SURAT SANDAKAN 

Adikku,




Koper kecil kabin kugeret dengan langkah gontai digandeng oleh sekian bayangan 
serta kesiapan disergap segala kemungkinan tak terduga menuju ke loket 
pemberian "visa on arrival", visa yang diberikan pada saat kedatangan oleh 
pihak imigrasi. Pada saat yang sama, di telingaku mengiang sebuah suara lembut 
yang sangat kukenal: "Kau tetap gagah dan sanggup tetap gagah bukan?", suara 
gaib dan ajaib yang memberikan kekuatan khusus tak bertara. Kukira siapa pun 
tanpa kecuali, memerlukan sumber kekuatan gaib ajaib begini.Pengalaman demi 
pengalaman melalui imigrasi tanahair pada saat aku melangkah menuju loket visa, 
kembali mendekatiku dan kusambut dengan senyum. Aku selalu mencoba menyenyumi 
duka yang menghampir bagai kawan lama walau pun aku tak bisa mengendalikan diri 
dan mengucurkan airmata di hadapannya.  Aku menganggap tangis demikian sebagai 
suatu hal alami dan kejujuran pada diri, bukan tanda menyerah.Tangis demikian 
merupakan tangis yang membebaskan.


Petugas imigrasi memeriksa lembar demi lembar pasporku kemudian menatap wajahku 
lurus seakan ragu apakah benar aku pemegang kitab kecil warna coklat 
bertuliskan "Komunitas Eropa", "European Community",   lalu mencapnya. Lembaran 
yang dicap itu kuamati. Aku hanya mendapatkan izin tinggal di Indonesia bulan 
dan berakhir pada 10 September 2005.


"Tidak bisakah aku mendapatkan visa lebih panjang dari sebulan?", tanyaku.  


"Tidak! Kalau Bapak mau memperpanjang waktu tinggal di Indonesia, Bapak harus 
keluar dulu", jawab petugas imigrasi itu. Mendengar jawaban ini, dan juga 
ketika kemestian mendapatkan visa, ironisme menikam hulu hatiku dengan ganas. 
Apalagi ketika petugas imigrasi menanyaiku "Bapak kelahiran Kalimantan?". Rasa 
sakit menjalar ke seluruh tubuh, mulai dari dalam hati. Apakah ironisme itu? Ia 
adalah keadaan menjadi asing di negeri sendiri, dan asing di negeri orang 
sekalipun secara legalitas, aku adalah warga negeri tersebut.Tapi antara 
legalitas dan kenyataan tidak pula aneh jika terdapat jarak. Legalitas 
bertautan dengan nilai dan mimpi, sedangkan kenyataan bersentuhan dengan 
sejarah serta budaya.Karena itu dalam masalah budaya lokal aku menggarisbawahi 
arti penting revitalisasi. Pelestarian dilakukan untuk kepentingan 
revitalisasi. Jawaban petugas dan pertanyaan petugas imigrasi itu pun kembali 
menguak luka sejarah yang kuidap. Mata luka ini menjadi terbuka lebih besar dan 
meneteskan darah kembali ketika ada pihak yang mengatakan bahwa termasuk aku 
harus dimaafkan. Apakah gerangan salahku dengan memimpikan Indonesia yang 
manusiawi? Ataukah yang ideal adalah Indonesia yang anti kemanusiaan dan tak 
berkeadilan? Berhadapan dengan kenyataan-kenyataan hari-hari begini, aku makin 
memastikan betapa kita patut berlaga di tiap tapak diayun. Keadilan dan 
kemanusiaan bukanlah sebuah durian runtuh. Dan pengalaman selama ini 
menunjukkan bahwa manusia tidak gampang-gampang juga untuk 
dikalahkan.Perkembangan yang kita temui sekarang justru buah laga manusia, 
karena manusia tidak gampang dikalahkan. Kembali suara lembut mesra ajaib dan 
gaib mengiang ke telingaku: "Kau bisa tetap gagah, bukan?". Gagah artinya kita 
harus menghalau takut. "N'ayez pas peur!", "Jangan takut!", Paus Yohannes II 
alm. Apakah ketakutan ini sudah lenyap dari jiwa kita, dari jiwa anak-anak 
bangsa dan negeri ini? Ketakutan yang ditemani oleh dendam ini sangat 
berkembang subur pada masa Orde Baru sebagai konsekwensi dari pendekatan 
"keamanan dan stabilitas nasional" yang diterapkan demi melaksanakan "agama 
pembangunan". Malangnya, justru agama pembangunan,  kesaktian-pemutlakan azas 
tunggal  Pancasila dan NKRI sentralistik inilah yang telah menjelmakan 
hutan-hutan tak tertembus matahari di Kalimantan menjadi padang pasir seperti 
daerah Hampalit di Kalteng misalnya, membuat sungai-sungai penuh dengan 
airraksa. 


Ketika aku keluar dengan gerobak bandara berisi koperku, Deddy -- anak lanangku 
yang pernah bersekolah di Paris dan sangat paham akan keadaanku, dengan senyum 
maklum bertanya: "Ada apa lagi yang membuatmu lambat keluar?". 


"Tidak ada hal istimewa. Petugas pember visa hanya salah memberiku formulir dan 
aku harus mengisi ulang semuanya dari awal. Agaknya petugas rancu. Kerancuan 
sering mengacau dan mengganggu kita". Deddy suka mengenang kembali 
pengalamannya hidup bersamaku di Paris. Paris telah membentuknya sehingga 
sering ia merasa asing di Indonesia. Ia ikut aku di Paris begitu ia lulus SMA. 


Yang menjemputku bersama Deddy adalah M.G. Romli, biasa kupanggil dengan 
Guntur, mahasiswa filsafat Universitas Al Azhar, Kairo. Guntur memandangku 
sebagai ayahnya. Bahkan jika menurut istilahnya "lebih dari ayah". Guntur 
adalah seorang dari etnik Madura sedangkan aku asal etnik Dayak. Aku melihat 
keakraban hubungan kami merupakan jawaban nyata baru lagi atas masalah konflik 
antara kedua etnik itu yang pernah menyiram Kalteng dengan darah. Sampai 
sekarang aku memandang konflik berdarah tersebut, tidak lain suatu rekayasa 
belaka, terutama rekayasa politik dari kalangan elite kekuasaan yang tak enggan 
menumpahkan darah putera-puteri negeri dan bangsa.Aku berada langsung di 
tengah-tengah konflik tersebut pada waktu itu dan bekerjasama erat dengan Tim 
Tiga Orang yang dikirimkan oleh Gus Dur -- waktu itu adalah Presiden Republik 
Indonesia -- untuk menangani konflik.


Tak lama kemudian mobil Deddy meluncur laju membawaku ke Ciputat di mana aku 
akan tinggal selama berada di ibukota.Sepanjang tol dan jalan-jalan aku cermat 
mengamati apa yang ada di jalan.Jakarta masih saja Jakarta yang kukenal.Macet 
seakan lambang dari kemacetan elite politik mencari jalan keluar dari krisis 
majemuk menimpa negeri dan bangsa. Siapa pun yang jadi presiden, bisa 
kupastikan tidak akan menempuh jalan mudah dan lurus. Indonesia sudah seperti 
benang kusut. Barangkali waktu dan kerja keras dan komitmen kita perlukan dalam 
mengatasi masalah-masalah dan menegakkan Repulik serta Indonesia.


JJ.KUSNI
---------------
Yogyakarta, Agustus 2005.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke