http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/14/nas08.htm

Raja Arab Larang Tradisi Cium Tangan
       
      SM/Reuters  
     
Cium tangan selama ini menjadi tradisi di Arab Saudi. Tradisi itu juga berlaku 
di Indonesia. Terkait hal itu, Raja Arab Saudi, Abdullah, melakukan terobosan 
dengan melarang warganya untuk melakukan cium tangan kepada siapa pun, kecuali 
orang tuanya.

Larangan cium tangan yang dikeluarkan Raja Abdullah itu menjadi headline media 
massa di Arab Saudi pada Senin (11/9). Selama ini, cium tangan sudah menjadi 
tradisi, terutama cium tangan kepada Raja dan keluarga kerajaan. Di Indonesia, 
tradisi cium tangan juga telah berkembang lama pada sebagian masyarakat. 
Tradisi itu sering didapati di daerah. Santri atau masyarakat selalu berebut 
mencium tangan para kiai. Tradisi itu dipertahankan hingga saat ini.

Menurut Raja Abdullah seperti dikutip Arab News, cium tangan merupakan tradisi 
yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, dia melarang semua 
penduduknya untuk mencium tangannya, keluarga kerajaan, atau siapa pun, kecuali 
tangan kedua orang tuanya, yang memang diajarkan Islam sebagai bentuk 
penghormatan. "Saudara-saudara, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada 
Anda. Cium tangan adalah sesuatu di luar norma dan etika. Cium tangan telah 
ditolak oleh orang-orang yang merdeka dan yang lurus hatinya," katanya.

Larangan itu disampaikan Abdullah saat menerima delegasi bangsawan, pejabat, 
dan para tokoh Arab Saudi di Istana Al Salam, Jeddah, Minggu (10/9). Kedatangan 
delegasi bangsawan dan tamu-tamu terhormat itu untuk mengucapkan selamat kepada 
Abdullah yang telah dilantik sebagai Raja Arab Saudi menggantikan Fahd yang 
wafat Agustus 2005. Dalam acara itu, Raja Abdullah benar-benar menolak bila 
tamunya hendak mencium tangannya.

Alasan melarang tradisi cium tangan tidak hanya itu. Menurut Abdullah, cium 
tangan juga membuat orang tunduk. "Ini melanggar ajaran Allah (Islam), sebab 
tunduk hanya boleh dilakukan kepada Allah. Karena itu, saya sampaikan dengan 
tegas penolakan cium tangan ini, dan saya meminta siapa pun tidak mencium 
tangan siapa pun, kecuali terhadap orang tuanya, sebagai tanda ketaatan." 

Jalan Terus

Terkait larangan Raja Saudi tersebut, salah seorang anggota NU, Helmi Faisal 
Zaini, tidak sependapat. Dia menilai keputusan Raja Abdullah yang melarang 
warganya untuk tidak melakukan cium tangan sebagai hal yang tidak bijak dan 
arif. Dia yakin tradisi cium tangan terhadap kiai di Indonesia tidak akan 
terpengaruh oleh larangan Raja Arab Saudi itu.

Bagi Faisal, cium tangan terhadap orang tua, kiai, dan orang-orang terhormat 
lainnya sebagai bentuk penghormatan. Tidak lebih dari itu. Karena itu, tradisi 
ini perlu dilanjutkan. 

"Karena itu, pelarangan tersebut sangat tidak bijaksana," kata Faisal, yang 
kini menjabat Sekretaris Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI di Gedung DPR, 
Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (13/9/).

Menurut dia, tradisi cium tangan yang berkembang luas di Indonesia, selain 
kepada orang tua, merupakan kultur dan bagian kekayaan budaya. Karena itu, 
tradisi itu harus dipertahankan. Bagi pria alumnus di Pesantren Buntet, 
Cirebon, dan Pesantren Tambak Beras, Jombang, itu pelarangan Raja Abdullah 
untuk cium tangan dengan alasan melanggar ajaran Islam tidak bisa dibenarkan. 
Sebab, tidak ada satu teks pun dalam Alquran dan hadits yang melarang mencium 
tangan. "Justru ajaran Islam mengajarkan untuk menghormati dan menghargai yang 
lebih tua dan lebih terhormat," kata dia. 

Sementara itu, Pemimpin Pondok Pesantren Asy-Syafiiyah, Jakarta, KH Kholil 
Ridwan, justru menyambut baik larangan tersebut. "Ini contoh yang sangat bagus 
untuk meningkatkan tauhid kita. Cium tangan sebagai penghormatan boleh saja. 
Tapi cium tangan ini sering menjurus pada kultus terhadap orang yang dihormati. 
Ini yang bahaya, karena sudah berbuat syirik," kata kata salah seorang ketua 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

Menurut dia, pelarangan Raja Abdullah tersebut mungkin didasarkan atas pendapat 
ulama Arab Saudi. "Pandangan ulama Saudi, gerakan dalam menghormat orang lain 
tidak boleh mirip menghormat Allah, yaitu rukuk dan sujud. Kalau kita cium 
tangan, kan badan kita membungkuk, seperti rukuk. Akar masalahnya di situ," 
ungkap dia.

Bila tidak diwaspadai, kata Kholil, maka cium tangan terhadap seseorang bisa 
menjurus pada tindakan pengultusan yang berarti menjurus syirik. Yang terjadi 
di Indonesia, tindakan cium tangan kiai lebih sering dilakukan karena seseorang 
ingin mencari berkah terhadap kiai tersebut.

"Kan bisa dilihat itu, banyak orang tua yang berebut mencium tangan kiai yang 
lebih muda. Mereka yakin bahwa dengan cium tangan itu, mereka akan mendapat 
berkah. Padahal, berkah itu dari Allah," ujar dia.

Yang juga dikritisi oleh Kholil, cium tangan santri perempuan terhadap kiai. 
"Kalau yang ini jelas-jelas tidak boleh, karena bukan muhrimnya. Tapi ini 
sering terjadi di pesantren-pesantren," kata dia.(dtc,afp-ben, 34t) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke