Berikut ini pemaknaan ulama dalam arti agamawan yang saya temukan dari milis
teman teman salafi.  Kira kira penjelasan di bawah ini bisa menjelaskan
terminologi ulama dalam pandangan mereka. Dan saya yakin banyak yang setuju
dengan mereka.

salam,
Ari Condro

ULAMA

Pewaris Para Nabi





Agama adalah suatu yang sakral dalam kehidupan manusia secara umum dan kaum
muslimin secara khusus. Karena agama diyakini sebagai suatu ajaran wahyu
dari sang Pencipta. Keberadaan agama ditengah-tengah umat ibarat sang
penyelamat dari berbagai malapetaka. Segala kerusakan dan kehancuran di muka
bumi tak lain dan tak bukan adalah akibat ulah tangan kotor para musuh dan
perusak agama.

Islam adalah satu-satunya agama yang benar yang sangat diharapkan
kehadirannya untuk melanggengkan kehidupan di alam ini. Tanpa Islam rasanya
sulit bagi manusia untuk lepas dari berbagai angkara murka yang terdapat
pada gelombang kehidupan yang tak kenal belas kasih.

Keterikatan antara Islam dan ulama sangatlah erat. Perkembangan dan kemajuan
Islam masa lampau tak lepas dari peran ulama. Di abad modern ini sosok-sosok
ulama yang konsisten dengan agamanya sangat di butuhkan, dalam upaya
mengembalikan kaum muslimin ke masa keemasannya. Yang dimaksud dengan ulama
dalam konsep Islam yang benar adalah seseorang yang menguasai
disiplin-disiplin ilmu Islam secara utuh mulai dari ilmu alat (bahasa,
sastra, dll) sampai ilmu pelengkap lalu menerapkan dalam kepribadian,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Al-Imam Abu Qasim Al-Ashbahani pernah menyinggung tentang hal ini. Beliau
mengatakan : " Ulama Salaf menegaskan: Seseorang tidak dinyatakan sebagai
Imam dalam agama Islam sampai dia memiliki beberapa hal sebagai berikut :

v      Hapal berbagai bidang ilmu bahasa arab beserta perselisihannya.

v      Hapal beraneka ragam perselisihan para fuqaha dan para ulama.

v      Berilmu, paham dan hapal tentang i'irab (harakat akhir kata untuk
menentukan kedudukan kata tersebut pada kalimat bahasa arab, pent.) dan
perselisihannya.

v      Berilmu tentang Kitabullah (Al-Qur'an) yang mencakup variasi bacaan
beserta perselisihan para ulama tentangnya, tafsir ayat-ayat muhkam dan
mutasyabih, nasikh mansukh dan kisah-kisah yang tertera didalamnya.

v      Berilmu tentang hadist-hadist Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam dan berkemampuan untuk membedakan shahih dan dlaif(lemah), bersambung
atau terputus (sanadnya), mursal daan musnadnya, masyhur dan gharibnya.

v      Berilmu tentang atsar-atsar sahabat.

v      Wara'.

v      Memelihara muru'ah (kehormatan diri).

v      Jujur.

v      Terpercaya.

v      Melandasi agamanya dengan Al-Quran dan Sunah



Apabila seseorang telah berhasil mengaplikasikan poin-poin diatas pada
dirinya, maka ia boleh menjadi imam dalam madzhab serta berijtihad bahkan
menjadi sandaran dalam agama dan fatwa. Lalu apabila dia gagal, tidak boleh
baginya menjadi imam dalam madzhab dan panutan dalam berfatwa.." (Al-Hujjah
fi Bayanil Mahajjah hal 306-307, cetakan Dar Rayah)

Para ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Mereka adalah
pewaris para nabi untuk mengemban misi dakwah Islam kepada segenap manusia.
Baik dan buruknya suatu generasi, suatu kaum, suatu bangsa, suatu negeri,
atau suatu lapisan masyarakat tergantung sejauh mana para ulama menjalankan
perannya sebagai pelanjut dakwah para Nabi di jagat raya ini.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadist :

??? ??????? ???? ??? ?????, ??? ???????? ?? ??? ??? ?????? ??? ? ????
?????????? ????? ??? ??? ?? ??? ??? ???? }  ???5 ??? ?? ?? ?? ?? ??? ? {

".. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah
mewariskan uang dinar dan tidak pula uang dirham. Hanya saja mereka
mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mewarisinya, berarti dia telah
mendapatkan keuntungan yang sempurna. "

(HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)1

            Keberadaan ulama pewaris para nabi di muka bumi merupakan rahmat
bagi seluruh anak Adam. Karena tanpa mereka niscaya kehidupan manusia di
seluruh alam ini tak jauh beda dengan kehidupan binatang. Bukankah kehidupan
binatang hanya bertumpu pada pemuasan syahwat perut dan kemaluan tanpa
pernah kenal syariat ? Maka demikianlah kehidupan anak cucu Adam, kalau
tidak ada ulama pewaris Nabi yang mengenalkan syariat kepada mereka
sepeninggal Nabi dan Rasul utusan Allah.

Al-Hasan Al-Bashri pernah menegaskan hal ini dalam sebuah nasehatnya, beliau
berkata: "Kalau tidak ada ulama niscaya manusia seperti binatang."(Minhajul
Qashidin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi hal. 15, cetakan Maktabah Dar Bayan)



SAHAM ULAMA PEWARIS NABI UNTUK ISLAM

            Begitu pentingnya peran ulama pewaris nabi dalam mengemban misi
dakwah Islam, tentu banyak pula saham yang telah mereka berikan untuk
keberlangsungan Islam. Untuk mengetahui bentuk saham tersebut alangkah
baiknya kita menyimak ucapan Syaikh Tsaqil bin Shalfiq Al-Qashimi tentang
mereka. Beliau menjelaskan: "Mereka (ulama pewaris Nabi), adalah orang-orang
yang mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengumpulkan
hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian mencatatnya
dalam lembaran-lembaran dengan metode yang bermacam-macam seperti (karya
tulis berbentuk) musnad2, majma'3, mushannaf4, sunan5, muwaththa'6,
az-zawaid7 dan mu'jam8.





1.     Hadits ini di riwayatkan oleh Abu Dawud(3641.3642),
At-Turmudzi(2682), Ahmad(5/196), Ibnu Majah(223), Ad-Darimi(1/98), Ibnu
Abdil Barr dalam Jami'ul Ulum wal Hikam 1/39, Khatib Al-Baghdadi dalam kitab
Tarikhnya (1/398). Hadits ini hasan. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul
Bari (1/160) menukil kepastian penghasanannya dari Hamzah Al-Kinani. Lihat
penjelasan ini dalam buku Al-ilmu fadluhu wa Syarafuhu karya Syaikh Ali
Hasan Ali Abdul Hamid hal.57. cetakan Majmu'at Tuhafin Nafais Ad-Dauliyah,
tahun 1416H(1996M)

2.     Musnad: Buku-buku hadits yang dikarang dengan bersandar kepada
nama-nama shahabat di mana pengarang mengumpulkan hadits-hadits setiap
shahabat dalam batasan tertentu.(Ushulut Takhrij, Mahmud Thanan, hal.40.
cetakan Maktabatul Ma'arif, Riyadl)

3.     Majma': Buku-buku hadits yang dikarang dengan mengumpulkan
hadits-hadits dari beberapa karya tulis lalu disusun menurut susunan
beberapa karya tulis yang dikumpulkan padanya.(Ushulut Takhrij, hal.103)

4.     Mushanaf: Buku-buku hadits yang disusun menurut bab-bab fiqh.
Buku-buku hadits jenis ini bermuatan hadits-hadits Nabi, ucapan-ucapan
shahabat, fatwa-fatwa tabi'in dan terkadang fatwa-fatwa at-tabi'ut tabi'
in.(Ushulut Takhrij, hal.118)

5.     Sunan: Buku-buku hadits yang disusun menurut bab-bab fiqh dan hanya
mencakup hadits-hadits yang sampai sanadnya kepada Nabi(hadits marfu
').(Ushulut Takhrij, hal.115)

6.     Muwaththa': Buku-buku hadits yang dikarang menurut bab-bab fiqh. Buku
hadits jenis ini berisi hadits-hadits marfu'(hadits-hadits yang sampai
sanadnya kepada Nabi), hadits mauquf (hadits-hadits yang sanadnya hanya
sampai kepada shahabat dan tidak sampai kepada Nabi), dan hadits maqthu'
(hadits-hadits yang sanadnya hanya sampai pada tabi'in atau orang yang di
bawahnya). Gaya penyusunan kitab-kitab muwatha' sangat mirip dengan gaya
penyusunan kitab-kitab mushanaf. (Ushulut Takhrij hal.119)

7.     Az-Zawaid: Buku-buku hadits yang mengumpulkan tambahan yang termaktub
pada sebagian kitab hadits terhadap hadits-hadits yang tertera didalam
kitab-kitab hadits yang lainnya. (Ushulut Takhrij hal.104)

8.     Mu'jam: Buku-buku hadits yang memuat hadits-hadits menurut urutan
shahabat, para syaikh, negeri-negeri atau yang selainnya. Mayoritas
buku-buku hadits jenis ini menyusun urutan nama-nama yang ada padanya
menurut urutan huruf-huruf mu'jam.(Ushulut Takhrij hal.45)







Mereka menjaga hadits-hadits Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam dari
pemalsuan dan tadlis9. Mereka membedakan antara hadits-hadits shahih dari
yang lemah. Oleh sebab itu mereka membuat kaidah-kaidah hadits yang
mempermudah proses pembedaan antara hadits yang bisa diterima dari hadits
yang harus ditolak.

Disamping itu mereka juga membeda-bedakan para perawi hadits. Mereka
mengarang kitab-kitab tentang para perawi hadits: Yang terpercaya, yang
lemah dan para pemalsu hadits. Mereka menukilkan pula (dalam
karangan-karangan tersebut) ucapan para Imam yang memiliki ilmu dalam bidang
pencatatan dan pemujian perawi hadits (para ulama jarh wa ta'dil). Bahkan
mereka membeda-bedakan riwayat-riwayat dari rawi yang satu antara
riwayat-riwayat yang ia diterima dari penduduk negeri Syam, penduduk negeri
Iraq atau penduduk negeri Hijaz10, Mereka juga membedakan antara riwayat
seorang yang mukhtalath (orang-orang yang kacau hapalannya) 11, mana
hadits-hadits yang diriwayatkan sebelum ikhtilath dan yang diriwayatkan
sesudahnya. Demikian seterusnya.

Sesungguhnya orang yang membidani ilmu hadits dengan berbagai macam
cabangnya, pembagiannya, jenis dan karya-karya tulis tentangnya, akan
benar-benar mengakui besarnya andil mereka (ulama pewaris nabi) dalam
menjaga hadits Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam.

Mereka telah menjelaskan aqidah Ahlus Sunah wal Jama'ah dengan seluruh
bab-bab nya dan membantah para ahlul bid'ah yang menyimpang darinya. Mereka
telah memberikan peringatan agar berhati-hati ahlul ahwa' wal bid'ah,
melarang duduk bersama mereka dan berbincang-bincang dengan mereka. Bahkan
mereka tidak mau menjawab salam dari ahlul bid'ah, serta tidak mau
menikahkan anak perempuannya dengan mereka dalam rangka menghinakan dan
merendahkan ahlul bid'ah dan  yang sejenisnya. Selanjutnya mereka menulis
tentang hal ini dalam banyak tulisan.

Mereka telah mengumpulkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkenaan
dengan tafsir Al-Quran AL-Adhim, seperti Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir
As-Shan'ani, Tafsir AnNaasa'i. Diantara mereka ada yang mengarang
kitab-kitab tafsir mereka seperti Tafsir At-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir dan
yang lainnya. Disamping mengarang kitab-kitab tafsir mereka juga membentuk
kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar tentang tafsir Al-Qur'an. Bahkan
mereka juga membedakan antara penafsiran yang menggunakan riwayat dengan
penafsiran yang menggunakan rasio.

Keemudian mereka juga meengarang kitab-kitab fiqh dengan seluruh bab-babnya.
Mereka berusaha membahas setiap permasalahan fiqh dan menjelaskan
hukum-hukum syariat amaliyah dilengkapi dengan dalil-dalil yang rinci dari
Al-Qur'an, As Sunah,Ijma' dan Qiyas(sebagai landasan pembahasan). Mereka
meletakan kaidah-kaidah fiqh dan yang dapat mengumpulkan berbagai cabang dan
bagian (permasalahan) dengan ilat (penyebab) yang satu. Lalu mereka juga
menyusun ilmu ushul fiqh yang mengandung kaidah-kaidah untuk melakukan
istinbath (pengambilan) hukum syariat yang bercabang-cabang. Mereka telah
melahirkan karya-karya yang cukup banyak tentang disiplin-disiplin ilmu fiqh
ini.

Berikutnya juga mengarang kitab-kitab sirah, tarikh, adab, zuhud,
raqaiq(pelembut jiwa), bahasa arab, nahwu, dan bermacam-macam karangaan di
berbagai bidang ilmu yang cukup banyak."

Demikian keterangan yang dibawakan secara panjang lebar oleh Syaikh Tsaqil
Ibnu Shalfiq Al-Qashimi. (Sallus Suyuf wa Asinnah 'ala Ahlil Ahwa wal Ad'
iyais Sunnah, hal. 76-77, penerbit Dar Ibnu Atsir)



9.        Tadlis: adalah menyembunyikan yang ada pada sanad hadits dan
menampakkan baik pada dhahirnya (Taisir Musthalahil Hadits karya Mahmud
Thanan, hal.79, cetakan Maktabatul Ma'arif)

10.     Karena kadang-kadang satu perawi hadits diterima riwayatnya kalau ia
meriwayatkan dari penduduk Syam. Tetapi ditolak kalau menerima dari penduduk
Iran.

11.     Ini yang disitlahkan dengan ikhtilat dan mukhtalat dalam Musthalahul
Hadits, yaitu satu perawi yang hapalannya berubah. Awalnya dia pengahapal
yang baik, kemudian pikun misalnya. Atau seorang perawi yang asalnya dia
meriwayatkan dari buku catatannya, kemudian hilang catatannya.

Dari masa ke masa  para ulama pewaris nabi telah berjasa dalam bidang-bidang
ilmu seperti yang disebutkan diatas. Diantaranya adalah:

Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tarmidzi,
An-Nasa'i, Malik bin Anas, Sufyan At-Tsauri, Ali bin Al-Madani, Yahya bin
said, Al-Qahthan, Asy-Syafi'I, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi,
Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruquthuni, Ibnu Hibban, Ibnu 'Adi, Ibnu Mandah,
Al-Lalikai, Ibnu Abi Ashim, Al-Khalal, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Ibnu abdil
Bar, Al Khatib Al-Baghdadi, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab beserta
anak-anak dan cucu-cucunya yang menjadi ulama Nejd, Muhibuddin Al-Khatib,
Muhammad Hamid Al-Fiqi dari Mesir dan ulama Sudan, para ulama Maroko dan
Syam, dan seterusnya.

Kemudian ulama masa kini yang berjalan di atas manhaj ulama terdahulu
seperti Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz (mufti negara Saudi Arabia),
Syaikh ahlul hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin
Abdillah Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzaan, Shalih Ak-Athram, Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin, Abdullah Al Ghadyan, Shalih Al-Luhaidan, Abdullah
bin Jibrin, Abdur Razaq Afifi, Humud At-Tuwaijiri, Abddul Muhsin Al-Abbad,
Hammad Al-Anshari, Rabi' bin Hadi Al-Madkhali, Muhammad Aman Al-Jami', Ahmad
Yahya An-Najami, Zaid Muhammad Hadi Al-Madkhali, Shalih Suhaimi, Shalih Al-
'abbud dan para ulama lain yang berada di alam Islami (saat ini).

Kita memohon petunjuk kepada Allah yang Maha Hidup dan berdiri sendiri untuk
menjaga yang masih hidup dari mereka dan merahmati yang sudah meninggal.
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua orang-orang yang mengikuti langkah
mereka dan membangkitkan kita bersama mereka dan Nabi tauladan kita Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa Sallam di dalam Surga Firdaus. (Lihat Sallus Suyuf
hal. 78-79)



CIRI-CIRI DAN SIFAT ULAMA PEWARIS NABI

Didunia ini ulama dibagi menjadi 2 bagian:

1.    Ulama su' (ulama yang jahat)

2.    Ulama pewaris Nabi



Sifat Ulama Su' (Ulama Yang Jahat)

Ulama su' memiliki sifat cinta yang berlebihan terhadap kesenangan dunia.
Ibnu Qudamah menjelaskan tentang mereka dengan mengucapkan: "Mereka adalah
orang-orang yang bertujuan menggunakan ilmu agama untuk bersenang-senang
dengan dunia dan mencapai kedudukan yang tinggi disisi pendukungnya. Dalam
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Dari abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa Sallam
bahwasanya beliau bersabda: "Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu yang
semestinya untuk mencari wajah Allah, (kemudian) dia tidak mempelajarinya
melainkan untuk mendapatkansebuah tujuan dunia, dia tidak akan mendapatkan
wangi surga di hari kiamat nanti." (HR. Abu dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban
dan Ahmad)

