Soal nilai sastranya, mbak FT berkomentar spt ini:
************************************************* 
(*)Komen mbak FT:
"Dongeng surga dan neraka. Lumayan juga ceritanya.
Sayang, novel kayak gini PASTI ga bakal pernah dapat
penghargaan sastra. Soalnya ending-nya ketebak"
*************************************************

Bandingkan dgn komentar seperti ini:

Kolom sastra yang biasa berisi polemik panjang tentang sastra, 
perempuan, dan seks, tiba-tiba berubah menjadi sebuah pembahasan 
yang berbalik. Yang semula pemperdebatkan menggambarkan keindahan 
cinta yang berdasar pada naluri asli manusia (yang tak beda dengan 
naluri hewani) yang dinilai menggebrak para pendahulu sastra berubah 
menjadi pembahasan sastra yang indah tentang cinta yang didasari 
oleh syari'at agama (Islam). Keduanya sama-sama menggebrak karena 
tidak "mengekor" pada pendahulu. Tentu saja, sastra indonesia, 
wabilkhusus sastra Islami akan semakin bertambah gairahnya.

Mengapa saya begitu yakin bahwa novel ini laik untuk juara?
Pertama, reaksi Djamal D. Rahman (redaktur majalah sastra Horison) 
ketika membaca novel (yang masih belum jadi buku ini) begitu 
antusias. Keantusiasannya itu dibutikan dengan beberapa kali 
mendesak kepada penulisnya untuk mengikutseretakan novel ini dalam 
sayembera tersebut. 

Kedua, secara kebahasaan novel ini juga tidak lebih jelek dari Saman 
karya Ayu Utami yang menang tahun 1999 itu. Secara kebahasaan, saya 
mengakui keindahan novel Ayu, dan itu saya dapatkan ketika membaca 
awal dan setengah buku, kemudian terasa memudar dan kian tak 
tertangkap lagi kemana arah cerita. Sebaliknya, novel Mas Habib 
begitu lugas ketika saya membaca pada awal-awalnya, tak berbelit-
belit, dan tidak mengandalkan kata-kata bersayap. Semakin dibaca, 
saya merasakan, semakin tinggi kebahasaannya. 

Apalagi kedua novel ini dibandingkan dari segi observasi, Saman yang 
mungkin hanya mengandalkan beberapa setting tentang kilang minyak 
dan beberapa daerah seperti Perabumulih, Laut China, dan secuil 
tentang New York tak cukup kuat bila dibandingkan dengan setting 
yang dibangun A2C. Tak tanggung-tanggung, total penggambaran Mesir 
begitu hadir karena memang sang empu hidup bertahun-tahun di sana. 
Bila sebelumnya kamu punya peta tentang Mesir, mungkin kamu akan 
melihat semuanya seolah nyata. Begitu kuatnya setting yang dibangun, 
kamu akan merasa kepanasan saat membaca bagaimana suhu udara di 
Mesir, dan akan merasakan kesegaran bila seteguk air masuk di 
kerongongan. Pun, bila keduanya dibandingkan, data keilmuan novel 
terakhir jauh dibuat lebih rapi, malahan diberi refrensi yang 
lengkap. Pembahasannya pun tidak main-main. Nah, dari kedua alasan 
inilah saya jadi yakin bahwa novel ini laik untuk juara.

Tapi rupanya Allah berkehendak lain. Sang penulis —yang saya yakin 
cukup rendah diri itu— tidak ingin (hanya) meraih juara. Ia segan 
mengikutkannya karena sudah ada Saman yang jauh bertolak belakang 
dengan novel ini yang mungkin bagi mas Habib, risih untuk 
disandingkan dengannya (?). Dan akhirnya bujukan dari Jamal D. 
Rahman hanya dijawab dengan alasan bahwa buku itu sudah ada yang 
memiliki hak atasnya, sebuah percetakan sudah teken kontrak. Tentu 
saja pak Jamal kecewa, tapi itu merupakan hak penulis, apalah daya 
sang penulis tidak mengizinkannya walau ia memaksa. (Tak apalah, 
akhirnya novel ini mendapat anugrah PenaAward yang diadakan beberapa 
hari lalu di Jogjakarta dalam acara Munas FLP. Walau kabarnya Award 
yang semestinya dibawa pulang ketinggalan di hotel  )

Oya, ingin dengar kisah perebutan untuk cetak antara penulis dan 
Ahmadun Yosi Herfanda? Begitu Pak Ahmadun membaca (buku yang belum 
jadi) yang dikirim mas Habib untuk "dipamerkan", dia tersentak dan 
langsung menghubungi penulis. Orang yang menulis buku puisi 
Sembahyang Rumputan ini meminta agar buku ini di terbitkan dulu di 
harian yang dikelolanya. 

Begitu memikatkah? Iya!

***




wassalam,

--- In [email protected], Free Thinker <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Saya memberi komentar berdasarkan rasa tidak suka
> saya, seperti Anda memberi komentar pada rasa suka
> atau tidak suka Anda. Saya memberi komentar atas topik
> yang menarik atau tidak menarik. 
> 
> Dan untuk soal ending yang mudah ketebak, Anda
> sebenarnya cukup cerdas untuk menangkap maksud saya.
> Saya jelaskan panjang lebar pun Anda akan terus
> defensif.
> 
> Yang pasti, saya sudah punya pengalaman menyeleksi
> karya sastra. Dan saya menggeluti dan peminat karya
> sastra. 
> 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h6bc05i/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124868157/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke