http://www.gatra.com/artikel.php?id=88035


Di Ujung Kocok Ulang Kabinet

"SAYA kurang tidurnya, kelihatan nggak?" Kalimat itu meluncur dari mulut 
Presiden Susilo "SBY" Bambang Yudhoyono, sesaat sebelum memberikan pernyataan 
pers di depan para wartawan di kantor presiden, Rabu malam lalu. Belum sempat 
para wartawan yang juga kecapekan --lantaran sejak pagi menunggu kehadiran 
presiden-- memberi tanggapan, SBY sudah buru-buru menambahkan, "Presiden kurang 
tidur kan nggak dilarang, ya?"

Sore itu, SBY memang kelihatan letih. Para pendamping presiden, baik Menteri 
Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati maupun Menteri 
Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro serta Sekretaris Kabinet 
Sudi Silalahi, kelihatan pula kecapekan. Mereka berusaha menahan kantuk, 
berdiri di belakang SBY. Dengan mimik serius, SBY sore itu menyampaikan delapan 
paket kebijakan ekonomi, meliputi bidang energi, moneter, fiskal, dan kebijakan 
ekonomi lainnya (investasi).

Pengumuman yang amat sangat ditunggu para pelaku pasar uang itu sempat tertunda 
berkali-kali. Sehari sebelumnya (Selasa malam), Sudi Silalahi mengabarkan, SBY 
akan mengumumkan paket kebijakan ekonomi pada Rabu pukul 10.00. "Jika 
laporannya selesai," kata Sudi. Makanya, wartawan sudah berdatangan ke kantor 
presiden pukul 09.00. Sampai pukul 09.30, belum ada tanda-tanda aktivitas. 
Belum satu pun mobil menteri tampak di pelataran parkir sebagaimana biasanya.

SBY membuka pertemuan dengan para menterinya pukul 11.00. Tak lama setelah itu, 
muncul kabar bahwa presiden akan memberi keterangan pukul 15.00. Wartawan yang 
datang makin banyak. Kru televisi malah bersiap-siap siaran langsung. Tapi 
pengumuman baru digelar pukul 17.15, molor tujuh jam dari yang direncanakan. 
Apa yang terjadi?

Buru-buru juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng, mengklarifikasi. "Siapa 
yang memberi pengumuman ada pernyataan pukul 10.00?" Andi balik bertanya. Yang 
ada, pukul 10.00 presiden akan bertemu dengan tim kecil yang dibentuk sehari 
sebelumnya. Toh, penjelasan Andi tidak meredam isu yang berseliweran. Apalagi, 
saat pengumuman itu, ada keganjilan: Menko Perekonomian, Aburizal "Ical" 
Bakrie, tidak terlihat.

Sejak Selasa, di kalangan wartawan Istana Kepresidenan bertiup kabar miring 
tentang tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu. Utamanya tentang Ical. Mantan 
Ketua Kadin ini dikabarkan tidak sejalan dengan SBY. Karena itu, ia bakal 
"dihabisi". Terlebih lagi, di pemberitaan berbagai media, desakan SBY untuk 
me-reshuffle kabinet, khususnya di tim ekonomi, mulai santer terdengar.

Aneka kabar miring itu beredar di saat Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama 73 
anggota rombongan bertolak ke Cina dan Jepang sampai 4 September. Sementara di 
dalam negeri, SBY memimpin sidang kabinet hingga pukul 23.45, Rabu lalu. Ical 
ikut dalam sidang tersebut.

Namun tidak ada secuil pun penjelasan, apa hasil sidang. Para menteri yang 
ditanya pada tutup mulut. Demikian halnya Ical. Malah, wajah Ical tampak 
tertekuk. Tidak seperti biasanya, malam itu ia sama sekali tidak mau memberikan 
keterangan. Pada rapat esok hari, Ical malah tidak tampak.

SBY sepertinya sadar ada yang mengganjal di kalangan pers. Makanya, saat 
mengumumkan paket kebijakan ekonomi, ia menjelaskan ihwal absennya Ical. "Tidak 
ada apa-apa," ujar SBY. Dalam rapat Selasa malam, kata presiden, semua menteri 
hadir, termasuk Ical. Saat itu diputuskan membentuk tim kecil yang akan bekerja 
esok harinya. Ical tidak masuk tim ini. "Kalau tidak lengkap, tidak ada 
masalah," kata SBY.

