http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=5506
Selasa, 30 Agt 2005,
Dimakamkan saat Ultah Pernikahan

JAKARTA- Hari ini, 36 tahun silam, Nurcholish Madjid muda resmi 
mempersunting Omi Komariah. Pada 30 Agustus 1969 itu, mereka berdua 
menikah di Madiun, Jawa Timur. Tepat tanggal ini pula, Omi mengantarkan 
sang belahan hatinya itu ke tempat peristirahatan terakhir di TMP 
Kalibata, Jakarta Selatan.

Memang, pemakaman Cak Nur hari ini bertepatan dengan ulang tahun 
pernikahannya. Selain meninggalkan Omi, Cak Nur juga meninggalkan dua 
buah hatinya, Nadia Madjid dan Mikail Madjid.

Cak Nur -demikian mantan ketua PB HMI itu biasa dipanggil- mengembuskan 
napas terakhir pukul 14.05 WIB di RS Pondok Indah dalam usia 66 tahun. 
Hari ini, jenazah cendekiawan muslim itu dimakamkan di TMP Kalibata, 
Jakarta.

Tadi malam, jenazah pendiri Yayasan Paramadina itu disemayamkan di 
kampus Universitas Paramadina. Keluarga, kawan dekat Cak Nur, dan tokoh 
nasional terus berdatangan untuk bertakziah. Termasuk Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Presiden dan Wapres juga 
menyalati jenazah tokoh yang dikenal karena pemikiran-pemikirannya 
tentang Islam yang moderat dan pluralis itu.

Sebelum meninggal, Cak Nur menyampaikan isyarat terakhirmya kepada sang 
istri tercinta, Omi Komaria. Sabtu pagi, Omi yang menunggui Cak Nur di 
rumah sakit tiba-tiba merasa gelisah. Tapi, wanita 50 tahun itu tak tahu 
sebabnya.

Omi semakin gelisah saat memandikan Cak Nur sekitar pukul 07.00. Ketika 
itu Cak Nur memberi tahu Omi agar bersiap-siap. Cak Nur mengatakan, ada 
mukhtadin (orang-orang pilihan, Red) yang akan datang. "Kakak (Omi, Red) 
langsung bertanya, siapa mukhtadin yang akan datang," ujar Nuri 
Widyawati, adik Omi.

Dengan suara pelan, Cak Nur menjawab bahwa mukhtadin itu adalah kiai 
dari Gontor. Omi bertanya lagi, siapa nama kiai Gontor itu? "Almarhum 
bilang kiai Gontor itu bernama Zarkasih," lanjutnya. Jawaban Cak Nur ini 
mengejutkan Omi. Sebab, Kiai Zarkasih dari Pondok Pesantren Modern 
Gontor, Jatim, itu sudah meninggal dunia.

Omi merasa ajal sudah semakin mendekati Cak Nur. Dia mempunyai firasat 
Cak Nur akan meninggalkan dunia. Mukhtadin tersebut datang untuk 
menjemput suaminya. Tapi, ibu dari Nadia Madjid, 34 tahun, dan Ahmad 
Mikail Madjid, 32 tahun, itu berusaha tetap tabah dan sabar. Dengan 
berat hati, Omi kemudian bertanya kepada Cak Nur kapan mukhtadin-nya 
datang. "Cak Nur hanya menjawab 5 sampai 10 jam," cerita Nuri. Mungkin 
maksudnya mukhtadin itu diperkirakan datang 5 sampai 10 jam kemudian.

Selain berbicara tentang kedatangan mukhtadin, Cak Nur juga bercerita 
bahwa dia melihat sebuah terowongan besar. Kondisi terowongan itu, 
agaknya, tak terurus dan harus direnovasi. "Malah Cak Nur bilang 
terowongan itu perlu dirapikan," lanjut Nuri. Tapi, Cak Nur tidak 
menjelaskan letak terowongan itu. Juga tidak disebut bagian yang perlu 
dirapikan itu.

Tokoh asal Jombang tersebut juga berkata melihat daging. Dia minta 
istrinya agar daging itu diberikan kepada orang lain saja. Pihak 
keluarga berkesimpulan bahwa almarhum ingin memperbanyak sedekah. "Kami 
sempat bingung almarhum mau sedekah berupa barang atau uang," ucap 
perempuan 30 tahun itu. Belum sempat pertanyaan itu terjawab, Cak Nur 
sudah bercerita arti sedekah.

Menurut Cak Nur, sedekah diambil dari kata shodaqoh. Artinya, melakukan 
kebenaran. Caranya bisa dengan menanamkan rasa benar kepada orang lain. 
Bisa pula dengan menanamkan rasa suci kepada orang lain. Di akhir 
penjelasan, Cak Nur mengatakan bahwa tindakan itu relevan dalam 
kehidupan. "Keluarga langsung mengerti bahwa almarhum ingin kita 
melakukan sedekah. Tak harus berupa uang atau barang, yang penting 
ikhlas," tambahnya.

Menurut tim dokter RSPI, kondisi Cak Nur terus menurun sejak kemarin 
pagi. "Bahkan, pukul 04.00, Cak Nur sempat tidak sadar," ujar Direktur 
Medik RSPI dr Mus Aida.

Cak Nur dirawat di RSPI sejak 15 Agustus lalu. Saat itu, keluhannya mual 
dan muntah. Dokter Widodo Suprapto, salah seorang dokter yang merawat 
Cak Nur, mengatakan bahwa kesehatan Cak Nur terus memburuk karena 
mengalami kegagalan fungsi hati dan ginjal. Sebelumnya, 27 Juli 2004, 
Cak Nur menjalani transplantasi hati (lever) di RS Taiping, Guangzhou, 
China. "Kelainan hatinya kembali kambuh. Dan, ini mengganggu fungsi 
fisik beliau, termasuk fungsi ginjal," katanya.

Istri dan kedua anaknya terlihat tabah dengan kepergian Cak Nur. "Kami 
sudah ikhlas," ujar Omi dengan mata berkaca-kaca. Menurut Omi, sebelum 
meninggal, Cak Nur sempat berpesan kepada putra-putrinya, Nadia dan 
Mikail, agar memperdalam belajar bahasa Arab. "Dengan berbisik, Bapak 
mengatakan itu penting agar bisa memahami Al Quran," ujarnya.

Menjelang kepergiannya, Cak Nur meminta dibimbing membaca surat Al 
Fatihah dan Al Ikhlas. Kemudian, Cak Nur mengatakan ikhlas. Lalu, dia 
tersenyum lima kali sebelum pergi. "Saya tidak menyangka kalau itu 
senyum terakhir Bapak," kata Omi.

Para pelayat terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir 
kepada Cak Nur. Selain Presiden SBY dan Wapres Kalla, tampak Ketua MPR 
RI Hidayat Nurwahid, Gus Dur, Bagir Manan, Bachtiar Chamsyah, Akbar 
Tandjung, dan Harmoko. Bersama ratusan pelayat lain, mereka bersalat 
jenazah yang diimami Quraish Shihab.

Komaruddin Hidayat, sahabat Cak Nur yang juga melayat, menyimpan 
kenangan mendalam terhadap pribadi almarhum. Dia sangat terkenang dengan 
pertemuan terakhirnya. "Saya sempat berkomunikasi dengan Cak Nur pada 
Minggu malam (29/8)," ujarnya.

Saat itu, Komaruddin sudah berfirasat bahwa Cak Nur akan meninggal. 
Sebab, beberapa kali Cak Nur menyebut nama teman-teman serta kerabatnya 
yang sudah meninggal. "Kata orang Jawa, itu tanda-tanda orang mau 
meninggal," katanya.

Salah satu nama yang disebut Cak Nur adalah almarhum KH Zarkasi. Menurut 
dia, Zarkasi adalah tokoh yang secara intelektual sangat berpengaruh 
pada pribadi Cak Nur. "Kiai Zarkasi itu guru Cak Nur ketika mondok di 
Gontor," jelas Komaruddin.

Yang membuat dia terharu adalah suara terbata-bata Cak Nur saat 
menyampaikan analogi pohon pisang dan pohon asam. Cak Nur menyatakan, 
pohon pisang adalah simbol semangat juang yang tinggi, namun egois. Ia 
akan terus tumbuh sampai berbuah, tapi hanya untuk dirinya. Sedangkan 
pohon asam, meski berbuah kecil dan asam, ia mengayomi dan membuat teduh 
semua di bawahnya.

"Bagi saya, beliau itu ibarat pohon asam yang meski buahnya kecil, tapi 
bisa mengayomi banyak orang," ujarnya.

Wapres Jusuf Kalla mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya 
Cak Nur yang disebutnya sebagai tokoh umat dan tokoh bangsa itu. Dalam 
diri Cak Nur, semua itu bersatu. Sulit mencari bandingan tokoh tersebut.

Syafi’i Ma’arif juga merasa kehilangan. Mantan ketua PP Muhammadiyah itu 
adalah karib Cak Nur semasa mereka bersekolah di Chicago University, AS. 
Gus Dur pernah menyebut Cak Nur, Syafi’i, dan Amien Rais sebagai Tiga 
Pendekar dari Chicago. "Semoga Cak Nur khusnul khatimah. Ini kehilangan 
yang berat bagi bangsa. Beliau adalah tokoh moderat dan berprinsip. 
Bukan hanya cendekiawan muslim, tapi juga cendekiawan Indonesia," tegasnya.

Syafi’i mendengar informasi meninggalnya Cak Nur saat dirinya masih di 
Jogjakarta. Dia langsung terbang menuju Jakarta tadi malam. "Beliau 
layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ini kehilangan 
bangsa," ungkapnya.

Ketua MUI Umar Shihab mengatakan, "Kita kehilangan tokoh yang punya 
pemikiran yang sangat baik mengenai umat Islam, meskipun ada yang 
menggelitik tentang pandangannya. Tapi, itu biasa."

Ketua PB NU Hasyim Muzadi mengungkapkan, Cak Nur adalah seorang muslim 
yang mampu mengemas Islam dalam denyut humanisme serta humanitas. Hal 
itu tidak banyak bisa dilakukan orang. "Sehingga, yang disampaikan Cak 
Nur selalu mengalir dan bisa disampaikan siapa pun. Pikiran Cak Nur 
harus diteruskan," katanya.

Tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini menjabat Ketua MPR 
Hidayat Nurwahid mempunyai kenangan dengan Cak Nur. Dia sempat tujuh 
hari tinggal bersama Cak Nur dalam sebuah seminar di Riyahd beberapa 
saat lalu.

"Beliau tidak kikir dalam ilmu dan pengalaman. Inti pesan dari Cak Nur, 
kita hidup di Indonesia yang plural. Hanya, jangan sampai dengan dalih 
pluralisme, kita memaksakan kehendak kepada orang lain," ujarnya. 
(abi/naz/ai)



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke