"...Saya perhatikan, masjid-2 di Jerman umumnya juga ada
di pinggir jalan besar, dan bukan di tengah-2 Perumahan
("BTN" atau Real Estate), dan bentuknya juga sama sekali
tidak menyolok..."DH: Exactly mas, benar sekali. Rumah ibadah dari agama apapun disebut dalam bahasa Jerman "Gotteshaus", Rumah Tuhan. Jadi mengandung makna rumah untuk berteduh bagi semua. Dalam peperangan seringkali tempat berlindung dari kejaran. Seperti anda katakan, hendaknya rumah ibadah dibangun tidak ditengah pemukiman, namun merupakan tempat tersendiri. Di desa desa di Jerman biasanya diatas bukit, dan berjarak dengan komplex perumahan. Baik pemerintah, pimpinan kota atau desa berserta masyarakat haruslah me-manage kehadiran rumah ibadah apapun sedemikian rupa, sehingga penduduk merasakannya sebagai milik bersama. Haruslah dirasakan, bahwa kegiatan ibadah adalah bagian dari kegiatan kemanusiaan, bukan sesuatu yang eksklusif. Disinilah diuji, apakah jemaat terkait merupakan bagian dari masyarakat atau sebaliknya "benda asing". Semoga. Salam danardono PS: idee mas agar saya menulis memoir sangat mengharukan, dan akan saya pertimbangkan. --- In [email protected], "imuchtarom" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Ah, iya mas Con, ;-) > > info point 2 yang ditulis pak Danar termasuk > yang kandungan informasinya tinggi bagi rata-2 > generasi kita saat ini. Saya sebetulnya mengakui > kok, banyak memeproleh informasi baru dari materi > yang ditulis oleh pak Danar. Kalau saja beliau > menyempatkan menulis suatu memoar atau buku, saya > yakin akan banyak info berharga yang ada di dalamnya. > > Soal integrasi atau "pembauran", yang saya setuju 1005 > adalah pembauran tempat tinggal. Ini kan mestinya bukan > masalah bagi kita. > > Soal rumah Ibadah, bagi saya sebetulnya sudah tidak lagi > soal prinsip (akidah/syariah), tetapi tinggal perumusan > kebijakan/hukum yang adil dan realistis (bisa dilaksanakan), > dan terus menerus di sosialisasikan, + aspek "Teknis" > Tata Kota/Perencanaan Wilayah. > > Menurut hemat saya, kalau rumah ibadah di bangun di pemukiman > memang sangat perlu mempertimbangkan faktor psikologis > penduduk sekitarnya. Menurut saya, bagi Ummat Minoritas, > pemerintah bisa menetapkan/merancang suatu Tata Ruang > Perkotaan, di mana misalnya minimum di setiap kecamatan > ada "N" buah "square" ( taman atau alun-alun besar/kecil ). > > Di sekeliling Square inilah dapat secara bebas dibangun > fasilitas-2 publik termasuk rumah Ibadah untuk agama apa > saja, dengan meminimumkan dari penduduk disekitarnya. > > Saya perhatikan, masjid-2 di Jerman umumnya juga ada > di pinggir jalan besar, dan bukan di tengah-2 Perumahan > ("BTN" atau Real Estate), dan bentuknya juga sama sekali > tidak menyolok. > > ===( IM )======= > --- In "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Masukan nomer dua dari eyang Danardono ini menurut saya > > entropinya tinggi :) [ niru istilahnya oom imuchtarom ] > > > > Thank You Allah, engkau memberi bangsa ini founding father > > yang toleran. > > > > > > > 2. Bung Karno dan bung Hatta mengupayakan mulai tahun 50an awal (sampai > > tahun 1949 ibukota kita di Jogya, jadi tamu Sri Sultan HB ke IX), > > agar seluruh unsur warga campur aduk. Gereja dibangun diwilayah yang > > juga banyak Islam, mesjid juga ditempat yang banyak Kristen, dsb. > > Hanya kuil Hindu India tetap di Pasar Baru. Kami, yang mengalami > > tahun 50an dan 60an merasakan sekali keeratan kebangsaan ini. > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

