14.09.2005

Tujuan Pembangunan Milenium

Oleh: Bettina Marx

(Anak-anak Niger di Afrika, kekurangan gizi )

Konferensi Tingkat Tinggi Milenium tahun 2000 adalah
momen bersejarah bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saat
itu para pemimpin pemerintahan negara-negara dunia
menetapkan bersama Tujuan Pembangunan Milenium yang
bersifat mengikat. 

Tujuan Pembangunan Milenium (TPM) yang diharapkan
tercapai tahun 2015 antara lain mencanangkan
penanggulangan kemiskinan dan kelaparan. Sejak
penetapannya tahun 2000, anggota PBB berusaha keras
mencapai target TPM. Sayangnya, sampai saat ini
keberhasilan pencapaian Tujuan Pembanguan Milenium
tampaknya masih di luar jangkauan tangan. Demikian
menurut laporan jaringan Program Pembanguan
Perserikatan Bangsa-Bangsa UNDP, yang dikeluarkan
seminggu sebelum Pertemuan Puncak memperingati 60
tahun berdirinya PBB di New York. Walau demikian,
Menteri Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman
Heidemarie Wieczorek-Zeul tampak cukup optimis membaca
laporan itu:“Ada prakiraan, dan menurut saya itu
sangat positif, bahwa dengan keterlibatan dan
terfokusnya semua pihak yang bersangkutan, Tujuan
Pembanguan Milenium masih dapat terwujud dalam tenggat
waktu yang dicanangkan.“

Afrika

Seperlima warga dunia harus bertahan hidup dengan
penghasilan kurang dari satu dolar per hari. Salah
satu penanggung jawab proyek Milenium, Guido
Schmidt-Traub, mengatakan di Berlin, tahun 1990 angka
itu masih lebih tinggi. Saat itu, warga sangat miskin
dunia mencapai 28 persen.

Schmidt-Traub mengatakan: “Dalam sepuluh, 15 tahun
terakhir ini, di hampir semua kawasan di dunia ada
peningkatan signifikan. Satu-satunya pengecualian
adalah di Afrika, di selatan gurun Sahara. Seluruh
daerah itu mengalami kemunduran dan situasi di sana
makin parah. Saat ini di Afrika jumlah penduduk miskin
bertambah sekitar 100 juta orang dibandingkan tahun
1990.“

Afrika tidak mungkin keluar dari kemiskinan dengan
kekuatan sendiri, Schmidt-Traub menambahkan. 

Heidemarie Wieczorek-Zeul menjelaskan situasi benua
hitam dengan kata-kata berikut:“Bila dikatakan
kasarnya, kemiskinan adalah senjata pemusnah massal
paling besar dan kita harus mengerahkan segala upaya
untuk melenyapkan senjata tersebut dari muka bumi.“

Partisipasi Negara Maju

Sampai tahun 2015, negara-negara maju dicanangkan
untuk mengalokasikan 0,7 persen dari produk domestik
kotor mereka untuk kerjasama di bidang pembanguan.
Wieczorek-Zeul kembali menegaskan hal ini dan
mengatakan bahwa Eropa tampaknya akan berhasil.
Beberapa negara Eropa, di antaranya Belanda, Swedia
dan Norwegia sudah mencapai angka tersebut. Jerman
saat ini baru bisa menyediakan 0,3 persen. Tetapi
mengalirkan dana bantuan bukanlah segalanya. Menurut
Wieczorek-Zeul, mereformasi kebijakan dagang
internasional tak kalah pentingnya. Misalnya dengan
menurunkan bea cukai yang tinggi bagi produk impor
negara berkembang, mempermudah akses pada pasar dunia
dan menghapus subsidi pertanian di negara-negara
industri. 

Heidemarie Wieczorek-Zeul:  “Saya ingin ingatkan Anda
pada skandal yang masih berlangsung di sejumlah negara
industri di mana subsidi pertanian menyebabkan
persaingan yang tidak sehat. Misalnya di Amerika yang
masih memberi subsidi pada perkebunan kapasnya. Negara
Afrika Barat yang ingin melempar produknya ke pasar
Amerika tak mampu bersaing. Seharusnya mereka dapat
memperoleh pemasukan yang memadai, andai mereka diberi
kesempatan untuk mengekspor panen kapas mereka ke
pasar dunia.“ 

Fair Trade

Tertutupnya pasar dunia bagi negara berkembang semakin
menjerumuskan negara-negara itu ke dalam kemiskinan.
Dan hal itu akan mempermudah meletusnya konflik.
Ibarat lingkaran setan yang tak berujung dan tak
berpangkal, jelas Schmidt-Traub:

“Banyak konflik terutama di negara miskin, di Darfur
misalnya, itu adalah contoh yang sangat ekstrem,
sebagian disebabkan oleh kemiskinan.“

Lalu bagaimana negara-negara berkembang dapat
mengekspor produk mereka dengan harga yang kuat
bersaing? Salah satu kemungkinan adalah dengan Fair
Trade atau perdagangan yang adil.

Fair Trade atau perdagangan yang adil lahir dari
gerakan solidaritas negara maju dengan negara-negara
berkembang. Kini, 30 tahun setelah terbentuk Fair
Trade, organisasi ini adalah mitra usaha kecil dan
koperasi petani di seluruh dunia. Thomas Speck,
Direktur Pelaksana Gepa, Organisasi Fair Trade di
Jerman mengatakan:“Biasanya perdagangan bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Organisasi kami agak berbeda, dari omset per tahun
kami yang berjumlah 40 juta Euro, hampir setengahnya
kembali kepada para produsen “

Para produsen yang bekerja sama dengan Gepa tersebar
di seluruh dunia. Gepa mengimpor kopi dari Afrika,
buah kurma kering dari Timur Tengah, coklat dari
Amerika Latin dan kerajinan tangan dari Indonesia.
Thomas Speck juga melihat, bahwa di antara
negara-negara mitranya, Afrika-lah yang paling banyak
membutuhkan bantuan untuk memasuki pasar dunia.

Thomas Speck: “Dilihat dari segi politik pembangunan,
seharusnya seluruh perdagangan adil terfokus pada
Afrika. Tetapi sebagai pedagang, kami juga bergantung
pada permintaan, jadi kami harus mencari produk yang
laku di pasaran.“ 

Thomas Speck menambahkan, Gepa memang menitikberatkan
pada kerjasama dengan Afrika. Tetapi organisasi ini
juga harus memasukkan produk dari negara lain, bila
ingin tetap bersaing di pasaran. Mengenai upaya
mempermudah akses negara berkembang pada pasar dunia,
Thomas Speck mengatakan bahwa Gepa sangat mendukung
penurunan bea cukai untuk produk impor negara
berkembang, pengurangan pembatasan kuota dagang dan
penghapusan subsidi produk dalam negeri yang masih
dilakukan banyak negara maju

Thomas Speck: “Bila hanya kuota dagang yang diturunkan
tetapi masih ada subsidi produk pertanian, tetap akan
tercipta situasi persaingan yang tidak adil, dan itu
harus diubah secepatnya.“

Sering kali harga suatu produk tergantung pada
permintaan dan penawaran di pasar dunia. Organisasi
Fair Trade Gepa berusaha untuk menetapkan harga yang
adil bagi para produsen, yang sesuai dengan hasil
usaha mereka dan tidak terlalu tergantung pada harga
pasaran. Sebagai contohnya Thomas Speck menyebut harga
kopi yang sempat mengalami penurunan drastis di pasar
dunia. 

Thomas Speck: “Sampai akhir tahun lalu, harga kopi
mengalami penurunan sangat drastis. Saat itu kami
membayar dua sampai tiga kali harga beli di pasar
kepada produsen kami, Sebagai akibatnya, kami harus
menjual produk kami di pasar dunia dengan harga dua
kali lipat kopi biasa, tetapi penjualan produk kami
tetap tinggi.”

Suatu bukti nyata, bahwa Fair Trade atau perdagangan
adil mendapat dukungan masyarakat di Jerman. Dan, Fair
Trade adalah alternatif dalam membantu negara
berkembang untuk keluar dari kemiskinan.



                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke