Quote:
"..
> Meski demikian Chatib menilai, persoalan ekonomi tidak
> bisa sekedar diselesaikan dengan mengganti menteri di
> bidang ekonomi. Sebagai seorang ekonom, Chatib Basri
> berpendapat, masih ada sejumlah langkah yang bisa
> ditempuh untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.
> Pertama membuat kebijakan moneter yang lebih ketat dan
> kedua menaikkan harga BBM untuk menurunkan subsidi.
> Sebab sebagian besar BBM yang dipasok Pertamina
> berasal dari luar negeri dan dibeli dengan mata uang
> dolar Amerika.

* Kenapa langkah pertama ngambang dan tidak setegas langkah kedua?
* Kenapa cuma 2 langkah yang disebut, apa gak ada langkah lain?
Atau ada langkah lain tapi merugikan sebagian kalangan (baca: elit)?
Sehingga yang disodorkan cuma yang sifatnya mengenai wong cilik
langsung saja.. karena lebih mudah menekan wong cilik toh.. :-(
* Kenapa begini kenapa begitu?

Para pakar ekonomi (aliran manapun) di milis ini bisa bantu jelaskan
soal ini?

> Walaupun demikian sudah ada jangkar
> yang cukup kuat dari adanya swap dengan Jepang dan
> China senilai US $ 7 Milyar, meskipun pemerintah
> diharapkan lebih serius menjaga rupiah dan kian
> nyaringnya suara pasar yang menghendaki penyegaran
> kabinet. Seandainya terjadi perombakan kabinet
> diharapkan tim tsb jauh lebih tangguh dari sebelumnya.
> Sebab untuk apa mengganti kabinet jika hasilnya sama
> saja atau lebih buruk. Disinilah letak kejelian
> Presiden didalam menilai sosok seseorang, karena
> taruhannya ekonomi bangsa.
.."

Waktu kampanye pilpres katanya CaPres (harus) bisa diterima pasar..
Pasar mana? Pasar Induk? :-p
Selain itu pasar sendiri bersikap loyal dengan yang sudah didukungnya 
atau tidak?  Atau sebenarnya oportunis?

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

Pada tanggal 9/7/05, Sandy Dwiyono <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> 07.09.2005
> 
> Rupiah Anjlok
> 
> Nilai tukar rupiah melemah drastis beberapa minggu
> yang lalu sempat menuju angka 12.000 per satu dolar AS.
> 
> Awal pekan-pekan lalu keadaannya cukup mencemaskan.
> Rupiah dibuka melemah, semakin parah, menembus level
> 10.800 per dolar AS dalam kurun waktu kurang dari tiga
> minggu. Para pedagang valuta asing percaya, depresiasi
> rupiah masih akan terus berlanjut, seiring melangitnya
> harga minyak dunia. Anjloknya rupiah membuat kondisi
> makro ekonomi terus tertekan. Pemerintah nombok karena
> Anggaran Negara-APBN membengkak, sementara industri
> terkapar karena harga bahan ikut naik.
> 
> Menteri Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan
> pemerintah masih mengkaji dua hal utama sebagai dasar
> kenaikan harga BBM. Salah satunya adalah dikarenakan
> harga minyak mentah dunia yang terus naik. Jadi
> besaran kenaikan belum bisa dipastikan. Namun yang
> pasti persentase kenaikannya akan berjenjang.
> 
> Aburizal Bakrie: "Yang berikutnya, kita bicarakan
> mengenai kenaikan BBM. Presiden mengatakan kenaikan
> BBM itu tidak dilaksanakan pertama, bahwa kompensasi
> kenaikan BBm telah dilaksanakan sesuai dengan jadwal."
> 
> Untuk meredam lonjakan rupiah, Presiden Yudhoyono juga
> mengajak masyarakat untuk tidak ikut-ikutan memborong
> dolar AS.
> 
> Yudhoyono: "Sejak minggu yang lalu yang diborong
> adalah dolar. Kalau memborong dolar Amerika untuk
> tujuan yang benar, saya bisa mengerti. Tapi kalau
> memborong dolar Amerika untuk ikut-ikutan, apalagi ada
> satu rencana yang tidak sedap, mestinya tidak boleh
> terjadi. Pertamina membeli dolar banyak karena memang
> untuk membeli bahan bakar minyak dari luar. Besarnya
> pengeluaran Pertamina, otomatis dolar menjadi mahal,
> rupiah menjadi lebih rendah."
> 
> Bank sentral sebetulnya tidak kalah taktis. Gubernur
> Bank Indonesia, Burhanudin Abdullah berjanji akan
> terus memonitor nilai tukar dan bersiap mengintervensi
> pasar.
> 
> Burhanudin: "Tabiat dari harga adalah naik dan turun.
> Kitalah yang harus menyesuaikan, bersiap-siap menjaga
> volatilitas itu jangan sampai karena naik dan turun
> itu membuat kita tak bisa berbuat apa-apa. Saya kira
> itu yang penting bagi pembuat kebijakan."
> 
> Ada kalangan pengamat, ekonom dan anggota parlemen
> yang berpendapat, pemerintah gagal menanggulangi
> depresiasi rupiah. Kuatir terulangnya kolaps seperti
> terjadi pada tahun 1997, mereka mendesak pemerintah
> melakukan serangkaian kebijakan sebelum dampak rupiah
> terlanjur menancap di masyarakat. Usulannya
> macam-macam, mulai dari mengubah kebijakan repatriasi
> dolar, memperketat pengawasan transakasi valas, hingga
> yang belakangan wacananya semakin menguat: reshuffle
> kabinet.
> 
> Sebagian kalangan menilai, melemahnya nilai tukar
> rupiah terhadap dolar Amerika lantaran masih bebasnya
> orang membeli dolar tanpa adanya batasan. Sistem
> devisa bebas yang diterapkan pemerintah-lah yang
> memicu keruntuhan rupiah. Pengamat pasar uang Farial
> Anwar mengatakan, pemerintah sebaiknya merevisi lagi
> undang-undang tentang devisa bebas.
> 
> Farial Anwar: "Kalau Anda ingin membeli dolar, ingin
> menjual dolar di pasar Jakarta, Anda boleh beli
> berapapun untuk kepentingan apa saja. Tanpa perlu
> menjelaskan underline transaction-nya. Misalnya, kalau
> Anda bilang untuk pembelian import, tak perlu Anda
> menunjukkan L/C-nya. Kalau Anda ingin membeli untuk
> kepentingan membayar utang valuta asing, tak perlu
> menunjukkan loan agreement-nya. Jadi, ini yang tidak
> terkendali, tidak terkontrol."
> 
> Di Senayan, Komisi XI DPR mendesak Bank Indonesia
> untuk memperketat pengawasan transaksi dolar Amerika
> di pasar valuta asing. Menurut Ketua Komisi XI DPR
> Paskah Suzetta, Bank Indonesia selama ini baru
> melakukan pembatasan, belum mempraktikkan pengawasan
> ketat. Padahal sebagai pemegang otoritas moneter,
> seharusnya BI mengendalikan semua transaksi valas di
> perbankan. Menurut Paskah, rencana BI menaikkan suku
> bunga bank tidak akan efektif untuk mengatasi situasi
> ini. Tingkat suku bunga yang tinggi, justru
> dikhawatirkan akan membuat dunia usaha makin terpuruk.
> 
> Aviliani, Direktur Institut Pengembangan Ekonomi dan
> Keuangan (INDEF), menuturkan setidaknya tiga posisi
> menteri harus dialihkan. Yakni, Menteri Koordinator
> bidang Perekonomian Aburizal Bakrie, Menteri Keuangan
> Jusuf Anwar dan Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan
> Menengah Suryadharma Ali. Menurut Aviliani, ketiga
> menteri tersebut dinilai tidak bisa menterjemahkan
> visi dan misi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
> 
> Aviliani: "Terlalu banyak kepentingan yang masuk dalam
> menentukan menteri di kabinet. Sehingga sulit untuk
> menyatukan, karena dalam partai pun visinya beda-beda.
> Jadi sebaiknya tim ekonomi ini harus melihat apakah
> mampu atau tidak. Kalau tidak, yah sebaiknya diganti.
> Kasih kesempatan tiga bulan untuk melakukan program
> kerja yang konkrit."
> 
> Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Persatuan
> Pembangunan, Sofyan Usman dengan tegas menyatakan
> sepakat dilakukannya perombakan menteri-menteri
> ekonomi jika memang dianggap sudah tidak mampu lagi.
> 
> Sofyan Usman: "Ada yang mengatakan, apakah dengan
> pergantian tim ekonomi ini akan menyelesaikan masalah?
> Ini kan baru satu tahun, karena masalah ekonomi tidak
> bisa diselesaikan dengan waktu singkat. Tapi perbaikan
> itu kan perlu."
> 
> Apa reaksi pemerintah? Wakil presiden Jusuf Kalla yang
> ditanya soal ini mengatakan pemerintah belum berencana
> melakukan evaluasi kinerja kabinet dalam waktu dekat.
> Anggota Tim Asistensi Menko Perekonomian, Chatib Basri
> menilai reshuffle merupakan hal yang sah-sah saja
> dilakukan presiden. Menurutnya, setiap saat posisi
> menteri bisa saja diganti sesuai kebutuhan.
> 
> Chatib Basri: "Sah-sah saja kalau orang meributkan
> atau mengusulkan reshuffle. Tapi itu hak prerogatif
> Presiden."
> 
> Meski demikian Chatib menilai, persoalan ekonomi tidak
> bisa sekedar diselesaikan dengan mengganti menteri di
> bidang ekonomi. Sebagai seorang ekonom, Chatib Basri
> berpendapat, masih ada sejumlah langkah yang bisa
> ditempuh untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.
> Pertama membuat kebijakan moneter yang lebih ketat dan
> kedua menaikkan harga BBM untuk menurunkan subsidi.
> Sebab sebagian besar BBM yang dipasok Pertamina
> berasal dari luar negeri dan dibeli dengan mata uang
> dolar Amerika. Walaupun demikian sudah ada jangkar
> yang cukup kuat dari adanya swap dengan Jepang dan
> China senilai US $ 7 Milyar, meskipun pemerintah
> diharapkan lebih serius menjaga rupiah dan kian
> nyaringnya suara pasar yang menghendaki penyegaran
> kabinet. Seandainya terjadi perombakan kabinet
> diharapkan tim tsb jauh lebih tangguh dari sebelumnya.
> Sebab untuk apa mengganti kabinet jika hasilnya sama
> saja atau lebih buruk. Disinilah letak kejelian
> Presiden didalam menilai sosok seseorang, karena
> taruhannya ekonomi bangsa.


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke