Betul! Jual beli saham salah salah bisa tinggal celana dalam, semua ludes. Ini di-mana mana, terutama di USA, dimana jual beli saham sangat populer, juga dikalangan warga yang tak kaya.
Lebih rawan lagi jual beli options (future trading). Di Austria, negara yang termasuk termakmur didunia (diatas USA dan Jerman), persentasi warga yang jual beli saham sangat amat kecil. kebanyakan mereka menginvest harta (biasanya warisan, atau hasil jual tanah) didalam obligasi (surat hutang negara atau perusahaan yang bonafide). Saya yang berpuluhan tahun bergumul dibidang banking, tak pernah memiliki saham satu menitpun. Karena saya merasa tak mampu dan tak ada waktu untuk memonitor seksama perusahaan yang saya beli sahamnya. Andaipun saya mungkin memonitor, tak ada jaminan saya akan berhasil evaluasi share price secara tepat dan tepat waktu. Mereka yang tak memiliki akses kedalam data perusahaan yang sahamnya dibeli, tapi tetap membeli saham perusahaan itu, ya menanggung risiko sendiri. Salam danardono --- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ketika saya bekerja di Sekuritas (pialang saham/stock > broker) saya banyak melihat pembeli saham yang merugi. > Teman saya rugi Rp 20 juta (padahal dia uang dia untuk > transaksi tidak sampai Rp 50 juta). Saya sendiri meski > kelas teri, cuma rugi beberapa ratus ribu rupiah. > > Yang lebih parah adalah para nasabah. Ada yang kalah > sampai tidak punya apa-apa lagi kecuali rumah. Ada > yang sampai rugi Rp 4 milyar, dsb. Padahal untuk > nasabah kelas kakap disediakan komputer untuk > memonitor harga saham seperti RTI/IMQ. > > Saya juga mendengar ada oknum tertentu yang sengaja > membuat perusahaan yang listing di BEJ hanya untuk > mengeruk dana masyarakat. Setelah itu, perusahaan yang > sudah go-publik dibiarkan berjalan apa adanya hingga > nilainya turun terus. > > Jika nilai saham jatuh hingga di bawah nominal atau > sampai 0 rupiah hingga didelisting, anda tidak akan > dapat ganti rugi. > > Itulah resiko jual-beli saham. > > > Kisah Pilu Nasabah Reksa Dana > Duit Hilang dan Terancam Dicerai > Ardian Wibisono - detikcom > Jakarta - Hancurnya reksa dana menyisakan kisah > memilukan. Seorang wanita yang diam-diam > menginvestasikan dana pendidikan anaknya ke reksa dana > harus gigit jari. Duit hilang, dan terancam dicerai. > > Sebut saja dia Santi, wanita cantik nasabah reksa dana > BNI Securities, yang ditemui di kantor BNI Securities, > Wisma BNI, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (7/9/2005). > Santi bersama puluhan nasabah lainnya hari ini kembali > menyerbu kantor BNI Securities untuk meminta kejelasan > nasib investasinya. > > Santi yang bergaya bicara blak-blakan ini menceritakan > kisah pilunya terkait investasi reksa dana sebesar Rp > 100 juta. Dana itu diberikan oleh suaminya yang > bekerja sebagai salesman untuk dana pendidikan anaknya > yang berumur 2 dan 6 tahun. > > "Saya bingung. Suami saya tahunya uangnya ditaruh di > deposito. Sekarang sudah hilang 20 juta. Saya tidak > tahu bagaimana harus menutup kekurangannya," ujar > Santi yang mengaku tidak tahu soal seluk beluk reksa > dana ini. > > Ia juga mengaku tidak tahu bahwa dana yang akan > diinvestasikan itu bisa berkurang. Santi mencatat, > pada bulan lalu saldo reksa dananya masih sebesar Rp > 104 juta, namun kemarin dana itu tinggal Rp 82 juta. > > Wanita yang menjadi nasabah BNI cabang Kota ini > mengaku dijanjikan oleh marketing uangnya tidak akan > berkurang. "Saya tertarik karena orang marketing-nya > bilang pasti untung. Saya ditunjukkan nilai bunganya > yang selalu naik. Tidak dibilangin kalau modalnya bisa > berkurang," ujarnya. > > Untuk menutup dananya yang hilang, Santi mengaku > tengah mencari pinjaman ke sanak saudaranya. "Saya > sampai cari pinjaman ke saudara untuk menutup Rp 20 > juta ini," katanya sambil menunjukkan SMS dari kakak > iparnya yang akan memberi talangan Rp 20 juta. > > "Untung kakak ipar saya baik. Kalau adiknya tahu pasti > stres. Saya juga takut kalau suami saya tahu bisa > diceraikan," ujarnya memelas. > > Seorang nasabah wanita lainnya juga mengaku > menginvestasikan dananya tanpa sepengatahuan suaminya. > Wanita paruh baya ini mengaku menginvestasikan dana > sekitar Rp 200 juta yang merupakan dana pensiun > suaminya. > > "Tapi sekarang sudah hilang sekitar Rp 40 juta. Saya > hanya ikut-ikutan. Sebenarnya saya nggak ngerti soal > NAB, saya cuma pantau perkembangan uang saya lewat > SMS," ujar wanita tersebut dengan sedih. > > Sementara Thomas mengaku merasa tertipu dengan > orang-orang marketing BNI Securities. Pihak marketing, > menurut Thomas, sempat menjelaskan kenapa NAB-nya bisa > turun drastis. Namun ia mengaku tidak mengerti > penjelasan petugas marketing itu. > > Ketiga nasabah itu mengaku kapok berinvestasi di reksa > dana dan akan menempatkan dananya dalam investasi yang > lebih aman di bank lain. (qom) > > http://jkt.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/09/t gl/07/time/16204/idnews/437005/idkanal/5 > > Tips 5: Meskipun murah, sekali sampah tetap sampah. > Banyak investor awam membeli saham karena harga-nya > turun tajam, atau harga-nya sudah sangat murah. > Pendekatan ini sangat berbahaya, sebab saham yang > turun tajam atau saham yang harganya demikian murah > mengindikasikan masalah pada perusahaan tersebut. > Seringkali terjadi saham yang turun tajam dan menjadi > sangat murah kemudian di bangkrut-kan atau di > delisting. Contoh terbaru yaitu saham Daya Guna > Samudera (DGSA), Bintuni Minaraya (BMRA), Super Mitory > (SUMI). > http://www.e-samuel.com/knowledge/investment/index.asp? parent=218&gf=185 > > Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah > Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