Dalam riwayat lain Nabi Shalallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Barang siapa yang mempelajari  ilmu agama untuk membanggakan diri terhadap
para ulama atau mendebat orang-orang yang bodoh atau mengalihkan perhatian
manusia kepadanya, maka dia di neraka." (HR. Tirmidzi)

Sebagian Salaf menandaskan: "Manusia yang paling menyesal disaat meninggal
dunia adalah orang alim yang menyia-nyiakan ilmunya."



Sifat Ulama Pewaris Nabi

Mereka mengetahui bahwa dunia itu hina dan akhirat itu mulia. Keduanya
seperti dua madu (dibawah seorang suami, pent.). Oleh kerena itu mereka
lebih mengutamakan akhirat. Hal ini mereka realisasikan dalam bentuk
perbuatan yang tidak pernah menyelisihi ucapan mereka. Mereka cenderung
mempelajari ilmu yang bermanfaat di akhirat dan menjauhkan ddiri dari ilmu
yang sedikit manfaatnya.

Sebagaimana telah diriwayatkan dari Syaqiq Al-balkhi rahimahullah bahwa dia
pernah bertanya kepada Hatim: "Engkau telah bergaul denganku beberapa lama,
lalu apa yang engkau pelajari (dariku)?'

Hatim menjawab: (aku telah mempelajari) 8 perkara, diantaranya yang pertama:

Aku melihat kepada para mahluk, maka aku dapati setiap orang memiliki
kekasih. Namun tatkala ia memasuki kuburannya ia berpisah dari kekasihnya.
Disaat itu aku menjadikan kebaikan-kebaikanku sebagai kekasihku agar
kekasihku tetap bersamaku di dalam kubur.dst.

Kemudian termasuk sifat ulama akhirat:

             §        Mereka menjauhi penguasa dan menjaga diri mereka.

Hudzaifah bin Yaman menasehatkan: "Hindari oleh kalian tempat-tempat
 fitnah." Beliau ditanya:"Apa itu tempat-tempat fitnah."Beliau menjawab:'
(tempat-tempat fitnah) adalah pintu-pintu para penguasa. Salah seorang
diantara kalian masuk menemui seorang penguasa, lantas dia akan membenarkan
penguasa itu dengan dusta dan menyatakan sesuatu yang tidak ada padanya."

Said bin Musayyib menegaskan:"Jika kamu melihat seorang alim bergaul dengan
penguasa, maka hati-hatilah darinya karena sesungguhnya dia adalah pencuri."

Sebagian Salaf menjelaskan:"Sesungguhnya tidaklah kamu mendapatkan sesuatu
kehidupan dunia (dari para penguasa) melainkan mereka telah memperoleh dari
agamamu sesuatu yang lebih berharga darinya."

             §        Mereka tidak terburu-buru dalam berfatwa (sehingga
mereka tidak berfatwa kecuali setelah menyakini kebenarannya).

Adalah para Salaf saling menolak untuk berfatwa sampai pertanyaan kembali
lagi kepada orang yang pertama (di tanya).

Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan kisahnya: "Aku pernah mendapati di
masjid (nabi) ini 120 orang shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam. Tidak ada seorang pun dari mereka saat ditanya tentang suatu hadits
atau fatwa melainkan dia ingin saudaranya (dari kalangan shahabat yang lain)
yang menjawabnya. Kemudian tibalah masa pengangkatan kaum-kaum yang mengaku
berilmu saat ini. Mereka bersegera menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalau
seandainya pertanyaan ini dihadapkan kepada Umar bin Khattab, niscaya beliau
mengumpulkan ahli Badar untuk di ajak bermusyawarah dalam menjawabnya."

             §        Ulama akhirat mayoritas pembahasan mereka adalah ilmu
yang berkaitan dengan amal dan perkara-perkara yang dapat merusakannya,
mengotori hati dan membangkitkan was-was. Hal ini disebabkan karena
membentuk amalan-amalan sangat mudah sedangkan membersihkan amat sulit.
Kaidah dasarnya adalah: "Menjaga diri dari kejelekan tidak akan bisa terjadi
hingga ia mengetahui tentang kejelekan."

             §        Ulama akhirat selalu membahas atau mencari rahasia
amalan-amalan yang di syariatkan dan memperhatikan hikmah-hikmahnya. Jika
mereka tidak mampu menyibak tabir rahasianya, mereka tetap bersikap pasrah
dan menerima syariat Allah.

             §        Termasuk sifat Ulama Akhirat adalah mengikuti para
shahabat dan orang-orang pilihan dari kalangan tabi'in selanjutnya mereka
menjaga diri dari setiap perkara baru dalam agama(bid'ah).

(disadur dari Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi hal. 23-26,
Maktabah Dar bayan Muassah 'Ulumul Qur'an)









PUJIAN ALLAH TERHADAP ULAMA

            Setelah kita mengetahui peranan penting para ulama dalam
melanggengkan keberlangsungan dakwah Islam, rasanya sangatlah tepat Allah
memuji mereka dalam banyak ayat Al-Qur'an. Diantaranya Allah berfirman:

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun
ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalaulah mereka menyerahkan urusannya
kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin
mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahui dari mereka (Rasul dan ulil
amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah
kamu mengikuti syaithan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu)."
(An-Nisa:83)

            Imam Al-Hasan Al-Basri dan Al-Qatadah menafsirkan:"Ulil amri
dalam ayat ini adalah ahlul ilmi dan fiqh."(Tafsir Thabari jilid 3 juz 5
hal.177 cet. Dar.Kutub Ilmiyyah)

            Allah juga berfirman:

"Allah memberikan kesaksian bahwasanya tidak ada ilah melainkan Dia, yang
menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
memberikan kesaksian demikian). Tidak ada ilah melainkan Dia, yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana."(Ali Imran:18)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan menyatakan: ".ini kedudukan yang
mengandung keistimewaan agung bagi para ulama.."(Tafsir Ibnu Katsir, jilid I
hal.360, cet.Dar.Ma'rifah)

Lihatlah bagaimana dalam ayat ini Allah menggandengkan antara persaksian
orang-orang berilmu dengan persaksian Allah sendiri dan malaikat-Nya. Hal
ini menunjukan keutamaan yang agung bagi para ulama."(Sallus Suyuf hal.63)

Allah berfirman:

"Katakan: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang
tidak mengetahui?"(Az-Zumar:9)

            Imam Al-Qurthubi mengomentari ayat ini dengan menyatakan: "Orang
yang berilmu adalah orang yang bisa mengambil manfaat dari ilmunya dan tidak
bisa mengambil manfaat dari ilmunya dan tidak mengamalkannya, maka ia bukan
seorang yang berilmu..."(Tafsir Qurthubi jilid 8 juz 15 hal. 156, cetakan
Dar Kutub Ilmiyyah)

            Tentunya pertanyaan Allah disini adalah pertanyaan
 "pengingkaran". Yang jelas jawabannya adalah: "Tidak sama." Maka dari
pemahaman ini ayat diatas menunjukkan keutamaan ulama dari yang bukan ulama.

            Syaikh Tsaqil Ibnu Shalfiq Al-Qasami mempertegaskan hal ini.
Beliau menyatakan:"Lihatlah bagaimana dalam ayat ini Allah memuliakan para
ulama! (Allah menjelaskan) bahwa orang yang tidak berilmu tidak sama
kedudukannya dengan orang yang berilmu."(Sallus Suyuf hal.63)

            Allah berfirman:

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat..."(Al-Mujadalah: 11)

            Imam Al-Qurthubi menafsirkan ayat diatas dengan menyatakan:"
Maksud"("Allah meninggikan mereka") adalah dalam hal pahala di akhirat dan
kemuliaan di dunia. Maka Allah mengangkat derajat orang yang beriman diatas
orang yang beriman, dan mengangkat derajat orang yang berilmu diatas derajat
orang yang tidak berilmu. Ibnu Mas'ud berkata: "Dalam ayat ini Allah memuji
para ulama."Makna ayat ini adalah Allah mengangkat (derajat) orang yang
beriman dan berilmu diatas orang yang beriman namun tidak berilmu beberapa
derajat dalam agama mereka jika mereka melaksanakan apa yang diperintahkan
Allah."(Tafsir Qurthubi jilid 9 juz hal. 194, cetakan Dar Kutub Ilmiyyah)

            Demikianlah beberapa ayat beserta tafsirannya yang mengandung
pujian terhadap para ulama. Tentunya banyak ayat lain yang senada dengan
ayat-ayat diatas. Kami membawakan sebagian saja unttuk meringkas pembahasan
kita ini. Keterangan diatas sekali lagi menunjukan kepada kita bahwa para
ulama adalah orang-orang yang mulia disisi Allah sehingga menjadi sebab
turunnya rahmat di alam ini. Oleh karena itu semua muslimin memiliki
kewajiban memuliakan para ulama pewaris nabi sebagaimana Allah telah
memuliakan mereka. Barang siapa yang ingin menanam saham dalam menghancurkan
dan merusak Islam, tentu ia akan menjatuhkan kehormatan dan meninggalkan
para ulama.

            Cinta pada para ulama adalah salah satu tanda bagi seseorang
bahwa dia Ahlus Sunah. Al-Imam Abu Utsman As-Shabuni mengatakan: "salah satu
tanda dari Ahlus Sunah adalah mereka (Ahlus Sunnah) cinta kepada para Imam
Sunnah, para ulama sunnah dan para wali Sunnah. Disamping itu mereka benci
kepada para Imam ke bid'ahan yang menyeru ke neraka dan menunjukan para
pengikutnya ke tempat kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghiasi
dan menyinari hati dengan cahaya cinta kepada para ulama sunah sebagai
sebuah keutamaan dari Allah 'aza wa Jalla."(Aqidatus Salaf Ash-Habul Hadits
karya Abu Utsman Ashabuni hal. 121 cetakan Maktabah Ghuraba Al-Atsariyah)

            Adapun membenci para ulama merupakan salah satu tanda bagi
seorang bahwa ia adalah Ahlul Bid'ah. Mengenai hal ini, Abu Utsman Ashabuni
berkata:"Tanda-tanda Ahlul Bid'ah sangat jelas dan nampak pada diri mereka.
Tanda mereka yang paling menonjol dan nampak jelas adalah permusuhan mereka
yang keras, penghinaan dan pelecehan terhadap ulama pembawa hadits Nabi
Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Mereka menggelari para ulama dengan sebutan
"orang dungu", "bodoh","tekstual"dan "orang yang suka menyerupakan Allah
dengan makhluk -Nya "dst. (Aqidatus Salaf hal.116)

            Inilah beberapa keterangan seputar pembahasan ulama pewaris
Nabi. Kita berharap pada Allah, mudah-mudahan tulisan ini bermamfaat bagi
kaum muslimin dalam mengenali para ulama yang berada di tengah-tengah
mereka.

            Ya Allah! Jadikanlah kami para hamba-Mu yang gigih dalam membela
agama-Mu dan terimalah amal-amal kami sebagai amal yang berbuah hasil ridla
di sisi-Mu.Amin,ya Rabbul 'alamin.



?? ?? ??





Maraji' (Daftar Pustaka):



1.    Al-Hujjah fi bayanil Mahajjah, Abul qasim Al-Ashbahani, tahqiq dan
dirasah Muhammad bin Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali, cetakan dar Rayah.S

2.    Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, cetakan Maktabah Dar
Bayan.

3.    Sallus Suyuf wal Asinnah 'ala Ahlil Ahwa wal Ad'iyais Sunnah, Dar Ibnu
Atsir.

4.    Minhajul Qasidhim, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, penerbit Maktabah Dar
Bayan & Muassah "Ulumul Qur'an.

5.    Tafsir Thabari jilid 3 juz 5, Imam Thabari, penerbit Dar Kutub
Ilmiyyah.

6.    Tafsir Ibnu Katsir jilid1, Ibnu Katsir, penerbit Dar Ma'rifah.

7.    Tafsir Qurthubi jilid 8 juz 15, Imam Al-Qurthubi, penerbit Dar kutub
Ilmiyyah.

8.    Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, Abu Utsman As-Shabuni, cetakan
Maktabah Ghuraba Al-atsariyah.








----- Original Message -----
From: "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]>

Iya mas Nug. Memang ada penyempitan makna sekarang ini. Andaikan
kita ikutin makna yang sudah dipersempit ini yaitu makna
ulama=agamawan, maka tradisi berbeda pendapat itupun nyatanya tak
bisa dipungkiri kok.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke