bismi-lLah walhamdu li-lLah washshalatu wa-ssalamu wa mawwalah

assalamu 'alaikum, saya tech dapet kiriman nech, itu tuuch ttg cak nur tea euy.

silah.

mengenang Nurcholish Madjid
Artikel - Opini & Aspirasi Oleh : Erros Jafar 01 Sep 2005 - 1:30 am

Laporan Abu Qori

Polemik mengenai pikiran Nurcholish Madjid sudah berlangsung sejak 1970-an 
ketika ia melontarkan gagasan tentang sekularisasi, yang kemudian 
dibantah oleh Prof Dr HM Rasjidi, mantan Menteri Agama RI yang pertama. 

Para penentang keras lainnya tercatat nama-nama: Endang Saefuddin 
Anshari, Abdul Qadir Djaelani, Hartono Ahmad Jaiz, Adian Husaini, Daud 
Rasyid, Abu Ridho dan Muhammad Yaqzhan, Hidayat Nur Wahid, Adnin Armas, 
Syamsuddin Arif, Hamid Fahmi Zarkasyi (tiga nama terakhir bukan langsung
 menghadapi Nurcholish namun mengkritrik pemahaman model Nurcholish) dan
 masih banyak nama lainnya. 

Hidayat Nur Wahid, waktu awal-awal baru pulang dari Madinah tahun 1992, 
termasuk penentang Cak Nur, tapi belakangan ini tidak, bahkan ketika 
matinya Nurcholish Madjid, Senin 29 Agustus 2005, HNW yang jadi ketua 
MPR menyampaikan kata-kata yang banyak mengandung pujian lewat radio 
swasta di Jakarta. 

Kritikan lewat pengajian-pengajian pun banyak, di antaranya dilakukan 
oleh KH Abdul Rasyid AS, KH Ahmad Kholil Ridwan, H Husen Umar, Abdul 
Hakim Abdad, Zainal Abidin dan mubaligh-muballigh Jakarta lainnya. Dari 
Bandung, ada KH Athian Ali Dai, Heddy Muhammad, dan lain-lain. 

Meskipun banyak musuhnya, Nurcholish Madjid juga ada pembela-pembelanya,
 bahkan pemujinya. Yang sangat memuji Nurcholish Madjid adalah tokoh 
Katolik, Romo Frans Magnis Suseno, yang menyarankan agar faham teologi 
inklusivisme Nurcholish Madjid diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan 
Inggris. Inklusivisme dimaksud adalah, agama saya (Islam) mungkin salah,
 agama orang lain mungkin betul, maka saling mengisi. 

Ini sama dengan tidak meyakini kebenaran Islam secara mutlak, dan 
meragukan kebenaran mutlak Al-Quran.

Dawam Rahardjo juga membela sejadi-jadinya. Sehari setelah meninggalnya 
Nurcholish Madjid, tulisan Dawam di halaman depan harian Media Indonesia
 30 Agustus 2005 terpampang judul SANG PEMBARU. Dawam menegaskan, agar 
terjadi penyegaran pemikiran, Cak Nur mengusulkan dilakukannya 
liberalisasi dan sekulerisasi. Juga menurut Dawam, lahir gagasan 
Nurcholish Madjid mengenai pluralisme agama. Dawam tidak malu-malu 
menjunjung Nurcholish Madjid dengan sekulerisasinya, liberalisasi, dan 
pluralisme agama yang diusung Nurcholish Madjid. Padahal itu semua telah
 diharamkan oleh Fatwa MUI dalam Munas ke-7 di Jakarta 26-29 Juli 2005, 
karena paham itu menurut Fatwa MUI bertentangan dengan Islam.

Di antara pembela Nurcholish Madjid adalah Luthfi Assyaukanie yang 
bekerja di Paramadina Mulia yang rektornya adalah Nurchlish Madjid. 
Luthfi membela Nurcholish di antaranya kami kutipkan tulisannya sebagai 
berikut:

Penyakit mensetankan orang juga menghinggapi sebagian kaum terpelajar 
Muslim di Indonesia, yang merasa terkejut dan tak aman karena berhadapan
 dengan dunia di sekelilingnya yang dianggap mengancam. Dalam sebuah 
artikel pendek, saya menemukan seorang pelajar Muslim (yang sebetulnya 
tidak bodoh, karena terbukti telah menggondol gelar PhD), yang membuat 
tulisan sangat provokatif, berjudul Diabolisme Intelektual (Intelektual 
Pemuja Iblis).

Dalam tulisan itu, ia mengerahkan seluruh energi amarahnya untuk 
mensetankan siapa saja yang dianggapnya sesat. Dengan memilih potongan-potongan 
ayat Al-Quran (yang pasti diseleksi dengan tidak jujur), dia menganggap para 
tokoh pembaru Islam seperti Nurcholish Madjid, sebagai setan dan iblis. Tak 
sampai di sini, dia juga mensetankan beberapa ulama besar Islam seperti 
Suhrawardi dan Hamzah Fansuri, karena dianggap sebagai orang-orang yang 
menyimpang dari ajaran Islam. (Demonisasi Oleh Luthfi Assyaukanie Editorial 
JIL, 20/06/2005).


Cendekiawan Iblis

Luthfi menulis seperti itu gara-gara ada tulisan yang menyoroti tentang 
adanya cendekiawan Iblis. Cuplikannya sebagai berikut:

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, 
ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Quran sebagai berikut. 
Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, 
tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti 
ingkarnya Firaun berikut hulu-balangnya, zulman wa uluwwan, meskipun dan
 padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).
 

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran 
demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan 
kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana 
yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada 
kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang 
meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan 
opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan 
ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, 
sikap membangkang semacam ini disebut juga al-inadiyyah (Lihat: Abu Hafs
 Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-Aqaid, 
dalam Majmu, min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matbaah al-Khayriyyah, 
1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak,
 arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang
 diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): Sombong ialah menolak yang haq 
dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas). 
Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam 
al-Quran atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, 
logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan
 skeptis, menghujat al-Quran maupun Hadis, meragukan dan menolak 
kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan 
sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis. 
Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap 
orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha).
 

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Quran (7:146): 
Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku.
 Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak 
akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak 
akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru 
menelusurinya. 

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis 
wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang 
benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan 
fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak 
seolah-olah haq. 

Sebaliknya, yang haq digunting dan di-preteli sehingga kelihatan seperti
 batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda 
antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat 
efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Contohnya seperti
 yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme 
agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Quran (2:62 dan 5:69) untuk 
menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah 
sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi
 l-matsur dari ayat-ayat tersebut. Sama halnya yang dilakukan oleh para 
orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Quran dan Hadis. Mereka
 mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang 
sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) 
sumber-sumber yang ada. 

Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah 
Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Quran 3:71, Ya 
ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum 
talamun? Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama 
dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim. 

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan 
(syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani syatan, yang artinya lawan atau musuh 
(Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris 
Testamenti Libros). Dalam al-Quran memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh 
nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang (siyy), setan berwatak 
jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan 
(istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga 
memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), 
merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai 
(istahwadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), 
merekomendasi (sawwala) dan menggiring (tauzz), menyeru (yadu) dan menjebak 
(yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum amalahum), 
membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), 
menjanjikan dan memberikan iming-iming (yaiduhum wa yumannihim), memperdaya 
dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), 
membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqiu 
l-adawah wa l-baghda), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (yamur bi 
l-fahsya wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur).
 

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya 
dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya al-syaytan (4:76), 
ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). 
Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi 
manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan 
ataupun penyegaran. Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama 
kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah 
pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History 
repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter 
dan perannya sama saja. Ada Firaun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi 
al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang 
ar-Raniri, dan seterusnya. Al-Quran pun telah mensinyalir: Memang ada 
manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, 
dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa 
saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan 
dibimbingnya ke neraka (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa 
menyadari bahwa sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk 
menyeret kalian ke dalam pertengkaran. 
Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik (6:121). Ini
 tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh
 saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu alam. 

(Syamsuddin Arif, Diabolisme Intelektual, Kamis, 30 Juni 2005, 
hidayatullah.com, penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program
 doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman).


Pembela Nurcholish dibantah

Luthfi yang dari Paramadina rupanya disahut Adian Husaini dari INSIST, 
cuplikannya sebagai berikut: 

Tulisan Diabolisme Intelektual sangat bagus, jelas, jernih, dan punya 
sikap. yang salah katakan salah. Perlu disebut bagian mana dari tulisan 
itu yang salah. Iblis tidak malu-malu dan bersikap fair menyatakan 
dirinya sebagai Iblis dan terus terang berjanji akan menyesatkan manusia. Yang 
repot jika pengikut Iblis justru mengaku sebagai penyeru kebenaran dan 
kemaslahatan. Tapi, al-Quran sudah mengingatkan dan memberi ciri-ciri yang 
gamblang makhluk jenis ini yang disebut sebagai munafik. Jadi, tidak usah 
ragu-ragu melakukan demonisasi, meskipun juga harus hati-hati.
 Saran saya, agar tidak rumit, yang Iblis, ngakulah Iblis, yang memang 
setan, katakan setan, siapa yang kafir, ngakulah kafir. Tidak usah ragu-ragu, 
masing-masing sudah ada tempatnya. Yang paling ditakutkan oleh 
Rasulullah saw adalah kullu munafiqin aliimul lisaan. [EMAIL PROTECTED], adian 
husaini 
Sebenarnya Syamsuddin Arif tidak menulis secara eksplisit nama 
Nurcholish Madjid. Tetapi justru Luthfi yang menulis nama itu. Adian 
Husaini pun hanya menyarankan agar mereka mengaku saja, karena iblis 
juga mengaku akan menyesatkan orang. 

Polemik ini cukup sengit di saat Nurcholish Madjid sedang sakit, yang 
dua bulan kemudian dia meninggal dunia di rumah sakit Pondok Indah 
Jakarta, Senin 29 Agustus 2005 jam 14.10. Nurcholish sebelumnya, 13 
bulan sebelum meninggalnya, hatinya dicangkok (diganti) dengan hati 
orang Cina di Tiongkok, kemudian dirawat di Singapura selama sekitar 7 
bulan. 


Sekularisasi dan Cangkok Hati

Dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz dikemukakan:

Nurcholish Madjid, dosen di IAIN Jakarta, pendiri Yayasan Wakaf 
Paramadina dan rektor Universitas Paramadina Mulya Jakarta. Pada saat 
naskah ini ditulis, dia sedang dirawat sudah 3 bulan, dan dicangkok 
hatinya dengan hati orang Cina Tiongkok di Cina lalu dibawa ke rumah 
sakit di Singapura untuk perawatan saluran pencernaan yang terserang 
infeksi. 

Nurcholish Madjid dulu (1970) mencoba mengemukakan gagasan pembaharuan 
dan mengecam dengan keras konsep negara Islam sebagai berikut: Dari 
tinjauan yang lebih prinsipil, konsep Negara Islam adalah suatu distorsi
 hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu
 segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, 
sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual 
dan pribadi. [1] 

Pada tahun 1970 Nurcholish Madjid melontarkan gagasan Pembaharuan 
Pemikiran Islam. Gagasannya itu memperoleh tanggapan dari Abdul Kadir 
Djaelani, Ismail Hasan Meutarreum dan Endang Saifuddin Anshari. Sebagai 
jawaban terhadap tanggapan itu Madjid mengulangi gagasannya itu dengan 
judul Sekali lagi tentang Sekularisasi. Kemudian pada tanggal 30 Oktober
 1972, Madjid memberikan ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 
dengan judul Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Umat Islam 
Indonesia. Salah satu kekeliruan yang sangat mendasar dari Nurcholish 
Madjid ialah pemahamannya tentang istilah sekularisasi. Ia menghubungkan
 sekularisasi dengan tauhid, sehingga timbul kesan seolah-olah Islam 
memerintahkan sekularisasi dalam arti tauhid. [2] 

Di samping itu Nurcholish mengemukakan bahwa Iblis kelak akan masuk 
surga. Ungkapannya yang sangat bertentangan dengan Islam itu ia katakan 
23 Januari 1987 di pengajian Paramadina yang ia pimpin di Jakarta. Saat 
itu ada pertanyaan dari peserta pengajian, Lukman Hakim, berbunyi: 
Salahkah Iblis, karena dia tidak mau sujud kepada Adam, ketika Allah 
menyuruhnya. Bukankah sujud hanya boleh kepada Allah? Dr. Nurcholish 
Madjid, yang memimpin pengajian itu, menjawab dengan satu kutipan dari 
pendapat Ibnu Arabi, dari salah satu majalah yang terbit di Damascus, 
Syria bahwa: Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang 
tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan 
inilah tauhid yang murni. Nurcholis juga mengatakan, Kalau seandainya 
saudara membaca, dan lebih banyak membaca mungkin saudara menjadi Ibnu 
Arabi. Sebab apa? Sebab Ibnu Arabi antara lain yang mengatakan bahwa 
kalau ada makhluk Tuhan yang paling tinggi surganya, itu Iblis. Jadi 
sebetulnya pertanyaan anda itu permulaan dari satu tingkat iman yang 
paling tinggi sekali. Tapi harus membaca banyak. [3] 

Itulah ungkapan pembela Iblis. Padahal Iblis jelas kafir, dan yang kafir
 itu menurut QS Al-Bayyinah ayat 6 tempatnya di dalam neraka jahannam 
selama-lamanya. 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu
 kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur 
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-baqarah: 
34).

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik 
(akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu 
adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah (98: 6). 

Masalah hati Nurcholish Madjid dicangkok dengan hati Cina di Negeri Cina, ada 
yang mengaitkan dengan kualatnya Nurcholish Madjid dalam beberapa hal: 

Pertama: Nurcholish Madjid mempidatokan di universitas-universitas 
terkemuka di Eropa, Ramadhan 2002, bahwa Islam adalah agama hibrida. 
Pidatonya itupun dimuat di situs JIL, islamlib.com. Nurcholish Madjid 
hanya mengemukakan secuil bukti yang dia ada-adakan, yaitu katanya, di 
Al-Quran ada lafal qisthas dari bahasa Yunani Justis yang artinya adil. 
Dan di Al-Quran ada lafal kafuro, menurut Nurcholish, dari bahasa Melayu, kapur 
barus. Dua potong kata yang tanpa bukti ilmiah itu kemudian Nurcholish 
simpulkan bahwa Islam adalah agama hibrida, maka bukan Islamnya yang hibrida, 
tapi hati dia yang dihibrida dengan hati Cina Komunis. 

Kedua, di tahun 1980-an, Bambang Irawan Hafiluddin gembong Islam Jama'ah
 dan Hasyim Rifai dai Islam Jamaah (keduanya kemudian keluar dari Islam 
Jamaah karena menyadari aliran yang kini bernama LDII itu benar-benar 
sesat jauh) berkunjung ke rumah Nurcholish Madjid di Tanah Kusir Jakarta
 Selatan. Kedua tamu ini kaget ketika Nurcholish Madjid mereka tanya, 
Negara mana yang di dunia ini pantas untuk ditiru sebagai teladan. 
Ternyata jawaban Nurcholish: Negara Cina Tiongkok, karena di sana tidak 
ada perzinaan, pencurian dan sebagainya. Kedua tamu ini terheran-heran. 
Sampai dua puluh tahun keheranannya itu baru terjawab ketika mereka 
mendengar berita bahwa Nurcholish Madjid hatinya dicangkok dengan hati 
Cina Komunis di negeri Cina, tahun 2004. Jadi Nurcholish Madjid benar-benar 
mendapatkan hati teladan (impiannya?). 

Ketiga, Nurcholish Madjid menuduh PKI (Partai Komunis Indonesia) 
terhadap anak-anak Mahad Al-Qolam Pasar Rumput Jakarta yang memberikan 
brosur kepada Nurcholish Madjid berupa jawaban/bantahan atas ungkapan 
Nurcholish Madjid bahwa Iblis kelak akan masuk surga. Peristiwa tuduhan 
PKI yang terlontar dari mulut Nurcholish Madjid terhadap santri-santri 
yang berlangsung di tahun 1987 itu ternyata berbalik ke diri Nurcholish 
Madjid bahwa hati dia dicangkok dengan hati orang Cina Tiongkok yang 
komunisnya asli, bukan assembling seperti PKI. Debat dan tuduhan 
Nurcholish Madjid terhadap santri-santri itu dimuat di buku Menangkal 
Bahaya JIL dan FLA, 2004.

Demikian tulis Hartono Ahmad Jaiz dalam buku ada Pemurtadan di IAIN, 
tebitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2005.

Dua hari menjelang meninggalnya Nurcholish Madjid, Koran Indopos (Sabtu,
 27 Agustus 2005) memberitakan, Nadia binti Nurcholish Madjid, dan Akbar
 Tanjung teman Nurcholish mengatakan bahwa wajah Nurcholish Madjid 
tampak lebih hitam. Dibandingkan sebelumnya (wajahnya) kelihatan lebih 
hitam, ujar Akbar. (Abu Qori).



Leo Imanov
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
http://www.imanov.jeeran.com


_____________________________________________________________
--------------------------------
Get Your Free Exclusive E-mail !
Go to http://www.myquran.com 
Indonesian Muslim Portal
--------------------------------------




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke