http://www.indomedia.com/bpost/082005/27/depan/utama4.htm
Pejabat Lakukan Aksi Tumpuk Dolar
Jakarta, BPost
Terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin diperparah oleh tindakan
sejumlah pejabat negara yang mulai melakukan aksi penumpukan dolar. Aksi
pejabat nakal ini diperkirakan akan semakin memporakrandakan nilai tukar
rupiah. Akibatnya, Jumat (26/8) siang, dolar sempat menembus Rp10.480 meski di
penutupan perdagangan tertahan di posisi Rp10.400.
Rapor Merah Tim Ekonomi
1. Selama 10 bulan terakhir, kinerja ekonomi menunjukkan kecenderungan
yang terus memburuk. Pertumbuhan konsumsi swasta anjlok dari 5,1 persen pada
kuartal III 2004 menjadi 3,5 persen pada kuartal II 2005. Periode sama,
pertumbuhan investasi juga anjlok dari 19,7 persen menjadi 13,2 persen. Juga
pertumbuhan ekspor anjlok dari 17,1 persen menjadi 7,3 persen
2 Pengangguran terbuka naik dari 9,9 persen pada Agustus 2004 menjadi
10,3 persen pada Februari 2005
3 Indikator finansial seperti nilai tukar rupiah, tingkat inflasi dan
suku bunga pada merosot. Memang sebagian disebabkan faktor eksternal, namun
diperparah oleh salah urus tim ekonomi.
4 Akibat kelangkaan BBM, harga sembilan kebutuhan pokok naik antara 5-10
persen
5 Ekspor dalam PDB (Produk Domestik Bruto) menurun tajam dari 17,1 persen
pada kuartal III 2004 menjadi hanya 7,3 persen pada Kuartal II 2005. Penuruan
pertumbuhan ekspor itu telah menyebabkan transaksi berjalan jadi negatif.
Padahal, transaksi berjalan selalu surplus antara 1999-2004.
Versi kelompok ekonom dan profesional Indonesia
Terkait dengan terus melemahnya nilai rupiah ini, desakan reshuffle kabinet
terutama di bidang perekonomian makin menguat. Belasan pengamat ekonomi,
profesional, aktivis LSM, anggota DPR bahkan partainya Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, Partai Demokrat juga menuntut segera dilakukannya perombakan kabinet.
Sinyalemen banyaknya pejabat negara yang menumpuk dolar dilontarkan pengamat
ekonomi dan anggota Komisi XI DPR, Drajad H Wibowo. "Silahkan kalau mau
dikutip, ini dari saya. Saya sendiri memperoleh informasi dari teman-teman di
Bank Indonesia. Katanya, diantara orang-orang yang bermain sebagai spekulan,
itu ada juga pejabat-pejabat pemerintah dan negara ikut main," ujar Drajad
dalam konferensi pers bersama belasan ekonom dan profesional di Hotel Sahid
Jakarta.
Namun demikian Drajad mengatakan perilaku sejumlah pejabat itu pasti akan
tercium oleh pelaku pasar. "Mereka (para pelaku pasar) ini kan telinganya tidak
tertutup. Begitu mendengar pejabatnya pun ikut menumpuk dolar, mereka pun ikut
menumpuk dolar," ujar pengamat ekonomi dari Indef ini. Sayangnya, dia enggan
menyebutkan nama-nama pejabat nakal tersebut.
Dalam kesempatan ini, Drajad juga menilai terpuruknya rupiah ini tak lepas
sebagai hukuman dari pelaku pasar terhadap RAPBN 2006 yang tak realistis.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Drajad kemudian memaparkan secara kilas balik. Menurutnya, harga minyak dunia
sebenarnya sudah melambung sampai 60 dolar perbarel sejak Maret 2005.
Logikanya, harusnya saat itu pun kurs rupiah sudah anjlok.
"Nah, para pelaku usaha itu sebenarnya memberikan kesempatan pada pemerintah
untuk menunjukkan bahwa pemerintah itu tahu masalahnya, tahu solusinya serta
bisa menjalankan solusi tersebut. Dan kesempatan itu diberikan sampai Agustus
ini," ungkapnya.
Ironisnya, lanjut anggota FPAN ini, RAPBN 2006 yang disampaikan eksekutif di
depan DPR ternyata sangat tak realistis dan tak kredibel karena menggunakan
asumsi kurs rupiah Rp9.400.
"Pidato presiden tentang RAPBN itu disampaikan Selasa (16/8) dan mulai Kamis,
rupiah terus merosot hingga menembus Rp 10 ribu. Itu bentuk hukuman dari
pasar," paparnya.
Ironisme yang kedua, lanjut Drajad, terjadi ketika Yudhoyono berdiri bersama
gubernur Bank Indonesia untuk menenangkan pasar. "Namun, apa yang terjadi?
Besoknya, rupiah langsung jatuh lagi," tuturnya.
Sementara itu, analis pasar saham, Erwin Sinaga, mengatakan, sinyalemen
menumpuk dolar AS itu sebenarnya juga terjadi di kalangan eksportir. Karena
suku bunga SBI terbilang rendah, maka para eksportir malas membawa pulang
devisa dolarnya dan memilih memarkirnya di bank asing.
"Kalau dikatakan menumpuk dolar, apa salahnya? Wong tidak ada Undang-undang
yang melarang," kata Erwin.
Menurutnya, yang bisa dilakukan Bank Indonesia adalah menaikkan suku bunga SBI
di atas 10 persen. Dengan cara itu, eksportir tertarik menyimpan devisa
dolarnya di bank-bank dalam negeri. "Imbasnya, rupiah bisa membaik," imbuh
Erwin.
Menguat
Terkait dengan itu, tuntutan reshuffle terhadap menteri-menteri bidang ekonomi
juga semakin kuat. Kali ini, tuntutan datang dari kaum ekonom dan profesional.
Mereka menilai, tim ekonomi saat ini lemah dan tak padu. Akibatnya, buruknya
kondisi ekonomi yang semula bersifat temporer dan situasional mulai mengganggu
stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan rakyat pun kian merosot.
Mereka yang menuntut diantaranya adalah Drajat Wibowo, Binni Buhur, Budi
Ruseno, Hendrawan, Fadil Hasan, Farial Anwar, Heru Dewanto, Haryajid R, Dita
Indah Sari dan belasan aktivis LSM.
"Sudah waktunya instabilitas ekonomi ini dihentikan. Pemerintah seharusnya tak
mengabaikan kepentingan rakyat, dengan terus mempertahankan pejabat yang
jelas-jelas tak mampu dan penuh conflict of interest," ujar juru bicara mereka,
Binni Buhur, Siapa yang layak diganti? "Yang pantas diganti? Ya pastinya Mentri
keuangan Yusuf Anwar yang guyon melulu, kebijakannya tak jelas. Menko
Perekonomian Aburizal Bakri juga terlalu banyak conflict of interest. Itu saja
menurut saya," ujar Fadil Hasan.
Lain lagi dengan pengamat pasar uang, Farial Anwar. Menurutnya, seluruh yang
tercakup dalam kabinet perekonomian itu yang harus diganti. "Ya semuanya.
Maksudnya semua yang di kabinet perekonomian," ujar Farial.
Desakan perombakan kabinet juga dihembuskan oleh Partai Demokrat (PD). Sikap
partai pemerintah ini secara tegas dituturkan oleh salah satu Ketua DPP Bidang
Ekonomi dan Keuangan, Darwin Saleh yang menyatakan Menko Perekonomian Aburizal
Bakrie, bukanlah orang yang cakap dan dianggap pantas sebagai seorang tim
perekonomian pemerintah. Terlebih, selama menjabat Menko, Ical (panggilan akrab
Aburizal) juga tidak bisa menunjukan kinerjanya secara baik.
"Patut disayangkan, hingga kini belum terlihat koordinasi yang erat, antara
kantor Menko Perekonomian dengan jajaran kementrian di bawahnya, khususnya
departemen perdagangan dan departemen perindustrian. Ini yang belum dilakukan
guna merumuskan lebih mendasar dan fokus mengenai perekonomian,"urai Darwin.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sidharto Danusubroto juga menilai tim ekonomi yang
dikomandoi Ical memprihatinkan sekali. "Tim Ekonomi mesti dipertanyakan atas
hal tersebut. Mereka harus bertanggungjawab," katanya.
Sementara itu, DPP Partai Amanat Nasional (PAN) terkena abu panas terkait
desakan reshuffle. Pasalnya, mereka dikabarkan memiliki deal-deal khusus dengan
Ical agar tidak digusur dari kabinet. Konsesinya, Wisma Bakri milik Ical
dipinjamkan sebagai kantor DPP PAN secara gratis.
"Tidak ada deal-deal seperti itu. Kita tidak mengurus soal kabinet," bantah
Sekjen DPP PAN, Zulkifli Halim sembari menegaskan gedung berlantai tujuh itu
sudah bukan milik Bakrie lagi, karena sudha dibeli ketua DPP PAN, Soetrisno
Bachir.
Lebih lanjut, Zulkifli menegaskan, persoalan reshuffle kabinet merupakan
kewenangan presiden.
"Partai tidak ikut mempersoalkannya. Itu sepenuhnya hak presiden. " tegasnya.
JBP/abs/den/yat/ade/mur/dtc
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/