http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=212223&kat_id=16
Rabu, 07 September 2005


SBY, Reshuffle, dan Dua Kepentingan 
Oleh : Yusuf Maulana
Pengkaji Bahasa Politik; bekerja pada Institut Analisis Propaganda


Makin bertambah desakan dari pelbagai kalangan agar Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) me-reshuffle kabinetnya. Pemicunya mulai dari gonjang-ganjing 
perekonomian nasional akibat kenaikan harga BBM dan merosotnya nilai tukar 
rupiah terhadap dolar AS, hingga nota kesepahaman (MoU) pemerintah dengan 
Gerakan Aceh Merdeka yang dinilai bertentangan dengan UUD 1945 dan beberapa 
perundangan lainnya. 

Terhadap desakan ini, secara garis besar ada dua pendapat. Pertama, mereka yang 
secara terbuka mendukung reshuffle. Alasannya, bila tidak segera ada reshuffle 
menteri, maka kondisi di tengah masyarakat kian parah. Kedua, mereka yang 
cenderung berhati-hati. Umumnya kelompok kedua ini berpendirian bahwa urusan 
reshuffle sebaiknya diserahkan sepenuhnya kepada presiden. Jadi, publik 
sebaiknya tidak perlu mendesak Presiden SBY sedemikian rupa. 

Di pihak lain, sejauh ini publik menangkap kesan bahwa SBY cenderung memilih 
mempertahankan komposisi kabinetnya sekarang, atau setidaknya mempertahankan 
sampai Oktober nanti --tepat setahun masa pemerintahannya. 

Me-reshuffle kabinet memang sepenuhnya hak prerogatif SBY. Meskipun demikian, 
SBY tidak bisa menutup mata atas kinerja menteri-menterinya. Kewenangannya 
itulah yang semestinya digunakan untuk menunjukkan kualitas kepemimpinannya 
agar tidak dipersepsi sebagai pemimpin yang peragu. 

Dua kepentingan
Tapi karena bernuansa politis, respons SBY yang cenderung hati-hati terhadap 
wacana reshuffle memang bisa dimengerti. Untuk itu, SBY sebaiknya membuktikan 
apakah wacana ini dilontarkan dalam kerangka politis (yang akan merugikan 
pemerintahannya) ataukah ini bagian dari menyelamatkan kepentingan rakyat. 

Pada sisi inilah SBY tampaknya masih berpikir dualistik, kurang mampu memilah 
dan membedakan kedua kepentingan ini. Sehingga dia pun cenderung bertindak 
konservatif, berhati-hati, bahkan cenderung formalistik. Wacana yang 
menyebutkan SBY kemungkinan akan menimbang reshuffle menunggu setahun 
pemerintahannya, merupakan bentuk konkretnya. 

Bagi pihak yang mendukung sikap SBY, wacana reshuffle dinilai belum tentu 
menyelesaikan akar permasalahan. Ditambahkan pula, munculnya wacana reshuffle 
tidak lain reaksi emosional publik, khususnya ketika menteri terkait belum juga 
mengatasi penurunan nilai tukar rupiah. Atas kenyataan ini, dengan 
menyederhanakan masalah, masyarakat kemudian melimpahkan kesalahan --sebagai 
tindakan melampiaskan emosi-- kepada menteri-menteri tersebut.

Selain itu, menurut pihak ini pula, alih-alih demi publik, derasnya tuntutan 
reshuffle juga rentan diboncengi kepentingan politis. Di dalam pihak yang 
mendukung reshuffle sendiri, memang ada yang berasal dari partai pendukung 
pemerintahan SBY. Tidak bisa dipungkiri, motif mereka mendukung segera 
dilakukannya reshuffle disebabkan jatah menteri dalam kabinet sekarang tidak 
memuaskan.

Diskursus publik
Katakanlah reaksi publik memang emosional, namun tidak boleh diabaikan bahwa 
latar belakang masalah yang memunculkan reaksi ini tidak muncul secara 
tiba-tiba. Reaksi atau sikap publik, meskipun tidak selalu cerminan kebenaran, 
merupakan refleksi atas aspirasi mereka dalam berdiskursus dengan pemerintah.

Ketika rakyat berpartisipasi dalam ruang publik politis (meminjam kosakata 
Jurgen Habermas), tentu tidak ada alasan lagi untuk membatasi apalagi melarang 
artikulasi kepentingannya. Dalam konteks ini lah, menyuarakan reshuffle dapat 
dipandang sebagai bagian dari hak publik, sekaligus kewajiban publik dalam 
mengimbangi praktik diskursif diskursus pemerintah. Dipilihnya SBY secara 
langsung oleh rakyat, semestinya makin mengaksentuasi betapa signifikannya 
tuntutan reshuffle kabinet. Selain itu, bukankah jauh-jauh hari sebelumnya, 
saat membentuk kabinet, sebenarnya SBY belum sepenuhnya mempraktikkan diskursus 
yang adil dengan rakyat. Pasalnya, terlepas dari faktor pribadinya ataukah 
tekanan dari pihak ketiga, preferensi SBY dalam memilih menteri telah 
mencederai aspirasi publik.

Tidak boleh dilupakan, posisi menteri di bidang ekonomi yang dulu mengecewakan 
rakyat, yang kini dituntut untuk di-reshuffle. Bahwa reshuffle belum tentu 
menyelesaikan masalah, penilaian ini masih bisa diperdebatkan. Namun dalam 
konteks demokrasi deliberatif, sudah ada yang pasti: ketika partisipasi makin 
intensif dan konsultasi publik bahkan diinisiatifi publik, kebijakan-kebijakan 
dan undang-undang yang dihasilkan oleh pihak yang memerintah semestinya makin 
mendekati harapan pihak yang diperintah. Dalam konteks itu, sikap konservatif 
atau status quo dengan mempertahankan kabinet bermakna sebagai pemitosan hak 
prerogatif presiden, sekaligus menggunakannya untuk mengontrol partisipasi 
publik. Padahal, bila mau jujur, sama halnya mempertahankan status quo (dengan 
alasan masalah belum tentu selesai), mempertahankan posisi menteri kepada orang 
yang sama juga belum tentu menyelesaikan masalah! 

Memperbaiki kepemimpinan
Tak ada asap bila tanpa api. Munculnya desakan agar SBY me-reshuffle kabinetnya 
dilatari dua sebab. Pertama, buruknya kinerja menteri. Kedua, kepemimpinan SBY 
sendiri.

Sebagai sebuah diskursus publik, wacana reshuffle kabinet menjadi produktif 
bila tiap-tiap partisipan yang terlibat (dalam hal ini publik secara luas, dan 
pemerintah) mencoba menemukan konsesus menuju pengertian yang adil bagi semua 
pihak. Di sini lah relasinya dengan keharusan melihat wacana reshuffle bukan 
sebagai wacana yang disempitkan dengan mengganti atau tidak menteri tertentu.

Kegelisahan bahkan kekecewaan publik terhadap menteri tertentu dalam hal ini 
sebetulnya mewakili suasana hati mereka terhadap kinerja kepemimpinan SBY. 
Karena itulah, wacana reshuffle juga mengimplisitkan agenda perbaikan 
kepemimpinan SBY. Ketegasan SBY dalam hal ini menjadi faktor penting yang akan 
dilihat publik, yang selanjutnya diharapkan bisa menaikkan kepercayaan pasar.

Namun, me-reshuffle menteri tanpa disertai perbaikan kepemimpinan SBY sendiri, 
bisa dipastikan hanya akan memunculkan reshuffle berikutnya. Dan ini tentu akan 
memunculkan krisis baru di publik. Tapi memperbaiki diri ini bukan berarti 
memoderatkan diri SBY untuk tetap mempertahankan menteri-menterinya (dengan 
alasan percaya diri mampu memperbaiki bahkan meningkatkan kinerja mereka).

Perbaikan kepemimpinan SBY dalam hal ini perlu dibaca sebagai pembentukan 
karakter agar SBY mau dan mampu mengakselerasi kinerja menteri-menterinya. 
Jadi, bukan hanya mempertahankan kerja-kerja yang (se-ada -nya), melainkan 
bagaimana menteri-menterinya semakin progresif bekerja. Seorang menteri tidak 
akan progresif bila atasannya sendiri tampak peragu atau inferior.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke