Kelihatannya Dirut Pertamina Widya Purnama tidak mampu mengatasi krisis BBM yang berulangkali terjadi.
Ketika terungkap penyelundupan BBM lewat pipa dasar laut sepanjang 10 km lebih dengan diameter pipa 1,5 meter dan menggunakan kapal tanker raksasa, ternyata yang diperiksa hanya awak kapal dan pegawai rendahan. Padahal untuk pembangunan pipa bawah laut tersebut butuh modal puluhan milyar bahkan ratusan milyar lebih. Pasti ada yang membiayai. Serta pembangunan tersebut tak mungkin tidak diketahui oleh pimpinan setempat. Akibat aksi penyelundupan ini, negara dirugikan trilyunan rupiah setiap tahun. Ini harus dibongkar tuntas sampai ke atas! Tapi ternyata yang disalahkan Widya Purnama justru tukang gerobak eceran. Memang berapa puluh juta sih uang yang dimiliki oleh para tukang gerobak eceran itu untuk menimbun minyak? Serta berapa lama mereka bisa bertahan hidup tanpa menjual minyaknya? Hanya ada satu solusi, yaitu ganti pimpinan Pertamina dengan yang lebih pandai dan jujur, sehingga krisis dan penyelundupan BBM tidak terjadi lagi. Untuk rekan2 milis lainnya, meski emosional mungkin kita bisa menggunakan kata2 yang tidak emosional. Salam --- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Tembak mati tidak cukup, harus juga disita > pemilikannya. > > ----- Original Message ----- > From: "Ahmadi Agung" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Saturday, September 17, 2005 11:19 AM > Subject: [ekonomi-nasional] Direksi Pertamina > Kelihatan GOBLOK-nya > > > Pantas saja BUMN selama ini selalu morat-marit.. > > Lha wong para direksinya ternyata otaknya GOBLOK.... > > Udah para direksinya GOBLOK, mentalnya BANDIT , Para > pejabat tingginya juga > banyak yg bermental RAMPOK... > > Pantes saja negara kita hancur lebur kayak gini... > > Maka TIDAK ADA SOLUSI lagi selain TEMBAK MATI para > KORUPTOR.... > > Salam > AL-Pacitan > > -----Original Message----- > From: Panji C. Poluan [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > > > Tampaknya manajemen Pertamina semakin panik dan > mencoba menutup-nutupi > carut-marutnya BUMN ini dengan mengkambinghitamkan > penjual minyak keliling. > > > > Jelas-jelas yang diributkan adalah kelangkaan minyak > tanah di tingkat agen > karena pasokan yang terbatas, bagaimana bisa > pedagang keliling -yang > mengambil minyak tanah di agen/penyalur- disinyalir > bertanggung jawab soal > penimbunan? Sangat tidak masuk akal mengingat setiap > kali ada antrian > masyarakat di agen yang sudah menunggu datangnya > truk tangki. Tidak mungkin > masyarakat yang sudah antri berjam-jam -bahkan > berhari-hari- rela jatahnya > dialihkan ke pedagang eceran. Selain itu, pedagang > keliling juga sudah punya > pelanggan sendiri -baik rumah tangga maupun > warung-warung makanan/rumah > makan- yang juga akan protes kalau tidak disuplai. > > > > Di bawah ini berita dari Harian Rakyat Merdeka > terbitan Jumat, 16 September > 2005. Kalau saya tidak salah baca, salah satu berita > di Harian Kompas > terbitan pagi ini (Sabtu, 17 September 2005) selain > menyebut-nyebut pedagang > minyak tanah keliling juga menyebut ibu-ibu rumah > tangga. Sungguh > menggelikan! > > > > Salam, > > Panji > > > > http://www.rakyatmerdeka.co.id/?pilih=lihat_edisi_website > <http://www.rakyatmerdeka.co.id/?pilih=lihat_edisi_website&id=526> > &id=526 > > > > Bos Pertamina Takut Sama Tukang Grobak > Jumat, 16-September-2005, 04:03:41 WIB > > Kewalahan Atasi Kelangkaan Minyak > > Jakarta, Rakyat Merdeka. Pantas kelangkaan minyak > di berbagai daerah > makin merajalela. Kemarin, bos Pertamina Widya > Purnama ngaku kewalahan > untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah yang > diakibatkan oleh ulah para > penimbun minyak. Diakui, kelangkaan minyak memang > terjadi di mana-mana. > Menurut laporan bawahnya, ada fenomena baru > tentang cara-cara > penimbunan minyak tanah yang menyebabkan antrian > panjang itu. > > ''Terus terang saya tidak mampu mengawasi si > tukang gerobak itu. Seluruh > karyawan Pertamina tidak cukup untuk mengawasi > penjual minyak yang pakai > gerobak itu. Ini fenomena baru,'' katanya di > Gedung MPR/DPR, kemarin. > > Dalam rapat dengan Komisi VII DPR, Dirut Pertamina > Widya Purnama > sempat''dibantai', karena hampir semua penanya > menyerang soal pencurian > BBM dan kelangkaan minyak tanah yang terjadi di > beberapa daerah. > > Widya sendiri sebenarnya tahu ada pihak-pihak yang > bertindak sebagai > penadah minyak tanah jatah rakyat, tetapi tak > berani menyebutkan nama > pelakunya, sehingga dia menjadi bulan-bulanan. > > Anggota Komisi VII DPR Dede Yusuf misalnya, berani > memastikan ada organize > crime di Pertamina, karena praktik 'permalingan' > BBM di BUMN tersebut > sebenarnya telah terjadi sejak lama. Ia meyakini, > penyelundupan BBM di > Lawe-Lawe, Kalimantan Timur yang merugikan negara > Rp 8,8 triliun hanya > ujungnya saja. Untuk itu ia minta kasus itu diusut > tuntas. > > ''Saya dulu kagum sama Anda, tapi sekarang saya > 'kuciwa'. Apa progress > report Anda membasmi organize crime di Pertamina. > Anda berkali-kali bilang > tak ada kelangkaan minyak, tapi di Selayar, Cilacap > dan Semarang nggak ada > minyak. Saya nggak tahu, apa Anda masih lama di > sini. Saya minta Anda dan > pejabat Pertamina hati-hati kalo bikin statemen,'' > kata Dede Yusuf. > > Tjatur Saptoedi dari Fraksi PAN mengatakan, kasus > Lawe-lawe terjadi karena > kebijakan yang dibuat Pertamina sendiri, yakni > adanya tolerable loss > sebesar 0,5 persen. Jadi, Pertamina sendiri yang > merestui terjadinya loss > (kebocoran ) BBM. > > ''Tolerable loss itu loss yang direstui Pertamina. > Saya yakin pelakunya > bukan orang kecil. Anda sebagai orang yang kuasai > IT mestinya nangis lihat > teknologi pengukuran minyak Pertamina yang > mengakibatkan kebocoran BBM > besar ini,'' kata Tjatur lagi. > > Menanggapi hal ini, Widya menjelaskan, kebijakan > tolerable loss itu bukan > pemberian peluang untuk menyolong BBM. > > ''Itu best practice yang berlaku internasional. > Jadi bukan untuk > nyolong. Kita setuju prosentase toleransi itu > dikurangi besarannya,'' kata > Widya Purnama.[R] > > > > recommended website : www.sby-oke.com; > www.prosby.com > > > > _____ > > YAHOO! GROUPS LINKS > > > > * Visit your group " sby_milis > <http://groups.yahoo.com/group/sby_milis> " on the > web. > > > * To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > > > * Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! > Terms of Service > <http://docs.yahoo.com/info/terms/> . > > > _____ > > > > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > > > > Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? > Kirim email ke > [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

