tidak kusangka kau mau membalasnya. thanks alot deh before. hihihih
oh ya, bagaimana kalau kita buat satu milis tersendiri yang membuat koneksi 
kita lebih baik.  syukur-syukur kita bisa membangun satu paradigma yang sama, 
atau katakanlah yah semecam itu. komunitas yang sama. aku merasa begitu kering 
dan sangat mengerikan hidup harus terus menerus berwajah banyak. 
aku penganut anti dogmatisme agama, aliran ideologi dan sebagainya.  kalau 
disebut pragmatis sih belum tentu, tinggal kita men-share kan saja.
aku menolak tuhan dan segala "kedigdayaannya" aku menolak agama dan segala 
cengkeramannya yang halus tapi mematikan syaraf "kebebasan".  aku menolak 
segala bentuk penindasan apapun juga.
adakah kamu juga sama ?
 
kekekekek
kerikil kecil
  
 


Free Thinker <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Hihihi..
Jangan heran deh kalau di sini banyak diskusi yang
ngaco. Soalnya, seperti umumnya kaum fanatik yang
kebanyakan cuma berkutat di urusan agama (dan hal-hal
lain yang bisa ngasih pembenaran bahwa agama orang
lain itu salah), jadi pemahamannya atas soal di luar
itu minim. Udah gitu ngotot lagi. Kalau Lina sih
lumayanlah, cuma suka mual aja ngebaca komentarnya
kalau sudah sok tahu soal agama lain. Hihihi..

Salam,

PS. Saya juga sepaham soal kemanusiaan dan kebendaan. 

--- sawi dewi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> yeah...
> payah lah, kalau sudut pandang sudah beda. 
> tapi memang mbak lina ini memang spesifik.  sama
> spesifiknya dengan kebanyakan kaum konservatif
> indonesia, cuma agak diramu dengan tingkat
> pendidikan yang katakanlah lumayan.  
> ah, maafkanlah kalau saya hadir justru tidak
> memberikan gambaran apapun terhadap diskusi yang
> "setengah menarik ini" saya hanya pendengar yang
> kebetulan lewat.  Tapi terasa mual aja kalau
> perbantahanannya jadi enggak ke ujung perkara. 
> ah, sudahlah...
> kali lain saya mau ambil bagian. kebetulan saya
> orang yang sangat menjunjung tinggi nilai
> kemanusiaan dan kebendaan duniawi di atas segala
> hal. 
>  
> kerikil kecil
>  
>  
>  
>  
>  
> 
> 
> free share <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> mbak lina yang cerdas,
> 
> kalo mbak dikasi tiket oleh bpk danar untuk pergi ke
> negara-negara yang disebut itu, tolong mampir ya ke
> india dan malaysia. sebab, india yang penduduknya
> hampir 600 juta itu menjadikan hindu sebagai agama
> resmi sedangkan di malaysia, islam sebagai agama
> resmi, naha di situ baru dapat gambaran mana yang
> carut-marut kayak benaknya bpk danar itu? 
> 
> fs
> 
> 
> 
> Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Yang namanya ukuran, mBak, ya banyak. Tetapi sebagai
> pelaku ekonomi dan hukum yang hidup se-hari hari, ya
> Mbak, kita pakai ukuran yang sederhana saja.
> 
> Sebelumnya, bagaimana kalau mbak ke Singapura, lalu
> katakan, apa bedanya dalam tata kemasyarakatan,
> antara Singapura dan Indonesia. lalu mBak ke Swiss,
> Denmark, Australia, canada, lalu kembali ke Jakarta.
> Ada bedanya? Atau sama amburadulnya?
> 
> Point-nya adalah: apakah dampak akidah pada
> masyarakat penganutnya? itu saja mBak. jawabannya
> adalah: ada atau tak ada.
> 
> Kalau mBak berpendapat, Tokyo, London, Kopenhagen,
> Singapura, Stuttgart, sama carut marutnya dengan
> kota kota kita, ya sudah, tak ada gunanya diskusi,
> mBak.
> 
> 
> Salam
> 
> danardono
> 
> Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
> Apa sih ukuran yang dipakai sehingga suatu negara
> bisa 
> dikatakan "berhasil membangun masyarakat manusia
> secara rohani" ?
> Adanya free sex, adanya pernikahan antara guy/lesbi,
> buanyaknya 
> orang yang bunuh diri, banyaknya orang mencari
> keyakinan pada aliran-
> aliran baru semacam new age? Gereja ditinggalkan
> umat?
> 
> Jadi, apa sih ukuran yang dipakai sehingga suatu
> negara bisa 
> dikatakan "berhasil membangun masyarakat manusia"?
> 
> --- In [email protected], Danardono HADINOTO 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > DH:Lha iya toh gak apa apa kan? Jepang juga anggap
> Kitab 
> > Tripitaka hanya akidah, Eropa juga, tapi berhasil 
> > membangunmasyarakat manusia yang manusiawi kan?
> > 
> > LD: soal membangun masyarakat manusia yang materi,
> gak bisa 
> > dihuungkan dg akidah dong, mbah?
> > 
> > DH:   Disini menurut saya ada terdapat kekeliruan
> konklusi. 
> Mengapa?
> >  
> > 1) Membangun masyarakat adalah karya besar yang
> mencakup semua 
> aspek, tidak saja materie, namun juga rohani.
> Masyarakat yang 
> tertata, adalah masyarakat yang mempunyai mental
> tertata: disiplin, 
> patuh hukum, solidaritas sosial, kritis terhadap
> penguasa, dan 
> banyak lagi lainnya. Ini adalah ciri ciri masyarakat
> masyarakat yang 
> sudah tertata. Ini semua adalah masalah mental,
> rohani, yang tak ada 
> hubungannya dengan kekayaan materie. Warga Swiss
> yang patuh adalah 
> dari yang milyarder sampai yang rakyat biasa.
> >  
> > Tidak meludah dijalan, tak membuang sampah atau
> puntung rokok, 
> disiplin dalam antrean bus, tram ataupun
> underground, bukanlah buah 
> kekayaan.
> >  
> > Semua yang keluar dari bathin kita, adalah sisi
> yang terpancari 
> oleh akidah. 
> > Tentu saja, tak semua peraturan agama di Barat,
> dilakukan dalam 
> kehidupan se-hari hari dalam masyarakat madani ini,
> karena mereka 
> sudah mulai kritis, untuk melihat apa yang
> sebenarnya dibutuhkan 
> dalam kehidupan se-hari hari, apalagi kalau warga
> berbagai budaya 
> dan agama hidup bersama.
> >  
> > 2) Akidah, seperti yang mBak Lina selalu tegaskan,
> terutama adalah 
> terdiri dari peraturan rinci, yang mengatur
> kehidupan se-hari hari. 
> Kalau warga atau umat agama tertentu yang memiliki
> peraturan rinci 
> secara baik dan ketat, maka tak mungkinlah timbul
> masyarakat yang 
> carut marut, seperti Indonesia, ataupun banyak lagi
> yang lain: 
> Mesir, Tunisia, Marokko, Bangla Desh, Pakistan.
> 
> Lina:
> Apa iya saya pernah mengatakan 'akidah terdiri dari
> peraturan 
> rinci?" tolong dijelakan dan dipertanggungjawabken.
> >
> -----------------------  
> > Jadi, tak mungkin, tak mencari dampak kehidupan
> akidah dalam 
> kehidupan se-hari hari. Kalau tak ada dampaknya
> samasekali, maka 
> adalah yang something wrong disini.
> 
> Lina:
> Kalo begini artinya impossible dong memisahkan
> akidah dalam negara 
> (sekulariseme)?\
> -----------------------
> > 
> > 3) Seperti kita ketahui bersama, setiap agama
> mempunyai dua 
> aspekt: vertikal dan horizontal. Vertikal, yang
> mengatur hubungan 
> makhluk dengan sang Khalik, ini memang sangat
> individual. masing 
> masing mempunyai pengalaman spiritual sendiri.
> Horizontal, mengatur 
> kehidupan mahkluk satu dan yang lain, dipancari oleh
> norma norma 
> yang ditetapkan dalam akidah. Jangan mencuri, dll.
> 
> Lina:
> Betul kah agama Kristen mempunyai aspek horizontal?
> apakah Kristen 
> memiliki aspek mengatur wanita mana saja yang tidak
> boleh dinikahi 
> oleh seorang pria? agama Kristen bagaimana
> perceraian seharusnya 
> diatur? Ini kan utk mengatur hub horizontal juga ya?
> 
> ---------------------------------->  
> > Dari aspekt ini saja, sudah pantaslah, kita
> menyaksikan apa 
> kiranya dampak suatu akidah bagi masyarakat yang
> mengamalkannya.
> >  
> > Sebuah peringkat peraturan negara, misalnya,
> sebaik apapun, tak 
> akan banyak manfaatnya bagi manusia selama, tak ada
> aturan yang 
> dipatuhi. Kita tak mungkin, disatu pihak, membuang
> muka atas ke-
> carutmarutan berkat tak ditaatinya sang peraturan,
> dan sekaligus 
> menyanyikan lagu lagu pujian bagi sang peraturan,
> yang ah begitu 
> lengkap dan indah.
> >  
> > Kalahkah mutu peringkat peraturan RI dibandingkan
> Singapura? 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS 
Indonesian languages Indonesian language learn Cultural diversity Indonesian 

---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "ppiindia" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------




                
---------------------------------
 Start your day with Yahoo! - make it your home page 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke