tidur.  Di salah satu sisi dindingnya menempel sebentuk meja terbuat dari
batu, selaik meja kompor di rumah kami dulu. Tumpukan popok dan baju bayi
selalu teronggok di situ. Di ruang itu berbagai kegiatan senantiasa kami
lakukan: makan, tidur, berkumpul dan bercanda. Tak kuingat lagi apa warna
dinding dan pintu ruang itu, dan barang apa saja yang tersedia di dalamnya.
Adakah tempat tidur dan kasur yang melapisi  tubuh kecil kami ketika
berbaring? Adakah lemari tempat kami menyimpan pakaian atau piring? Adakah
meja tulis dan bangku-bangku di mana kami bisa berpanjat-panjatan? Adakah
rak di mana buku-buku Bapak biasa disimpan?



Tempat itu bernama Kodim.

Pagi-pagi sekali Mama membangunkan kami untuk mandi. Sekeluar kami dari
kamar mandi, biasanya orang-orang besar sudah berkerumun di depan jamban
sempit itu. Ada yang jongkok ada yang berdiri. Mereka antri mandi. Seusai
mandi kami bermain atau berjalan-jalan berkeliling kompleks. Aku sering
melihat dan mendengar orang-orang besar berbisik-bisik. Aku tak tahu kenapa
orang-orang itu senang sekali bercakap sambil berbisik-bisik. Bisikan itu
ada yang sampai di telingaku, terdengarnya begini: “Ada yang mati lagi! Ada
yang mati lagi! Dia ditembak!”. Seraya berlari menghampiri kakak-kakakku,
aku lalu mewartakan bisikan yang kudengar itu: “Ada yang mati!, ada yang
mati! Dia ditembak!!” Suaraku lantang. Aku bangga bisa mengetahui berita itu
lebih dulu ketimbang kakak-kakakku. Tapi Mama bergegas menghampiriku, dan
setengah berbisik ia menghentikan seruanku: “Sssttt, anak kecil nggak baik
ngomong begitu…”  Aku lupa, apakah setelah itu aku masih mendengar
bisik-bisik seperti itu. Aku juga lupa, apakah di hari-hari berikutnya mulut
kecil-lantangku kembali mengulang berita begitu.



Tempat itu bernama Kodim.

Siang menjelang sore, di suatu hari pada tanggal yang tak pasti. Orang-orang
besar sigap menggendong dan bergegas memasukkan kami ke dalam mobil. Mobil
itu besar, entah sejenis apa. Rasa-rasanya seperti jip, karena suaranya
gagah menderu, membuatku merasa bangga berada di dalamnya. Orang-orang besar
bersas-sis-sus berbisik sambil bergegas memasukkan kakak-kakak dan adikku
satu per satu ke dalamnya. Ketika itu aku kanak empat tahun, girang
alang-kepalang. Mereka membisikkan satu kata yang membangkitkan keriangan:
tamasya!!.  Ya, tamasya!! Orang-orang besar itu terus berbisik satu sama
lain. Tapi apa peduliku? “Hore” adalah kata yang paling tepat menggambarkan
suasana hari itu, atau setidaknya begitulah yang kurasakan saat itu. Kami
melambai-lambaikan tangan seraya berseru riang pada orang-orang besar
berbaju loreng pun berbaju rombeng, yang berdiri di luar mengitari mobil
kami. Kami akan segera meninggalkan mereka…



Ya, tempat yang baru saja kami tinggalkan itu bernama Kodim. Aku ingat
sekali, di tempat itu kami sering bertanya tentang Bapak kepada Mama.
Sepenuh sigap Mama menjawab: “Bapak sedang pergi jauh, jauuuh sekali! Ke
luar negeri!!”   Bagai bebek sahut-menyahut kami berlomba bertanya, beruntun
berderap kejar-mengejar, ingin dijawab paling dulu: “Kapan Bapak pulang,
Ma?, kapan Bapak pulang?”  “Bawa oleh-oleh, kan, Ma?”  “Oleh-oleh apa?
Cokelat ya, Ma?”



Kompleks itu bernama Kodim.

Aku tak tahu sejak kapan, bagaimana, mengapa, dan  untuk apa kami berada di
sana. Aku cuma ingat, beberapa waktu sebelum kami berada di tempat itu, kami
sempat sibuk menyambut kedatangan Mama dari rumah sakit. Ia membopong adik
terkecil kami - yang baru saja dilahirkan. Kata Mama, adikku itu perempuan,
Butet namanya. Aku tak tahu kenapa nama begitu itu diberikan kepada adik
kecilku.Yang kutahu, kami semua gembira menyambut kelahiran dan
kedatangannya, meskipun Bapak tak ada.



Tempat itu bernama Kodim.

Di sana kami pernah bermain, bernyanyi, menangis, bercanda, makan dan tidur
bersama. Di sana ada Mama, aku, empat kakak dan dua adikku.  Di sana ada
orang-orang besar yang suka berbisik-bisik sambil menggendong dan menemani
kami bermain. Di sana juga ada orang-orang besar berbaju loreng yang gemar
mondar-mandir.



Tempat itu bernama Kodim.

Di sana tak ada Bapak. Ia pergi jauuuh sekali. Entah kapan kembali.



Jakarta, sepenggal masa kecil yang tak lepas dari ingatan.



iramani-id



----------------------------------------------------------------------------
----




--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.338 / Virus Database: 267.10.14/79 - Release Date: 22/08/2005


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12ho3f2l1/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124804176/A=2896112/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke