GALAMEDIA
SELASA, 13 SEPT. 2005
Selingkuh Dibayar dengan Serong (1)
PERSELINGKUHAN semakin lama semakin merisaukan. Bahkan mungkin bagi
sebagian orang sudah dianggap biasa. Adalah Ny. Melati (42), ibu rumah tangga
asal Bandung yang menuturkan bahwa ia sedang menjalani proses perceraian karena
kepergok selingkuh. Ia mengaku terpaksa berselingkuh karena suaminya juga suka
"main" perempuan. Bagaimana kisah selengkapnya? Mari kita simak.
WANITA memang sepertinya ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah dan
dianggap tidak berdaya. Mitos ini telah cukup merugikan kaum hawa, seolah-olah
kaum wanita tak ada harganya sama sekali dibanding kaum pria.
Buktinya, jika ada wanita berselingkuh, suami atau orang-orang menghujat
setengah mati. Sebaliknya, jika laki-laki atau suami serong, kerap dianggap
biasa saja. Jarang ada orang yang menghujat.
Kejadian ini menimpaku. Suamiku pernah kupergoki bermain perempuan. Bukan
sekali dua kali, malah aku pun sering mendapat laporan dari teman-teman
suamiku. Katanya, ia doyan wanita. Saking jengkelnya dan sakit hati, aku pun
terpaksa bermain cinta dengan lelaki lain. Hasilnya, aku menjadi pihak yang
paling dipojokkan.
Sebelum bercerita lebih banyak, ada baiknya aku paparkan dahulu latar
belakang dan kehidupan kami jauh sebelum kasus ini mencuat. Tadinya ini akan
aku simpan dalam hati dan kuanggap menjadi rahasia pribadi. Tetapi setelah
kupikir, ada baiknya aku ceritakan saja dengan harapan semoga menjadi hikmah
bagi yang membaca.
Sekitar 17 tahun yang lalu, ketika berusia 25 tahun, aku mengenal
laki-laki terakhir yang kini jadi suamiku. Untuk privacy, aku sebut saja
namanya Kang Egi. Perbedaan usia kami dua tahun. Kang Egi saat itu berusia 27
tahun.
Sebenarnya Kang Egi bukan laki-laki pertama yang singgah di hatiku,
sebagaimana layaknya anak muda. Jujur saja, sejak aku duduk di kelas II SMA,
aku sudah berpacaran dengan kakak kelasku. Saat itu, aku sekolah di sebuah SMA
negeri favorit di pusat Kota Bandung.
Namun layaknya remaja, sampai tamat SMA aku senang gonta-ganti pasangan.
Terlebih jika ada lelaki yang kuanggap punya nilai plus dibanding lelaki
sebelumnya, aku beralih ke lain hati. Begitulah seterusnya, selama di SMA, ada
empat orang yang pernah berpacaran denganku.
Namun tentu saja, pacaran zaman dahulu berbeda dengan sekarang. Dulu,
mana ada yang berani apel ke rumah. Paling-paling jika mau kencan, kami ngobrol
di kantin sekolah atau menonton film yang pukul 14.00 WIB. Orangtuaku saat itu
sangat keras dalam mendidikku.
Saat aku lulus SMA, aku masih berpacaran dengan Kang Idan (juga samaran),
lelaki yang saat itu telah kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.
Ia kakak kelasku, bagiku Kang Idang cukup simpatik dan sosok lelaki idamanku.
Selain pintar, juga ganteng dan bodinya oke.
Walaupun masih termasuk remaja, aku merasa Kang Idang cocok untuk
kujadikan suami di masa datang. Maka tak heran, hubunganku dengan Kang Idang
ini termasuk yang paling lama.
Tetapi seperti dikatakan di atas, pacaran waktu itu tidak sebebas
sekarang. Aku cukup bahagia hanya dengan ngobrol berdua di gedung bisokop atau
makan bakso berdua. Jarang ada kesempatan berduaan di tempat sepi atau di ruang
tamu. Bahkan, sekalipun Kang Idang mau mampir ke rumahku, orangtuaku tak acuh.
Mungkin mereka menganggap aku dan Kang Idang masih kanak-kanak.
Lulus SMA, tadinya aku akan melanjutkan ke Unpad, sefakultas dengan Kang
Idang. Sayang, cita-citaku kandas, akhirnya aku memilih kuliah di sebuah
akademi keuangan di Bandung. Tapi tak apalah, yang penting aku bisa cepat
bekerja.
Dua tahun lamanya aku berpacaran dengan Kang Idang. Namun sayang karena
bukan jodoh, Kang Idang mendua. Ia memilih teman sefakultasnya. Aku sakit hati,
tetapi tidak sampai patah hati, sebab diam-diam aku pun mulai tertarik pada
teman kuliahku, namanya Egi.
Setelah ia lulus dari Unpad, setahun kemudian aku pun lulus dari akademi.
Kang Egi semakin rajin menemuiku, bahkan ia tidak sungkan apel ke rumahku.
Untuk yang satu ini, orangtuaku begitu merespons, sebab aku sudah dianggap
matang.
Kang Egi pun mulai bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya lumayan
dibanding pegawai negeri. Aku pun bekerja sebagai pegawai negeri hingga kini.
Nama instansi atau dinasnya aku tak mau menyebutkan, sebab takut identitasku
akan diketahui oleh rekan-rekan sekerjaku.
Saat aku berusia 25 tahun atau kurang dari dua tahun bekerja sebagai PNS,
aku pun dilamar Kang Egi. Tak lama kemudian, kami pun menikah. Sungguh sangat
bahagia mendapatkan suami Kang Egi, selain ganteng, ia juga bekerja dengan gaji
lumayan.
Belum setahun kami menikah, Kang Egi telah membeli rumah dengan cara
overkredit di sebuah kompleks perumahan cicilan Bank BTN di kawasan Bandung
Timur. Di sana aku mulai membenahi rumah tangga, selain membeli perabotan, juga
mulai mengurus kelahiran anak sulungku.
Anakku yang pertama laki-laki, kini telah berusia 16 tahun dan masih
sekolah di sebuah SMA swasta ternama di Bandung. Tiga tahun berselang, lahir
pula anak keduaku, juga laki-laki yang kini duduk di bangku SMP kelas I.
Karier Kang Egi semakin menanjak. Tujuh tahun kemudian, ia diangkat
menjadi supervisor dan sering melakukan inspeksi ke kantor-kantor cabang di
beberapa kota di luar Bandung. Tentu saja hal itu pun menambah isi koceknya
karena ada biaya transport dan biaya lainnya yang jika ada lebihnya selalu
diberikan kepadaku.
Saat itu aku mulai mendengar berita-berita miring. Katanya, jika ke
daerah Kang Egi selalu "main" perempuan. Percayakah aku dan apakah memang
demikian kelakuan Kang Egi selama ini? bersambung (dituturkan kepada
ginanjar)**
+++++
14 SEPT, 2005
Selingkuh Dibayar dengan Serong (2)
KISAH sebelumnya, Ny. Melati (42), ibu rumah tangga asal Bandung menikah
dengan Egi. Sebelumnya, saat masih muda ia sempat berpacaran dengan beberapa
orang lelaki, salah satunya Idang. Setelah menikah dengan Egi yang pegawai
swasta ini, ia dikaruniai dua orang anak. Namun setelah 10 tahun lebih berumah
tangga, ada berita Egi mulai "main" perempuan. Bagaimana kisah selengkapnya?
Mari kita simak.
SEMAKIN lama, berita miring tentang Kang Egi semakin santer terdengar. Aku
mencoba untukpositive thinking agar tidak terjebak dalam suuzan dan fitnah.
Pikirku, siapa tahu mereka hanya ingin menjatuhkan suamiku atau menghancurkan
rumah tanggaku.
Untuk mentralisasinya, setiap ada kesempatan aku selalu berdiskusi dengan
suamiku. Ia sepertinya nothing to lose, seolah tidak bersalah. Ia menganggap
berita tentang dirinya itu cuma isapan jemol belaka.
Suatu hari Kang Egi kembali berangkat ke Sukabumi. Katanya, dua hari ia akan
menginap di sana. Aku pun seperti biasa menyediakan berbagai keperluan, dari
mulai kemeja, pakaian dalam serta kepentingan lainnya.
Tak ada firasat apa pun juga. Saat akan berangkat dengan mobil dinasnya, aku
mendoakan suamiku dan menasihatinya agar selalu hati-hati serta jangan lewatkan
salat lima waktu.
Namun baru semalam, hatiku mendadak tidak enak. Esoknya aku menelepon ke
kantornya. Kukatakan bukan dari istrinya, melainkan dari temannya. Tak dinyana,
seorang karyawan mengatakan bahwa Egi cuma tugas sehari, itu pun pulang pergi.
Aku mulai gundah, benarkan demikian? Selang dua jam, aku pun mengecek lagi ke
kantornya. Kukatakan bahwa aku saudaranya dan perlu bicara dengannya.
"Apa benar dua hari Pak?" kataku untuk meyakinkan.
"Enggak ah, cuma sehari," ujar seseorang di seberang sana.
Katanya, dua hari Kang Egi minta izin untuk tidak masuk kerja karena ada
keperluan keluarga yang sangat mendesak.
"Keperluan keluarga?" aku bergumam dalam hati. Tetapi, aku berusaha tegar dan
sabar. Aku ingin keterangan langsung dari suamiku sendiri. Makanya, aku
menunggu sampai Kang Egi muncul.
Benar saja, dua malam ia pergi. Sorenya, Kang Egi datang. Ia seperti kecapekan
dan tampak lusuh. Aku seperti biasa segera menjerang air dan menyediakan kopi
hangat kesukaannya. Sementara tasnya aku buka sambil minta izin, maksudku untuk
mengambil pakaian yang kotor.
Suamiku tetap tenang dan aku pun segera membawa cucian kotor ke kamar mandi.
Saat itu tanpa aku sengaja aku melihat goresan merah di kaus singlet suamiku
yang kotor. Kucium dan terasa ada aroma lipstik. Yang membuatku heran, bau
parfum asing pun ikut tercium.
Jelas saja aku curiga, sebab seingatku suamiku tak suka memakai parfum,
paling-paling deodoran atau minyak rambut. Di kamar mandi aku termenung. Apa
benar suamiku ada main dengan wanita lain seperti yang selama ini kerap
terdengar?
Tanpa pikir panjang, aku segera memanggil suamiku. Kudekatkan singlet ke
arahnya dan kutanyakan, bagaimana sampai ada noda merah di sana dan mengapa
pula bisa ada bau farfum asing?
Tapi, suamiku tenang saja. "Ah...kamu sih macam-macam saja. Ini bukan lipstik,
tapi spidol merah. Soal farfum, itu hanya temanku yang iseng," ujarnya.
Aku berusaha meminta alasan yang masuk akal dan aku pun membuka pertanyaan
susulan tentang informasi dari kantor. "Mengapa tugas dinas sehari disebut dua
hari? Lalu, siapa yang diuruskan? Bukankah Bapa bilang ke kantor mau
menguruskan keluarga, keluarga yang mana?" kataku agak sewot.
Tetapi, suamiku tidak menanggapi. "Ya sudah kalau tak percaya..." katanya
sambil berlalu.
Jelas aku dongkol. Malamnya di atas tempat tidur persoalan ini kembali
kubicarakan. Namun seperti siangnya, Kang Egi tetap saja menyangkal. Aku
kehabisan akal, akhirnya aku diam saja. Kupikir awal akhir juga nanti akan
ketahuan.
Dua sampai tiga bulan tak ada berita miring lagi. Kupikir suamiku sudah mulai
berpikir jernih. Rasa jengkelku hilang sedikit demi sediki, dan rumah tanggaku
kembali seperti sediakala. Tetapi bulan-bulan berikutnya isu terdengar lagi.
Katanya, suamiku punya istri simpanan. Katanya juga, istri simpanannya ini
dinikahi dan ditinggalkan di Sukabumi, ada pula yang mengatakan semua ini cuma
"main-main".
Aku heran, apa sebenarnya yang terjadi? Hingga suatu hari, aku mengutus
keponakanku untuk memata-matainya. Dalam tempo dua hari, informasi kudapatkan.
Katanya, suamiku dipergoki berduaan dalam mobilnya dan masuk ke sebuah dokter
kandungan.
Kepalaku mendadak pusing, rasa sangsi kepada suamiku mulai tumbuh kembali.
Akhirnya, pukul 22.00 WIB begitu suamiku muncul, hal ini kutanyakan langsung.
Setelah lama berdebat, akhirnya suamiku diam. Menyangkal tidak, membenarkan pun
tidak. Ia malah tertidur.
Paginya, aku masih penasaran. Akhirnya, suamiku mengaku telah menikah lagi. Ia
tak mau menceraikannya karena saat ini istri mudanya ini telah hamil tiga bulan.
Sebagai istri, jelas aku tidak bisa menerimanya. Tetapi, aku juga bingung harus
bagaimana. Jika aku menuntut cerai, bagaimana dengan kedua anakku yang sudah
beranjak dewasa? Jika aku diamkan, hatiku tetap tak bisa menerima. bersambung
(dituturkan kepada ginanjar)**
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/