http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-43%7CX
Kamis, 08 September 2005
Ketika Menunda Kehamilan Menjadi Pilihan 


Oleh Ratna Hidayati


Tiba-tiba saya teringat percakapan dengan almarhumah mbah uti ketika masih 
duduk di bangku SD. “Kamu itu anak perempuan, kalau bangun tidur segera beresin 
tempat tidur. Jangan lupa rambut disisir yang rapi, jangan diurai kayak gitu. 
Gimana nanti kalau kamu sudah kawin?” nasihatnya. Ia tak senang melihat saya 
bangun siang, keluar kamar dengan rambut acak-acakan dan kamar tak dibereskan. 
Sebagai cucu yang bandel, saya selalu asal menjawab, “Tenang aja mbah. Nanti 
kalau sudah kawin, saya punya pembantu buat ngeberesin rumah.” Tentu saja, 
sambil berbicara begitu saya harus segera kabur dari kamar. Saya harus 
melakukan nasihatnya karena saya perempuan. 

Beberapa tahun kemudian, target menikah pada usia 25 tahun dipatahkan keluarga. 
“Apa bedanya menikah sekarang dan lima tahun lagi? Toh kamu menikah dengan 
orang yang sama?” begitu kata mereka. Ketika saya putuskan untuk menikah, 
teman-teman menganggap aneh. “Kamu MBA (married by accident) Rat? Nggak 
mungkinlah kamu bisa kawin muda begini,” begitu kalimat yang selalu 
dilontarkan. 

Beberapa bulan kemudian, pertanyaan baru muncul. “Kok kamu belum hamil?” begitu 
kata orang-orang. Saya berharap dapat menunda kehamilan pertama. Saya masih 
punya target yang lain dan bukan harus hamil. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, 
pertanyaan mereka selalu sama, “Kamu mandul Rat? Kok nggak hamil-hamil?” Saya 
berharap tidak melakukan kunjungan ke rumah keluarga karenanya. Tiap kali 
berkunjung, tiap kali itu pula saya harus mendengarkan pertanyaan, nasihat dan 
keluhan yang sama. Ketidakhamilan itu karena kemandulan saya, ketidakmampuan 
saya bereproduksi. Padahal, saya sehat-sehat saja. Entahlah, bagaimana mereka 
bisa men-judge saya seperti itu. Akhirnya, hampir setahun berikutnya saya pun 
hamil. 

Ketika anak saya berumur tiga tahun, pertanyaan serupa muncul lagi. “Anakmu 
sudah mulai besar lho. Nggak buat lagi?” Sabar. Empat tahun, sabar juga. Saat 
anak saya berumur tujuh tahun, tuntutan mulai meningkat. “Kamu gimana sih? 
Nggak mikirin suami namanya. Ntar suamimu keburu tua. Keburu pensiun. Masa’ 
anak masih sekolah, bapak udah pensiun?” begitu kata tetangga. Eh, ternyata 
keluarga sama saja. Sebagai anak tertua di keluarga suami, saudara saya selalu 
mempertanyakan “keputusan” beranak satu. Keempat adik ipar saya, masing-masing 
sudah beranak dua. Kenapa kakaknya cuma satu? Padahal, saya tak memutuskan 
beranak satu. Saya hanya menunda kehamilan berikutnya. 

Datanglah saya ke psikolog. “Semua meminta saya hamil lagi, tapi saya belum 
berminat untuk hamil,” ujar saya. Ia malah menyarankan, “Anak Ibu sudah besar. 
Memang sudah seharusnya punya anak lagi. Nggak baik lho. Nggak baik buat Ibu, 
juga anak Ibu.” 

Nggak puas, saya berbincang dengan teman psikiater. “Apa yang kamu khawatirin? 
Kalau urusan rejeki, tiap anak ada rejekinya masing-masing. Nggak usah 
dipikirin.” Waduh. Kalau begitu kan mending saya punya anak banyak ya? Curhat 
ke teman kantor, sama saja. Ngobrol dengan sahabat lama, sarannya juga sama. 

Saya jadi berpikir, apa nggak boleh saya menunda kehamilan ini lebih lama lagi? 
Ini bukan perkara banyak anak, banyak rejeki atau tiap anak ada rejekinya 
masing-masing. Ini masalah pilihan dan saya memilih menunda kehamilan 
berikutnya. Nggak perlu dipautkan dengan umur, rejeki atau yang lain. Ini 
pilihan saya. Masih banyak hal lain yang harus dipikirkan untuk memutuskan 
hamil kembali. 

Saya berpikir, menjadi hamil adalah pilihan dengan kesadaran dan kemauan yang 
tinggi. Menjadi hamil sangat membanggakan buat saya. Dalam perut yang bisa 
melar ini, saya membawa kehidupan baru. Pengalaman melahirkan buat saya lebih 
dari nikmatnya ber-bungy jumping dari ketinggian 60 m di Kuta. Melahirkan bayi 
imut membuat saya tertarik melakukannya lagi. Tapi, saya punya pilihan. Pilihan 
saya, kehidupan baru itu haruslah selalu lebih baik dan indah. Jika hamil 
karena tekanan pihak luar, bagaimana saya bisa membawa kehidupan baru yang 
lebih baik dan indah itu? 

Saya ingat pesan ibu saat hamil dulu. Waktu itu, saya diminta bersabar karena 
sikap tetangga yang tak menyenangkan. “Jangan mbatin ya. Sing sabar. Nanti 
anakmu jadi anak yang suka mbatin lho,” nasihatnya. Meski mengiyakan, toh tetap 
saja saya mbatin. Akhirnya, anak saya pun lebih suka menutup diri dan memendam 
masalahnya sendiri. Itulah sebabnya, saya percaya kuatnya hubungan ibu dan 
janin dalam kandungan. Itu sebabnya pula, saya harus punya kesadaran dan 
kemauan yang kuat dari dalam diri untuk hamil lagi.. Dengan kesiapan fisik dan 
mental yang matang, saya bisa membawa kehidupan baru yang lebih baik itu. Bukan 
karena desakan keluarga, tetangga, psikolog, psikiater atau rekan sejawat. Tapi 
karena saya memang memilih untuk hamil. 

Siang itu, ketika saya bertemu seorang teman aktivis di Westin Resort Nusa Dua, 
Bali dan mengutarakan ini, dia tertawa. “Ini masalah hak atas tubuhmu ya?” 
katanya pendek. Saya jadi teringat Eko Bambang Subiyantoro dalam tulisannya, 
“Perempuan dan Perkawinan: Sebuah Pertaruhan Eksistensi Diri” (Jurnal Perempuan 
edisi 22, 2002). Ia menulis, …Perempuan memilih menikah adalah haknya, tetapi 
bukan sesuatu yang kodrati seolah-olah menjadi kewajiban. Perempuan mempunyai 
hak untuk tidak menikah. Karena pilihan menikah adalah pilihan rasionalitas 
individu bukan pilihan yang ditentukan oleh masyarakat. 

Jika begitu, hamil atau menunda kehamilan pun saya pikir sama saja. 


Ratna Hidayati Jurnalis Koran Mingguan Tokoh di Denpasar Bali 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke