Assalamu`alaikum wr.wb

semoga ada manfaatnya.
mohon maaf bila terima dobel :-).

Wassalamu`alaikum wr.wb

Seputar kecelakaan Pesawat Mandala Flight 091
Oleh Yuli Setyo Indartono

Setyo Rahardjo, ketua Komite Nasional Keselamatan
Transportasi Nasional (KNKT), telah menyatakan bahwa
sedikitnya dibutuhkan 1 tahun untuk mengungkap
penyebab tragedi jatuhnya Pesawat Boeing 737-200 milik
Maskapai Mandala sesaat setelah take off dari Bandara
Polonia di Medan. Tidak kurang dari 140 orang
meninggal, baik awak dan penumpang pesawat serta
penduduk lokal yang berada di sekitar tempat kejadian.
Manajemen Mandala sejauh ini menyatakan bahwa penyebab
musibah tersebut adalah gagal take off. Tulisan
singkat ini jauh dari keinginan untuk mengungkap
penyebab jatuhnya pesawat, namun hanya ingin
memberikan keluasan wacana tentang berbagai
kemungkinan yang bisa berada di balik musibah
tersebut. Di bagian awal tulisan ini akan disajikan
secara singkat tentang hidrodinamika pesawat.
Sedangkan di bagian akhir disajikan beberapa musibah
yang sejenis dengan musibah yang menimpa Mandala
Flight 091 serta analisis singkat.

Hidrodinamika pesawat terbang

Pada prinsipnya, pada saat pesawat mengudara, terdapat
4 gaya utama yang bekerja pada pesawat, yakni gaya
dorong (thrust T), hambat (drag D), angkat (lift L),
dan berat pesawat (weight W). Pada saat pesawat sedang
menjelajah (cruise) pada kecepatan dan ketinggian
konstan, ke-4 gaya tersebut berada dalam
kesetimbangan: T = D dan L = W. Sedangkan pada saat
pesawat take off dan landing, terjadi akselerasi dan
deselerasi yang dapat dijelaskan menggunakan Hukum II
Newton (total gaya adalah sama dengan massa dikalikan
dengan percepatan). Pada saat take off, pesawat
mengalami akselerasi dalam arah horizontal dan
vertical. Pada saat ini, L harus lebih besar dari W,
demikian juga T lebih besar dari D. Dengan demikian
diperlukan daya mesin yang besar pada saat take off.
Gagal take off bisa disebabkan karena kurangnya daya
mesin (karena berbagai hal: kerusakan mekanik, human
error, gangguang eksternal, dsb), ataupun gangguan
pada sistem kontrol pesawat.

Dibalik terbangnya pesawat

Sebagian besar pesawat komersial saat ini menggunakan
mesin turbofan. Turbofan berasal dari dua kata, yakni
turbin dan fan. Komponan fan merupakan pembeda antara
mesin ini dengan turbojet. Pada mesin turbojet, udara
luar dikompresi oleh kompresor hingga mencapai tekanan
tinggi. Selanjutnya udara bertekanan tinggi tersebut
masuk ke dalam ruang bakar untuk dicampurkan dengan
bahan bakar (avtur). Pembakaran udara bahan bakar
tersebut akan meningkatkan temperatur dan tekanan
fluida kerja. Fluida bertekanan tinggi ini selanjutnya
dilewatkan melalui turbin dan keluar pada nosel dengan
kecepatan sangat tinggi. Perbedaan kecepatan udara
masuk dan keluar dari mesin mencitpakan gaya dorong T
(Hukum III Newton: Aksi dan Reaksi). Gaya dorong T ini
dimanfaatkan untuk bergerak dalam arah horizontal dan
sebagian diubah oleh sayap pesawat menjadi gaya angkat
L. Pada mesin turbofan, ditambahkan fan yang
memberikan tambahan laju udara melalui bypass air.
Udara tambahan ini sekaligus mampu meredam kebisingan
mesin. Namun relatif kompleksnya mesin turbofan ini
menjadikannya cukup rentan terhadap FOD (Flying Object
Damage) dan gangguang akibat pembentukan es pada
mesin.

Sayap: mengubah T menjadi L

Hingga saat ini, setidaknya ada 3 penjelasan yang
diterima untuk fenomena munculnya gaya angkat pada
sayap: prinsip Bernoulli, Hukum III Newton, dan efek
Coanda. Sayap pesawat memiliki kontur potongan
melintang yang unik: airfoil. Pada airfoil, permukaan
atas sedikit melengkung membentuk kurva cembung,
sedangkan permukaan bawah relatif datar. Bila
sekelompok udara mengenai kontur airfoil ini, maka ada
kemungkinan bahwa udara bagian atas akan memiliki
kecepatan lebih tinggi dari bagian bawah: hal ini
disebabkan karena udara bagian atas harus melewati
jarak yang lebih panjang (permukaan atas airfoil
adalah cembung) dibandingkan udara bagian bawah.
Prinsip Bernoulli menyatakan bahwa semakin tinggi
kecepatan fluida (untuk ketinggian yang relatif sama),
maka tekanannya akan mengecil. Dengan demikian akan
terjadi perbedaan tekanan antara udara bagian bawah
dan atas sayap: hal inilah yang mencipakan gaya angkat
L. Penjelasan dengan prinsip Bernoulli ini masih
menuai pro kontra; namun penjelasan ini pulalah yang
digunakan Boeing untuk menjelaskan prinsip gaya
angkat.

Penjelasan menggunakan Hukum III Newton menekankan
pada prinsip perubahan momentum manakala udara
dibelokkan oleh bagian bawah sayap pesawat. Dari
prinsip aksi ¡¦reaksi, muncul gaya pada bagian bawah
sayap yang besarnya sama dengan gaya yang diberikan
sayap untuk membelokkan udara. Sedangkan penjelasan
menggunakan efek Coanda menekankan pada beloknya
kontur udara yang mengalir di bagian atas sayap.
Bagian atas sayap pesawat yang cembung memaksa udara
untuk mengikuti kontur tersebut. Pembelokan kontur
udara tersebut dimungkinkan karena adanya daerah
tekanan rendah pada bagian atas sayap pesawat (atau
dalam penjelasan lain: beloknya kontur udara tersebut
menciptakan daerah tekanan rendah). Perbedaan tekanan
tersebut menciptakan perbedaan gaya yang menimbulkan
gaya angkat L. Meski belum ada konsensus resmi
mengenai mekanisme yang paling akurat untuk munculnya
fenomena gaya angkat, yang jelas sayap pesawat
berhasil mengubah sebagian gaya dorong T mesin menjadi
gaya angkat L.

Kontrol gerak pesawat

Pesawat terbang memiliki kemampuan bergerak dalam tiga
sumbu, yakni pitch, roll, dan yaw. Gerak naik turunnya
hidung pesawat dikontrol oleh elevator, gerak naik
turunnya sayap pesawat dikontrol oleh aileron,
sedangkan gerak berbelok dalam bidang horizontal
dikontrol oleh rudder yang berada di sirip (fin)
pesawat. Selain itu, dibagian belakang sayap juga
terdapat spoiler yang berfungsi membantu meningkatkan
gaya angkat pada saat take off atau dengan perubahan
posisi mampu mengurangi gaya angkat pada saat landing
(air brake). Pada saat menjelajah (cruise) spoiler ini
akan masuk ke dalam sayap untuk mengurangi gaya hambat
D pesawat.

Kecelakaan pesawat pada saat take off [1]: beberapa
kasus

Sebagian besar kecelakaan pesawat pada saat take off
terjadi karena kegagalan fungsi mesin yang muncul
karena berbagai sebab. Kegagalan fungsi mesin tersebut
bisa disebabkan karena kerusakan pada komponen mesin
itu sendiri, kerusakan pada daerah di dekat mesin yang
berimbas pada mesin, kebocoran dan terbakarnya tanki
bahan bakar, kerusakan sistem kontrol, ataupun human
error. Di bawah ini akan diberikan gambaran kasus
kecelakaan pesawat pada saat take off.

Air Florida Flight 90, Januari 13, 1982, menewaskan 78
orang

Air Florida Flight 90 menggunakan Boeing 737-222 pada
saat take off dari Bandara Washington dalam kondisi
cuaca yang sangat dingin. Sesaat setelah take off,
pesawat tersebut gagal untuk mencapai ketinggian, dan
jatuh di Sungai Potomac setelah sebelumnya sempat
menghantam 5 kendaraan di high way. Dari penyelidikan,
diduga pilot tidak mengaktifkan system anti-es.
Sehingga indicator EPR (Engine Pressure Ratio)
memberikan pembacaan indicator dengan kesalahan
tinggi: seharusnya untuk take off diperlukan EPR 2.04,
namun karena kesalahan indikator, mesin hanya
memproduksi EPR 1.7. Pesawat memang berhasil
mengudara, namun dia gagal mendapatkan ketinggian
karena kurangnya daya pesawat.

Air France Flight 4590 (Concorde), menewaskan 113
orang

Sebelum musibah ini, penerbangan Concorde merupakan
penerbangan teraman, karena belum mengalami satu pun
musibah fatal. Musibah ini ternyata mengubah
perjalanan penerbangan Concorde selanjutnya; yang
mungkin diperkuat dengan berbagai faktor lain,
menyebabkan penerbangan ini ditutup selamanya. Pada 25
Juli 2000, Concorde ini lepas landas dari Bandara
Internasional Charles de Gaulle di dekat Paris.
Penyelidikan atas kasus ini mengungkapkan bahwa
terdapat lempeng titanium yang terjatuh dari
penerbangan sebelumnya, yakni Continental Airlines DC
10, yang kemudian mengenai bagian roda Concorde.
Titanium tersebut mampu merobek ban Concorde, dan
selanjutnya serpihan ban (4.5 kg) dengan kecepatan
sangat tinggi (300 km/jam) tersebut menghantam bagian
sayap. Rambatan tekanan dan getaran akibat benturan
tersebut mengkoyakkan tanki yang berisi penuh bahan
bakar. Kedua mesin pesawat segera mati, dan Concorde
jatuh menimpa sebuah hotel. Jumlah total korban
meninggal pada kecelakaan ini sebanyak 113 orang yang
meliputi awak dan penumpang pesawat serta orang yang
tertimpa pesawat.

American Airlines Flight 587, menewaskan 260 orang

Pada 12 November 2001, Penerbangan pesawat Airbus
A300-600 yang digunakan American Airlines dengan nomor
penerbangan 587 jatuh tak lama setelah take off dari
Bandara Internasional John F Kennedy. Karena
berdekatan waktunya dengan tragedy September 11,
sempat muncul dugaan bahwa "terorisme" merupakan
penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Pesawat ini melaju
di runway yang baru saja dilalui Boeing 747. Melajunya
objek sebesar pesawat terbang dengan kecepatan tinggi
tentu saja menimbulkan turbulensi udara yang cukup
intens. Turbulensi udara tersebut mengganggu jalannya
Airbus A300-600 yang mencoba take off. Pilot mencoba
menggunakan rudder untuk mengendalikan jalannya
pesawat, namun pilot terlalu jauh menggunakan rudder
tersebut dan kemudian mengkoreksinya dengan
menggerakkan rudder ke arah yang berlawanan: juga
terlalu jauh. Gerakan rudder yang sangat besar dan
dalam waktu yang singkat tersebut mencipakan tegangan
(stress) yang sangat besar di bagian ekor pesawat.
Pada akhirnya bagian ekor pesawat tersebut patah, dan
menyebabkan pilot kehilangan kontrol atas pesawat.
Pihak Airbus dan American Airlines saling menyalahkan:
di satu sisi American Airlines menuding Airbus
menggunakan fly by wire pada rudder yang tidak biasa,
yakni tekanan pada pedal penggerak rudder diset
konstan pada berbagai kondisi kecepatan pesawat
(biasanya untuk kecepatan pesawat yang semakin besar,
tekanan pedal untuk menggerakkan rudder juga semakin
besar), di sisi lain, Airbus menuding American
Airlines tidak melakukan pilot training yang sesuai
dengan karakteristik pesawat Airbus.

Emergency & Disaster Management Inc [2] mencatat 13
kecelakaan pesawat terbang di seluruh dunia yang
berkaitan dengan saat take off dan landing terjadi
pada pesawat Boeing berbagai seri selama tahun
2000-2004; dan lebih khusus lagi sebanyak 8 kejadian
diantaranya menimpa pesawat Boeing seri 737. Serupa
dengan penjelasan pada paragraph sebelumnya, penyebab
kecelakaan saat take off dan landing tersebut juga
berasal dari berbagai sumber: human error, factor
eksternal, gangguang mesin, dll.

Khusus untuk Mandala Airlines Flight 091, ada beberapa
informasi dari media massa (Suara Merdeka) yang
menyebutkan bahwa saksi mata melihat adanya asap hitam
keluar dari bagian belakang pesawat. Juga penuturan
penumpang yang selamat (Tempo Interaktif) yang
menyebutkan bahwa mereka mendengar dentuman dan
kemudian pesawat terasa kehilangan tenaga. Selain itu
ada juga saksi mata yang menyebutkan bahwa pesawat
terlihat seperti hendak berbelok sebelum akhirnya
jatuh. menilik penjelasan yang teramat minim tersebut,
bila seandainya benar terjadi yang demikian, maka ada
kemungkinan bahwa penyebab jatuhnya Mandala Airlines
Flight 091 tersebut adalah kerusakan mesin. Beloknya
arah pesawat bisa jadi disebabkan karena matinya salah
satu mesin. Ketidakseimbangan gaya dorong bisa
menyebabkan beloknya pesawat. Namun perlu
digarisbawahi bahwa dari paparan sebelumnya bisa
dimengerti bahwa kerusakan mesin (bila benar terjadi
demikian) tersebut tidak semata-mata berkorelasi
dengan umur pesawat. Banyak faktor eksternal dan
internal yang memungkinkan terjadinya kerusakan mesin.

Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa kecelakaan
pesawat pada saat take off terjadi di berbagai negara,
juga di Amerika Serikat yang dikenal memiliki prosedur
kerja yang baik. Umur dan kondisi pesawat yang
mengalami kecelakaan pada saat take off juga
bervariasi, bukan hanya menimpa pesawat yang sudah
berumur. Kondisi mesin dan struktur pesawat memang
menempati posisi yang kritikal pada keselamatan
penerbangan. Kerusakan dan gangguan mesin dan sistem
pada moda transportasi darat dan laut biasanya tidak
menimbulkan akibat sefatal bila hal tersebut terjadi
pada pesawat terbang. Oleh karena itu, pengoperasian
pesawat terbang di seluruh dunia senantiasa menuntut
keterlibatan sumber daya manusia dengan kualitas
tinggi. Namun demikian, dari paparan di atas terlihat
bahwa terdapat banyak faktor internal dan eksternal
yang berpotensi menyebabkan musibah pada sebuah
pesawat. Rendahnya harga tiket yang mungkin
berkorelasi pada kualitas maintenance tidak bisa
semata-mata kemudian dicurigai sebagai penyebab utama.

semoga tidak terjadi lagi musibah yang demikian.


[1]
http://en.wikipedia.org/wiki/Mandala_Airlines_Flight_091

[2]
http://www.emergency-management.net/airpl_acc_index.htm


Yuli Setyo Indartono

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke