http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/14/Politikhukum/2049510.htm


 
Vonis Bebas, Bukti Pemahaman HAM Rendah 


Jakarta, Kompas - Putusan bebas dari Pengadilan Hak Asasi Manusia Makassar 
terhadap dua terdakwa kasus pelanggaran HAM Abepura, Brigjen (Pol) Johny Wainal 
Usman dan Kombes Daud Sihombing, terus mendapat sorotan. Putusan itu merupakan 
bukti masih rendahnya pemahaman soal HAM di kalangan hakim maupun jaksa.

"Memang butuh waktu untuk membekali para hakim dan jaksa tentang pemahaman 
masalah- masalah HAM," ujar Hafid Abbas, Direktur Jenderal Perlindungan HAM 
Departemen Hukum dan HAM, Selasa (13/9), menanggapi vonis kasus Abepura.


"Persoalan pelanggaran HAM memang sangat kompleks. Kita masih dalam masa 
transisional, jauh dari ideal walaupun sudah bergerak ke arah sana," ujar Hafid 
Abbas.

Menurut Hafid, bekal hakim dan jaksa mengenai pemahaman HAM harus terus 
ditingkatkan. Bahkan, jika perlu para para hakim dan jaksa dikirim ke luar 
negeri untuk studi banding dan belajar dari pengalaman-pengalaman negara lain 
dalam mengadili pelanggaran HAM.


Kekecewaan terhadap putusan bebas kasus Abepura juga disampaikan Koordinator 
Kontras Usman Hamid. Ia menilai Pengadilan HAM Abepura, selaku pengadilan HAM 
permanen pertama di Indonesia, yang awalnya menjadi ujung tombak harapan, 
ternyata tak membawa perubahan berarti. "Saya berharap jaksa mengajukan kasasi 
dan negara memberi hak-hak korban berupa kompensasi, restitusi, dan 
rehabilitasi," ujarnya.

Ketua Forum Papua Albert Hasibuan juga menyatakan kekecewaannya atas vonis 
bebas terhadap Johny dan Daud. "Ini bukti kegagalan organ negara dalam 
merespons kebutuhan masyarakat akan keadilan," ujar Albert.

Instrumen pengadilan HAM belum dilengkapi dengan kualitas dan kredibilitas 
aparat penegak hukumnya. Konstruksi hukum yang dipakai majelis hakim didasarkan 
pada pendekatan yang usang, tak progresif dan menunjukkan ketidakmampuan 
menjawab substansi masalah HAM. "Saya khawatir gejala ini akan memudarkan upaya 
membangun kembali kepercayaan masyarakat Papua," kata Albert.

Oleh karena itu, Forum Papua berharap kebijakan pemerintah yang selama ini 
bersifat satu arah dan sentralistis diakhiri, dengan menciptakan komunikasi 
yang efektif dalam menyerap aspirasi masyarakat Papua. (SON)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke