http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/9/16/e2.htm
''Memahami'' Impor Beras------------------ Dewan Nilai Mentan Inkosisten Lindungi Petani Jakarta (Bali Post) - Departemen Pertanian (Deptan) tidak memiliki pilihan selain menyetujui rencana pemerintah mengimpor beras sebanyak 250 ribu ton. Melunaknya sikap Deptan didasari karena tidak dapat memberikan jaminan harga beras tetap stabil hingga akhir tahun. Padahal, sebelumnya Mentan beranggapan Indonesia tidak perlu mengimpor beras. "Kita memahami rencana pemerintah yang akan mengimpor beras 250 ribu ton, kendati produksi beras mencapai 53 juta ton dan masih ada surplus 1,6 juta ton hingga akhir tahun," ujar Mentan Anton Apriyantono kepada pers di sela-sela Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Kamis (15/9) kemarin. Ishartanto, anggota Komisi IV DPR, mengaku tidak habis pikir dengan pernyataan Mentan yang ''memahami'' rencana impor beras. Menurutnya, sikap Deptan menunjukkan inkosistensi pemerintah memproteksi padi sebagai komoditas pertanian strategis. ''Keputusan politik pangan pemerintah memposisikan petani kembali pada posisi kalah,'' katanya. Sikap Deptan menunjukkan inkosistensi pemerintah memproteksi padi sebagai komoditas pertanian strategis. Ishartanto menilai keputusan politik pangan pemerintah memposisikan petani kembali pada posisi kalah. Di hadapan anggota Dewan, Mentan menilai fenomena kenaikan harga minyak mentah dunia menyebabkan tidak pelak membuat pemerintah berkeinginan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal tersebut pada gilirannya, di luar dugaan menyebabkan harga beras terus beranjak naik. Sumber Bali Post mengungkapkan, rapat koordinasi ekonomi terbatas yang membahas sektor pangan di kantor Wakil Kepresidenan sebelumnya menyepakati tidak boleh ada kenaikan komoditas strategis yang naik waktunya secara bersamaan. Artinya, kalau harga BBM naik, tentunya berdampak psikologis pada harga komoditas beras yang akan melonjak. Sehubungan dengan hal tersebut, Wapres Jusuf Kalla meminta keterangan perihal stok dan produksi beras serta trend harga beras nasional hingga akhir tahun. Pada kesempatan tersebut, rapat menyepakati trend harga beras dalam negeri akan bergerak naik seiring kenaikan harga beras dunia. Sementara Bulog tidak dapat melakukan intervensi membeli gabah petani karena bertentangan dengan Inpres Perberasan. Data Bulog menyebutkan, harga beras yang di atas Rp 2.900-Rp 3.000/kg, telah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 2.790/kg. Di pihak lain, Deptan pun tidak dapat memberikan garansi bahwa harga beras akan turun hingga akhir tahun. (kmb1 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

