SUARA PEMBARUAN DAILY
Last modified: 5/9/05 

Einstein: Mendidik Manusia atau ...?

Ratna Megawangi

SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 
tahun ingin sekali rambutnya di-rebonding, padahal rambutnya sudah 
lurus. Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon 
di daerah Cibubur yang relatif murah. 

Rupanya ia sudah mengetahui informasi melalui internet mengenai 
salon-salon yang terkenal bagus, atau jelek dalam urusan rebonding, 
bahkan sampai dampak obat yang dipakai terhadap kualitas rambut. Ia 
menolak pergi ke salon tersebut, karena informasi yang ia baca dalam 
sebuah blog internet, kualitas rebonding di salon tersebut tidak 
bagus. 

Berhubung saya hanya mau membayar 50 persen saja, ia melakukan 
browsing secara intensif, dan akhirnya ia memutuskan untuk memakai 
jasa sebuah salon yang ta-rifnya cukup murah, tetapi kualitasnya 
bagus.

Rupanya anak terkecil kami pun (usia 7 tahun), sudah mulai menjadi 
seorang yang tidak mudah dipengaruhi juga. Ia bersama 
kakaknya "berkonspirasi" untuk mempengaruhi kami agar mau memelihara 
anjing di rumah. Mereka sebut beberapa jenis anjing yang bagus, lagi-
lagi belajar dari internet, dan akhirnya memutuskan untuk membeli 
anjing yang pintar untuk dilatih serta bersahabat dengan anak-anak, 
yaitu jenis Golden Ret River. 

Saya sendiri baru mendengar nama jenis tersebut, tetapi menurut 
informasi harganya cukup mahal. Kemudian saya ajak mereka ke sebuah 
tempat di daerah Menteng untuk membeli anjing di pinggir jalan yang 
pasti harganya lebih murah. 

Mereka mengetahui betul bentuk anjing jenis tersebut, sehingga ada 4 
penjual yang gagal membohongi mereka. Sampai yang mirip sekali pun, 
tetapi karena bentuk kupingnya berbeda, mereka mengetahuinya. 

Setelah bernegosiasi, dan kedua anak kami mau patungan menyumbang 
dari uang tabungannya Rp 500.000, akhirnya saya menyerah untuk 
membelinya di pet shop yang harganya Rp 2 juta, karena kemurnian ras 
anjing tersebut dijamin oleh sertifikat.

Dalam beberapa hal, saya akui anak-anak kami lebih pintar dan well-
informed daripada orangtuanya, sehingga kami sering "kalah" ketika 
harus mengambil keputusan karena informasi yang diperolehnya lebih 
lengkap. Anak pertama kami yang sekarang sudah semester 7 di 
Fakultas Hukum UI, sejak kelas 1 SMA juga sudah memutuskan sendiri 
untuk masuk ke IPS, sehingga ia tidak mau "membuang" waktunya untuk 
belajar sesuatu yang ia tidak akan dipakainya, seperti Fisika, Kimia 
dan Biologi. Akibatnya, nilai yang diperolehnya hanya pas-pasan 
saja. 


Diminati Siswa

Namun, waktunya ia lebih banyak gunakan untuk belajar sesuatu yang 
lebih menarik minatnya, seperti belajar komputer, organisasi, dan 
membaca segala macam buku yang tidak ada hubungannya dengan tugas 
sekolah. Kelas 1 SMA (tahun 1999) ia mengajak beberapa kawannya 
untuk merintis bidang ekstra kurikuler baru di sekolahnya, yaitu 
FORTEK (forum teknologi), yang semuanya diusahakan melalui survey 
kelayakan (ada 100 kuesioner tersebar), seminar, dan presentasi di 
depan sponsor, sehingga memperoleh 6 perangkat komputer. Bidang 
tersebut sampai sekarang masih ada, bahkan paling banyak diminati 
siswa. 

Rasanya tidak ada satu pun guru yang memujinya, karena memang angka 
rapornya biasa-biasa saja, bahkan ada juga nilai merahnya (boro-boro 
dapat ranking). Namun baginya tidak ada masalah, dan ia memang 
berpikir strategis. Menurutnya, apabila sistem ujian nasional dan 
masuk perguruan tinggi adalah seperti sekarang, maka dengan sistem 
kebut drilling beberapa bulan terakhir sebelum ujian, katanya masih 
bisa ia kejar. 

Jadi, ketika hampir seluruh kawan-kawannya sudah sibuk ikut les 
sekolah dan bimbingan tes sejak kelas 1 SMA, bahkan sampai banyak 
yang stres, ia menolak untuk mengikutinya karena mau memakai 
waktunya untuk mempelajari hal-hal yang diminatinya sendiri. Baru 
ketika 6 bulan menjelang ujian akhir SMA, ia mau ikut les. 

Sejak SMP ia memang sudah senang membaca buku-buku serius seperti 
karangan Maurice Bucaille, buku-buku filsafat Jabariah dan Badariah, 
bahkan sekarang ia sedang senang-senangnya mengikuti perkembangan 
harga pasar saham dan pasar uang, karena ia menginvestasikan semua 
tabungannya yang Rp 3 juta di reksadana. Semuanya ini ia peroleh 
dari belajar sendiri, bukan dari sekolahnya.

Perjalanan anak-anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu 
apakah mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah 
berusaha untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang 
berpikir kritis dan mandiri, tidak mudah percaya dan diprovokasi, 
bisa mencari informasi dan mengolahnya sendiri, sehingga nantinya 
bisa mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam hidupnya, serta 
mudah beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah. 

Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip-prinsip nilai 
dan etika. Terus terang, kami memang "melarang" anak-anak kami untuk 
mendapatkan ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang 
terperangkap untuk mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu 
berpikir dangkal, pragmatis, dan tidak kritis, akibat terbiasa 
menghafal dan mengerjakan soal yang jawabannya sudah baku sesuai 
dengan rumus.



Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal 
mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing. 
Menurut Einstein, "With his specialized knowledge-more closely 
resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person." 

(Ternyata benar, dengan cara mengulang berkali-kali, anak kami sudah 
dapat melatih anjingnya yang berusia 4 bulan untuk duduk, loncat, 
dan salaman). Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak 
perlu (kognitif), tetapi dimensi lainnya juga harus dikembangkan 
(sosial, emosi, motorik, spiritual, dan kreativitas), sehingga 
seluruh dimensi manusia dapat berkembang secara seimbang (harmonis). 

Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak-
anak dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga 
potensi-potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.

Albert Einstein sudah memberikan warning akan bahayanya sistem 
pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata 
pelajaran, yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal, 
bukan seorang yang independent critical thinker (New York Times, 
October 5, 1952). 

Menurutnya, "It is also vital to a valuable education that 
independent critical thinking be developed in the young human being, 
a development that is greatly jeopardized by overburdening him with 
too much and with too varied subject (point system). Overburdening 
necessarily leads to superficiality. Teaching should be such that 
what is offered is perceived as a valuable gift and not as a hard 
duty."

Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan 
olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan 
fit bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu 
pula, apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir 
kritis, selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia 
akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang 
berpikir. 

Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai 
akses terhadap internet (lima tahun yang lalu mungkin kita tidak 
membayangkan kalau hand phone bisa dipakai secara massal sampai ke 
desa-desa. Hal yang sama sangat mungkin terjadi dengan internet, 
seperti yang sudah terjadi di Korea). 

Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat 
diakses.

Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai 
dalam kehidupan anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah 
dengan cepat, sehingga apa yang dipelajari sekarang ini, mungkin 
saja tidak terpakai dalam kehidupannya di masa depan nanti. Padahal 
sudah dipelajari dan dihafalkan mati-matian, sampai banyak yang 
stres dan mengalami masalah kejiwaan. 

Menurut Peter Senge, sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk 
patuh begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan 
tanpa mempertanyakannya - tidak bersikap kritis - akan gagal 
menyiapkan para siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal 
mereka yang kerap berubah.

Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak-anak kita untuk cakap hidup di 
zamannya kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang 
hanya bisa berpikir sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan 
drilling), yaitu tidak kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil 
risiko, tidak proaktif, dan apatis. 

Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu 
cepat berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban. 
Seperti kata Einstein, mereka adalah manusia, bukan well-trained 
dog. *


Penulis adalah pemerhati masalah sosial pendidikan









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke