Masyarakat Islam bersendikan keluarga,
Keluarga Islam bersendikan perempuan
Dengan demikian memang ada kecenderungan untuk meraih siapa yang masih bebas
untuk masuk ke dalam sistim ini
Sabda Nabi Muhammad SAW "Nikah itu sunnahku, siapa yang tidak suka sunnahku,
bukan golonganku"
Masalahnya timbul kepada sebagian wanita, yang oleh karena satu dan lain hal
membujang.
Sejauh ia sudah berusaha (tidak menutup diri dari pergaulan), bukan karena
tidak suka, maka masyarakat seharusnya tidak mengucilkan dia dan keluarganya
dari pergaulan se-hari-hari.
Kadang-kadang Allah berkehendak lain, pasti itulah yang paling baik buat
kita.
Salam,
Samudjo
----- Original Message -----
From: "Eko Bambang Subiyantoro" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, September 20, 2005 11:08 PM
Subject: [ppiindia] Ibu dan Si Perawan Tua


http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-44%7CX
Senin, 19 September 2005
Ibu dan Si Perawan Tua


Oleh Reko Alum


Ini memang cerita lama. Cerita yang tiada habisnya, selama perkawinan masih
menjadi tujuan utama dalam hidup seorang perempuan.Tari, seorang sahabat
lama, tahun ini usianya genap 35 tahun. Angka ini bagaikan sesosok monster
yang menakutkan baginya. Sama mengerikannya dengan julukan perawan tua yang
mungkin saja sebentar lagi akan diselempangkan orang padanya.

Tari, anak perempuan pertama dari enam bersaudara. Empat orang saudaranya
telah menikah, tinggal dia dan adik bungsunya laki-laki. Ia mapan dari segi
ekonomi, bekerja di sebuah perusahaan minyak asing dengan penghasilan
lumayan dan jenjang karir yang prospektif. Sayangnya, ia masih saja selalu
mengeluh ada yang kurang dalam hidupnya. ‘Berat jodoh’ begitu stigma yang ia
tempelkan pada dirinya sendiri, setelah berulang kali gagal menjalin
hubungan serius dengan lawan jenisnya. Hubungan yang tentunya diharapkan
bisa mengantarnya ke dalam suatu lembaga bernama perkawinan. Suatu dunia
yang secara kasat mata tampak begitu ideal dan terhormat, bukan saja di mata
keluarga tetapi juga di masyarakat.

Menjadi seorang perempuan berarti ia harus menikah, dan baru bisa dikatakan
‘perempuan yang betul-betul perempuan’ apabila ia juga mampu melahirkan
anak, terutama yang berjenis kelamin laki-laki untuk dijadikan penerus nama
keluarga dan menjadi seorang ibu. Doktrin ini telah sejak lama ditanamkan
para ibu kepada anak perempuannya secara turun temurun. Nasehat yang
berulang kali dilontarkan ini akhirnya membuat hampir sebagian besar
perempuan menganggap bahwa menikah dan menjadi seorang ibu adalah mutlak
terjadi dalam kehidupan mereka. Kebanyakan perempuan menganggap peranan itu
sebagai tujuan mereka, terutama karena tidak adanya alternatif serta adanya
pemuliaan peran ibu…Pemuliaan seperti itu bagaikan memberi lapisan gula pada
pil kina yang pahit, dan selama generasi ke generasi berikutnya perempuan
terjebak menginginkan sedikit gula tersebut…(Kamla Bhasin, Nighat Said Khan,
Gramedia Pustaka Utama, Kalyanamitra).

Menurut Tari, tekanan terberat yang terjadi pada dirinya justru berasal dari
keluarganya sendiri, terutama sang ibu yang tidak henti-hentinya menuntut
agar ia segera melepas masa lajangnya. Ia mengaku lelah setiap kali harus
berbohong pada ibunya bahwa dirinya sedang menjalin hubungan dengan seorang
laki-laki, dan meminta ibunya untuk bersabar. Sementara ia sendiri
sebetulnya sudah pasrah, akan menikah atau tidak nantinya. Menurutnya
mencari teman hidup tidak semudah memilih buku di toko buku. Maka seringkali
untuk sejenak melupakan masalahnya itu, ia betah berlama-lama minum kopi
dari satu kedai ke kedai lainnya.

DISCLAIMER: The information contained in this communication is intended solely 
for the use of the individual or entity to whom it is addressed and others 
authorized to receive it. It may contain confidential, legally privileged 
information or otherwise protected by law from disclosure and is intended 
solely for the use of the addressee. If you are not the intended recipient you 
are hereby notified that any disclosure, copying, distribution or taking any 
action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited 
and may be unlawful. Unless otherwise specifically stated by the sender, any 
documents or views presented are solely those of the sender and do not 
constitute official documents or views of  PT Apexindo Pratama Duta Tbk. If you 
received this email in error, please immediately notify the sender or our email 
administrator at [EMAIL PROTECTED] and delete it from your system. Thank you.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke