Kompas, 30 Agustus 2005

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/30/utama/2014088.htm

Kepergian Setelah Mengabdi

Oleh: Abdurrahman Wahid

Seorang lagi dari deretan tokoh-tokoh kita telah meninggalkan 
lingkungan, setelah lama menderita sakit: Dr Nurcholish Madjid.

Banyak sekali orang yang merasa kehilangan dengan kepergiannya pada usia 
66 tahun itu. Padahal, itu adalah usia yang mencerminkan kematangan 
hidup, terlebih-lebih pada masa penuh kesalahpahaman dan salah 
pengertian satu sama lain, terkadang ”diwarnai” oleh ledakan bom dan 
lemparan granat.

Ada perbedaan faham yang fundamental antarsesama warga gerakan Islam dan 
hampir selalu berakhir pada hilangnya toleransi dalam kehidupan kita 
sebagai bangsa.

Nurcholish Madjid atau Cak Nur tetap konsisten dengan gaya hidupnya di 
tengah-tengah masyarakat. Ia tetap mempergunakan cara-cara menolak 
pemakaian kekerasan. Ia dimaki-maki oleh begitu banyak orang sehingga 
sangat lucu melihat bagaimana ia dimaki-maki dan diumpat-umpat untuk 
berbagai ”dosa” yang tidak pernah dilakukannya.

Bahkan, setelah ia meninggal pun, masih ada orang yang menganggapnya ia 
melakukan hal-hal yang tidak pernah dikerjakannya selama hidup. Cercaan 
dan umpatan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa di telinganya 
sewaktu ia hidup. Bahkan, setelah meninggal, masih ada yang—karena 
kekerdilan jiwa—mengatakan secara lisan bahwa ia ”seharusnya sudah 
bertobat”. Padahal, yang seharusnya melakukan hal itu bukanlah Cak Nur, 
melainkan orang itu sendiri. Bukankah kitab suci Al Quran memuat salah 
satu sifat Allah. Kemampuan memberikan maaf kepada siapa pun untuk 
kesalahan apa pun.

Di sinilah terletak kebesaran Cak Nur. Ia berhasil mendidik kaum 
Muslimin pada umumnya bahwa sifat yang seperti itulah yang harus 
dikembangkan terus dalam kehidupan mereka.

Apakah artinya ini? Artinya, bahwa kita semua harus mengikuti teladan 
yang diperlihatkannya itu. Bahwa hampir seluruh kaum Muslimin di negeri 
ini bersikap demikian, itu adalah bukti bahwa Cak Nur telah berhasil 
dengan pendidikannya itu. Ia yang lahir di Desa Mojoduwur, Kecamatan 
Bareng, di Jombang, Jawa Timur, itu akhirnya menjadi contoh bagi semua 
warga bangsa yang berjumlah lebih dari 210 juta jiwa itu (menurut 
hitungan Prof Dr Prijono Tjiptoherijanto)

Kita belum lagi berbicara tentang Islam sebagai bidang kajian, tempat 
Cak Nur menghabiskan umur, sebagai ilmuwan. Ia tidak mau berkompromi 
dengan politik sama sekali. Orang boleh berbicara di sinilah terletak 
kekuatan Cak Nur, atau sebaliknya menganggap itulah titik lemahnya.

Bagi penulis, hal itu tidak penting benar karena ia tidak menjadi besar 
atau kecil dalam hal ini. Ia akan tetap diakui sebagai salah satu 
pemegang otoritas studi keislaman (Islamic studies) di negeri kita.

Tentu saja ia punya sederet kesalahan karena ia adalah seorang anak 
manusia, tetapi kesalahan-kesalahan itu tidaklah memudarkan namanya 
(atau menurunkan nilai dirinya).

Ia adalah orang besar karena ia memang demikian. Kini ia telah tiada, 
dan menjadi kewajiban kita untuk mengembangkan nurcholish-nurcholish 
baru. Hanya dengan cara demikian kita patut disebut pengikut Cak Nur di 
masa hidupnya.

Orang-orang lain, termasuk mereka dari ”garis kekerasan”, adalah orang 
yang ditinggalkan oleh perkembangan Islam, dan akan pudar dengan 
sendirinya ditelan masa.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke