Sebuah pemikiran jika dianggap memiliki kelemahan
memang layak dan hendaknya selalu dikritisi agar
selalu terbangun pemikiran-pemikiran yang
mencerdaskan. Namun, kritisi itu juga hendaknya
dilandaskan pada sebuah argumentasi, fakta dan logika
yang kuat sehingga kritikan itu bukan sekedar kritik
murahan, emosional dan serampangan serta
menjelek-jelekkan orang yang dikritik karena atas
dasar konflik pribadi, konflik kepentingan dan
sentimen berlatar belakang religi, ekonomi atau
politik belaka.
Bagi saya, Nurcholis Madjid adalah salah satu
intelektual Islam besar yang pernah ada.
Pikiran-pikirannya selalu menyegarkan, mencerahkan dan
memberikan sebuah pilihan di tengah-tengah
pemikiran-pemikiran Islam kolot yang mengagungkan
nilai-nilai kultural, kepentingan politik dan
lain-lain tanpa dilandasi pada pijakan logis, faktual,
historis. Hanya pada opini-opini kultural yang sempit
yang malah bertentangan dengan nilai-nilai Keislaman
itu sendiri...
Saya berdoa agar Cak Nur diterima di Sisinya dan
mendapatkan surga yang lapang di Akhirat.
Selamat Jalan Cak Nur, pemikiran Anda akan selalu
hidup di tengah-tengah kita...
--- kk_heru <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sikap Adil untuk Nurcholish Madjid
>
> Nurcholish Madjid, telah meninggal dunia. Semoga
> Allah memberi balasan
> atas amalnya. Namun pikirannya, sampai kapanpun
> tetap terbuka untuk
> dikritik. Baca CAP Adian Husaini ke-113
>
> Jum'at, 2 September 2005
>
>
>
> Oleh: Adian Husaini
>
>
> Nurcholish Madjid, yang biasa dipanggil sebagai "Cak
> Nur" telah
> meninggal dunia pada hari Senin, 29 Agustus 2005,
> pukul 14.05 WIB, di
> RS Pondok Indah Jakarta. Saat berita itu datang,
> saya sedang bertamu
> di rumah Prof. Halim Mat Diah, guru besar di
> Universiti Malaya, Kuala
> Lumpur. Ketika berita itu saya sampaikan kepada
> Prof. Halim, dia
> berucap singkat: "Jazallaahu hasba maa amila"
> (Semoga Allah memberi
> balasan, setimpal dengan amal perbuatannya).
>
> Prof. Halim mengenal cukup dekat sosok dan pemikiran
> Nurcholish
> Madjid. Ia menyelesaikan jenjang pendidikannya dari
> S-1 sampai S-3 di
> IAIN Yogyakarta.
>
> Sembilan tahun ia tinggal di Kota Gudeg itu dan
> sering berdiskusi
> dengan tokoh-tokoh Islam, termasuk para pelopor
> sekularisasi dan
> liberalisasi Islam di Indonesia, yang ketika itu
> berkumpul di `Limited
> Group' Yogyakarta.
>
> Nurcholish Madjid kemudian dimakamkan di Taman Makam
> Pahlawan
> Kalibata. Ini seolah-olah memberikan isyarat, bahwa
> pemerintah
> Indonesia memandang sosok Nurcholish Madjid sebagai
> seorang yang
> berjasa besar terhadap bangsa Indonesia.
>
> Seperti biasa, dalam rangkaian upacara prosesi
> kematian seseorang,
> puji-pujian pun berhamburan. Para penulis sibuk
> menggoreskan penanya
> dengan berbagai pujian dan sanjungan untuk
> Nurcholish.
>
> Eep Saefulloh Fatah menulis kolom di Koran Tempo
> (30/8/2005), dengan
> judul "Cak Nur, Pemelihara Ingatan".
>
> Ditulisnya, "Bintang paling cemerlang di langit
> intelektual Indonesia
> itu --Dr. Nurcholish Madjid alias Cak Nur-- redup
> sudah. Senin, 29
> Agustus 2005, pukul 14.05, di Rumah Sakit Pondok
> Indah, Jakarta, Cak
> Nur dipanggil Tuhan pulang. Bukan hanya kita di
> Indonesia yang
> berduka. Semua umat manusia pembela pluralisme dan
> kebebasan berpikir
> selayaknya kehilangan."
>
> Tentu, puji-pujian seperti itu sudah biasa bagi
> Nurcholish. Sebelum
> meninggal pun, Nurcholish sudah sering dipuji
> habis-habisan, yang
> kadang kala melewati batas kepatutan.
>
> Saya pernah mengkritik sebuah draft naskah buku
> tentang Islam di Asia
> Tenggara yang digarap oleh Australian National
> University yang
> menyebut Nurcholish dan Abdurrahman Wahid sebagai
> tokoh Islam
> kultural. Padahal, ada nama lain yang lebih patut
> disebut, yaitu Dr.
> Mohammad Natsir, tokoh Masyumi yang juga pendiri
> Dewan Dakwah
> Islamiyah Indonesia.
>
> Sebenarnya, disamping puji-pujian, ada juga suara
> lain yang tidak
> terekam oleh media massa di Indonesia. Ketika itu,
> HP saya dibanjiri
> dengan SMS yang isinya mensyukuri kepergian
> Nurcholish.
>
> Ada juga SMS yang berisi pertanyaan, apakah dia
> harus dishalatkan
> dengan cara syariat Islam atau dengan cara agama
> "sipilis"
> (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme).
>
> Malah ada yang mengirimkan SMS berbunyi: "Cak Nur
> dijemput
> IsrailÂ…Alhamdulillahilladzi nashara `abdahu wa
> a'azza diinahu." Dan
> sebagainya.
>
> Suara-suara umat yang berbeda dengan arus besar
> opini media massa
> seperti itu, tentu saja tidak terekam dalam suasana
> kematian. Apalagi,
> berbagai cerita seputar tanda-tanda "husnul
> khatimah" Nurcholish juga
> diungkapkan dalam pemberitaan.
>
> Bahkan, ada sebuah iklan besar di media massa yang
> berbunyi:
>
> "Semoga Allah SWT menerima segala amal sholih
> Almarhum serta
> memasukkan ke surga-Nya bersama para Anbiya',
> Shiddiqin, Syuhada' dan
> Sholihin."
>
> Dengan iklan seperti itu, maka sempurnalah pujian
> buat Nurcholish
> Madjid, seolah-olah selama ini tidak ada masalah
> yang serius tentang
> ide-ide dan pemikiran Islamnya. Padahal, banyak
> tokoh partai Islam itu
> yang selama bertahun-bertahun aktif mengkritik
> pemikiran Nurcholish
> Madjid.
>
> Bagi kita yang terbiasa mengikuti perkembangan
> pemikiran Islam di
> Indonesia, tentu paham benar bagaimana dahsyatnya
> kontroversi
> pemikiran Nurcholish Madjid selama ini.
>
> Pemikiran-pemikiran itu kini tersebar di berbagai
> buku dan media
> massa. Siapa saja bisa membacanya. Sampai
> meninggalnya, Nurcholish
> tidak mencabut atau meralat pemikiran-pemikirannya.
>
> Karena itu, sampai kapanpun, pikiran itu tetap
> terbuka untuk diikuti
> dan dikritik. Soal nasibnya sesudah meninggal, kita
> serahkan kepada
> Allah, sebagaimana doa dari Prof. Halim Mat Diah
> tadi: "Semoga Allah
> memberi balasan setimpal dengan amal perbuatannya."
>
> Tentang pemikirannya, kita tentu diwajibkan untuk
> tetap
> mengkritisinya. Selama ini, kritik terhadap
> Nurcholish sudah begitu
> banyak.
>
> Sayangnya, Nurcholish kurang menanggapinya. Apalagi
> banyak yang memuja
> Nurcholish secara berlebihan, karena tidak memahami
> pemikiran Islam,
> atau bahkan karena tidak membaca buku-bukunya.
>
> Karena Nurcholish sudah dipandang sebagai orang
> hebat, maka dia
> diperlakukan sebagai
> "tidak mungkin salah".
>
> Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Saya sudah
> menulis satu bab
> khusus dalam buku "Islam Liberal" (Jakarta: GIP,
> 2003), yang
> mengkritik pemikiran-pemikiran Nurcholish dan
> membuktikan berbagai
> kesalahan data dan fakta dalam tulisan-tulisannya.
>
> Tetapi, para pemuja Nurcholish, seperti Eep
> Saefullah menulis: "Cak
> Nur adalah penganjur teguh keharusan memahami
> keadaan--termasuk
> sosok-sosok di dalamnya—secara saksama dan cermat
> berbasiskan
> kesahajaan fakta, kejujuran, dan obyektivitas. Maka
> bukan hanya
> ceramah agamanya yang terasa sejuk, analisis dan
> kesaksian Cak Nur
> atas keadaan hampir selalu tepat dan mencerahkan."
>
> Sebagai Muslim, kita harus bersikap adil terhadap
> Nurcholish. Jika
> salah, kita katakan salah, jika pendapatnya benar,
> harus kita katakan
> benar.
>
>
=== message truncated ===
Eka Zulkarnain
______________________________________________________
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
http://store.yahoo.com/redcross-donate3/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/