----- Original Message ----- 
From: "alfredo gunadi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>

Ajie Ismail Alatas

Oleh : Azyumardi Azra 

Ini adalah potret anak muda, yang dalam bahasanya
sendiri, ''di tengah kemurungan''. Hampir seusia
dengan putra saya, Raushanfikr Usada, anak muda
bernama lengkap Ismail Fajrie Alatas yang biasa
dipanggil Ajie itu murung melihat berbagai
perkembangan dan gejala kehidupan yang dalam
perspektif dia tak menguntungkan Islam dan kaum
Muslimin.

Lahir di Semarang pada 1983, Ajie sejak 1998 merantau
ke Melbourne, Australia, untuk melanjutkan pendidikan
SMA di King Khalid Islamic College. Lalu, sejak 2001
menempuh pendidikan lanjutan di Jurusan Sejarah,
Universitas Melbourne, dan meraih gelar BA honours
(summa cum laude).

Saya mengenal anak muda ini secara lebih dekat ketika
saya dan istri menjalankan ibadah haji pada musim haji
lalu (2005). Menyampaikan makalah dalam seminar
tentang ''Peranan Makkah Sebagai Ibu Kota Peradaban
Islam'', Ajie mendekati saya dan mengingatkan saya
tentang kehadiran dia dalam seminar tentang peranan
orang-orang Yaman, atau khususnya orang-orang yang
berasal dari kawasan Hadhramawt, dalam penyebaran
Islam di nusantara, di Hotel Sahid Jakarta pada tahun
sebelumnya. Sejak pertemuan di Makkah itu, Ajie banyak
bercerita tentang apa saja, baik di Jakarta ketika ia
mudik atau di Melbourne ketika saya berkesempatan ke
sana.

Sepanjang bermukim di Australia, Ajie tidak hanya
belajar, tetapi juga mengamati banyak hal; mulai dari
kehidupan Australia umumnya sampai kepada Islam dan
kaum Muslimin di Benua Kanguru. Atau, mengkaji
berbagai wacana sejak dari sub-altern history,
post-colonialist Muslim history, diaspora komunitas
Hadhrami di berbagai tempat dunia, sampai kepada
pemikiran tasawuf yang rumit dan praktik tarekat.
Sebagian hasil pengamatan, pengalaman, dan kajian
wacana itu dituliskannya dalam bukunya, Renungan
Seorang Pemuda Muslim di Tengah Kemurungan (Bandung:
Mizan, 2005).

Karya ini mengungkapkan sejumlah kegundahan dan
kemurungannya yang mendalam terhadap berbagai hal.
Salah satu kemurungan Ajie itu berkenaan dengan
kehidupan kaum Muslim pendatang di Australia
khususnya, yang sejak peristiwa tragis di Amerika
Serikat pada 11 September 2001 terlihat semakin sulit.
Pengeboman yang terjadi selanjutnya di Bali (2002),
Marriott (2003), Madrid (2004), dan bisa saya
tambahkan London (2005), membuat umat Islam
--khususnya di AS, Eropa, dan Australia-- kian
tersudutkan.

Berefleksi terhadap kenestapaan kaum Muslimin itu,
Ajie menyatakan rasa ibanya atas mayoritas terbesar
umat Islam di negara-negara Barat --seperti Spanyol
dan tentu saja juga AS dan Inggris-- yang tidak
tahu-menahu tentang terorisme, namun kemudian terpaksa
menjadi korban kebencian masyarakat di mana mereka
berimigrasi dan menetap. Pertanyaan yang selalu
mengganggu Ajie, antara lain, adalah; bagaimana orang
dapat berlaku demikian [meledakkan bom bunuh diri] di
sebuah negara yang telah menerimanya dengan baik?

Mencoba menjawab pertanyaan yang tidak mudah ini, Ajie
mengemukakan pengalamannya sendiri menjadi residen di
Australia. Menurut dia, selama ini dia merasa
aman-aman saja, walaupun terkadang ada oknum-oknum
[orang kulit putih Australia] yang mempraktikkan
rasialisme terhadapnya. Namun, sebagian besar
masyarakat Australia tidak semacam itu. Justru,
menurut Ajie, rasialisme yang terlembaga terdapat di
berbagai negara Islam, atau negara Muslim.

Dalam pengamatannya, banyak imigran Muslim yang
dikenalnya, walau sudah ditolong Pemerintah Australia,
namun tetap saja membenci negara ini. Ajie menulis,
''Mereka tetap melihat Australia sebagai 'lambang
kekafiran' yang harus diubah atau dihancurkan. Banyak
dari mereka, dan hal ini aku dengar sendiri,
menginginkan suatu bencana terjadi pada negara ini.
Bisikan-bisikan semacam ini membuatku sedikit bingung;
bukankah pemikiran semacam ini merupakan sebuah tanda
'tidak tahu terima kasih', yang sesungguhnya sangat
bertolak belakang dengan norma-norma Islam.''

Gejala yang diamati Ajie tidaklah baru. Ulama besar
Yusuf Qardhawi yang dikutip Ajie dalam bukunya Islamic
Awakening between Rejection and Extremism (New Delhi:
IIIT, 1990), menyatakan kekagetannya ketika menemukan
adanya kalangan pemuda Islam di AS dan Kanada yang
sibuk dengan ''majelis ilmu'' yang mengajarkan sikap
ekstrem dan anti terhadap negara di mana mereka
bermukim. Banyak di antara mereka ini adalah
orang-orang yang terpaksa hijrah dari negeri asal
mereka; kemarahan mereka kepada rezim dan negara asal
mereka, juga mereka bawa ke negeri baru.

Kemarahan, ekstremisme, dan sikap tidak berterima
kasih. Inilah sikap yang harus dijauhi kaum Muslimin.
Menyimak ceramah Ajie tentang ''hujjat al Islam'' Imam
al-Ghazali dalam rauhah --istilah komunitas Hadhrami
untuk menyebut ''pengajian agama''-- belum lama ini di
rumahnya di Melbourne, saya tercenung; betapa banyak
di antara kita yang ujung-ujungnya merugikan Islam dan
kaum Muslimin secara keseluruhan karena kemarahan,
kekalapan, dan kekerasan yang tak terkendali. 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke