Kalau per orang Rp 175.000,-- seperti yang Anda sebutkan, saya kira sudah 
hidup lumayan, karena sesuai  BPS [Statistik Indonesia 2003, halaman 576], 
garis kemiskian [1999] di perkotaan adalah Rp 92.409,-- dan untuk pedesaan 
Rp 74.272,-- per capita. Mengingat memburuknya penghidupan rakyat maka 
mungkin saja lebih rendah lagi.


----- Original Message ----- 
From: "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[email protected]>; "lisi" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "sabili" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, September 14, 2005 4:54 AM
Subject: [ppiindia] Kriteria Orang Miskin Penerima Kompensasi BBM


> Siapakah orang miskin yang berhak menerima kompensasi
> BBM? Apakah per orangnya Rp 175 ribu per bulan,
> sehingga kalau 1 keluarga terdiri dari 4 orang, maka
> penghasilan bulanannya Rp 700 ribu. Atau 1 keluarga
> penghasilannya hanya Rp 175 ribu per bulan?
>
> Sebab kalau yang terakhir seperti disinyalir tulisan
> di bawah, maka itu cuma dagelan belaka. Jangankan Rp
> 175 ribu per bulan, gaji Rp 800 ribu per bulan pun
> untuk 1 keluarga dengan 4 anggota keluarga tidak
> mencukupi.
>
> Jadi, harga naik, dan warga dengan penghasilan Rp 1
> juta ke bawah tapi di atas kriteria miskin semakin
> tergencet.
>
> Dana Kompensasi untuk Siapa?
>
>
> Oleh: MH SAMSUL HADI
>
> Sulit rasanya menemukan keluarga miskin di Jakarta
> dengan penghasilan Rp 175.000 per bulan. Lalu, siapa
> yang akan menerima dana kompensasi BBM?
>
> Ibing (43), sopir bajaj, terkekeh-kekeh ketika diberi
> tahu bahwa orang miskin yang diakui pemerintah adalah
> mereka yang berpenghasilan Rp 175.000 atau kurang dari
> itu. Ia mengaku tidak habis pikir, bagaimana kriteria
> orang miskin itu dibuat. "Tidak masuk akal itu. Jika
> ada (orang miskin seperti itu-Red), bisa makan apa
> selama ini," katanya.
>
> Gugatan semacam itu dilontarkan pula oleh masyarakat
> kelas bawah lainnya, seperti kuli panggul, pemulung,
> pedagang air, penjual es beras kencur, tukang tambal
> ban, pengojek sepeda, hingga para tukang sapu di
> jalan. Dari penelusuran Kompas selama dua hari, Senin
> dan Selasa (13/9), tak satu pun dari mereka
> berpenghasilan Rp 175.000 per bulan, seperti
> disyaratkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai
> penerima dana kompensasi kenaikan harga bahan bakar
> minyak (BBM).
>
> Pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Informatika
> Sofyan A Djalil mengumumkan akan memberikan subsidi
> langsung berupa uang tunai Rp 100.000 per bulan kepada
> rakyat miskin sebagai bentuk kompensasi kenaikan harga
> BBM dalam waktu dekat ini. Hanya saja, yang dianggap
> "miskin" adalah mereka yang berpenghasilan Rp 120.000
> atau Rp 150.000 atau Rp 175.000 per bulan (Kompas, 10
> September 2005).
>
> Damsiri (60-an), pemulung dengan lima anak di
> Kelurahan Pejagalan, Jakarta Utara, yang tinggal di
> gubuk tripleks di bantaran Kali Hitam, mengaku
> berpenghasilan rata-rata Rp 500.000 per bulan.
>
> Itu belum dari penghasilannya sebagai kru Dinas
> Kebersihan yang memberinya upah Rp 400.000-Rp 600.000
> per bulan. Mengacu kriteria BPS, keluarga pemulung itu
> jelas tidak berhak atas dana kompensasi.
>
> Damsiri sendiri tidak tahu, apakah ia dan keluarganya
> termasuk miskin atau tidak. Yang jelas, ia tinggal di
> gubuk ukuran sekitar 4 x 2 meter bersama tiga anak dan
> istrinya. Dua anaknya yang lain tinggal di Kronjo,
> Tangerang. Gubuknya penuh dengan karung berisi barang
> bekas hingga meluber keluar. Nyamuk pun berkeliaran di
> sana-sini.
>
> Ade Tarsa (43), penjual air bersih, tak jauh dari
> gubuknya, malah "lebih sejahtera". Meski tidak bisa
> dipastikan, ia mengaku rata-rata mengantongi
> pendapatan kotor Rp 125.000 per hari. Itu berasal dari
> hasil dagangan 10 gerobak air dalam sehari.
>
> Setiap gerobak menghasilkan uang Rp 12.500. Dikurangi
> uang makan Rp 20.000 dan modal membeli air Rp 15.000,
> pria beranak dua itu mendapat hasil bersih Rp 90.000
> per hari. Jika dipukul rata, sebulan ia mampu
> mengantongi Rp 2,7 juta. Sudah pasti, pria yang
> mengontrak kamar Rp 100.000 per bulan secara
> berpatungan dengan tiga penjual air lainnya itu tidak
> berhak atas dana kompensasi BBM.
>
> Begitu pula Mahmud (23), kuli panggul di Pejagalan,
> yang mengaku, sebulan rata-rata berpenghasilan Rp
> 600.000; atau Adi Santoso (29), tukang tambal ban di
> Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, dengan
> pendapatan Rp 25.000 per hari; atau Ibing, sopir
> bajaj, yang rata-rata mengantongi Rp 20.000-Rp 30.000
> per hari.
>
> "Kami yang berpenghasilan segini saja kocar-kacir,
> bagaimana dengan orang yang berpenghasilan Rp 175.000?
> Itu sama saja bohong. Persyaratan itu kayak cerita
> dongeng saja," kata Ibing, yang mengontrak kamar
> sempit di atas lokasi MCK umum di Pasar Pintu Air,
> Petamburan, Jakarta Pusat.
>
> Beberapa tukang ojek sepeda di Jalan Yos Sudarso,
> Tanjung Priok, Jakarta Utara, tercengang dengan
> kriteria orang miskin versi BPS. Sunarto (35), Qosim
> (39), Arif (40), dan Tohari (35), yang penghasilan
> mereka sehari-harinya tidak pasti, pun mengaku
> mendapat Rp 10.000-Rp 30.000 per hari.
>
> Pendapatan para tukang sapu saja, kata Riana (46) yang
> sehari-hari menyapu sebagian ruas Jalan Yos Sudarso,
> berkisar Rp 330.000, Rp 345.000, Rp 450.000, atau Rp
> 700.000 per bulan. Ia sendiri mengaku bisa memperoleh
> Rp 750.000 per bulan dari pekerjaan menyapu jalan
> pukul 05.00-17.00.
>
> Meski sudah ditunjang dengan pendapatan suaminya yang
> juga tukang sapu (Rp 750.000 per bulan), Riana mengaku
> kerepotan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mulai
> dari membayar listrik dan air Rp 200.000 per bulan,
> belanja keluarga yang Rp 25.000 per hari, dan biaya
> sekolah anak.
>
> Apa pun kesulitan hidup kaum marginal di atas (kuli
> panggul, pemulung, pedagang air, tukang tambal ban,
> sopir bajaj, pengojek sepeda, hingga penyapu jalan),
> mereka tidak akan mendapat dana kompensasi jika
> acuannya adalah penghasilan Rp 175.000 per bulan.
> Lantas, di Jakarta ini untuk siapa lagi dana
> kompensasi BBM dikucurkan?
>
> Tidak tepat dan tidak adil
>
> Menurut sosiolog Universitas Indonesia Prof Dr Paulus
> Wirutomo, dana kompensasi seperti itu tidak tepat.
> Bukan hanya karena kriteria yang tidak tepat, tetapi
> program tersebut juga tidak ampuh meredam gejolak
> akibat kenaikan harga BBM.
>
> Sebab, katanya, yang diperlukan dan harus dilakukan
> pemerintah adalah memberikan jaminan keamanan,
> ketenteraman, dan kenyamanan berusaha bagi rakyat.
> Juga penyediaan lapangan kerja bagi mereka. Bukan
> sekadar dana karitatif yang ia sebut sebagai
> artifisial.
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/14/utama/2049589.htm
>
> Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
> Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke