Barusan saya coba klik link di bawah (termasuk hanya alamat
www.bisnis.com<http://www.bisnis.com>
)
koq gak bisa ya bos? Kumaya yeuh, para pakar dan bukar ekonomi?
Apalagi yang tidak setuju dengan pemikiran menolak kenaikan harga BBM?
CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K
Jakarta, Indonesia

Pada tanggal 9/14/05, imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> 
> 
> 
> dalam menyoroti konsep/usulan kenaikan harga BBM
> karena pengurangan subsidi, Kwik Kian Gie (KKG)
> kali ini menyodorkan ilustrasi angka-angka yang
> menarik untuk di simak, mengenai accounting
> kas pemerintah berkaitan dengan subsidi BBM.
> 
> Tabel-tabel-nya, tentu lebih jelas untuk di baca
> di situs asalnya (bisnis.com <http://bisnis.com>)
> 
> ===( IM )===================================
> 
> 
> 
> http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vn\
> w_lang_id=2&ptopik=A01&cdate=12-SEP-2005&inw_id=389586
> 
> -------------------------------------------------------
> Minyak: Teka-teki, manipulasi atau 'So What Gitu Lho?'
> -------------------------------------------------------
> 
> Oleh Kwik Kian Gie
> 
> Mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas
> 
> Harian ini, terbitan Kamis, 9 September 2005, memuat hal yang aneh,
> yaitu tim ekonomi menyodorkan usulan yang berbeda dalam persentase
> kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kepada Presiden dan kepada
> Wakil Presiden. Memang akhirnya dibantah seperti biasanya.
> 
> Bahwa tim ekonomi sangat buruk kinerja dan koordinasinya, memang
> telah dikeluhkan banyak pihak. Buat banyak orang, apapun sikap,
> ucapan dan kelakuan tim ekonomi sudah tidak dianggap serius.
> Apapun yang mereka lakukan disikapi dengan komentar yang populer,
> yaitu "So what gito lho!
> 
> Atas pertimbangan menyangkut nasib bangsa, saya tidak ikut-ikutan
> apatis. Maka saya tidak akan pernah berhenti sebelum ada kejelasan
> yang lengkap dan akurat tentang hal ikhwal BBM, terutama dengan apa
> yang diartikan dengan istilah "subsidi".
> 
> Tidak jelas
> -------------
> Saya memperoleh data angka-angka dari lembaga yang sangat kompeten,
> yang saya sajikan dalam empat buah tabel. Banyak hal yang tidak
> jelas. Terutama untuk para anggota DPR, rasanya menarik untuk
> dijadikan bahan dalam diskusi dengan pemerintah.
> 
> Data tersebut didasarkan atas harga minyak US$60 per barel dan
> nilai tukar rupiah Rp10.000/dolar AS.
> 
> Tabel 1 menjelaskan bahwa produksi minyak mentah sebanyak 1.125.000
> barel per hari yang dibagi menjadi "Bagian Pemerintah dan Pertamina"
> sebanyak 663.500 barel atau 58,98% dan "Bagian Kontraktor Production
> Sharing (KPS)" sebesar 461.500 barrel atau 41,02%.
> 
> Yang dipahami oleh rakyat adalah bagian Indonesia 85% dan bagian
> kontraktor asing 15%. Bagaimana dapat dijelaskan pembagian yang
> demikian signifikan perbedaannya?
> 
> Dalam tabel 2, dari bagian Indonesia sebesar 663.500 barel yang
> dikilang dalam pengilangan Pertamina hanya 563.200 barel. Sisanya
> diekspor, yaitu oleh BP Migas sebesar 33.300 barel dan yang
> diistilahkan dengan "Ekspor Exchange"sebesar 67.000 barel.
> Pendapatan atau uang masuk dari ekspor ini tidak tampak di
> manapun, dapat dilihat pada tabel 3 dan 4.
> 
> Dengan harga minyak mentah US$60 per barel, dan ekspor 100.300
> barel per hari, mestinya ada tambahan uang masuk 100.300 x 60 x
> 10.000 x 365 = Rp 21,9657 triliun per tahun. Ditambah dengan
> perhitungan dalam tabel 4 yang menunjukkan surplus Rp 5,7119
> triliun, surplusnya lantas menjadi Rp 27,6776 triliun yang mirip
> dengan yang pernah saya tulis di harian ini pada 1 Agustus yang
> lalu.
> 
> Tabel 3 saya susun apa adanya seperti yang dibuat oleh lembaga
> yang sangat kompeten. Saya hanya menambah satu kolom yang
> menghitung harga per barel yang berbeda-beda.
> 
> Mengapa Pertamina harus membeli minyak mentah dari pemerintah
> dengan berbagai macam kategori seperti "MM Prorata", "MM Prorata
> KPS", "MM in kind Pertamina"dan sebagainya seperti yang dapat kita
> lihat di tabel 3? Mengapa Pertamina harus membeli dengan harga per
> barel yang berbeda-beda?
> 
> Kalau Pertamina membayar jumlah uang seperti yang tercantum dalam
> tabel 3 ini, lantas uangnya muncul di mana dalam pembukuan Departemen
> Keuangan atau dalam APBN ?
> 
> Pendapatan hasil penjualan dari ekspor tidak tampak di sana, tetapi
> impornya ada. Hasil ekspor ini dapat dilihat di mana?
> 
> Sedangkan tabel 4 menjelaskan dalam perhitungan arus kas pemerintah
> yang berkaitan dengan minyak mentah dan BBM ternyata tidak ada
> defisit, tetapi surplus sebesar Rp5,7119 triliun.
> 
> Tabel 1. Produksi minyak dan bagi hasil dengan kontraktor asing
> ---------------------------------------------------------------
> Produksi : 1.125.000 barrel per hari yang dibagi menjadi :
> Bagian Pemerintah dan Pertamina 663.500 barrel = 58,98 %
> Bagian Kontraktor
> Production Sharing
> (KPS) 461.500 barrel = 41,02 %
> Jumlah 1.125.000 barrel per hari = 100 %
> 
> Tabel 2. Penggunaan minyak mentah bagian Indonesia
> --------------------------------------------------
> Jumlah 663.500 barrel per hari
> Dikilang oleh Pengilangan Pertamina 563.200 barrel
> Diekspor oleh BP Migas 33.300 barrel
> Ekspor Excchange 67.000 barrel
> Jumlah yang diekspor 100.300 barrel
> Jumlah Bagian Indonesia 663.500 barrel per hari
> 
> Tabel 3. Biaya BBM oleh Pertamina
> ---------------------------------
> Berbagai sumber pembelian Jumlah barrel
> per hari yang dibeli
> oleh Pertamina Dengan
> harga US$
> per barrel Dengan
> kurs Rp.10.000
> per US$ menjadi Jumlah rupiah
> per hari
> (Rp.miliar) Jumlah rupiah
> per tahun
> (Rp.triliun)
> MM Prorata Pertamina 24.800 12,656 126.560 3,139 1,146
> MM Prorata KPS 26.500 10,354 103.540 2,744 1,002
> MM In Kind Pertamina 89.700 51,773 517.730 46,44 16,951
> MM in Kind Hak Pemerintah 422.200 39,593 395.930 167,162 61,014
> MM Pembelian dari KPS 47.100 39,593 395.930 18,648 6,807
> Jumlah Pokok MM Ex Domestik 610.300 238,133 86,92
> Biaya Operasi 21,106
> Total Pokok Domestik 108,026
> Impor Minyak Mentah 356.600 60 600.000 213,96 78,095
> Pembelian Produk Jadi 307.100 67 670.000 205,76 75,1
> Total Harga Pokok 261,221
> Hasil Penjualan BBM -97,117
> Perubahan Persediaan -7,777
> Nilai NBBM (Reducing Factor) -41,053
> Jumlah Penghasilan -145,947
> S u b s i d i 115,274
> 
> Tabel 4. Perhitungan arus kas pemerintah
> -----------------------------------------
> Pemerintah menjual
> kepada Pertamina
> dalam bentuk Jumlah barrel
> per hari Dengan
> harga US$
> per barrel Penerimaan uang
> Pemerintah
> per hari (US$) Dengan kurs
> Rp10.000 per US$
> menjadi rupiah (Rp.miliar) Per tahun
> (Rp.triliun)
> MM Prorata Pertamina 24.800 60 1.488.000 14,88 5,4312
> MM Prorata Kps 26.500 60 1.590.000 15,9 5,8035
> Mm In Kind Hak Pemerintah 422.200 60 25.322.000 253,32 92,4618
> Penerimaan Pemerintah 473.500 28.400.000 284,1 103,6965
> Dari Minyak Mentah Penerimaan Pemerintah Dari Penjualan BBM 97,1167
> Total Penerimaan Pemerintah 200,8132
> Pemerintah Keluar Uang Untuk Membeli :
> MM Ex Kps Dan Ptm 188.100 60 11.286.000 112,86 41,1939
> MM Ex Impor 356.600 60 21.396.000 213.96 78,0954
> Produk Ex Impor 223.700 60 14.987.900 149,879 54,7058
> Jumlah Pengeluaran Untuk 262,739 -173,9951
> Membeli Minyak Mentah Dan Bbm Biaya Operasi -21,1062
> Pemerintah Kelebihan Uang Tunai 5,7119
> 
> Bagaimana dapat dijelaskan, sedangkan semua perhitungan sudah
> didasarkan atas harga minyak mentah US$60 per barel dan nilai
> tukar rupiah Rp10.000 per dolar AS.
> 
> Mengapa dalam tabel 4 ini semua harga minyak mentah diambil US$
> 60 per barel, sedangkan dalam tabel 3 harganya macam-macam, dari
> US$10,354 sampai US$51,773?
> 
> PR selanjutnya
> ---------------
> Pekerjaan rumah selanjutnya akan saya sajikan dua minggu dari
> sekarang ketika saya mendapat giliran menulis kolom ini lagi,
> tetapi menggunakan logika orang jalanan, bukan logikanya orang
> yang quasi terpelajar.
> 
> Dasar logika ini adalah bagaimana gambarannya kalau semua
> pembukuan dari Pertamina, BP Migas dan Departemen Keuangan
> serta Petral di Singapura yang bersangkutan dengan minyak
> mentah dan BBM dikonsolidasikan menjadi satu ?
> 
> Sekarang ini aneh, Pertamina dianggap miliknya setan gundul
> yang harus membeli minyak mentah dari Departemen Keuangan
> dengan harga mahal. Karena milik BUMN mesti diganti kerugiannya.
> ni disebut subsidi dan terus dikatakan uangnya diambil dari mana?
> 
> Lha uang yang dibayar oleh Pertamina karena Departemen Keuangan
> minta Pertamina membayar mahal kepadanya dikemanakan? Apakah mesti
> dijawab dengan "so what gito lho" ?
> 
> Kilang minyak Pertamina tidak cukup kapasitasnya untuk memproduksi
> BBM yang mencukupi kebutuhan rakyat, tetapi minyak mentahnya ada
> yang diekspor, dan karena kekurangan minyak mentah untuk kilang
> yang sudah tidak cukup tadi, mesti ada minyak mentah yang diimpor.
> 
> Hasil dari yang diekspor tidak bisa dilihat di mana saja. Apa isi
> dari "Biaya Operasi" yang sampai Rp 21,106 triliun itu ?


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke