CAP Adian Husaini-"Peringatan Imam al-Ghazali"

"Peringatan Imam al-Ghazali"

Kita sering jumpa masyarakat yang bangga "awam" dalam
ilmu agama. Mereka bukan bodoh, tapi tak paham ilmu
fardhu 'ain, dan ilmu yang fardhu kifayah. Baca
Catatan Akhir Pekan ke-103 Adian Husaini, MA

Tanggal 4 Juni 2005, saya datang ke IAIN Bandung, 
memenuhi undangan seminar tentang sekularisme,
liberalisme, dan pluralisme agama. Kampus IAIN Bandung
sedang direncanakan untuk menjadi Universitas Islam
Negeri (UIN), seperti halnya UIN Jakarta dan UIN
Yogyakarta. Dalam berbagai diskusi saya dengan
mahasiswa dan dosen di berbagai UIN dan IAIN, saya
mempunyai kesimpulan, bahwa salah satu masalah
mendasar yang dialami oleh kalangan akademisi dan
perguruan tinggi Islam saat ini adalah masalah visi,
misi, dan niat. Masalah visi dan misi terkait dengan
pemahaman tentang konsep ilmu. 


Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ilmu? Ilmu-ilmu
apakah yang harus dipelajari, dan untuk apa
mempelajari ilmu-ilmu tersebut. 

Pendidikan, pada dasarnya berkaitan dengan masalah
ilmu. Apalagi masalah pendidikan agama, yang berkaitan
dengan ilmu-ilmu agama (ulumuddin). Sudah bukan
rahasia lagi, kekacauan konsep ilmu telah menyebabkan
munculnya dampak yang sangat serius di kalangan kaum
Muslim saat ini.

Pada level perguruan tinggi, konsep keilmuan terpecah
secara mendasar;  ilmu agama dan ilmu umum. Perguruan
Tinggi dibentuk berdasarkan konsep yang sekular itu,
sehingga lahirlah universitas/Institut Umum dan
Universitas/Insititut Islam. Konsep dasar ini jelas
sangat keliru, karena tidak berdasarkan pada konsep
keilmuan Islam. Dari konsep yang salah ini, lahirlah
para cendekiawan yang terbelah, baik dalam cara
berpikir, maupun dalam penguasaan keilmuan. 


Mahasiswa yang belajar teknik, kedokteran, ekonomi,
komputer, geologi, dan sebagainya, tidak merasa wajib
untuk mempelajari ilmu-ilmu agama.  Ia hanya merasa
cukup sudah "beramal" dan "bersemangat" memperjuangkan
Islam melalui aktivitas politik, sosial, ekonomi, dan
sebagainya. Ia tidak merasa wajib untuk mempalajari
ilmu-ilmu Islam, seperti Ushuluddin, bahasa Arab,
Ulumul Qur'an, Ulumul hadits, ilmu fiqih, dan
sebagainya. 

Menurut perasaan mereka, mempelajari ilmu-ilmu agama
seperti itu adalah tanggung jawab orang-orang
pesantren, IAIN, dan semacamnya. Meskipun secara umum
bisa dikatakan, rata-rata mahasiswa kedokteran,
teknik, komputer, dan sebagainya, adalah manusia
berotak cerdas, mereka tidak merasa wajib menggunakan
akalnya untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh
bahasa Arab atau ulumuddin lainnya.   

Mereka biasanya hanya suka mendengar ustad ceramah,
seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau melalui
media radio/telivisi,  dengan tradisi "jiping" (ngaji
kuping). 

Belajar agama dianggap sambilan, atau hanya sekedar
mengisi waktu, dengan tenaga dan pikiran sisa. Mereka
sanggup belajar bahasa Inggris, membayar mahal, dan
bersungguh-sungguh mencurahkan pikirannya, untuk
menguasai bahasa itu. Tetapi, ketika berhadapan dengan
bahasa Arab, mereka merasa tidak berkepentingan sama
sekali. 

Padahal, Imam Syafii  menjelaskan dalam Kitab Risalah,
bahwa mempalajari bahasa Arab adalah fardhu 'ain, dan
setiap orang Muslim wajib menguasai bahasa Arab,
semaksimal mungkin, sesuai dengan kemampuannya.
Artinya, adalah berdosa, jika seseorang tidak
bersungguh-sungguh belajar bahasa Arab. Padahal, jika
orang-orang cerdas mau bersungguh-sungguh menggunakan
akalnya untuk menguasai bahasa Arab, mereka insyaallah
bisa menguasainya, sebagaimana mereka mampu memguasai
bahasa-bahasa asing lainnya. 


Biasanya, para profesional atau kaum cendekiawan
berlatarbelakang "ilmu-ilmu umum", senang dan bangga
memelihara statusnya sebagai "orang awam" dalam agama.
Meskipun sudah lulus kuliah berpuluh-puluh tahun, dan
menjadi orang muslim sejak lahir, mereka senang
mengucapkan, "saya ini awam dalam agama." Jadilah ia
awam seumur hidupnya dalam bidang-bidang ilmu agama,
tetapi sangat pakar dalam ilmu-ilmu tertentu di bidang
profesinya.  


Fenomena semacam ini sangat lazim kita jumpai. Mereka
menjadi awam dalam ilmu-ilmu agama bukan karena
otaknya bodoh, atau tidak punya waktu untuk belajar,
tetapi lebih karena mereka tidak memahami konsepsi
ilmu dalam Islam. Mereka tidak paham, mana ilmu yang
fardhu 'ain, dan mana ilmu yang fardhu kifayah.


Padahal, konsep ini telah dijelaskan dengan gamblang
oleh Imam al-Ghazali melalui kitabnya yang terkenal
"Ihya' Ulumuddin". 


Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah aqidah dan
ibadah wajib, misalnya, termasuk ilmu yang fardhu
'ain. Secara ringkas, ilmu yang fardhu 'ain adalah
ilmu yang diperlukan untuk mengamalkan kewajiban.
Untuk orang-orang yang dikarunai akal yang cerdas,
maka beban dan kewajiban untuk mengkaji keilmuan itu
tentu lebih berat. Mereka seharusnya lebih mendalami
ilmu-ilmu yang fardhu 'ain, lebih daripada orang lain
yang kurang kadar kecerdasan akalnya. 

Bagi kaum cendekiawan atau ulama, maka tanggung jawab
mereka juga lebih berat. Disamping wajib mengetahui
yang benar, mereka juga harus mengetahui ilmu tentang
hal-hal yang bathil yang tersebar di tengah
masyarakat. Sebab, kata al-Ghazali, orang yang tidak
mengetahui kebathilan, ia akan terperosok di dalamnya.


Ibarat seorang dokter, maka ulama wajib mengetahui
ilmu tentang pengobatan dan sekaligus ilmu tentang
penyakitnya. 


Maka, di masa lalu, para ulama Islam, disamping
menguasai ilmu-ilmu keislaman dengan mendalam, mereka
juga menguasai ilmu-ilmu tentang pemikiran kontemporer
ketika itu. Dengan itulah para ulama bisa menjalankan
fungsinya sebagai pewaris para nabi, dengan menjaga
aqidah umat. 

Para ulama saat ini, misalnya, wajib memahami dengan
mendalam masalah sekularisme, liberalisme, pluralisme,
marxisme, dan sebagainya. Paham-paham inilah yang
sekarang menguasai dunia dan mencengkeram benak kaum
muslimin. 

Jika para ulama tidak menguasai masalah-masalah
pemikiran kontemporer, maka mereka akan menjadi
"penonton yang baik" di satu arena "pertarungan
pemikiran" yang dahsyat.  

Mencari ilmu, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah
saw, adalah wajib bagi setiap Muslim. Artinya, setiap
hari, kaum Muslim seharusnya sibuk dalam aktivitas
keilmuan. Tidak ada hari tanpa mengaji dan menambah
ilmu, terutama ilmu-ilmu yang fardhu 'ain, maupun ilmu
yang fardhu kifayah. 

Imam al-Ghazali mencontohkan, ilmu fardhu kifayah
seperti ilmu kedokteran dan ilmu berhitung. Ilmu jenis
ini diperkukan untuk tegaknya sistem masyarakat.
Fardhu kifayah artinya, jika sebagian kaum Muslimin
sudah menguasai ilmu itu, dalam jumlah yang mencukupi
kebutuhan masyarakat (kifayah), maka gugurlah
kewajiban itu dari sebagian kaum muslimin lainnya. 

Tidak perlu semua anggota masyarakat menjadi dokter,
dan tidak perlu semuanya pakar dalam
matematika, teknik elektro, teknik komputer, teknik
pesawat, dan sebagainya. Cukup sebagian kaum Muslimin
yang menguasai bidang ilmu fardhu kifayah. 

Selain kesalahan dalam memahami konsepsi ilmu, masalah
mendasar lainnya dalam masalah ilmu dan pendidikan
adalah soal niat mencari ilmu. Imam al-Ghazali sudah
mengingatkan dengan bahasa yang lugas dalam mukaddimah
kitab "Bidayatul Hidayah". 

Kata beliau,  jika seseorang mencari ilmu dengan
maksud untuk sekedar hebat-hebatan, mencari pujian,
atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah
berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya
sendiri, dan telah menjual akhirat dengan dunia.
(Fa-anta saa'in ilaa hadmi diinika wa ihlaaki nafsika,
wa bay'i aakhiratika bi dunyaaka).


Bagi Imam al-Ghazali, ilmu adalah sesuatu yang sangat
mulia, dan sebab itu terlalu murah  jika ilmu
ditujukan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi. Ilmu
haruslah ditujukan untuk ibadah dan mencari hidayah
Allah. 

Siapapun yang mencari ilmu dengan niat yang mulia
seperti itu, kata beliau, maka para Malaikat akan
melindungi pencari ilmu itu dengan membentangkan
sayapnya; dan ikan-ikan di laut mendoakan si pencari
ilmu yang ikhlas dalam langkahnya. 


Jika saat ini kita mengalami krisis ulama, dan
pesantren serta kampus-kampus Islam tidak melahirkan
ulama-ulama yang tangguh, maka kita perlu melakukan
introspeksi ke dalam, apakah konsepsi ilmu dan niat
dalam mencari ilmu sudah benar? 

Banyak jurusan dalam ilmu-ilmu agama dibentuk, dengan
tujuan untuk mencari lapangan kerja. Mereka yang
lulus, banyak yang  kemudian tidak tertarik untuk
mengembangkan ilmunya lebih jauh, atau mengamalkan
ilmunya untuk berdakwah, tetapi justru meniatkan
ilmunya untuk mencari harta benda dunia, sebagaimana
sudah diperingatkan oleh al-Ghazali. 

Yang lebih memprihatinkan, ada kampus-kampus yang sama
sekali mengabaikan masalah
ilmu, dan mendirikan lembaga pendidikan sekedar jual
beli gelar. Dari kampus-kampus semacam ini akan lahir
orang-orang yang menyandang gelar tertentu tanpa
keilmuan yang memadai. 

Peringatan Imam al-Ghazali ini sangat penting kita
renungkan. Beliau menulis Kitab Ihya' Ulumuddin dan
Bidayatul Hidayah antara tahun 1096-1097, di saat
awal-awal periode Perang Salib. 

Saat itulah kaum Muslimin mengalami krisis politik dan
militer yang sangat serius, sehingga pasukan Salib
(Crusaders) yang lebih rendah tingkat peradabannya
mampu mengalahkan kaum Muslimin. 

Dengan penguasaan ilmu yang tinggi dan pencermatannya
langsung ke beberapa wilayah kaum Muslimin, Al-Ghazali
melihat pada problema yang paling mendasar yang harus
dipecahkan umat Islam saat itu, yaitu masalah keilmuan
dan keulamaan.


Seperti kita bahas pada Catatan Akhir Pekan (CAP) yang
lalu, tugas ulama adalah sebagai pewaris para Nabi.
Mereka yang harus menjaga ilmu-ilmu agama agar tetap
hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
Islam. 

Jika konsepsi Islam tentang ilmu dipahami dan dihayati
oleh kaum Muslimin, terutama para tokoh-tokohnya, maka
tidak mungkin kita mengalami krisis seperti sekarang
ini.


Umat akan paham, mana yang wajib dilakukan terlebih
dahulu dan mana yang menjadi prioritas kemudian. Tidak
mungkin kita mengalami krisis pembelajaran dirosah
islamiyah, dimana jurusan-jurusan agama (Fakultas
Agama Islam) adalah jurusan terakhir yang dipilih
mahasiswa muslim. 

Kemarin, saya berkunjung ke satu kampus di Jakarta.
Ada data yang dianggap biasa: di kampus ini, jumlah
mahasiswa jurusan komunikasi mencapai 400 orang,
sementara mahasiswa jurusan agama hanya 15 orang. Itu
pun adalah mereka-mereka yang diberi insentif untuk
kuliah di situ.  


Biasanya, karena merupakan pilihan terakhir, maka yang
masuk ke studi agama pun, kualitas mahasiswa yang
kemampuan akalnya "pas-pasan". Masalahnya lebih rumit
lagi, setelah masuknya virus liberalisme-sekularisme
ke dalam sistem pendidikan Islam. 

Virus ini otomatis melemahkan sendi-sendi pertahanan
kaum Muslim, dan memunculkan masalah yang sangat
pelik. Dari konsepsi yang keliru lahirlah sarjana yang
keliru cara berpikirnya. Jika dulu paham ateisme
disebarkan oleh kalangan Marxis-komunis, maka kini
tidak sedikit sarjana dari kalangan studi Islam yang
dengan bangga menyebarkan ateisme atau Marxisme, baik
dalam bentuknya yang asli atau metamorfosisnya,
seperti paham pluralisme agama atau "gender equality".

Mudah-mudahan peringatan Imam al-Ghazali dapat menjadi
bahan renungan kita bersama, dalam upaya membangun
peradaban Islam yang gemilang di masa mendatang. Amin.
(Jakarta, 10 Juni 2005/hidayatullah.com).

Leo Imanov
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
http://www.imanov.jeeran.com



Leo Imanov 

Abdu-lLah
AllahsSlave






                
___________________________________________________________ 
Does your mail provider give you FREE antivirus protection? 
Get Yahoo! Mail http://uk.mail.yahoo.com




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke