Point soal 'asal omong/asal menulis' adalah refer di media (asing) tentang penutupan 23 gereja. Di sini saya mengajak agar kita bersikap kritis: apa betul itu gereja (legal) yang ditutup atau rumah penduduk yang dijadikan gereja terselubung (belum legal)? Jangan sampai kredibiltas kita hilang jika kelak kenyataannya terbukti lain, seperti terjadi pada isyu perkosaan. Baca "Asilum Bodong Cerita Bohong" [Laporan Utama, Gatra No. 3, 26/11/2004]
Kalau kita betul-betul seorang pelajar yang bijaksana, tentu kita akan hati-hati terhadap informasi yang belum valid. Kita juga perlu sadar bahwa propaganda seperti itu malah hanya akan menstimulans rasa antipati dan bisa memperkeruh suasana. Orang-orang yang tahu kejadian sebenarnya akan menangkap ada gerakan pembusukan terhadap mayoritas, agar agenda minoritas bisa digolkan. Kalau sampai terbentuk persepsi seperti itu, maka militansi dan radikalisme bisa meluas, yang kita semua tentu tidak mengharapkan. Bukan empati yang kita terima, tetapi malah antipati dan kebencian. Ada fakta baru, bahwa Kapolda Jabar sudah menjelaskan yang ditutup itu bukan gereja, melainkan rumah yang difungsikan sebagai gereja. Saya kira juga penting untuk melihat persoalan ini dengan jernih, agar situasi bisa mereda, bukan tambah berkobar. Saya tidak ingin kawan saya Thomas besok bentrok dengan Amir lalu keduanya tewas atau cacat. Lalu Acong, Alex, baku serang melawan Ahmad dkk. Lantas nanti kekuatan massa yang berbicara. Bila semua gelap mata dan merasa kehormatan agama sudah terancam, maka masing-masing pihak akan berlomba menjadi martir dan rela mengorbankan apa saja. Ini menjadi concern saya, sebab di mailist kaum terpelajar inipun saya perhatikan diskusi tentang isyu agama tidak mencerminkan tulisan kaum terpelajar, karena isinya melulu saling ejek dan cekcok, bukan berargumen yang saling mencerahkan. Tidakkah ada sedikit keprihatinan dan memikirkan apa dampak dan risikonya? Kecuali anda-anda semua memang sudah menghendaki menjadikan Indonesia sebagai Lebanon kedua. Silakan saja teruskan. Tentang Van Gogh, mengapa kita tidak mencoba bercerita secara utuh dan fair, agar publik bisa melihat kasusnya secara lengkap dan menarik pelajaran dari peristiwa itu? Kalau peristiwa Van Gogh disampaikan secara utuh dengan backgroundnya, saya yakin kita semua akan mendapat pelajaran berharga untuk kemudian merenung dan mengoreksi perilaku diri, agar masyarakat kita di Indonesia tidak terjebak pada kasus yang sama. Van Gogh, atas nama kebebasan, terus-menerus menyudutkan, mengejek, melecehkan, dan mengolok-olok umat Islam, bahkan Tuhannya umat Islam pun dipermainkan dan dihina. Kita harus jujur dan fair, bahwa jika hal yang sama terjadi pada umat agama lain pasti akan menimbulkan sakit hati juga, yang cepat atau lambat akan memicu gelap mata pada pemeluknya. Contoh kutipan kolom-kolom Van Gogh, "Ik geloof dat het Opperwezen een varken is. Een lief intelligent dier. Ik noem HEM Allah..." (Saya yakin bahwa Yang Mahakuasa adalah seekor babi. Seekor binatang cerdas yang menyenangkan. Saya namai dia Allah...) "Moslims zijn geitenneukers" (Umat islam 'tukang menyetubuhi kambing', makna sebenarnya lebih kasar dari terjemahan ini, yaitu 'ngentot'). Kemudian banyak pelecehan dan hinaan terhadap nabinya umat Islam. Jika kasus Van Gogh itu diceritakan lengkap dengan backgroundnya, kita dan masyarakat antarumat beragama di Indonesia akan dapat memetik pelajaran berharga. Yaitu, bahwa saling menghina keyakinan agama dan umat agama itu tidak bijaksana, berbahaya dan tidak ada untungnya bagi pihak manapun. Bahwa kebebasan yang kebablasan itu pangkal malapetaka. Sayangnya yang diceritakan hanya Van Gogh dibunuh saja. Mengapa orang sampai membunuh Van Gogh itu tidak diceritakan, padahal background dan motif pemicu itu juga penting untuk diceritakan, karena ada pelajaran berharga di situ. Minimal agar diskusi di mailist ini tidak masuk skenario seperti itu, saling ejek dan menyakiti keyakinan agama. Apa perasaan kita jika Yesus atau dewa-dewa yang kita hormati dibegitukan? Beberapa waktu lalu saudara-saudara kita yang Hindhu tidak bisa menerima salah satu Dewanya dijadikan logo kaset. Ini reaksi yang alamiah. Nah, apalagi dihina-dinakan dengan setiap hari di koran dengan teks kasar seperti di atas. Saya pernah bertanya pada kawan saya yang orang India, "Apa yang akan kamu lakukan jika saya terus-menerus menghina ibumu, sosok yang kamu cintai dan hormati?" Jawaban dia hanya singkat, "Kamu akan saya bunuh!" Tuhan, rasul, nabi, dewa, simbol agama yang dihormati dan dicintai seseorang, bahkan sampai strata biasa seperti ibu, jika dilecehkan dapat membuat orang gelap mata. Bukankah daya pengendalian diri orang per orang itu tidak sama? Ada yang bisa berlapang dada, ada yang emosinya langsung meledak. Tentang attitude minoritas Maroko di Belanda, sebaiknya kita tidak naif dengan menggeneralisirnya. Banyak juga orang Maroko yang menjadi politician, pemain sepakbola profesional, scientist, advokat atau tukang sapu jalanan yang juga berkelakuan baik. Sebaliknya tidak semua orang Belanda itu juga baik-baik. Orang Maroko seolah-olah penjahat semua, karena menjadi obyek agitasi politik populis kelompok ultra kanan, mirip nasib saudara Tionghoa kita di Indonesia. Kita tidak boleh begitu, sebagaimana kita tidak boleh menilai saudara kita minoritas jelek semua, hanya karena ada dari mereka yang berbuat jahat. Manusia ada yang baik ada yang jahat, tak peduli apa rasnya. Tidak mungkin baik semua atau jahat semua. Mengenai data, di Belanda ada 1.000.000 minoritas muslim. Jumlah masjidnya ada 500, dengan daya tampung rata-rata 400 orang (sumber: Utrecht, Spectrum 2005). Kita kalikan saja 500 x 400 = 200.000. Data itu menunjukkan bahwa masih ada 800.000 jiwa yang tidak tertampung dalam beribadah, karena memang pendirian masjid di Belanda nyata-nyata tidak mudah. Jika ditentang oleh warga sekitarnya, gemeente tidak akan memberikan izin. Di Rotterdam Zuid, malah bukan hanya warga yang menentang rencana pembangunan masjid, bahkan partai politik (Leefbaar Rotterdam) pun terang-terangan menentang. Kampanye resmi yang dilancarkan adalah "MOSKNEE", pelesetan kata MOSKEE (masjid) menjadi MOSKNEE, yang maksudnya "Mosque, No!" http://www.planet.nl/planet/show/id=62967/contentid=588921/sc=936083 (Gedung ibadah dicorat-coret grafiti: TAK BOLEH ADA MASJID DI ZUID/SELATAN, etc) Di media televisi yang saya pantau (Netwerk, NOS), sikap penentangan mayoritas terhadap pendirian masjid itu karena adanya kecemasan agama Islam yang terus berkembang secara pesat di Belanda. Algemeen Dagblad, 28/10/2003, memberitakan "Steeds Meer Nederlanders Bekeren Zich tot Islam" (Makin Banyak Orang Belanda Masuk Islam), mengupas banyaknya orang Belanda asli dari kalangan terpelajar yang masuk Islam. Baca juga berita Suara Merdeka: http://suaramerdeka.com/harian/0311/03/nas17.htm Mereka orang Belanda takut posisi mayoritas yang berbasis Kristen bakal tergusur oleh Islam. Hal yang sama terjadi di daerah-daerah Indonesia yang mayoritasnya Islam, mereka takut posisi mayoritas Islam akan tergusur oleh Kristen. Melihat dari persepktif psikologis seperti ini semoga dapat menjadikan orang bertambah bijaksana. BM ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now. http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

