di hari jum'at itu saya terpaksa memutuskan
walked-out dari ibadah di jalan talang.... sungguh
tak tahan saya mendengar kata-kata tak pantas
meluncur deras dari atas mimbar yang mestinya
terhormat....

ketika adab mendasar hidup bermasyarakat
tentang bagaimana mestinya kita memperlakukan
orang yang sudah meninggal pun tak lagi
diindahkan....

salam,



At 09:17 PM 9/4/05 -0700, you wrote:


>Habis sembuh kena tipes, terus denger Cak Nur meninggal, BBM mau naik 
>lagi, PHK bakal tambah banyak, terus sebentar lagi Munir sudah 
>meninggalkan kita selama satu tahun (7 September) tapi pembunuhnya belum 
>ketangkep, soalnya kaya tikus pinter ngumpet. Jadi sedih rasanya 
>....Indonesia oh.. Indonesia nasibmu.. :-(((((
>Di bawah GM bener sekali..  Agama yg mengajarkan kebencian adalah sampah.. 
>berbau busuk..  Yahh..betul sekali Agama Kebencian Berbau Busuk.. 
>...  Dunia dan hidup yang terus berubah dan tak terkendalikan menakutkan 
>orang.. tanpa sadar orang berpegangan pada kebencian...  saking takutnya, 
>otak dan hati tak mencium bau busuk kebencian itu...
>Cak Nur lain.. Cak Nur berani menghadapi perubahan tanpa kehilangan iman 
>walaupun dihadang segala kebencian... selamat jalan Cak.. ....  my warmest 
>regards to Munir.. Don't forget us...
>Cibubur 5 September 2005
>Bobby Budiarto
>
>LEMBING
>Lima hari setelah Nurcholish Madjid meninggal, di sebuah masjid kecil di 
>Jalan Talang di Jakarta, seorang khatib berbicara tentang sesuatu yang 
>menakutkan: dengan sebuah otoritas yang ia kesan-kan melalui mihrab dan 
>kata-kata Arab, ia mengucapkan sesuatu yang tak benar. Ia mengatakan bahwa 
>wajah je-nazah almarhum menghitam, kata sang pemberi khotbah ini, karena 
>Nurcholish diazab Tuhan….
>
>Saya tak tahu lagi apa peran sebuah khotbah. Saya tidak tahu apa peran 
>dusta. Saya tidak tahu untuk apa fitnah—terutama dari sebuah posisi, 
>tempat ayat suci dikutip, pesan Rasulullah diulang, dan yang benar dan 
>yang adil diimbaukan berabad-abad.
>
>Yang terasa bagi saya, khotbah itu adalah sebuah onggokan sampah. Sampah 
>itu bernama kebenci-an: buangan dari zaman ini. Salah sa-tu ciri zaman 
>ini: iman menemukan saat-saat guyah, penuh cemas, dan genting—dan 
>kebencian, biarpun berbau busuk—adalah sebuah mantra untuk menemukan 
>kekuatan yang melenyapkan kerapuhan itu. Hidup di sebuah dunia yang tidak 
>bisa mereka kendalikan, ada orang-orang yang merasa hanya patut beriman 
>bila mereka tampil dengan wajah sengit. Marah terus-menerus kepada sekitar 
>telah jadi semacam perisai, dan kata-kata te-lah jadi lembing. Chairil 
>Anwar pernah menulis tentang para ”ahli agama dan lembing katanya”.
>
>Ketika kata menjadi lembing, hidup menjadi perang yang percuma. Lawan 
>dalam pikiran, sengketa dalam pendapat, bentrok dalam keyakinan, adalah 
>bagian dari ketegangan yang tak pernah dapat diselesaikan dalam hidup. 
>Tuhan tak bermaksud membuat perbedaan tak pernah ada. Ketika kata menjadi 
>lembing, apa yang bisa dirobohkan? Apa yang bisa dibinasakan? Bahkan 
>sejarah—dan dalam hal ini kita bisa berbicara tentang sejarah 
>agama-agama—adalah sejarah pembantaian yang tak menyebabkan satu pihak 
>menjadi benar dan diterima di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. 
>Syiah dan Sunni tak bisa saling melenyapkan, Katolik dan Protestan tak 
>kunjung mampu saling meyakinkan.
>
>Setiap usaha untuk meyakinkan sebenarnya membutuhkan tidak adanya ilusi. 
>”Tidak ada paksaan dalam agama,” demikian kata Quran: tidak ada kekerasan, 
>dalam laku dan ucapan, yang akan dapat membuat keyakinan berubah. 
>Kebenaran adalah hal yang selalu ber-gerak antara ”tertangkap-menangkap” 
>dan ”terlepas-melepas”. Yang universal tampak sebagai kaki langit yang 
>bila digapai selalu menjauh—tak henti-hentinya. Tiap konsensus mengandung 
>ketidakbulatan. Manusia berpikir, berbicara, dan menafsir apa saja—juga 
>Sabda Tuhan—senantiasa dalam waktu dan dalam cacat.
>
>Bahwa tak ada pintu yang satu ke arah satu keyakin-an agama pada akhirnya 
>melahirkan kesadaran, bahwa t-idak ada satu kepala yang bisa menentukan 
>arah apa yang terbaik dari yang ada. Pemimpin dan khalifah berganti dengan 
>atau tanpa dikecam. Bertahun-tahun kemudian, setelah pengalaman yang lama, 
>demokrasi datang se-ba-gai cara mengatasi kekosongan itu. Demo-krasi 
>ada-lah hal yang tak bisa diingkari jika kita sadar akan kefana-an. 
>Demokrasi sebab itu bagian dari ketegang-an, tapi ia tidak akan bisa 
>berjalan dengan kebencian, jika kebenci-an membuat yang nisbi menjadi 
>seakan-akan mutlak, tak berubah dan kekal.
>
>Ada banyak peninggalan ke-arifan Nurcholish Madjid untuk orang 
>In-do-nesia, dan salah satunya adalah bagaimana memahami dan meng--hadapi 
>ketidak-kekalan. Ketika Gol-kar b-egitu dominan, ia mem-ihak Partai 
>Persatuan Pembangunan. Ke-tika di bawah Presiden Soeharto dan 
>kekuasa-annya pemilihan umum b-egitu kotor dan kasar, ia mendukung 
>gagas-an Komite Independen Pemantau Pe-milu. Ketika pada tahun 1998 
>Soeharto akhirnya bertanya kepada sejumlah tokoh muslim tak lama sebelum 
>ia turun takhta, Nurcholish juga yang mengatakan bahwa sang Presiden yang 
>telah berkuasa sejak 1966 itu lebih baik turun. Yang berkuasa atau tidak, 
>akan selalu bertemu dengan batas.
>
>Ada hubungan yang tak selalu tampak antara kearifan tentang 
>ketidak-kekalan manusia dan toleransi kepada iman dan pendapat orang lain. 
>Kesulitan para penganut agama ialah ketika mereka menduga bahwa 
>ketidak-kekalan mereka akan ditiadakan dengan ajaran yang kekal yang 
>mereka anut. Yang mustahil dan yang mutlak memang sangat menggugah, tapi 
>selalu ia di masa depan, dan masa depan juga tidak abadi. Nurcholish 
>adalah guru tentang kerendahan hati.
>
>Kerendahan hati adalah bagian terdalam dari hasrat berjabatan tangan. 
>Kebencian selalu menjadi angkuh—tetapi kali ini angkuh itu menjadi angkuh 
>karena sebenarnya ada yang membuat ragu, cemas, dan rapuh. Kebencian yang 
>mengerahkan fitnah adalah tanda putus asa, tapi sekalipun tanpa putus asa, 
>ia tidak akan menyebabkan keyakinan-keyakinan berubah. Kekuat-an sebuah 
>firman tidak datang dari kata yang terhunus bagaikan lembing. Ya, 
>Nurcholish adalah guru tentang kata-kata yang tidak menusuk, tidak berteriak.
>
>Goenawan Mohamad
>TEMPO 11 September 2005



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke