Aturan itu dari namanya disebut 'instruksi'.. 
yang artinya hanya berlaku ke bawah?
Bukan begitu? Begitu bukan? :-)

Wassalam,

Irwan.K

Pada tanggal 9/14/05, Ambon <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> 
> REPUBLIKA
> 
> Senin, 12 September 2005
> 
> Kunjungan ke Luar Negeri
> 
> 
> 
> 
> Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Inpres No 11/2005 tentang 
> Perjalanan Dinas ke Luar Negeri pada 9 September 2005. Inpres ini sebetulnya 
> tergolong terlambat. Mestinya ia lahir di saat negeri ini dihajar krisis 
> ekonomi yang luar biasa pada 1997. Karena itu, walau terlambat, kita tetap 
> menyambut dan mendukung terbitnya inpres tersebut.
> 
> Inpres ini ditujukan untuk para menteri anggota kabinet, jaksa agung, 
> kapolri, panglima TNI, direksi BUMN, kepala lembaga pemerintahan 
> non-departemen, dan para gubernur. Kita berharap inpres ini juga merembes 
> dan berlaku untuk para dirjen, sekjen, kepala dinas, wali kota, bupati, dan 
> seterusnya. Tujuan terbitnya inpres ini adalah untuk meningkatkan 
> keefektifan pelaksanaan pemerintahan dan penghematan anggaran.
> 
> Ada banyak tujuan dari perjalanan dinas ke luar negeri, seperti studi 
> banding, kunjungan balasan, maupun perjanjian kerja sama dan bisnis. 
> Kunjungan ke luar negeri untuk studi banding memang bagus. Melihat dan 
> mempelajari langsung suatu pembangunan di negeri yang telah sukses akan 
> menghasilkan pengayaan yang berbeda jika hanya membaca dari buku belaka.
> 
> Namun, melakukan studi banding tanpa persiapan yang matang, termasuk tanpa 
> didahului dengan membaca literatur, hanya akan menelurkan hasil yang 
> minimal, bahkan sia-sia belaka.
> 
> Karena itu, inpres tersebut tak hanya mengatur soal izin dari presiden, 
> tapi juga menjelaskan tujuan, siapa yang berangkat, dan melaporkan hasilnya. 
> Dengan demikian, kontrol terhadap penyelewengan perjalanan dinas diharapkan 
> menjadi efektif.
> 
> Hingga satu dekade lalu, ketika Cina belum sesukses saat ini, kita masih 
> mendengar ihwal kesahajaan pejabat tinggi Cina yang berkunjung ke luar 
> negeri. Mereka menginap di hotel kelas non-bintang empat, jumlah rombongan 
> yang kecil, dan tanpa perjalanan wisata. Mereka sangat serius, efektif, 
> efisien. Tak ada kesan hura-hura dan mewah.
> 
> Sementara, kisah perjalanan dinas pejabat kita begitu luar biasa: Jumlah 
> rombongan yang besar, lebih banyak untuk wisata, dan selalu menginap dan 
> menggunakan fasilitas kelas eksekutif. Begitu jumawa dan mewah. Apa hasil 
> kunjungan itu? Cuma ditumpuk di laci. Yang tersisa kemudian adalah kisah 
> barang belanjaan. Kisah toko parfum di Paris yang ramai dikunjungi pejabat 
> Indonesia, bahkan sampai menyediakan pelayan yang bisa berbahasa Indonesia, 
> menunjukkan tingkat kesohoran perilaku belanja para pejabat kita kala 
> berkunjung ke luar negeri.
> 
> Kita telah lama membiarkan despotisme menggerogoti kita. Memanfaatkan 
> fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Bahkan gerakan 
> reformasi untuk menumbangkan rezim Soeharto pun melupakan perilaku despot 
> dan hanya mencantumkan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Padahal contoh untuk 
> bersih diri dari perilaku despot telah diperlihakan oleh sahabat Nabi, yang 
> mematikan lampu yang dibiayai negara ketika anaknya datang ke kantor.
> 
> Penggunaan APBN/APBD untuk kepentingan wisata dengan menumpang program 
> studi banding, kunjungan balasan, maupun perjanjian kerja sama dan bisnis 
> merupakan wujud ketamakan yang harus dibasmi. Mereka menghamburkan uang 
> rakyat untuk kepentingan pribadi tanpa rasa dosa sama sekali.
> 
> Perjalanan dinas yang mewah seakan mewakili negeri yang rakyatnya telah 
> sejahtera, padahal mereka tak lebih dari mencuri jatah bayi-bayi yang kurang 
> gizi, anak-anak yang busung lapar. Mereka menikmati uang dari hasil jerih 
> payah petani, keringat buruh, dan pajak rakyat.
> 
> Karena itu, sudah saatnya inpres tersebut diikuti aturan yang rinci ihwal 
> kelas hotel yang diinapi, kelas tempat duduk pesawat, kelas rumah makan, dan 
> seterusnya. Sudah saatnya para petingi negeri merasakan perihnya rakyat yang 
> telah kehilangan subsidi dan sulitnya mengais rezeki akibat krisis dan 
> korupsi. Despotisme adalah sebuah kejahatan, dan bukan sekadar soal etika.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke