Syusah kalau main-main kata-kata.......harusnya kita punya kamus 
kata-kata mainan:

warning = ngancem

kalau gak diterima maka :

bertindak = anarkis

--- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0905/09/0106.htm
> 
> 
> Gubernur Minta Warga Berkoordinasi
> Tidak Ada Kekerasan Tutup Rumah Ibadah 
> BANDUNG, (PR).-
> Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan membantah adanya tindakan 
penutupan gereja dengan aksi kekerasan oleh kalangan tertentu. Ia 
mengakui yang dilakukan ormas-ormas tertentu adalah memberikan 
peringatan (warning), agar tidak ada pemanfaatan rumah-rumah pribadi 
atau tempat tertentu yang bukan tempat ibadat menjadi sarana 
peribadatan, sehingga mengganggu masyarakat sekitar.
> 
> "Namun, kami harapkan agar upaya penertiban itu tidak lagi 
dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak-pihak terkait, untuk 
mencegah terjadinya ketegangan lebih jauh. Kalau masih ada yang 
melakukannya, saya meminta pimpinan ormas-ormas itu untuk 
mengendalikan dan memperingatkan anggotanya."
> 
> Demikian disampaikan Danny Setiawan kepada wartawan, Kamis (8/9), 
usai pertemuan dengan unsur Muspida Jabar dan perwakilan ormas Islam 
di Jabar. Hadir pada pertemuan itu Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan, 
Kapolda Jabar Irjen Pol. Edi Darnadi, Pangdam III/Siliwangi Mayjen 
TNI Sriyanto, Kajati Jabar Halius Hosen, Ketua MUI Jabar K.H Hafidz 
Utsman, Ketua PW Nahdlatul Ulama Jabar K.H. Sofyan Yahya, Ketua PW 
Muhammadiyah Jabar K.H. Dadang Kahmad, Ketua FUUI K.H. Athian Ali 
Da'i, dll.
> 
> Danny mengatakan pada pertemuan tersebut, pihaknya meminta 
penjelasan tentang situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan. "Ini 
pertemuan awal dengan mengundang rekan-rekan dari ormas-ormas Islam 
untuk memaparkan kondisi sebenarnya. Mungkin, kita juga akan 
mengundang para pemuka agama Nasrani untuk juga memberikan 
informasi. Dengan demikian, kita bisa mencermati akar persoalan 
sebenarnya," paparnya.
> 
> Ditegaskan, isu yang berembus tentang adanya penutupan gereja di 
beberapa tempat di Jabar tidak benar. "Yang terjadi adalah ada ormas 
yang menyampaikan warning agar SKB Dua Menteri dilaksanakan dan 
tidak menjadikan rumah biasa sebagai tempat beribadat, yang 
merupakan pelanggaran aturan," katanya.
> 
> Dari hasil pertemuan itu, saya meminta kepada jajaran kepolisian 
dan pejabat berwenang di kota/ kabupaten memfasilitasi kedua belah 
pihak. "Semua harus sepakat pemberian warning itu tidak lagi 
dilakukan tanpa koordinasi dengan aparat dan pejabat pemerintahan 
terkait. Kalau masih ada, saya meminta pimpinan ormas untuk 
memberikan tindakan," tegas Danny Setiawan.
> 
> Ia juga meminta bupati/wali kota untuk memfasilitasi penyediaan 
sarana ibadat bagi penganut agama tertentu yang ingin melaksanakan 
ibadatnya. "Meskipun, sebetulnya izin pendirian sebuah tempat ibadat 
sering bermasalah karena pertentangan antarfaksi di kalangan 
penganutnya sendiri," katanya.
> 
> SKB
> 
> Sementara itu, K.H. Athian Ali yang keluar dari pertemuan lebih 
awal sempat ditanya wartawan. Ia menegaskan sikap FUUI yang 
menentang pencabutan SKB Dua Menteri tahun 1969 tentang pendirian 
rumah ibadat.
> 
> "Pencabutan SKB dua menteri itu justru akan menimbulkan dampak 
negatif. Akan berbahaya bagi kehidupan umat beragama jika SKB Dua 
Menteri itu dicabut. Bisa terjadi chaos," ungkap Athian Ali.
> 
> Sebagaimana diketahui SKB Dua Menteri 1969 ditandatangani Menteri 
Agama Mochamad Dahlan dan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud saat 
itu. Tujuannya untuk menertibkan pendirian tempat ibadat agar tidak 
terjadi gesekan di masyarakat.
> 
> Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Jabar Iik Makib mengatakan 
rumah tinggal yang dijadikan tempat ibadat, sebetulnya juga 
melanggar Instruksi Gubernur Nomor 20/1990. "Pada ingub itu ada 
salah satu persyaratan untuk mendapatkan izin pendirian rumah 
ibadat, minimal harus ada 40 kepala keluarga (KK) di lingkungan 
setempat yang beragama serupa dan mengajukan izin tersebut," ujarnya.
> 
> Agama sebagai rahmat
> 
> Sementara itu, cendekiawan Muslim Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat, 
M.Sc. yang juga dikenal sebagai pakar komunikasi, menyatakan 
paradigma beragama semestinya tidak lagi mengedepankan aspek akidah 
melainkan akhlak. Ia menyampaikan hal itu pada Diskusi "Menyudahi 
Kekerasan Atas Nama Agama" yang dihadiri pemuka berbagai agama di 
Bandung, beberapa waktu lalu.
> 
> "Agama adalah rahmat bagi semesta alam. Agama seharusnya menjadi 
sarana atau alat untuk membahagiakan, menolong, dan memuliakan 
manusia, tanpa mengenal perbedaan apa pun. Agama jangan malah 
menjadi sumber penderitaan dan penistaan bagi manusia," tegas 
Jalaluddin yang juga anggota Perhimpunan Kelompok Agama Dunia.
> 
> Kang Jalal mempertanyakan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang 
tidak diarahkan untuk mengangkat rakyat Indonesia dari penderitaan 
dan kenistaan. "Kenapa MUI tidak mengeluarkan fatwa yang mendesak 
pemerintah juga kalangan umat beragama, melakukan kebijakan dan 
program nyata menyelesaikan kasus busung lapar atau bagaimana 
mengangkat nasib 12 juta anak Indonesia yang putus sekolah?" 
tuturnya.
> 
> Saat ini, paradigma keberagamaan harus bergeser ke aspek 
akhlak. "Sebab, paradigma akidah sangat rentan untuk menyatakan 
sesat kepada kalangan lainnya. Tidak hanya antarumat beragama tapi 
juga intraagama. Perubahan persepsi keberagamaan saya secara pribadi 
juga bergeser dari paradigma akidah menjadi akhlak," tegasnya.
> 
> Ukuran kesalehan seseorang, tegasnya, tidak lagi diukur sekadar 
ibadah ritual atau hal-hal menyangkut akidah. "Tapi, bagaimana 
kesalehan akhlaknya untuk memuliakan sesama manusia. 
> 
> Lebih jauh dikatakan, kalau ditelusuri sejumlah kasus penyesatan 
kalangan agama tertentu dan kekerasan yang mengatasnamakan agama 
tidak terjadi secara alamiah. "Karena itu, kasus penyesatan akan 
terus terjadi dengan grand design yang sudah dipersiapkan kelompok 
tertentu. Dalam sejarah politik negeri ini, aksi kekerasan atas nama 
agama selalu terjadi berkaitan dengan dinamika politik yang 
terjadi," kata Jalaluddin Rakhmat. (A-64)***
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke