Bangsa negeri ini memang mengidap penyakit kronis. Melakukan korupsi dianggap biasa. Me-mark up biaya perjalanan dinas dianggap hal yang sangat wajar. Ketika saya menolak untuk membuat bon fiktif dengan biaya perjalanan dinas luar kota yang diminta rekan kerja saya yang ingin membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang, saya malah dimusuhi, dianggap aneh dan di luar kebiasaan. "Hei, sudah biasa lagi di kantor bikin bon fiktif. Toh duitnya masih tersisa, kan? Ngapain sih susah-suah amat. Nanti aku bikinkan bon-nya."
Menyedihkan, dan terutama--mengerikan. Mengerikan ketika bangsa ini tak lagi menyadari bahwa "maling" adalah perbuatan nista-- dan justru menganggapnya sebagai hal biasa. Maling juga mempunyai banyak bentuk, dan adalah sebuah mental yang menghancurkan. Saya tak lagi berharap banyak pada negeri ini. Juga pada masyarakat yang pemarah, yang meletakkan persoalan agama di atas segalanya, hingga lupa bahwa ada persoalan yang lebih kongkret yang perlu ditangani. Orang-orang di sekitar kita lebih gampang memaafkan "pencuri-pencuri" dalam berbagai bentuk yang jelas-jelas menghancurkan negeri ini, namun lekas marah dan menghujat ketika agamanya sedikit saja diganggu. Seandainya semangat menegakkan agama berbanding lurus dengan semangat menumbuhkan mental bebas korupsi dan maling, mungkin negeri ini punya masa depan yang cerah. --- RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Menyedihkan, namun benar,mas. > > Sahabat saya, yang mau pulang ke Tanah Air mengirim > barang pindahan > melalui perusahaan expedisi. Sampai di Jakarta, > barang barang yang > dikirim kerumah sudah terbuka, barang barang > berharga hilang. Mungkin > sekali sudah hilang di pabean. > > Bagaimana mau menganggap bangsa ini serious? Bukan > perbaikan akhlak > yang diupayakan, gebuk gebukan soal agama, yang tokh > tidak diamalkan. > > Salam > > danardono > > > > > > --- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > MEDIA INDONESIA > > Senin, 12 September 2005 > > > > > > Negeri Maling > > > > > > DENGAN segala rasa malu, Republik ini layak kita > sebut sebagai > negeri maling karena begitu banyaknya orang yang > mencuri uang negara, > yang notabene uang rakyat. Seolah praktik busuk ini > sebagai sebuah > kelaziman buat siapa saja yang mempunyai peluang dan > kesempatan. > > > > Peluang dan kesempatan itu pada umumnya terjadi di > pos-pos jabatan > publik. Orang-orang yang digaji dengan uang rakyat. > Akan tetapi, alih- > alih berterima kasih kepada rakyat, mereka malah > mengeruk harta > rakyat sesukanya. Inilah tabiat para maling yang > rakus. > > > > Penyelundupan minyak mentah oleh beberapa pejabat > Pertamina, > sesungguhnya kian meneguhkan bahwa negeri ini memang > surga bagi para > maling. Praktik busuk yang merugikan rakyat sekitar > Rp8,8 triliun per > tahun, ternyata telah berlangsung lama. > > > > Itu baru dari kasus di Pertamina yang terungkap. > Sangat mungkin > masih ada kejahatan lain yang angkanya lebih > fantastis, tetapi masih > berlangsung aman-aman saja. > > > > Secara telanjang, dari berbagai kasus, membuktikan > korupsi terjadi > di hampir seluruh tingkatan dan di pos apa saja. > Pejabat Pertamina > menyelundupkan minyak, hakim dan jaksa jual beli > perkara, polisi jadi > beking judi, para birokrat jual beli pangkat, > politikus 'dagang sapi' > (termasuk jadi calo penyaluran dana bencana alam di > Aceh), para > penentu kebijakan main anggaran, guru main buku, dan > seterusnya. Jika > seluruhnya dipajang, bisa amat panjang. > > > > Berbagai kenyataan itu membuktikan bangsa ini > secara umum memang > mengidap penyakit kleptomania kronis. Mereka > mempunyai kecenderungan > tanpa rasa bersalah mengambil harta yang bukan > miliknya. > > > > Selain sudah menjadi tabiat, korupsi terjadi pasti > karena ada celah > dan kesempatan. Celah itu bisa muncul karena tidak > ada keteladanan > dari atas, tidak ada kontrol yang ketat. Sementara > aparat penegak > hukum masih amat rapuh integritasnya. > > > > Karena itu, supaya perang terhadap korupsi tidak > jadi omong kosong, > seluruh peluang harus terkunci rapat. Unsur pimpinan > di jajaran > pengelola negara haruslah dipercayakan kepada mereka > yang punya > kecakapan dan integritas. Tukang bicara dan penipu > segera 'dikotakkan'. Reformasi birokrasi harus > menjadi sesuatu yang > niscaya. Tanpa itu, pemberantasan korupsi menjadi > pepesan kosong. > > > > Penjara juga harus dibersihkan dari > praktik-praktik yang memberikan > hak istimewa kepada narapidana-koruptor. Para > penjahat ini harus > merasakan penderitaan rakyat miskin yang hidup di > bawah standar. > Sebab, salah satu faktor terjadinya kemiskinan, juga > karena > kebiadaban para koruptor itu. > > > > [Non-text portions of this message have been > r __________________________________ Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

