http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2005/08/08/SEL/mbm.20050808.sel1.id.html
      
Edisi. 24/XXXIV/08 - 14 Agustus 2005
          
*Selingan
*
*Remaja-remaja Pengharum Negeri

*Dari beberapa pojok Tanah Air, mereka menggeliat bangun dan memercikkan 
wangi segar di Indonesia hingga jauh ke Polandia dan Ukraina. Mereka 
memenangi Olimpiade Fisika Internasional, Olimpiade Astronomi 
Internasional, International Science Junior Olympiad, serta The First 
Step to Nobel Prize yang prestisius. Selingan Tempo kali ini memotret 
profil lima pelajar berotak gemilang yang memetik penghargaan 
internasional. Siapa mereka? Bagaimana sesungguhnya kehidupan mereka 
sehari-hari? Berikut ini laporannya.     

KABAR baik itu berembus dari Salamanca, Spanyol, pertengahan Juli lalu. 
Tim Olimpiade Fisika Indonesia meraih dua medali emas pada Olimpiade 
Fisika Internasional ke-36, lewat Ali Sucipto, siswa SMA Xaverius 1 
Palembang, dan Andika Putra, siswa SMA 1 Sutomo Medan. Keduanya 
sama-sama muda remaja: 17 tahun. Andika Putra bahkan baru akan menjejak 
usia tujuh belas pada 28 Agustus nanti.

Ali Sucipto, yang mengidolakan Richard Philips Feynman--peraih Nobel 
Fisika 1965 di bidang elektrodinamika kuantum--menyelesaikan seluruh 
soal dalam waktu empat jam dari lima jam yang disediakan panitia. "Soal 
paling berat nomor dua, yakni menentukan kuantitas-kuantitas listrik," 
katanya. Remaja yang memiliki nilai IQ 152 itu terlihat dewasa, penuh 
percaya diri. Waktu luangnya diisi dengan membaca komik silat seperti 
Pendekar Hina Kelana, To Liong To, atau karya-karya Asmaraman S. Kho 
Ping Hoo.

Remaja Andika Putra, dia memuja Isaac Newton. Meski meraih medali emas, 
ia gagal menjadi pemenang mutlak (absolute winner) karena kesalahan 
kecil dalam penerapan Rumus Ketidakpastian Heisenberg. Akibatnya, ia 
"hanya" meraih nilai 48,3 dan merelakan poin tertinggi 49,5 kepada siswa 
Hungaria, Gabor Halasz. "Kalau kita punya lima siswa seperti Andika, 
pada Olimpiade tahun depan di Singapura kita bakal juara umum. Dia tipe 
siswa yang patuh, rajin, dan disiplin," kata Yohanes Surya, Presiden Tim 
Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), saat Yohanes bersama Tempo menunggu 
boarding pesawat di Bandara Schiphol, Amsterdam.

Tekad itu tampaknya baru hitungan di atas kertas. Sebab, dari lima 
anggota TOFI 2005--tiga lainnya adalah Ario Prabowo, Michael Ardian, dan 
Purnawirman--empat anggota selain Andika hanya seminggu menghabiskan 
waktu di Indonesia setelah Olimpiade. Lainnya langsung ke Singapura 
menyambut beasiswa yang diberikan Nanyang University. Andika menyatakan 
mundur dari TOFI 2006 dan menampik tawaran Nanyang karena mengincar 
masuk Massachusetts Institute of Technology, yang lebih prestisius, di 
Boston. "Beri kesempatan yang lain saja. Saya ingin konsentrasi lagi 
pada pelajaran sekolah," katanya kalem.

Tahun 1999 adalah mula pertama Indonesia masuk ajang Olimpiade Fisika. 
Di Padua, Italia, ketika itu hadirlah Made Agus Wirawan dari SMUN 1 
Bangli, Bali. Dia mewakili Indonesia dalam Olimpiade Fisika ke-30. 
Publik terhenyak ketika Made Agus pulang ke Tanah Air sembari menenteng 
medali emas. Di tengah isu kualitas pendidikan yang terus merosot, 
kurikulum yang amburadul, dan nilai ujian akhir nasional (UAN) yang 
terjun bebas di banyak provinsi, kita masih punya "stok" pelajar dengan 
otak berpendar di tingkat dunia. Dalam setahun terakhir, selain Ali 
Sucipto dan Andika Putra, sedikitnya ada lima siswa yang mengibarkan 
nama Indonesia di ajang sains internasional.

Mereka adalah Anike Bowaire dari SMUN 1 Serui, Papua, dan Dhina Susanti, 
siswi SMUN 3 Semarang. Keduanya peraih emas di ajang The First Step to 
Nobel Prize in Physics ke-12, di Warsawa, Polandia. Lalu, ada Masyhur 
Aziz Hilmy dari SMUN 1 Klaten yang menjadi pemenang pertama Olimpiade 
Astronomi Internasional ke-9 di Crimea, Ukraina. Dari Olimpiade Sains 
Yunior Internasional yang berlangsung di Jakarta, akhir tahun lalu, 
muncul nama Stephanie Senna, murid SLTP Ipeka Tomang, yang meraih 
penghargaan Best Experimental Winner, dan Azis Adi Suyono dari SLTP 9 
Cilacap, yang menyabet penghargaan Absolute Winner.

* * *

Psikolog pendidikan Universitas Indonesia, Reni Akbar-Hawadi, menyebut 
Anike Bowaire dan kawan-kawan memiliki "keberbakatan intelektual", satu 
fase sebelum absah menyandang predikat genius. "Belum bisa disebut 
genius karena belum ada karya intelektual mereka yang bermanfaat secara 
universal bagi umat manusia," ujar Reni kepada Muhamad Nafi dari Tempo. 
Ia menyebutkan Albert Einstein dan Thomas Alva Edison sebagai contoh 
manusia-manusia genius.

Reni menyarankan, sebutan genius justru tak usah dilekatkan pada para 
siswa ini karena bisa menjadi beban bagi yang bersangkutan. "Yang 
terpenting, pemerintah harus punya data base anak-anak seperti ini dan 
menjamin pendidikan mereka sampai S3 serta karier mereka selanjutnya," 
katanya. "Dengan begitu, mereka dapat mendistribusikan kembali kelebihan 
mereka kepada masyarakat," ia melanjutkan. Menurut Reni, yang membedakan 
para jawara Olimpiade Sains dengan siswa kebanyakan adalah ketekunan, 
semangat pantang menyerah, keuletan, serta impian untuk selalu 
menyajikan hal orisinal, baik dalam riset maupun pemikiran. Meminjam 
istilah Yohanes Surya, anak-anak ini bermental juara.

Ia mencontohkan Anike Bowaire, yang melakukan riset gerakan chaos pada 
pegas yang diputar horizontal. Dalam telaah fisika, biasanya gerakan 
chaos pada pegas diuji secara vertikal. Implementasi teori chaos dalam 
kehidupan amat beragam. Mulai dari memprediksi pola cuaca global, detak 
jantung di dalam tubuh, sampai mendeteksi pergerakan saham di bursa 
tertentu. "Riset Anike orisinal karena dilakukan secara horizontal. Ini 
yang membuat dewan juri memenangkannya," ujar Yohanes.

Orisinalitas adalah satu faktor. Keuletan adalah hal lainnya. "Di awal 
penelitian, Anike menangis berkali-kali. Bahkan last minute masih ada 
pekerjaannya yang salah. Tapi dia masih bersemangat memperbaiki, 
sehingga papernya baru dikirim pada hari terakhir, 31 Maret 2005," 
Yohanes menjelaskan. Ketekunan serupa ditunjukkan Dhina Susanti dari 
Semarang, yang melakukan riset terhadap gerak lengkung shuttle cock 
dalam permainan bulu tangkis. "USB yang berisi data penelitiannya 
hilang. Dhina mengulang lagi semua materi penelitiannya dari awal. Ini 
berat sekali, tapi Dhina melakukan itu. Ini sikap peneliti sejati," 
tutur Yohanes bangga (lihat, Pada Sebuah Kok).

Yohanes menampik rumor bahwa kemenangan anak-anak asuhnya, terutama di 
Olimpiade Fisika Internasional dan The First Step to Nobel Prize in 
Physics, merupakan bentuk kemenangannya atas "Yohanes Surya-Yohanes 
Surya" di negara-negara lain. Ringkasnya, para pelajar itu hanyalah pion 
para pelatih alias pemilik ide riset yang sebenarnya. "Waduh, saya 
enggak punya waktu melakukan riset seperti Anike atau Dhina," ujar 
Yohanes tertawa. "Tapi, dengan pengalaman membimbing mahasiswa S1 sampai 
S3, saya langsung tahu di mana bolong-bolongnya penelitian mereka," ia 
menambahkan.

Anike, yang ditemui Tempo di Lippo Karawaci, salah satu pusat 
penggodokan TOFI, menjelaskan bahwa ketertarikannya pada teori chaos 
dimulai sejak ia dilatih Yohanes. "Kayaknya asyik meneliti fenomena 
chaos yang berusaha mengungkap keteraturan dalam ketidakteraturan," 
ujarnya. Ia tersaring dari Olimpiade Fisika 2003 sebagai wakil dari 
Papua. Namun, Anike tak diikutkan pada Olimpiade Sains Nasional di tahun 
yang sama. Ia malah dikirim sebagai wakil Indonesia untuk Olimpiade 
Matematika di Turki dan Olimpiade Sains Internasional di India. 
Hasilnya? "Saya enggak dapat apa-apa," katanya tersenyum. "Tapi 
kemampuan bahasa Inggris saya nambah." Pada Olimpiade Sains Nasional 
2004, Anike memperoleh perunggu.