Dua pekan terakhir merupakan hari-hari yang berat bagi duet pemerintahan SBY 
dan Jusuf Kalla (JK). Badai seolah datang dari segala penjuru. Memasuki pekan 
ketiga Agustus, kurs rupiah terhadap dolar Amerika mulai loyo, menyentuh angka 
Rp 10.120 atau terendah dalam 41 bulan terakhir. Rupiah, di pasar perdagangan 
hari itu, sempat pula tersungkur pada Rp 11.000 per dolar. Indeks Harga Saham 
Gabungan merosot di bawah level 1.000. Sementara harga minyak dunia terus 
meroket sampai US$ 70 per barel.

Semua itu memberikan tekanan luar biasa pada anggaran. Tanpa pernah menyebutkan 
berapa pemasukan dari ekspor minyak, kenaikan harga minyak itu membuat subsidi 
mencapai lebih dari Rp 138 trilyun atau seperempat APBN. Bisa-bisa defisit APBN 
yang dipatok di bawah 1% bakal jebol karena tidak ada sumber dana baru untuk 
menutupinya. Tidak mengherankan bila SBY-JK dan para menterinya berjibaku 
mencari solusi.

Untuk meredam gejolak rupiah, Rabu malam dua pekan lalu SBY bertandang ke Bank 
Indonesia (BI). Kunjungan mendadak ini dimaksudkan untuk berkoordinasi dengan 
Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah. Inisiatif ini dilakukan karena solusi 
pertemuan BI dengan jajaran kabinet yang dipimpin SBY, dua hari sebelumnya, 
terbukti tidak cespleng. Toh, kunjungan SBY --yang anehnya tidak disertai tim 
ekonomi, tapi malah disertai Kapolri Jenderal Sutanto dan Sudi Silalahi-- ke BI 
itu belum menghasilkan solusi jitu.

Rupiah tetap loyo. Padahal, selama dua pekan, koordinasi pemerintah untuk 
menanganinya tidak kurang. Tanpa didampingi sang Wakil Presiden JK, SBY hampir 
tiap hari menggelar sidang kabinet, baik yang mendadak maupun yang 
direncanakan. JK yang sedianya melanjutkan perjalanan ke Jepang usai berkunjung 
ke Cina akhirnya tidak tahan. JK membatalkan lawatannya. Kamis lalu, ia tiba di 
Tanah Air.

Namun merosotnya nilai tukar rupiah belum juga tertolong. Pemerintah sendiri 
belum bisa memastikan, kapan harga BBM bakal dinaikkan. Satu kebijakan yang 
diyakini bakal menolong rupiah. "Saya belum bisa menjawab kapan BBM dinaikkan," 
kata Ical di hadapan pelaku pasar di Bursa Efek Jakarta, Kamis dua pekan lalu. 
Pemerintah hanya memberi ancar-ancar, harga BBM naik awal tahun 2006.

Pekan lalu, sinyal waktu kenaikan itu berubah lagi: Oktober 2005. Catatannya, 
skema kompensasi kenaikan harga BBM yang dilakukan Maret lalu harus sudah 
rampung. Menurut Ical, pendataan "alamat" lebih dari 36 juta orang miskin oleh 
Badan Pusat Statistik di Jawa baru selesai 15 September, sementara yang di luar 
Jawa pada 30 September. "Setelah itu, baru kita putuskan kenaikan BBM," kata 
Ical tanpa menyebut besarannya.

Kebimbangan pemerintah itulah yang menuai kritik dari banyak pihak. Menurut 
ekonom CSIS, Hadi Soesastro, pemerintah hanya sibuk berapat dan berwacana, 
belum melakukan langkah nyata. Masalah yang muncul karena keragu-raguan dan 
ketidakjelasan langkah itu direspons negatif oleh pasar. "Pemerintah dinilai 
tidak mampu menghadapi masalah," kata Dradjad Wibowo, ekonom Indef yang juga 
anggota Komisi XI DPR-RI.

Pemerintah sepertinya memegang buah simalakama: dimakan tidak dimakan tetap 
jadi soal. Soal kenaikan harga BBM, pasti sensitif. Direktur Eksekutif 
Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Deny J.A., bahkan menyebut BBM sebagai isu 
yang paling membelah pemerintahan SBY. Memang, ekonom menyorong agar SBY 
mengerek harga BBM. Tapi, kata Deny, secara politik langkah itu berisiko. 
Sebelum harga naik, ketidakpuasan sudah meluas. Yang ditakutkan, kenaikan harga 
BBM itu lantas membakar massa akar rumput.

Kekhawatiran Deny bisa dimaklumi. Di masa lalu, kenaikan harga BBM selalu 
diiringi gejolak demonstrasi oleh para penentang. Jika tidak dikalkulasi secara 
matang, wakil rakyat di Senayan bisa-bisa jadi batu sandungan politik. Jikapun 
harus memilih, Deny menyarankan SBY lebih menghadapi tekanan politik ketimbang 
ekonomi. Alasannya, tekanan ekonomi dirasakan seluruh rakyat. SBY harus 
menghadapi itu. Sementara tekanan politik, SBY hanya berhadapan dengan orang 
partai atau anggota DPR.

Toh, SBY masih memegang modal politik penting: popularitas. Popularitas pria 
asal Pacitan, Jawa Timur, itu masih 64,7%, di atas jumlah pemilih dalam pemilu 
presiden tahap kedua tahun lalu (60%). SBY masih dinilai jujur, pintar, 
berwibawa, mampu berkomunikasi, dan memihak rakyat. Hasil ini terekam dari 
survei LSI yang dipaparkan Deny J.A. dan Mohammad Qodari di Hotel Sari Pan 
Pacific, Jakarta, Rabu lalu. Survei pada 11-15 Agustus itu menjangkau 1.000 
responden di 100 desa dan kota di seluruh provinsi.

Survei menjelang setahun pemerintahan SBY-JK ini untuk merekam perubahan yang 
terjadi seperti janji kampanye pemilu lalu. Kebetulan, saat survei digelar, 
kurs rupiah terhadap dolar Amerika tengah terjun bebas. Sementara harga bahan 
minyak meroket tinggi. Makanya, dipilih isu "siapa yang disalahkan publik". 
Hasilnya, publik kecewa dengan kondisi ekonomi. Ekonomi stagnan, bahkan lebih 
buruk. Padahal, 60% responden menyatakan, masalah ekonomi merupakan hal paling 
penting dan prioritas utama.

Menurut Dradjad Wibodo, ada tiga masalah yang tengah melanda bangsa ini, yakni 
melorotnya cadangan devisa (tinggal US$ 32 milyar), krisis energi dan APBN. 
Yang fatal, setelah Presiden SBY menyampaikan RAPBN 2006 di depan DPR, 16 
Agustus 2005, rupiah terus melemah dan menembus batas psikologis Rp 10.000 per 
dolar. Pelaku pasar menilai RAPBN 2006 bukan saja tidak realistis, melainkan 
juga tidak kredibel.

Pendek kata, Dradjad menyimpulkan, pasar menilai pemerintah tidak tahu masalah, 
tidak tahu solusi, dan --akibatnya-- tidak bisa melaksanakan solusi. "Menteri 
Keuangan harus bertanggung jawab atas kejadian ini," kata Dradjad. Apalagi, 
sampai saat ini realisasi APBN 2005 baru 27%, yang sebagian besar untuk pos 
pembayaran utang. Sementara realisasi dana departemen baru 16%. Jika 
digelontorkan sekarang, akan memicu inflasi.

Soal krisis energi akibat melorotnya jumlah produksi minyak hanya tinggal satu 
juta barel per hari, menurut Dradjad, sudah terjadi sejak 2001. Padahal, sejak 
itu, pos menteri yang menangani ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya 
Mineral, diduduki oleh Purnomo Yusgiantoro. "Karena keduanya berada di bawah 
koordinasi Menko Perekonomian, Ical harus bertanggung jawab," kata Dradjad 
kepada wartawan Gatra Arief Ardiansyah. Bagi Dradjad, tim ekonomi sudah tidak 
bisa diharapkan.

Salah satu yang jadi sorotan adalah ketidakharmonisan kabinet, terutama di tim 
ekonomi. Soal asumsi harga minyak di RAPBN 2006 sebesar US$ 40 per barel, tidak 
semua tim ekonomi mengetahuinya. Angka itu usulan dari Purnomo Yusgiantoro 
kepada Menteri Keuangan, Jusuf Anwar. "Mereka (Departemen Keuangan) yang 
memutuskan," ujar Purnomo. Sengaja dipatok rendah karena terkait dengan 
pengeluaran setiap sektor. Toh, namanya asumsi, nilai itu masih berpeluang 
berubah. Ini jadi masalah karena pasar menilai tidak realistis.

Absennya Ical pada saat pengumuman paket kebijakan ekonomi, Rabu lalu, juga 
bukan tanpa sebab. Persoalannya bersumber pada silang pendapat di sidang 
kabinet, sehari sebelumnya. Sidang yang makan waktu hampir enam jam itu 
berlangsung alot dan panas. Untuk memberi kepastian kepada pasar dan 
masyarakat, Ical mendesak agar kepastian tanggal kenaikan harga BBM ditentukan 
segera. Sri Mulyani menyokong. Alasannya, Bank Dunia mengancam tidak akan 
merealisasikan bantuan US$ 400 juta. Tapi SBY tidak menyetujui usulan itu.

Esok harinya, Ical tidak hadir di sidang kabinet yang membahas draf paket 
kebijakan ekonomi. Jusuf Anwar dan Burhanuddin Abdullah juga tidak datang. 
Keduanya berada di Jepang untuk meneken perjanjian swap bilateral, dan 
digantikan oleh Sekjen Departemen Keuangan, J. Kristiadi, dan Deputi Gubernur 
Bank Indonesia, Hartadi A. Sarwono. Menurut Ical, tidak semua menteri harus 
datang karena sudah dibentuk tim kecil. Ia tidak masuk dalam tim kecil itu. 
"Kadang-kadang, kalau membuat keputusan, kan yang membuat staf," Ical beralasan.

Berbagai riak itu memunculkan kesan telah terjadi ketidakharmonisan antara 
presiden dan Menko Perekonomian. Isu reshuffle kabinet pun bertiup kencang. 
Kepastian kocok ulang kabinet itu diamini Heru Lelono, staf khusus presiden 
bidang pembangunan dan otonomi daerah. Selain Ical, orang dekat JK, kata Heru, 
Jusuf Anwar, Mari Pangestu (Menteri Perdagangan), Sugiharto (Menteri BUMN), dan 
Alwi Shihab (Menko Kesra), bakal diganti. Presiden kecewa pada kinerja dan 
lemahnya koordinasi tim ekonomi.

Karena itu, presiden memimpin dan menangani langsung masalah perekonomian. "Ini 
sudah tidak baik," tutur Heru. Apalagi, lanjut Heru, SBY mendengar masih ada 
pejabat negara yang berpikir demi keuntungan pribadi. Padahal, negara lagi 
kritis. Reshuffle, bagi Heru, semata-mata karena lemahnya kinerja dan buruknya 
koordinasi, bukan soal suka dan tidak suka. Kapan dilakukan? SBY sendiri 
berjanji, dalam dua bulan ke depan akan mengevaluasi kinerja para pembantunya, 
sebagai bagian evaluasi setahun usia kabinet.

Suara pimpinan fraksi partai-partai besar di DPR yang dijaring wartawan Gatra 
M. Agung Riyadi, mayoritas menyatakan setuju adanya reshuffle. Fraksi-fraksi 
itu, antara lain Fraksi Partai Demokrat, Fraksi PKB, Fraksi PDIP, Fraksi PKS, 
dan Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi, setuju adanya reshuffle. Hanya Fraksi 
Golkar yang tidak setuju. Bagi Andi Mattalata, Ketua Fraksi Golkar, reshuffle 
bukan solusi. Sementara fraksi yang lain menilai tim ekonomi demikian lemah. 
Karena itu, reshuffle jadi keniscayaan. "Kebijakannya terkesan ada interes 
karena yang memutuskan punya latar belakang bisnis," kata Sekjen PDIP, Pramono 
Anung.

Hasil survei LSI sejalan dengan pemikiran para pimpinan fraksi. Survei 
menunjukkan, popularitas SBY dan JK tetap tinggi. Yang terpuruk adalah tim 
ekonomi. Popularitas tim ekonomi dinilai jeblok (di bawah 40%), jauh di bawah 
popularitas kementerian lainnya. Jika dibandingkan, problem SBY adalah soal 
ekonomi. Ini terbukti, penilaian program memberantas korupsi, judi, narkotika, 
dan kriminalitas memuaskan (di atas 70%).

Dengan hasil survei itu, seolah LSI turut mendorong agar SBY segera 
me-reshuffle kabinet. Meski begitu, Deny mengingatkan bahwa mandat publik yang 
diberikan pada SBY adalah soal ekonomi. Karena itu, bila tidak ada perubahan, 
merosotnya popularitas SBY hanya soal waktu. Publik di seluruh Indonesia bagai 
rumput kering yang mudah digoyang oleh berbagai situasi.

Buat Deny, negara ini masih terkendali karena SBY masih populer. Jika 
popularitas SBY merosot, keadaan akan sulit-rumit. "Gonjang-ganjing yang 
berawal dari masalah ekonomi bisa berubah jadi gerakan dan goro-goro politik," 
katanya kepada wartawan Gatra Luqman Hakim Arifin. Itulah yang menjatuhkan 
Soeharto pada 1998.

Khudori, Astari Yanuarti, Rachmat Hidayat, dan Bernadetta Febriana
[Laporan Utama, Gatra Nomor 43 Beredar Senin, 5 September 2005] 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke