Saya jadi inget pepatah:
"Today is the first day for the rest of your life, make the best of it"
Tidak berlaku pada hari kematian, kata "first" harus diganti "last"
Semoga Pak Nurcholish terhibur,
Samudjo
----- Original Message -----
From: "Satrio Arismunandar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, September 06, 2005 4:18 PM
Subject: Re: [ppiindia] Nurcholish, Hari Baik untuk Mati


> Seingat saya, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan:
> "... tidak ada hari baik atau hari buruk..."
>
> Tolong dikoreksi kalau ingatan saya ini keliru...
>
>
>
>
> --- [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> > tapi... apakah mati di hari minggu itu hari buruk?
> > lalu kenapa ada yang namanya "waktu" diciptakan?
> > ....
> >
> > On 9/6/05, Nugroho Dewanto
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > Nurcholish, Hari Baik untuk Mati
> > >
> > >          Apa yang akan terjadi dengan Indonesia
> > andai saja tak ada
> > > Nurholish Madjid?
> > >          Wallahu a'lam. Itu pertanyaan
> > untung-untungan. Mungkin juga kita
> > > akan menjadi seperti di beberapa negara Timur
> > Tengah, yang pertentangannya
> > > di antara golongan politik Islam dan sekuler
> > demikian tajam. Di Indonesia,
> > > saya pikir, Nurcholish sudah menjadi pembuat jalan
> > lebar di tengah, meski
> > > hal itu bisa tak disengaja. Memang, bukan maksud
> > Ketua Umum Himpunan
> > > Mahasiswa Islam (HMI) ituwaktu itu, ketika ia
> > memulai kampanye pembaruan
> > > pemikiran keagamaannya di awal 1970untuk
> > "menetralkan" kalangan penguasa
> > > dari kemungkinan menjadi ekstrem terhadap kalangan
> > Islam seperti di
> > > sebagian negara-negara Arab itu.
> > > Kalangan Islam itu khususnya para bekas Masjumi,
> > dulu. Mereka, seperti
> > > dikatakan Nurcholish, tidak tanggap untuk dengan
> > segera mendukung
> > > pemerintahan Orde Baru. "Yang kami harapkan dulu
> > (di tahun 1966) pimpinan
> > > bekas Masjumi itu tidak lagi bicara soal
> > rehabilitasi Masjumi (kepada
> > > orang-orang Soeharto), tapi membentuk saja partai
> > baru dan segera
> > > menyatakan sikap mendukung 100% kepemimpinan Pak
> > Harto," katanya kepada
> > > Tempo di bulan Agustus 1971.
> > > Tentu, ekstremitas teoretis bisa terjadi bila
> > pihak Islam tetap keukeuh
> > > pada pendirian mereka, sementara para pemain
> > politik di luar Islam terus
> > > saja memelihara citra "bahaya negara Islam"
> > sepeninggal Masjumi. Tak perlu
> > > dipertimbangkan benar apakah kesadaran seperti itu
> > berada di kalangan para
> > > mantan tokoh Masjumi, yang dikenal sebagai para
> > demokrat sejati, ataukah di
> > > seberangnya. Tetapi bila, dalam ajakannya kepada
> > desakralisasi dan
> > > sekularisasi, Nurcholish menginginkan pembersihan
> > agama dari semua yang
> > > tidak sakral dan bukan sejatinya bagian dari
> > agama, seperti partai atau
> > > lembaga, yang dimaksudkannya adalah Masjumi.
> > > Pihak yang "ditembak" paham benar akan serangan
> > ituyang datang dari
> > > eksponen yang, sangat menyedihkan, sebenarnya
> > menjadi tumpuan harapan
> > > mereka dan untuk kualitasnya dia dijuluki Natsir
> > Muda. Faktor psikologis
> > > seperti itu, jangan diingkari, bisa lebih atau tak
> > kurang penting sebagai
> > > batu pemisah silaturahim (antara Nurcholish dan
> > keluarga Masjumi) daripada
> > > masalah isi kampanye si pemimpin muda. Itu memang
> > momen-momen yang sangat
> > > menekan, dan banyak meminta pengorbanan perasaan,
> > masa-masa awal 1970-an itu.
> > > Baik saya tuliskan bahwa Mas Sudjoko Prasodjo,
> > almarhum, senior Nurcholish
> > > di HMI dan ayahanda sosiolog Imam Prasodjo,
> > menceritakan kepada saya bahwa
> > > dekat sebelum masa-masa yang genting itu,
> > kegelisahan luar biasa yang
> > > melanda Nurcholish sampai-sampai membawanya
> > melakukan ziarah ke beberapa
> > > makam. Seorang kawan, saya lupa, menambahkan bahwa
> > kegelisahan yang kurang
> > > lebih sama dulu membuat Muhammad Abduh, reformis
> > besar Mesir, sebentar
> > > menjadi ateis. Mas Djoko kemudian menasihati
> > Nurcholish untuk ke luar
> > > negeri, belajar sosiologi. Sementara itu, KH
> > Saifuddin Zuhri, almarhum,
> > > dari NU, menuturkan kepada saya bahwa di masa itu
> > Nurcholish sering datang
> > > dan "mengadu", sementara Saifuddin menyaraninya
> > untuk memperhalus sikap
> > > kepada "orang-orang tua". Itulah transformasi itu.
> > > Memang, bukan maksud Nurcholish waktu itu untuk
> > "menyelamatkan umat" dari
> > > kemungkinan ekstremisasi di kalangan penguasa yang
> > menjadi sekuler, yang
> > > bisa saja kita bayangkan terjadi, umpama bila
> > kalangan muslimin semakin
> > > keras dalam zealot. Sebagian dari negeri-negeri
> > Timur Tengah kurang lebih
> > > punya situasi begitu, dan kita juga bukan tidak
> > pernah, lho, menghadapi
> > > keadaan yang hampir sama.
> > > Saya pikir, Nurcholish, dengan kampanyenya, sudah
> > menjadi bagian yang
> > > penting sekali (ingatlah organisasi HMI yang
> > besar, dengan pengaruhnya
> > > sampai saat-saat peralihan itu) dari pembangunan
> > gelombang besar masyarakat
> > > moderat yang baru, yang bisa turut menyingkirkan
> > kemungkinan bangkitnya
> > > situasi runcing saling berhadapan. Dan itu memang
> > sebagiannya bisa
> > > dianggap, begitulah kalau Anda mau, buah dari
> > usaha "sekularisasi",
> > > meskipun agak dilebih-lebihkan.
> > >          Lagi pula, tentang sekularisasi ini ada
> > yang bisa dituturkan
> > > sebagai riwayat. Waktu saya menggarap tulisan
> > pertama di Tempo tentang
> > > Nurcholish, 56 hari setelah majalah ini terbit
> > pertama kali (1 Mei 1971),
> > > saya sudah melihatnya sebagai kata kunci dalam
> > dakwah tokoh muda yang sudah
> > > beberapa tahun sebelumnya saya kenal di Yogya ini.
> > Tapi pengertiannya
> > > tidaklah selalu jelas. Benar bahwa Nurcholish
> > mengemukakan tetapnya
> > > pertalian negara dan agama, tetapi (hanya) secara
> > individual, di dalam
> > > pribadi. Agamalah yang membentuk pribadi itu.
> > > Itulah sebabnya, baik Abdul Qadir Djailani,
> > sekarang anggota DPR, maupun
> > > Ahmad Azhar Basyir (almarhum) dari Muhammadiyah,
> > tegas-tegas menolak. Lebih
> > > keras lagi penolakan dari Prof. Rasjidi. Tetapi,
> > pada kesempatan lain,
> > > Nurcholish juga mengatakan, "Dengan sekularisasi
> > tidaklah dimaksudkan
> > > penerapan sekularisme dan merobah (mengubahRed.)
> > kaum muslimin menjadi kaum
> > > sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan
> > nilai-nilai yang sudah
> > > semestinya bersifat duniawi." Sialnya, Nurcholish
> > bilang lagi bahwa
> > > beberapa segi yang dikemukakannya tak lain
> > alat-alat shock therapy. Itulah
> > > sebabnya Ismail Hasan Metareum (almarhum),
> > terakhir politikus PPP, mencoba
> > > menerka bahwa Nurcholish sendiri sebenarnya "tidak
> > sepenuhnya menyetujui
> > > beberapa istilah yang dikemukakannya itu."
> > > Bahkan, menanggapi serangan keras Prof. Rasjidi,
> > tokoh kita ini dengan enak
> > > membandingkan pemakaian 'sekularisasi' itu, yang
> > bukan penerapan
> > > sekularisme, dengan pemakaian 'sosialisasi' yang
> > tidak usah ada hubungannya
> > > dengan sosialisme. Itulah barangkali sebabnya Usep
> > Fathuddien menyatakan,
> > > pemakaian istilah 'sekularisasi' sebenarnya
> > "kurang tepat".
> > > Tetapi itu sebelum Nurcholish  bertolak ke Amerika
> > Serikat. Sepulang dari
> > > studinya di University of Chicago, orang tak
> > pernah mendengarnya menyebut
> > > sekularisasi atau sekularisme secara publik. Ia
> > seperti memasuki babak
> > > baru: pendidikan. Ia mendirikan Yayasan Wakaf
> > Paramadina, yang menyediakan
> > > kelas-kelas kursus agama, sebelum nantinya
> > Universitas Paramadina.
> > > Nurcholish seorang pencinta tradisi keilmuan Islam
> > sejati, dan
> > > kursus-kursusnya itu tempat orang awam mengenaldan
> > menikmatipengetahuan
> > > yang luas, khasnya dari disiplin-disiplin
> > tradisional fikih, tasawuf,
> > > kalam, dan filsafat, walaupun serba sedikit. Dari
> > Nurcholish memang banyak
> > > yang bisa diambil di luar bab "sekularisasi". Saya
> > teringat KH Amidhan
> > > (dulu namanya ditulis Amidhan Pahuluan), sekarang
> > di Majelis Ulama
> > > Indonesia (MUI), yang di tahun 1973 juga berada
> > dalam grup diskusi bersama
> > > Nurcholish (seperti juga saya sendiri) dan
> > tertarik pada penekanan ide
> > > kemanusiaan dalam pembicaraan. "Agar
> > pemikir-pemikir Islam lebih menekuni
> > > masalah-masalah insani ini," katanya, "sebab
> > universalitas agama justru
> > > karena membicarakan manusia sebagai sentrum"
> > Jarang rasanya, harus
> > > dikatakan, orang yang bangga pada agamanya seperti
> > Nurcholishia memandang
> > > Islam sebagai sumber peradaban, kelembutan, dan
> > keindahan, yang bahkan tak
> > > harus hanya menyentuh para muslimin, tapi juga
> > seluruh
> === message truncated ===
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>

DISCLAIMER: The information contained in this communication is intended solely 
for the use of the individual or entity to whom it is addressed and others 
authorized to receive it. It may contain confidential, legally privileged 
information or otherwise protected by law from disclosure and is intended 
solely for the use of the addressee. If you are not the intended recipient you 
are hereby notified that any disclosure, copying, distribution or taking any 
action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited 
and may be unlawful. Unless otherwise specifically stated by the sender, any 
documents or views presented are solely those of the sender and do not 
constitute official documents or views of  PT Apexindo Pratama Duta Tbk. If you 
received this email in error, please immediately notify the sender or our email 
administrator at [EMAIL PROTECTED] and delete it from your system. Thank you.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke