Point soal 'asal omong/asal menulis' adalah refer di media (asing)
tentang penutupan 23 gereja. Di sini saya mengajak agar kita bersikap
kritis: apa betul itu gereja (legal) yang ditutup atau rumah penduduk
yang dijadikan gereja terselubung (belum legal)? Jangan sampai
kredibiltas kita hilang jika kelak kenyataannya terbukti lain. 

Kita juga perlu sadar bahwa propaganda seperti itu malah hanya akan
menstimulans rasa antipati dan bisa memperkeruh suasana. Orang-orang
yang tahu kejadian sebenarnya akan menangkap ada gerakan pembusukan
terhadap mayoritas, agar agenda minoritas bisa digolkan. Kalau sampai
terbentuk persepsi seperti itu, maka bisa muncul militansi dan
radikalisme, yang kita semua tentu tidak mengharapkan. Bukan empati
yang kita terima, tetapi malah antipati dan kebencian. Ada fakta baru,
bahwa Kapolda Jabar sudah menjelaskan yang ditutup itu bukan gereja,
melainkan rumah yang dijadikan gereja (belum legal, belum ada izin dan
warga sekitarnya keberatan). 

Saya kira penting untuk melihat persoalan ini dengan jernih, agar
situasi bisa mereda, bukan tambah meledak. Saya tidak ingin kawan saya
Thomas besok bentrok dengan Amir lalu keduanya tewas atau cacat. Lalu
Acong, Albert, baku serang melawan Ahmad dkk. Lantas nanti kekuatan
massa yang berbicara. Bila semua sudah gelap mata dan merasa
kehormatan agama sudah terancam, maka masing-masing pihak akan berebut
menjadi martir dan rela mengorbankan apa saja. Ini menjadi concern
saya, sebab di mailist kaum terpelajar inipun saya perhatikan diskusi
tentang isyu agama tidak mencerminkan tulisan kaum terpelajar, karena
isinya melulu saling ejek dan cekcok, bukan berargumen yang saling
mencerahkan. Tidakkah ada sedikit keprihatinan dan memikirkan apa
dampak dan risikonya? Kecuali anda-anda semua memang sudah menghendaki
menjadikan Indonesia sebagai Lebanon. Silakan teruskan.

Tentang Van Gogh, mengapa kita tidak mencoba bercerita secara utuh dan
fair, agar publik bisa melihat kasusnya secara lengkap dan menarik
pelajaran dari peristiwa itu?

Kalau peristiwa Van Gogh disampaikan secara utuh dengan backgroundnya,
saya yakin kita semua akan mendapat pelajaran berharga untuk kemudian
merenung dan mengoreksi perilaku diri, agar masyarakat kita di
Indonesia tidak terjebak pada kasus yang sama.

Van Gogh, berdalih kebebasan, terus-menerus menyudutkan, mengejek,
melecehkan, dan mengolok-olok umat Islam, bahkan Tuhannya umat Islam
pun dipermainkan dan dihina. Kita harus jujur dan fair, bahwa jika hal
yang sama terjadi pada umat agama lain pasti akan menimbulkan sakit
hati juga, yang cepat atau lambat akan memicu gelap mata pada pemeluknya. 

Contoh kutipan kolom Van Gogh, "Ik geloof dat het Opperwezen een
varken is. Een lief intelligent dier. Ik noem HEM Allah..." (Saya
yakin bahwa Yang Mahakuasa adalah seekor babi. Seekor binatang cerdas
yang menyenangkan. Saya namai dia Allah...)

"Moslims zijn geitenneukers" (Umat islam 'tukang menyetubuhi kambing',
makna sebenarnya lebih kasar dari terjemahan ini). Kemudian banyak
pelecehan dan hinaan terhadap nabinya umat Islam.

Jika kasus Van Gogh itu diceritakan lengkap dengan backgroundnya, kita
dan masyarakat antarumat beragama di Indonesia akan dapat memetik
pelajaran berharga. Yaitu, bahwa saling menghina keyakinan agama dan
umat agama itu berbahaya dan tidak ada untungnya bagi pihak manapun.
Bahwa kebebasan yang kebablasan itu pangkal malapetaka. 

Sayangnya yang diceritakan hanya Van Gogh dibunuh saja. Mengapa orang
sampai membunuh Van Gogh, itu juga penting untuk diceritakan, karena
ada pelajaran berharga di situ. Minimal agar diskusi di mailist ini
tidak masuk skenario seperti itu, saling ejek dan menyakiti keyakinan
agama. Apa perasaan kita jika Yesus atau dewa-dewa yang kita hormati
dibegitukan?

Saya pernah bertanya pada kawan saya yang orang India, "Apa yang akan
kamu lakukan jika saya terus-menerus menghina ibumu, sosok yang kamu
cintai dan hormati?" Jawaban dia hanya singkat, "Kamu akan saya
bunuh!" Tuhan, rasul, nabi, dewa, simbol agama yang dihormati dan
dicintai seseorang, bahkan sampai strata biasa seperti ibu, jika
dilecehkan dapat membuat orang gelap mata. Bukankah daya pengendalian
diri orang per orang itu tidak sama? Ada yang bisa berlapang dada, ada
yang emosinya langsung meledak.

Tentang attitude minoritas Maroko di Belanda, sebaiknya kita juga
tidak boleh naif dengan menggeneralisir mengikuti opini yang gencar
dikipas kelompok ultra kanan. Banyak orang Maroko yang bermanfaat bagi
Belanda, menjadi politician, pemain sepakbola, scientist, advokat, dan
profesional lainnya atau tukang sapu jalanan yang juga berkelakuan
baik. Sebaliknya tidak semua orang Belada itu juga baik-baik. Orang
Maroko seolah-olah penjahat semua, karena menjadi obyek agitasi
politik populis kelompok ultra kanan. Kita tidak boleh begitu,
sebagaimana kita tidak boleh menilai saudara kita minoritas jelek
semua, hanya karena ada dari mereka yang berbuat jahat. Manusia ada
yang baik ada yang jahat, tak peduli apa rasnya. Tidak mungkin baik
semua atau jahat semua. 

Di Belanda, ada konjungsi yang selalu terulang, yaitu jika ekonomi
memburuk, banyak pengangguran, susah cari kerja, pasti ketidaksukaan
pada imigran meningkat. Bukan hanya pada imigran Maroko, tetapi juga
Antilian, Suriname, dll. Ini jangan dilupakan. Imigran dianggap
merebut pangsa kemakmuran mereka. Nanti kalau ekonomi pulih,
pengangguran tertekan ke kisaran 3%, kemakmuran kembali dirasakan
semua orang, mereka akan kurang peduli dengan isyu imigran. Orang akan
sibuk menikmati hidup, seperti mengagendakan makan di luar, hang out
di cafe, shopping, berlibur, dst.

BM








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke