SURAT SANDAKAN 




Setelah sejenak berdiri memandang gedung Eyang Agung, kulihat sebuah angkot 
warna putih menungguku  dengan sabar di ujung jalan. Penungguan ekonomis, 
cerminan orang bawah di Indonesia. Aku pun berlari-lari kecil menuju angkot 
tersebut karena tidak ingin menyusahkan orang lain dengan kepanasan menungguku 
apalagi kutahu bahwa para penumpang lainnya akan pasrah pada keputusan Pak 
Sopir -- ujud dari hubungan paternalistik tanpa hukum, kecuali hukum 
konvensional, yang masih sangat dominan di negeri ini.Aku membaca banyak soal 
dari hubungan penumpang dan sopir, dari keadaan transpor di Indonesia.


Dengan berjongkok, minta permisi pada para penumpang lainnya yang berasal dari 
pinggiran Jakarta aku mengambil tempat duduk.Panas mengigit langsung terasa. 
Tubuhku yang terkuras menumpahkan keringat membasahi T-shirt dan masuk menyusup 
ke mata. Gigitan terik ini berkurang oleh angin menyusup dari jendela ketika 
angkot dilarikan oleh Pak Sopir. Di tengah terik kota yang sebagaimana pun 
juga, tak pernah aku mengeluh, membuat sementara teman bertanya:


-"Apa kau tak merasa panas?".

+"Tentu saja panas. Tapi apakah keluhan akan memberikan penyelesaian. 
Satu-satunya cara adalah menghadapi keadaan ini sebagaimana adanya". 


Sikap ini pun kali ini kuambil ketika berada di angkot, bajai, becak atau bus 
tanpa AC.Hanya saja dalam diriku aku jadi malu sendiri, karena aku tahu benar 
aku tidak bisa mengambil sikap begini dalam menghadapi segala keadaan, terutama 
yang bersifat emosional.Keadaan emosional atau psikhologis terasa jauh lebih 
menggigit, menikam dan menekan. Daya tahan psikhologis ini justru sangat 
menentukan perkembangan dan keputusan seseorang. Sering menimbulkan keadaan tak 
terduga pada saat kestabilannya oleng.Kedewasaan barangkali ditakar antara lain 
dengan kemampuan menjaga kestabilan psikhologis dan emosional dalam keadaan 
yang paling gawat. Kukira sastrawan dalam tokoh-tokohnya barangkali patut 
mengeksplorasi dan mendalami sungguh masalah psikhologis ini sehingga 
tokoh-tokohnya menjadi hidup dan manusiawi.Memahami manusia, kukira, 
pertama-tama memahami masalah psikhologinya. Dengan pendekatan ini kita tidak 
akan gampang main pasang topi kepada seseorang, tapi justru  memberikan ruang 
lapang untuk seseorang melakukan kesalahan, kejatuhan yang mengeneskan dan 
sekaligus memberikan kemungkinan dan harapan bangkit. Terhadap masalah ini 
Boris Vian, sastrawan Perancis mengatakan:


"Le plus clair de mon temps, je le passe à l'obscurcir" [waktuku yang  paling 
bercahaya justru yang telah kulewati melalui kegelapan].


Tidak semua orang bisa melalui kegelapan dengan berhasil. Tidak semua orang 
berdaya bangkit dari kejatuhan dan kekalahan.Tidak semua pinisi bisa mencapai 
pantai, banyak yang remuk di laut. Tidak sedikit enggang jantan atau betina 
jatuh di penerbangan pada saat sayap-sayapnya patah dan luka.Karena itu dalam 
perang dan pertempuran faktor psikhologis ini sangat mendapat perhatian. 


Barangkali kehidupan merupakan salah satu bentuk perang juga yang terdiri dari 
serangkaian pertempuran. Kekalahan di satu pertempuran bukanlah sama dengan 
kekalahan perang. Tapi ada memang pertempuran yang menentukan. Kurasakan 
sekarang, aku sedang berada di pertempuran sangat desisif.Kata-kata: "daya 
tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh" kembali deras mengiang di 
telingaku ketika meluncur dalam angkot yang melaju ke Pasar Ciputat yang macet. 
Berbarengan dengan kata-kata tersebut kembali kudengar suara lembut penuh 
harapan sekaligus kecemasan: "Kau bisa tetap bersikap gagah, bukan?!". O, 
kegagahan, kegagahan! Bisakah aku selalu gagah? Bisakah kita selalu gagah? 
Akukah kuda yang teruji perjalanan jauh? Pada saat ini terbayang wajah Kartjono 
alm. sahabatku yang sempat meringkuk dalam tahanan Orde Baru karena ia seorang 
pengikut Soekarno. Ketika bertemu di Paris, ia mengatakan: "Kalau kau mundur, 
Bung, kau akan memulai segalanya dari nol dan itu berarti kau kehilangan waktu 
dan segala makna yang selama ini kau bela". Kata-kata ini Kartjono ucapkan 
ketika aku berada dalam suatu kegalauan di luar dugaan. Kartjono menyelamatkan 
aku, dan aku kian paham arti sahabat.


Memandang kepada Pak Sopir dan kehidupannya yang keras, mendengar dialognya 
tentang keadaan politik serta ekonomi yang melingkungi hidupnya, dengan 
pnumpang duduk di kursi di sebelahnya, aku melihat jelas keras garangnya 
kehidupan dan Pak Sopir. Pak Sopir dipaksa bertarung. Dalam pertarungan merebut 
seribu dua ribu rupiah, tulangnya dikeraskan,darahnya dimerahkan, dan benar, 
pada dahinya kulihat parit-parit duka sekaligus parit-parit perlawanan. Hal 
yang sama kusaksikan di wajah dan di keadaan kebanyakan penumpang. "Kita adalah 
sama-sama penumpang kendaraan hidup", ujarku dalam hati sambil diam-diam 
memandang wajah para penumpang itu satu per satu. Bedanya dengan diriku, mereka 
kusaksikan memang gagah menarung duka dan kesulitan.Kesulitan dan kegarangan 
yang rutin membuat orang pun biasa pada perlawanan.Pada wajah para penumpang 
dan orang-orang pinggiran ini, aku saksikan suatu kebesaran jiwa dan keberanian 
hidup. Pahlawankah mereka? Aku tidak ingin menggunakan predikat ini, karena 
yang jelas dan sedrhana kulihat bahwa mereka ingin hidup dan mencintai hidup 
sebagai manusia dengan cara-cara jujur, tanpa mengutamakan sebutan. Inipun 
bukan sikap sederhana. Di wajah para orang pinggiran ini, aku melihat sosok 
perkasa yang dilecehkan. Mereka tidak perduli pada pelecehan karena yang 
terpenting bagaimana hidup sebagai anak manusia dengan nilai-nilai 
manusiawinya. Sedangkan yang nampak berada di gelimang kemewahan pada 
hakekatnya pada di kubangan kemerosotan. Barangkali Indonesia memang sedang 
berada di kubangan kemerosotan yang membuat hidup kian terasa ganas dan garang. 
Keganasan, kegarangan dan kekerasan jadi sanjungan sebagai mode mutakhir.


JJ.KUSNI
--------------------------------
Yogyakarta, Agustus 2005.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke