----- Original Message ----- 
From: Budhisatwati KUSNI 
To: KEMSAS 
Sent: Friday, September 16, 2005 5:54 AM
Subject: SURAT SANDAKAN


SURAT SANDAKAN 

Ira adikku,


Ketika pesawat Singapore Airline tinggal landas, Paris, kota yang membukakan 
pintu hatinya selama puluhan tahun untukku, nampak di bawah. Rumah-rumah, 
bangunan-bangunan, sungai Seine yang membelah kota, juga Montmartre, kampung 
seniman, di mana aku tinggal hampir sejak berada di ibukota Perancis, makin 
lama makin mengecil. Samar dan hilang, kecuali terhampar di kenangan dan 
bayangan. Hidup pun demikian, proses pun demikian. Lahir, tumbuh dan mati, 
merupakan proses singkat yang mengisi waktu tak terelakkan. Tinggal masalahnya 
bagaimana kita dalam waktu yang singkat tersedia itu memberinya makna maksimal, 
bagaimana kita mengalahkan suka dan  duka di sepanjang tanjung rantau 
perjalanan. Penyair Chairil Anwar mnjawabnya dengan "sekali berarti sudah itu 
mati" sedangkan  aku, Dik, ingin suatu hidup tanpa mati sekali pun aku sadar 
jasadku akan sirna. Aku yakin kita bisa membuat hidup tanpa mati. Cinta tanpa 
mati.


Memandang Paris yang kian mengabur dari udara,  bersama lajunya pesawat ke 
timur, sejenak terbayang ulang kisah kedatanganku kemari dan pengalaman  
jatuh-bangun di kota ini sebagai seorang eksil politik yang datang dan menarung 
hidup hanya bermodalkan dua kaki dan tangan. Pertarungan inilah yang membuat 
tulangku mengeras dan darahku kian memerah oleh kucuran luka dan dukanya tapi 
masih kuragukan seberapa lama aku bisa tetap gagah sebagaimana yang ditanyakan 
oleh seorang teman dekatku: "Kau bisa tetap gagah, bukan?!". Di hadapan 
pertanyaan ini, aku teringat akan pepatah Tiongkok Kuno bahwa "daya tahan 
seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh" -- ungkapan yang mempertanyakan 
sekaligus ketahanan dan kadar cintaku serta diriku secara utuh.  Aku sadar 
benar, perbedaan antara kesementaraan dan ketahanan, bukan kelanggengan mutlak! 
-- seperti halnya aku pun sadar lebih gampang menjadi lemah daripada menjadi 
tetap gagah, lebih gampang menyerah dari pada melanjutkan laga hingga akhir. 
Kesadaran begini mengingatkan aku akan nasehat sastrawan Perancis, Victor Hugo 
agar kita tidak menertawakan orang yang kalah dan seorang yang sedang menangis. 
Hidup bukanlah sesuatu yang ramahtamah tapi sangat garang. Karena itu hidup 
lebih sulit daripada mati. Paris dan sejarahnya menyediakan berlumbung-lumbung 
contoh jika kita mau belajar sejarah.  Belajar sejarah kukira hakekatnya 
memelihara ingatan, karena manusia sangat gampang dan suka pada lupa sehingga 
membuat kita suka pada kemunafikan dan tidak menghargai kata, getol pada 
isntanisasi dan jalan pintas yang merendahkan prinsip serta nilai.


Makin meninggi pesawatku, aku berada dalam kepungan awan kelabu yang nampak di 
luar jendela bagaikan ribuan kuda putih berderap berpacu melomba pesawatku ke 
timur."Go to east,  men!"! demikianlah suara yang menggema di telingaku di 
tengah derap ribuan kuda-kuda putih itu. Karena di kampunghalamanku di  
timurlah kurasakan aku mempunyai hutang moral besar belum tunai. Awan-awan 
putih kelabu itu juga nampak padaku bagaikan lembaran-lembaran buku kenangan 
kembara lima benuaku. Entah berapa kali sudah bolak-balik lautan awan ini 
kulalui di segala penjuru benua dan aku masih saja tetap sebagai "kalayaban". 
Tiba-tiba kurasakan benar diriku ketika membaca halaman-halaman kitab kenangan 
berwarna putih kelabu ini, tak lain dari seekor enggang hilang rimba, bagai 
pinisi tanpa dermaga. Aku merasa benar sebagai   anak manusia yang jadi korban 
sejarah dan putusan poilitik. Sayangnya, kesadaran dan sadar politik ini pun di 
Indonesia masih tidak dipandang penting, lebih-lebih di kalangan 
sastrawan-seniman angkatan baru. Orang lebih menyanjung yang disebut "sastra 
murni", tanpa kejelasan apa yang dimaksudkan dengan "sastra murni" itu secara 
sejarah dan konsepsional. Kesadaran politik di Indonesia barangkali masih 
berada di titik nol atau tingkat awal. Sadar politik tidak berarti sama dengan 
partisan tapi lebih berupa taraf seorang anak manusia yang ingin hidup 
manusiawi. Aku sendiri, dalam hal ini, lebih cenderung pada posisi "free 
thinker" daripada menjadi partisan.  Mungkinkah menjadi "free thinker" tanpa 
sadar politik. 


Berada di tengah-tengah kesunyian angkasa yang hanya diusik oleh gemuruh mesin 
pesawat melau ke timur,   aku sangat merasa diri   hanya sebagai sebutir debu 
dan noktah minim arti, makin merasakan betapa mendesaknya memburu dan memberi 
arti di ruang waktu yang singkat. Benar yang dikatakan penyair Tiongkok bahwa 
kita perlu:

"rebut waktu pagi-senja
seribu tahun terlalu lama"


 
Dalam usaha "merebut waktu pagi-senja" ini  maka aku membuka tas tangan 
mengeluarkan buku-buku yang ke mana saja selalu menyertaiku. Buku adalah 
kekasihku.  Buku memberiku acuan, membukakan pintu demi pintu dalam pencarian 
yang tak punya sampai. Buku menyertaiku ke mana-mana apalagi di kota yang  
patut ditempuh dalam berjam-jam kendaraan. Aku hampir sampai pada satu hipotesa 
bahwa kesukaan membaca merupakan petunjuk akan tingkat kebudayaan seseorang dan 
bangsa. Buku adalah gudang pengalaman dan kesimpulan serta acuan yang oleh 
gelitiknya kita melanjutkan pencarian. Mungkinkah pencarian, pembedaaan dan 
pembangunan diri dilakukan secara instingtif? Membaca dan membaca buku serta 
kehidupan kurasakan tidak lain dari salah satu jalan menbinggalkan tingkat 
instingtif hingga mencapai tingkat sadar. Mungkinkah kita memanusiawikan diri, 
kehidupan  dan masyarakat secara instingtif? Kepandaian membaca kehidupan 
termasuk yang tercatat di buku membenarkan apa yang dikatakan oleh Antonio 
Machado bahwa:


"jalan jadi itu tak ada 
ia ditemukan dalam melangkah"
[il n'y a pas de chemin
Le chemin
se fait en marchant]

[lihat:Harian L'Humanité, Paris, 13 Septembre 2005].


Hipotesa ini menyelinap ke benakku pada saat aku jadi guru sebuah universitas 
di Palangka Raya, menyaksikan sepinya perpustakaan universitas dari kunjungan 
para mahasiswa . Membaca adalah satu tingkat dan masalah, mempratekkan dan 
menguji yang dibaca adalah soal lain lagi. Praktek selain menguji kebenaran apa 
yang kita  baca, dipihak lain ia memperkaya temua para pendahulu.


Entah berapa lama, tapi sepanjang 16  penerbangan, aku mencurahkan perhatian 
dan merebut waktu bersama buku, sesekali kenangan, harapan, bayangan dan 
kerinduan datang menyela seiring dengan diam-diam menyebut sementara nama yang 
amat bermakna. Terasa benar, kenangan, bayangan , harapan serta cinta sering 
sungguh-sungguh jadi sumber tenaga tak terduga dan ajaib. Semua itu sering 
terjabar di satu nama yang kita rahasiakan kecuali untuk diri sendiri. hingga 
ajal. Hanya saja kenyataan membuat kita menghidupi tragedi. Barangkali hidup 
memang tragedi seperti ditunjukkan oleh tagedi Syshipus?! Tapi bisakah kita 
menyelesaikan hidup tanpa semuanya itu dan bebas tragedi? Pertanyaan-pertanyaan 
inilah yang mengusikku dalam penerbangan menuju timur kali ini. Yang jelas 
kutahu, aku memang sedang di tengah tragedi itu sekarang: tragedi seorang 
"klayaban"!


JJ.KUSNI
---------------
Yogyakarta, Agustus 2005.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/j2WM0C/PbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke