OPINI   
Jum'at, 26 Agustus 2005 

Kota Sepeda Motor yang Macet    

Toeti Adhitama, Ketua Dewan Redaksi Media Group 


KALAU dulu Yogyakarta pernah dijuluki 'kota sepeda', waktu ini
Jakarta pantas dijuluki 'kota sepeda motor'. Setiap pagi pada jam-jam 
masuk dan pulang kerja, pengendara mobil atau angkutan umum di tengah 
kota akan melihat bagaimana sepeda-sepeda motor dengan gerakan
akrobat pengendaranya berkelak-kelok menyelinap di tengah-tengah 
mobil-mobil yang tengah bergerak bersama, seirama, kadang-kadang 
cepat, kadang-kadang lambat. Kapan bergerak dan kapan berhenti 
tergantung kedap-kedip komando lampu-lampu jalanan.

Berkerumun di sekitar mobil-mobil itu tampak sepeda-sepeda motor,
yang ketika lampu jalan menyuruh berhenti, mereka mendesing-desingkan 
gas, seperti meledek mobil-mobil besar yang karena struktur maupun 
karakternya tidak mungkin menjadi pembalap di hari bolong di tengah 
kota. Sedangkan sepeda-sepeda motor bergerak lincah, amat lincah, 
bahkan kadang-kadang kelihatan mengadu kecepatan dengan sepeda-sepeda 
motor yang lain. Karena gerakan-gerakan bersemangat itu, mereka 
tampaknya tidak peduli kalau sesekali menyenggol dan menggesek kulit 
mobil-mobil besar dan memancing umpatan pengendara-pengendaranya. 
Apakah ini cermin model pembangunan lalu lintas kendaraan angkutan di 
Ibu Kota?

Baru-baru ini Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan peraturan yang 
melarang sepeda-sepeda motor memakai jalan-jalan protokol. Masuk
akal.

Paling tidak supaya pemakai jalan-jalan penting tidak mendapat kesan 
bahwa Jakarta adalah ibu kota yang semrawut. Di samping gambaran 
tentang ulah sepeda motor, tiada hari tanpa kemacetan untuk Jakarta. 
Tetapi harap dicatat, problem kemacetan sebenarnya bukan monopoli 
Jakarta.

Hampir semua kota besar di dunia mengalaminya. Sebut saja Tokyo, 
Bangkok, New York, dan banyak kota besar lain di Eropa. Pernah ada 
artikel yang menceritakan keinginan orang-orang Jerman untuk tidak 
memakai kendaraan bermotor lagi karena mereka merasa terganggu oleh 
yang satu ini. Tetapi itu ternyata hanya angan-angan belaka.

Dalam rubrik Analisis hari Kamis, 18 Agustus, bagian Litbang Media 
Indonesia memuat grafik tentang jumlah kendaraan bermotor di DKI 
Jakarta. Dua tahun yang lalu, 2003, jumlahnya mendekati enam juta. 
Tahun lalu turun sekitar satu setengah juta, menjadi empat setengah 
jutaan. Yang mengagetkan, jumlah sepeda motor sekitar 2,5 juta.

Mobil penumpang hanya separonya. Kendaraan umum, seperti bus, hanya 
sepersepuluhnya. Seberapa jauh sepeda-sepeda motor akan merajalela di 
jalan-jalan, itu akan ditentukan oleh pemerintah daerah, Departemen 
Perhubungan, dan tentunya para wakil penduduk Jakarta yang ada di 
dewan perwakilan. Yang pasti, jumlahnya akan terus meningkat dan
dalam waktu cepat. Tentu kita tidak bisa melarang penduduk membeli 
sepeda motor, yang harganya terjangkau oleh kelas menengah bawah. 
Untuk mereka, sepeda motor sudah suatu kemewahan. Sama mewahnya
dengan BMW bagi kelas menengah atas, atau Jaguar bagi kelas atas. Apa 
harus dilarang?

Yang tentunya dipikirkan Pemda Jakarta selama ini: bagaimana 
menyediakan kendaraan massal yang jumlah maupun kualitasnya memadai. 
Barangkali sekelas busway. Lebih satu juta warga masih membutuhkan 
alat transportasi massal tiap harinya. Tentu kita tidak bisa kembali 
seperti waktu lalu, ketika becak bisa semarak di jalan-jalan.

Sekarang, fungsi becak di sebagian tempat digantikan oleh ojek, yakni 
sepeda motor yang dikomersialkan, yang membuat pemiliknya menjadi 
pebisnis kecil-kecilan. Juga masih tampak berkeliaran kendaraan roda 
tiga yang cukup praktis dan murah untuk jarak-jarak dekat. Hanya, 
sekali lagi, bagaimana mengusahakan agar kendaraan-kendaraan itu 
tampil bersih dan rapi supaya tidak memberikan kesan kumuh bagi Ibu 
Kota.

Sebagai kota metropolitan, Jakarta yang mengalami pertumbuhan ekonomi 
maupun politik dan sosial yang pesat membutuhkan prasarana yang cukup 
untuk mengakomodasi segala kegiatannya. Selain alat pengangkutan, 
sistem pendukungnya pun harus dibenahi. Sekitar satu dasawarsa yang 
lalu sudah diramalkan, kalau jumlah penduduk Jakarta melebihi 12
juta, prasarana DKI tidak akan mampu mendukungnya.

Berbicara soal pengangkutan, gejala ketidakmampuan itu semakin 
kelihatan, karena pada siang hari, dengan masuknya penduduk dari 
daerah-daerah sekitarnya, jumlah penduduk sudah melampaui 12 juta. 
Kesemrawutannya jelas. Orang-orang menunggu bus di sembarang tempat, 
tidak di tempat penghentiannya. Sering kita melihat angkot-angkot 
bergerombol berdesakan di sudut-sudut perempatan jalan yang ramai, 
dekat perhentian bus. Ada yang kadang-kadang bahkan berhenti di
tengah jalan. Mereka saling berebut penumpang. Tak terkecuali bus-bus 
yang ukurannya lebih besar pun meniru kebiasaan ini, bergabung dengan 
mereka.

Kurang luasnya jaringan jalan di Ibu Kota memperparah situasi. Tanpa 
jaringan jalan yang cukup banyak, keadaan perekonomian pun akan 
pincang, sekalipun alat pengangkutannya memadai. Karena itu kita
lihat pembangunan jalan terus dilakukan di mana-mana. Termasuk 
pembangunan flyover. Selain untuk mengurangi kemacetan, pembangun 
sarana ini juga suatu keharusan untuk menjawab kebutuhan akan jalan-
jalan tambahan akibat perluasan wilayah Jakarta. Di DKI, panjang
jalan baru sekitar 5.000 km, tidak seimbang dengan peningkatan jumlah 
kendaraan bermotor dan arus lalu lintasnya. Salah satu cara adalah 
dengan memperlebar jalan-jalan. Ada tiga macam jalan: arteri primer 
dan sekunder; kolektor primer dan sekunder; dan jalan lokal, termasuk 
jalan tikus.

Jalan kolektor berfungsi sebagai pengumpul arus dari beberapa jalan 
lokal untuk masuk arteri, sebab pada prinsipnya jalan arteri tidak 
boleh terganggu oleh arus keluar-masuk yang merugikan transportasi. 
Contoh arteri primer yang paling kelihatan adalah jalan tol, yang 
sedikit sekali jalan keluar-masuknya. Jalan di pinggir tol itu yang 
disebut arteri sekunder.

Walaupun telah dijalankan berbagai cara untuk mengurangi kepadatan 
lalu lintas dan menyempurnakan sistem pengangkutan di Ibu Kota, 
kemacetan toh masih terjadi, bahkan di jalan tol. Minggu ini salah 
satu editorial kami juga berbicara tentang parahnya lalu lintas di 
jalan tol, yang kami anggap tidak seimbang dengan pemungutan ongkos 
untuk melewatinya.

Tidak ada yang bebas bea. Termasuk membangun kota metropolitan 
Jakarta. Dibanding dengan 3-4 dasawarsa yang lalu, wajah Jakarta
sudah lain sama sekali. Tidak ada lagi pohon-pohon rindang yang 
memisahkan dua jalan yang saling berlawanan arah, yang dulu 
memungkinkan penduduk berjalan-jalan dengan santai di bawah naungan 
pepohonan rindang itu, tanpa khawatir akan disenggol kendaraan 
bermotor. Trotoar, yang ide awalnya untuk pejalan kaki, sekarang pun 
tidak aman lagi; atau berubah fungsi untuk dagangan kaki lima.
Jakarta yang modern, yang padat lalu lintas, panas, dan mengalami 
polusi berlebihan, memang bukan lagi tempat nyaman untuk pesiar-jalan-
kaki penduduknya.***

http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2005082523023137





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke