Prasyarat Memberikan Fatwa Diambil dari The Approach to Armageddon Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani an Naqshbandi Haqqani
Katakanlah, Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal. Katakanlah, Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini, atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah. (Q 10:59). Ayat ini menekankan bahwa tak seorangpun yang berhak memberikan keputusan bahwa sesuatu adalah salah atau benar, kecuali jika dia memiliki bukti-bukti yang lengkap dari berbagai sumber informasi yang ditemukan, dari diskusi mendalam dengan orang-orang yang memahami persoalan tersebut, dan dengan menelusuri semua bukti yang terkait. Jika tidak, maka orang tersebut hendaknya tutup mulut. Jika ia tetap mengeluarkan keputusan, maka itu merupakan kebohongan terhadap Allah dan penentangan terhadap agama. Al-Syâfiî berkata: 1. Seseorang tidak diperkenankan memberi fatwa kecuali dia mengetahui Alquran secara lengkap, termasuk ayat-ayat yang telah dihapus, dan ayat-ayat yang menghapusnya, dan ayat yang mirip satu sama lain, dan apakah surah itu diturunkan di Mekah atau di Madinah. 2. Dia harus mengetahui seluruh koleksi hadis Nabi, baik yang otentik maupun yang palsu. 3. Dia harus memahami bahasa Arab pada masa Nabi beserta gramatika dan keistimewaannya, serta mengetahui puisi-puisi Arab. Di samping itu dia harus mengetahui kebudayaan berbagai masyarakat yang tinggal di berbagai tempat. Jika seseorang memiliki seluruh pengetahuan itu dalam dirinya, ia boleh berpendapat bahwa ini halal dan itu haram. Jika tidak, maka ia tidak punya hak untuk mengeluarkan fatwa. Diriwayatkan dari salah satu fakih terbesar, Abd al-Rahmân ibn Abî Layla, Saya pernah bertemu dengan seratus dua puluh sahabat Nabi. Masing-masing aku tanyai satu persoalan syariat, tetapi mereka menolak memberikan keputusan, dan malah menunjuk kepada sahabat lain yang bisa memberikan jawabannya. Mereka takut memberikan jawaban sekiranya jawaban tersebut meleset dan mereka akan dimintai pertanggung jawabannya di sisi Allah. Hal itu menunjukkan bahwa kita mungkin memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Islam, seperti halnya para sahabat, namun kita tetap harus merasa tidak berwenang memberikan keputusan. Imâm al-Nawawî meriwayatkan bahwa Imâm al-Syubî dan al-Hasan al-Bashrî serta tokoh-tokoh tabiin lainnya berkata: "Orang-orang zaman sekarang terlalu cepat mengeluarkan aturan yang didasarkan pada analisis mereka sendiri tentang sebuah persoalan. Jika hendak mencari jawaban terhadap persoalan serupa pada masa Umar ibn al-Khaththâb, ia akan mengumpulkan seluruh sahabat yang ikut dalam Perang Badar [yaitu sekitar 313 sahabat] untuk menemukan jawabannya. Sayangnya, para pemimpin Islam dewasa ini, alih-alih menggunakan masjid sebagai tempat untuk menunjukkan kebaikan dan keselamatan jiwa manusia setelah Hari Kiamat kelak, mereka justru menggunakan masjid untuk membicarakan masalah duniawi, seperti politik, penghimpunan dana, atau ajakan kepada mengejar kehidupan dunia. Ini juga telah diprediksi dalam hadis lain yang menyebutkan bahwa Nabi saw. bersabda: "Pada akhir zaman orang-orang akan datang ke masjid dan duduk membentuk lingkaran untuk mendiskusikan persoalan dunia dan kenikmatannya. Janganlah duduk bersama mereka. Allah tidak membutuhkan mereka." Ketika ditanya tentang maksud hadis itu, Ibn Masûd menjawab bahwa para pemimpin yang bodoh akan berasal dari kelompok ashâghir (mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Islam; secara harfiah berarti junior) dan bukan dari kelompok akâbir (ulama yang mencurahkan hidup mereka untuk mempelajari Islam; secara harfiah berarti senior). Akâbir adalah para intelektual besar, yang terdidik dan terpelajar, sementara ashâghir adalah orang-orang yang buta huruf dan tidak terdidik yang hampir-hampir tidak tahu tentang Islam. Nabi saw. mengatakan bahwa tanda akhir zaman adalah ketika sudah tidak ada lagi ilmu dan ketika ilmu bersumber dari kelompok ashâghir. Kini para pemimpin kita tidak terpelajar soal Islam, sehingga dalam istilah keagamaan mereka disebut junior meski usia mereka telah lanjut. Lebih parah lagi, ada banyak anak muda dalam kelompok-kelompok internet Islam yang mengeluarkan keputusan tentang berbagai persoalan. Di internet, seorang anak laki-laki berusia 18 tahun bertindak bagai seorang ulama besar yang mengeluarkan aturan, dan mengatakan kepada saudara-saudara mereka seagama, Anda salah! Anda termasuk orang kafir! Orang-orang mengajukan pertanyaan besar, dan semua orang mengetik jawabannya sambil mengemukakan pendapat pribadi mereka yang tidak didasari tradisi keilmuan. Orang-orang membaca dan kemudian mengikuti apa yang ditulis oleh anak-anak muda itu. Seperti yang dikatakan Nabi, Mereka sesat dan menyesatkan? Ada sekitar 124.000 sahabat yang hidup pada masa Nabi saw. dan mengetahui hadis-hadisnya, tetapi hanya sedikit yang memenuhi syarat untuk memberikan fatwa. Nabi saw. menjelaskan bahwa generasi terbaik adalah generasi sahabat dan dua generasi sesudahnya. Dua generasi setelah sahabat (generasi tabiin dan tabiit tabiin) tidak menyimpang dari aturan sebelumnya, tetapi tunduk patuh pada contoh-contoh yang ditinggalkan para sahabat Nabi. Hanya ada beberapa ratus ulama besar yang mampu memberikan keputusan terhadap persoalan baru, dan mereka sepenuhnya sadar akan tanggung jawabnya, dan khawatir berbuat salah. Bertolak belakang dengan kenyataan itu, tampak setiap orang Islam dewasa ini berani memberikan fatwa tentang setiap persoalan baru. Kini, orang-orang Islam yang awam dalam masalah agama mengklaim dirinya sebagai ulama yang mampu mengeluarkan fatwa, dan semua orang bertindak sebagai mufti. Orang-orang Islam menganggap penafsiran dan pendapat mereka benar, sekalipun mereka bukan orang yang terpelajar. Kebodohan itulah yang dilukiskan Nabi saw. dalam sabdanya, Pengetahuan akan diangkat, dan orang-orang bodoh akan bermunculan. Salah satu tanda Akhir Zaman adalah Dicabutnya Pengetahuan dari muka bumi. Allah tidak akan mencabut pengetahuan dari hati para ulama, tetapi Dia akan mewafatkan mereka (mereka meninggal). Tidak ada lagi ulama yang menggantikan tempat mereka, sehingga orang akan mempercayakan urusannya kepada pemimpin yang sangat bodoh. Mereka akan menghadapi berbagai persoalan, dan akan memberikan fatwa tanpa pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. Ramalan tersebut telah terbukti, karena orang-orang Islam dewasa ini telah mengangkat pemimpin yang hanya tahu kulit luar Islam, tetapi tidak mengerti praktik dan inti Islam. Misalnya, sering kali seorang pengusaha, dokter, atau insinyur diangkat menjadi imam masjid. Para profesional itu tidak mempunyai latar belakang pendidikan Islam tradisional. Mereka tidak mempelajari syariat, Alquran, atau hadis. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan hukum atau bagaimana menjelaskan tema-tema tertentu dalam Islam. Jadi, sementara bekerja sepenuh waktu dalam profesinya masing-masing, mereka meletakkan tugas kepemimpinannya terhadap masyarakat muslim pada urutan kedua, persis seperti kerja sampingan atau hobi. Mereka memang dapat bertindak sebagai imam atau memimpin salat jika tidak ada orang lain yang lebih representatif untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun, ketika orang-orang tersebut mengklaim sebagai wâizh (ulama, penceramah, atau pemberi nasihat), mereka berarti telah melampaui batas kewenangannya, dan dapat membawa kerusakan serius pada masyarakat muslim. Pemimpin masyarakat muslim semacam itu akan mengubah masjid menjadi arena untuk memperebutkan dominasi sosial, bukan sebagai tempat untuk meningkatkan kehidupan keagamaan dan spiritual. Hal semacam itu juga telah diramalkan oleh Nabi saw. Anas meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, Sungguh, salah satu tanda akhir zaman adalah ketika orang menyombongkan diri di masjid. Para pemimpin itu sebenarnya tidak memiliki kualifikasi untuk memberikan keputusan tentang persoalan keislaman secara umum, dan secara khusus mereka tidak dibekali dengan pengalaman dan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kompleks yang dihadapi oleh masyarakat muslim pada masa modern ini. Karena dibesarkan dalam lingkungan pendidikan sekuler dan sama sekali buta tentang ilmu-ilmu keislaman, mereka akan menyusupkan pandangan mereka sendiri atau bisikan ego mereka, dan mengeluarkan keputusan yang merugikan masyarakat muslim secara keseluruhan. Seribu empat ratus tahun yang lalu, Nabi saw. menggambarkan para pemimpin bodoh itu yang akan diminta pendapatnya tentang sesuatu dan akan memberikan keputusan yang keliru, Mereka sesat dan menyesatkan. Ketika pintu kesesatan telah terbuka, setan akan menyelinap, dan yang muncul berikutnya adalah kerusakan bagi masyarakat muslim secara keseluruhan. Adalah penting untuk menyadari bahwa seseorang tidak akan mampu mengeluarkan aturan jika tidak memiliki kualifikasi yang diperlukan, sehingga tidak seorangpun dapat mengeluarkan keputusan tanpa kualifikasi tersebut. Karena peraturan yang dikeluarkan memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, maka orang yang mengeluarkan peraturan tersebut harus memiliki karakter moral yang unggul, dan yang paling penting adalah bahwa mereka harus benar-benar memenuhi kualifikasi. Pada masa lalu, pendidikan Islam secara umum diarahkan untuk mempelajari Alquran, hadis, syariat, penyucian hati, dan sebagainya, di samping apa yang dipelajari dari dunia profesi atau perdagangan. Kini, hanya ada sedikit pelajaran formal tentang agama Islam, selain langkanya guru agama yang berkualitas. Maka banyak hal yang tidak dipahami. Dewasa ini dunia pendidikan Islam tidak banyak bicara, sehingga ketidaktahuan tentang Islam semakin merajalela. Di samping tidak mengerti mengenai agama mereka, para siswa juga dididik dalam nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, yang diajarkan terutama melalui kurikulum sekolah. Selain pengetahuan teknis yang diperlukan untuk mengarungi kehidupan, para siswa dijejali dengan berbagai macam ideologi (termasuk ateisme) yang tidak ada kaitannya dengan bidang studi mereka. Alih-alih mempunyai pandangan islami terhadap sebuah persoalan, mereka justru akan membuat keputusan sesuai dengan latar belakang pendidikan sekuler, yang tentu saja membawa mereka pada kesesatan. Dari kacamata Islam, hal semacam itu tidak dinamakan pendidikan, tetapi penyesatan. Dewasa ini, tampak bahwa orang-orang Islam hanya bersentuhan dengan agamanya atau masjid pada saat menikah dan meninggal. Fenomena ini telah menjadi umum di berbagai negeri Islam, termasuk di Timur Tengah dan Asia Tengah. Yang ada hanya orang-orang Islam nominal, yang terbiasa melakukan hal-hal yang tidak islami. Ada beberapa kriteria lainnya,yang harus dimiliki untuk memberikan penafsiran tanpa hal ini tangggapan atas hadist dan Ayat Al-Quran, bisa jadi saling sesat dan menyesatkan. Yang mengirimkan awal bisa menyesatkan atau yang menanggapi juga bisa saling sesat dan menyesatkan. Di samping itu hadis ini menyebutkan, dan Alquran akan dibuka. Nabi saw. memberi tahu kita bahwa pada akhir zaman Alquran akan dibuka. Perhatikan dengan cermat, beliau mengatakan, Alquran akan dibuka (yuftah), bukan Alquran akan dipelajari (yudras). Terbuka berarti dibuat mudah dibaca atau tersedia di mana-mana. Sekarang ini kita telah menyaksikan banyak anak-anak muslim sudah hapal seluruh ayat Alquran dalam usia yang masih belia. Namun, mereka tidak mempelajari "maknanya". Dan tidak ada orang tua yang menganjurkan anak-anaknya untuk mempelajari hukum Allah (ilmu syariat). Mereka hanya menyekolahkan mereka untuk menghapal Alquran dari awal sampai akhir. Hadis itu kemudian menyebutkan, Alquran akan dibaca, baik oleh orang-orang beriman maupun oleh orang-orang kafir. Di sini, Nabi saw. telah meramalkan bahwa Alquran akan dibaca baik oleh muslim maupun nonmuslim. Fenomena tersebut sedang terjadi hari ini dalam skala yang luas. Terjemahan Alquran sudah tersedia di semua toko buku dan perpustakaan, hampir dalam semua bahasa. Bukan saja para penulis muslim yang mengkaji dan mengomentasi Alquran, tetapi juga orang-orang nonmuslim, yang mengkaji dan mengomentari Alquran tanpa kedalaman pengetahuan atau pemahaman terhadap isi, konteks, atau makna yang terkandung dalam ayat-ayatnya. Namun, Nabi saw. mengatakan lebih jauh lagi, Seseorang membaca Alquran tetapi tidak mendapati orang yang menjadi pengikutnya. Itu terjadi karena ia membacanya tanpa pengetahuan dan pemahaman keagamaan. Para pemimpin dewasa ini mengatakan bahwa seseorang tidakc perlu mempelajari Alquran dari seorang ulama. Mereka cmengatakan, Bacalah sendiri Alquran dan hadis. Kebanyakan orang Islam tidak akan mengikuti arahan sesat itu sehingga akan menemukan diri mereka terasing. Dia kemudian akan membuat ruangan di dalam rumahnya, seperti kantor, untuk kepentingan keagamaan dan duduk di atas sajadahnya di depan komputer. Orang pada zaman modern telah menciptakan ruang semacam itu di internet, yang dikenal dengan ruang obrolan Islam dan masjid internet. Para pemimpin Islam masa kini menganjurkan orang-orang Islam untuk duduk di rumah masing-masing dan menelusuri Alquran dan hadis. Kini, anak-anak muda Islam, yang berpikir bahwa mereka adalah para pakar Islam, mulai mengeluarkan ketentuan agama dari kamarnya melalui ruang obrolan (chatting) yang mudah diakses, daftar e-mail, dan situs internet. Kini setiap orang, muslim maupun kafir, sudah membuka-buka Alquran, tanpa mempelajarinya secara keseluruhan, memungut satu ayat dan menjadikannya landasan untuk memberikan keputusan tentang sebuah kasus. Alih-alih membuka Alquran untuk mencari petunjuk tentang sebuah persoalan, mereka justru memulainya dengan pendapat mereka sendiri dan kemudian mencari-cari ayat dalam Alquran yang mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka, entah pendapat itu benar atau salah. Tanpa mengetahui apa yang mungkin dikatakan oleh ayat-ayat lain tentang persoalan tersebut, atau tanpa mengetahui makna sebenarnya dari ayat itu, atau tanpa mengetahui peristiwa dan kondisi saat ayat itu turun, upaya yang menyesatkan itu akan melahirkan kesalahan dan bidah dalam agama. Nabi saw. menggambarkan situasi tersebut 1400 tahun yang lampau dan memperingatkan dengan tegas, Waspadalah terhadap bidah yang mereka buat, karena sesungguhnya hal tersebut akan enyesatkan kalian! Kini, setiap orang mengajari dirinya sendiri. Hubungan Guru dan murid dalam Islam hampir sepenuhnya hilang, Padahal model hubungan guru-murid ini sangat penting bagi pendidikan Islam. Nabi saw. sendiri berkali-kalimenyebutkan bahwa ia belajar Alquran kepada MalaikataJibril. Nabi saw. yang membaca, Jibril yangamendengarkan. Jibril menyampaikan Alquran kepada Nabiasaw., dan beliau mengajarkannya kepada para sahabatnya, yang pada gilirannya mengajarkannya kepadaapara tabiin yang mengajarkannya kembali kepadaagenerasi berikutnya, dan demikian seterusnya. Hubungan guru-murid merupakan landasan untukamenyampaikan pengetahuan keislaman sejak turunnyaawahyu pertama. Lagi pula, bukankah Allah bisa saja mengukir wahyu dengan cahaya di atas langit yang bisaadibaca dengan mudah oleh orang-orang Islam? Namun, Diaamemilih untuk mewahyukan Alquran dan aenyampaikannya lewat malaikat kepada Nabi dan kemudian dari generasi ke generasi. Wahyu terjadi dengan cara seperti itu bukan dengan alasan lain kecuali untuk menekankan bahwa setiap orang harus belajar dari seseorang yang lebih mengetahui. Dan itu sesuai dengan perintah Alquran: Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (Q 21:7). Kini, setiap orang belajar secara otodidak, menegaskan pendapatnya sendiri, dan menolak pendapat-pendapat orang lain, seperti yang diprediksi Nabi saw., semua orang cinta kepada pendapatnya masing-masing. Orang tidak lagi menerima nasihat dan sangat fanatik dengan keyakinan masing-masing, dan tidak peduli dengan masukan dari orang lain. Kini, para pendakwah dan pemimpin Islam lebih memerhatikan kegiatan pengumpulan dana untuk tujuan keagamaan, yang beberapa di antaranya ketika diselidiki ternyata sangat meragukan. Pada masa lalu, orang-orang Islam tidak mengadakan malam dana. Kini, orang-orang sudah mulai melakukan praktik tersebut untuk melaksanakan agenda berbagai kelompok, partai atau ideologi yang mereka dukung, semuanya mengatasnamakan agama. Dikatakan bahwa jika ceramah seorang guru agama lebih diarahkan pada persoalan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, maka jauhi dia karena perkataannya hanya akan membawa kegelapan bagi hati. Mendengar ceramah seorang guru yang dapat menambah kecintaan kepada Allah, Nabi-Nya dan orang-orang saleh akan mendatangkan cahaya yang menerangi hati. Iilah salah satu tanda akhir zaman, banyak pembaca Qur'an, sedikit fuqara, anak-anak muda menanggapi di internet seolah seorang Syaikhul Hadist atau Penafsir Quran yang memiliki otoritas. note : inilah pentingnya memiliki Mursyid yang Hakiki Imam Ghazali, mengatakan dalam Ihya Ulumuddin tanpa Guru, maka gurunya adalah Setan. Wa min Allah at tawfiq wassalam, arief hamdani Hp. 0816 830 748, Contact for Dzikir & Joint Haqqani Sufi Way MAJELIS DZIKIR HAQQANI SUFI WAY Zawiyah Kebun Jeruk Kamis 25 Agustus 2005, Bada Isya Jl. Kelapa Dua Raya No. 1 Jakarta Barat ( Terusan dari Jl. Panjang Kebun Jeruk) HAUL BESAR NAQSHBANDI HAQQANI JAWA BARAT Sabtu 3 September 2005, Jam 8.30 - 12.00 WIB Dipimpin oleh KH. Ahmad Syahid Pesantren Al-Falah, Nagrek, Cicalengka Bandung Tel. (022) 794 9781 Zawiyah Cinere Setiap Rabu, Jam 21.00 Zawiyah Cinere, Jl. Vila Terusan No. 16 Cinere Masuk lewat Vila Cinere Mas Zawiyah Teuku Umar Setiap Sabtu, Bada Ashar ( Kecuali ada Perubahan ) Jl. Teuku Umar 41, Jakarta Pusat Zawiyah Sanggar Bulungan Setiap Senin Malam jam 20.30 Dibelakang Kolam Renang Bulungan Jl. Kyai Maja Konfirmasi Arief HP. 0816 830 748 JADWAL MAJELIS DZIKIR DI KOTA INDONESIA DAN SELURUH DUNIA DAPAT DI AKSES DI http://mevlanasufi.blogspot.com Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