Ketika 30 siswa teratas dari Olimpiade itu ditarik untuk memasuki 
karantina di Karawaci, Anike mengundurkan diri dari tim fisika. "Saya 
ingin ikut tim First Step to Nobel Prize," ujarnya. Ada dua alasan yang 
menjadi pertimbangan Anike. Pertama, untuk melanjutkan pamor siswa Papua 
yang telah dimulai oleh seniornya, George Saa, pemenang tahun lalu yang 
kini sedang menjalani kuliah bahasa Inggris di Wesleyan University. 
Kedua, "Karena di First Step hanya fokus pada riset di satu bidang. 
Sedangkan di Olimpiade Fisika, kita harus menguasai banyak hal tentang 
fisika karena ujiannya adalah mengerjakan soal, bukan riset." Strategi 
ini tepat. Dengan emas di tangan, ia mampu melanjutkan "dominasi" Papua 
sebagai salah satu gudang calon-calon fisikawan Indonesia masa depan.

Atas prestasinya itu, Pemerintah Daerah Papua memberikan beasiswa kuliah 
di Universitas Satya Wacana, Salatiga. "Masih belum saya ambil," kata 
Anike. "Saya ingin coba masuk Harvard tahun depan," ujar putri kedua 
dari empat bersaudara pasangan Yohanes Bowaire dan Yemima Woriori ini. 
"Saya ingin seperti Pak Hans Wospakrik (guru besar fisika di ITB asal 
Papua yang baru meninggal, dan penulis buku Dari Atomos Hingga 
Quark--Red). "

Cita-cita menjadi pengajar juga terlintas di pikiran Stephanie Senna, 
siswi SLTP Ipeka Tomang, Jakarta Barat. Dia meraih penghargaan Best 
Experimental Winner pada Olimpiade Sains Yunior Internasional di 
Jakarta. "Ingin juga menjadi peneliti. Tapi menjadi guru lebih penting," 
ujar putri sulung pasangan Husen Chandra dan Aliana Suryaman ini. "Sejak 
kecil, dia suka sekali biologi. Ciri khasnya yang lain, sering 
mengkritik cara mengajar gurunya. Itu sudah dilakukannya sejak SD," kata 
Aliana, yang pernah dipanggil menghadap guru di SD anaknya, karena 
Stephanie dianggap terlalu terbuka mengkritik guru-gurunya.

Kata Stephanie, "Cara mengajar guru-guru sekarang ngebosenin, masuk 
kelas suruh buka buku, kasih rumus, suara datar, enggak ada humor. 
Bagaimana murid bisa tertarik sains?" katanya. "Padahal ilmu alam harus 
diajarkan dengan banyak imajinasi, dengan menggunakan model yang mudah 
ditemukan sehari-hari. Itu sebabnya mengapa saya mau jadi guru supaya 
anak-anak lebih senang belajar sains," katanya.

"Keberbakatan intelektual" seperti ditunjukkan Anike, Dhina, dan 
Stephanie tak hanya memancar dari kota-kota besar seperti Karawaci, 
Semarang, dan Jakarta. Marilah kita ke Kalipanas, suatu dermaga kecil, 
beberapa ratus meter di sebelah selatan kilang minyak Pertamina, 
Cilacap. Arloji menunjukkan pukul 06.30 pagi. Kabut masih membalut sisi 
dermaga.

Satu perahu fiberglass bantuan Bupati Cilacap Probo Yulastoro terisi 
enam penumpang--semuanya guru SMPN 9 Cilacap. Guru SMP? Ya, sekolah itu 
terletak di seberang perairan yang disebut warga setempat sebagai 
Bengawan Donan. Setelah 30 menit mengarungi bengawan yang bersambungan 
dengan Segara Anakan, perahu berkelok-kelok mengikuti jalur hutan bakau, 
sebelum sampai pada sebuah tepian tanggul becek. "Tiap hari kami 
melewati jalur ini," ujar Marsudiyono, 42 tahun, Kepala Sekolah SMP 9, 
yang menghela Tempo naik ke daratan.

Jalan setapak sepanjang 20 meter itu, selain becek, dipenuhi kepiting 
bercapit tunggal yang mudah terinjak. "Jangan khawatir, itu tidak 
beracun," ujar seorang guru perempuan. Akhirnya sampailah Tempo dan 
rombongan kecil itu di satu gedung sederhana, terdiri dari enam kelas, 
di Desa Kutawaru, Cilacap Tengah. Wilayah ini masuk kecamatan kota, 
namun lokasinya terisolasi. Tak ada jalan beraspal. Di sekolah terpencil 
inilah Azis Adi Suyono, pemenang Olimpiade Sains Junior Internasional 
2004, menuntut ilmu.

Jadwal sekolah tergolong "fleksibel", terutama jika laut pasang dan air 
bengawan meluap naik ke halaman sekolah. "Tahun lalu banjir bertepatan 
dengan ujian nasional. Murid-murid tetap masuk dengan kaki diangkat," 
ujar Karman, wali kelas Azis di kelas satu. Toh, dengan semua kendala 
itu, prestasi Azis tetap berpijar. "NEM (nilai Ebtanas murni--Red) dia 
kemarin 44. Peringkat kedua, 38. Jauh bedanya," kata Karman, yang 
menilai kemampuan Azis memahami fisika sudah setingkat anak SMU.

Azis--kini murid kelas satu SMU 1 Cilacap--hanya tersenyum ketika diberi 
tahu tentang pujian gurunya. "Sebenarnya saya suka fisika dan 
matematika. Tapi fisika lebih asyik karena bisa dipakai mengkhayal," 
katanya tertawa. Tubuhnya yang kurus, 163 cm/48 kg, terguncang-guncang 
melihat ekspresi kebingungan di wajah Tempo. Fisika untuk mengkhayal? 
"Ya, saya bayangkan apa yang terjadi kalau saya meluncur melebihi 
kecepatan cahaya dan melewati sebuah jam, maka jarum jam itu pasti dalam 
keadaan berhenti, karena saya tidak sedang berada dalam dimensi waktu," 
katanya. Nah!

Sebenarnya Azis bisa mendapat fasilitas gratis di SMU. Sebuah sekolah 
unggulan di Semarang, SMA Semesta, sudah menawarinya ketika ia masih SMP 
agar melanjutkan sekolah di sana. Tapi tawaran itu ditolak Azis. "Saya 
enggak mau sekolah gratis tapi terbebani harus menjadi juara. Saya ingin 
seperti anak lain, bayar sekolah. Sehingga, kalau saya menang dalam 
sebuah lomba sains, ya, menang saja. Dan kalau kalah, ya, kalah saja. 
Santai, gitu loh...," kali ini nada bicaranya terdengar seperti anak 
Jakarta. Kalau ada waktu senggang, Azis pergi mencari warnet di pusat 
Kota Cilacap. "Saya suka game strategi seperti Battle Realm dan War 
Craft. Sebenarnya favorit saya Ragnarok, tapi online game susah di 
sini," ujar pengagum Albert Einstein ini. Kalau sedang malas ke kota, ia 
mengutak-atik gitar atau keyboard barunya yang dibeli dari hasil 
kemenangan Olimpiade.

Mari kita berpindah ke Klaten. Di kota yang tenang ini, sekitar 30 
kilometer dari Yogyakarta, berkibarlah nama Masyhur Aziz Hilmy. Dia 
pemenang pertama Olimpiade Astronomi Internasional ke-9, di Ukraina. 
Berbeda dengan keempat rekannya yang amat rajin belajar, Mamas--begitu 
ia biasa dipanggil--boleh dibilang pengecualian. "Saya tak pernah 
melihatnya belajar di rumah," ujar ibunya, Siti Jamiatun. Walau begitu, 
Mamas selalu menjadi juara umum di SD-SMP. Remaja ini punya kebiasaan 
unik. Jika buku yang dicarinya tak ada di perpustakaan sekolahnya, ia 
akan pergi Yogyakarta. Di sana dia akan membaca di toko-toko buku selama 
5-6 jam. Kenapa tidak dibeli? "Lha wong tidak punya uang. Lagian sudah 
habis dibaca, masa masih mau dibeli?" katanya lugu.

Mamas menolak disebut genius, meski prestasinya tinggi dan malas 
belajar. "Kalau saya memperoleh medali emas di Olimpiade Astronomi, itu 
karena saya mempersiapkan diri, bukan genius," katanya sembari mengaku 
bahwa nilai UAN-nya secara umum tak memuaskan. Dalam bahasa Anike 
Bowaire, semua kecerlangan intelektual itu hanyalah anugerah. "Sesuatu 
yang kita dapatkan secara gratis padahal tak pernah kita impikan. Karena 
itu, tak boleh disia-siakan," ujarnya.

Dengan anak-anak semacam ini, mestinya kabar baik akan selalu berembus 
ke Indonesia--dari belahan bumi mana pun mereka berada.

Akmal Nasery Basral (Jakarta), Dody Hidayat (Salamanca, Spanyol), Ari 
Aji H.S. (Cilacap), Philipus Parera ((Jakarta), Ari Aji H.S. (Cilacap), 
Imron Rosyid (Klaten)
         



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke