http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/11/bincang02.htm
Dianggap Miskin oleh Amerika Serikat
SM/Hartono Harimurti
TINGGAL lama di Negeri Paman Sam membuat Saiful Mujani merasa bisa mengenal dan
memperbandingkan kehidupan di Amerika Serikat (AS) dengan Tanah Air. Menurut
pendapat dia, walaupun orang AS -sebagaimana orang-orang di Barat- berkesan
individualistis, tetapi saat membicarakan masalah publik, ada aturan tegas dan
tidak diskriminatif.
"Pelayanan publik bagus, tegas, dan tidak diskriminatif. Ini yang membuat
orang-orang 'lain' seperti saya dan keluarga juga merasakan manfaatnya," kata
pria kelahiran Serang, Provinsi Banten, 8 Agustus 1962 ini.
Suami Baiquniah (asal Boyolali) ini menuturkan saat menempuh S2 dan S3 dia dan
keluarga sempat sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
"Saya hanya tunjukkan kalau saya ini mahasiswa pascasarjana di Ohio dengan
beasiswa dari Fullbright sebesar 1000 dolar AS. Dengan nilai uang sebesar itu
saya sebenarnya merasa hidup cukupan juga. Karena saya tetap membiasakan hidup
cukup, setara di Jakarta. Namun oleh pemerintah setempat uang saya dinilai
kurang, atau saya dianggap miskin. Akhirnya saya dapat pelayanan gratis. Dan
tidak ada diskriminasi sama sekali. Karena prinsip mereka adalah melayani
'manusia' tanpa melihat siapa dia," kata ayah Fitri Matahari, Brian
Katulistiwa, dan Jagad Alit ini.
Saat menempuh kuliah S2 dan S3, Saiful merasakan bagaimana dosen-dosen setempat
begitu intens membimbing mahasiswa, serta begitu kreatif mereka memacu atau
memotivasi para mahasiswa. "Ini juga didukung oleh sistem pendidikan yang
bagus. Perhatian AS pada pendidikan bagus sekali. Kita yang berkesempatan
sekolah di sana juga sangat merasakan manfaat yang besar sekali," kata peraih
Master (1999) dan PhD (2003) Ilmu Politik dari Ohio State University ini.
Saiful berasal dari keluarga santri campuran. Dia menjalani ritual keagamaan
seperti orang NU, tetapi aspirasi politiknya kepada Partai Masyumi. "Ya
keluarga saya itu hampir sama dengan keluarga Cak Nur," kata Dosen Pascasarjana
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang ini.
Saat ditanya tentang cita-cita masa kecil, Saiful mengaku pernah ingin menjadi
dokter. Namun semakin dewasa, dia merasa cita-citanya itu makin tidak
kesampaian, sehingga akhirnya memilih kuliah di IAIN (sekarang jadi UIN) Syarif
Hidayatullah, Ciputat mengambil Jurusan Ushuludin.
Mengapa akhirnya terjun ke ilmu politik? Yang jelas saat kulih S1, dirinya
mempelajari hal-hal fundamental seperti filsafat dan kalam. Saat itu dirinya
merasa ingin mempelajari hal yang sifatnya lebih aplikatif dan praktis, tetapi
dapat memberi dampak fundamental juga. Dia pun memilih Ilmu Politik.
"Setelah dua tahun mengajar di IAIN, terbukalah kesempatan itu. Saya mendapat
beasiswa Fullbright. Seperti Pak Azyumardi Azra. Lalu saya memilih menekuni
ilmu politik untuk meraih S2. Lulus S2 ada beasiswa lagi untuk S3, saya pun
tetap mengambil politik. Jadi sekalian saja biar lebih matang," kata pria
berkacamata ini.
Saat ditanya obsesinya, Saiful mengatakan sebagai warga negara dan umat Islam,
dirinya sangat menginginkan ada kehidupan sarat nilai agamis yang substansif,
tetapi tetap bertoleransi dan bersinergi dengan kemajemukan. "Saya prihatin
bila Islam ditampilkan dengan wacana sempit yang akan merusak citra Islam itu
sendiri serta menyebabkan ketertinggalan umat Islam di tengah-tengah kepesatan
kemajuan," kata dia.
Sesampai di Tanah Air, Saiful dan beberapa rekan-rekan alumnus AS, menggagas
pendirian Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang bersifat independen. Ini
bertujuan memberikan pencerahan dan pendidikan politik kepada masyarakat
Indonesia dalam menyongsong era demokratisasi.
Dengan mengusung tujuan tersebut LSI mendapat simpati dan bantuan termasuk dari
luar negeri. Begitu juga dengan dukungan dari pakar-pakar politik dalam dan
luar negeri seperti William Liddle. Dengan tetap mengusung independensi, LSI
aktif melakukan riset politik. Baik saat menjelang pemilu, pascapemilu serta
perjalanan pemerintahan yang baru terpilih.
Saiful menuturkan dalam perjalanan, ada 'orang' LSI, yang mulai tergoda untuk
bermain ke pihak tertentu, sehingga merusak independensi. Akhirnya yayasan
memutuskan untuk memberhentikan 'orang' yang sudah identik dengan LSI itu.
"Kami ingin mendidik masyarakat untuk lebih maju. Kalau sudah tidak independen
atau berpihak pada kepentingan politik tertentu, maka pastilah kami akan
dianggap membodohi masyarakat. Itulah pentingnya kami untuk tetap independen,"
kata Saiful.
Saat ditanya mengenai hobinya, Saiful mengaku menyenangi bulutangkis. Namun
karena sibuk sebagai dosen dan peneliti, maka waktu bermain bulutangkis menjadi
berkurang. "Saya usahakan masih menyempatkan bulutangkis," kata dia menutup
perbincangan. (Hartono Harimurti-35)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/